Wawancara

Published in Wawancara

Memotivasi Sesama Universitas Berprestasi Internasional

Apr 05, 2018 Publish by 
 Dr Bahtiar Mohamad, Ketua Program Pasca Sarjana UUM
Dr Bahtiar Mohamad, Ketua Program Pasca Sarjana UUM (kt/jt)

Wawancara Khusus wartawan KoranTransparansi Djoko Tetuko 

MEMORANDUM of Undestanding antar Universitas, bukan sesuatu yang baru. Mengingat bentuk kerja sama serupa hampir dilakukan semua Universitas sebagian bagian dari terobosan berkomunikasi dan menjalin silaturrahmi untuk menjajaki dan meningkatkan prestasi masing-masing sesuai dengan fokus peningkatan universitas menyesuaikan dengan fakultas favorit dan fakultas yang populer dan paling banyak diminati mahasiswa, termasuk bidang studi yang mampu bersaing meluluskan sarjana yang hebat bermartabat dan mampu menjaga marwah dengan strategi yang sangat jitu. 

Mengupas masalah pendidikan antar dua negara, Indonesia dan Malaysia, berikut ini wawancara dengan Dr Nik Adzreiman Abdur Rahman, Ketua Departemen Komunikasi (Ketua Program Studi Komunikasi) dan Dr Bahtiar Mohamad, Ketua Program Pasca Sarjana  Universitas Utara Malaysia (UUM)

Dr. Bahtiar apa yang paling utama dalam kunjungan ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo? 

Kita melanjutkan kerja sama dalam bentuk MoU antara Univeristas Utara Malaysia (UUM) dengan Univeristas Muhammadiyah Sidoarjo. Program ini sama dilakukan kerja sama dengan universitas di Indonesia lainnya, yang pada intinya berusaha untuk saling meningkatkan prestasi di universitasnya masing-masing, supaya lebih maju dan berprestasi. Terutama prestasi internasional guna menguatkan identitas dan karakter universitas.

Target prestasi internasional yang dimaksud itu seperti apa?

Karena sudah bukan masalah baru lagi, bahwa sekarang ini universitas sudah sama-sama berusaha  berlomba-lomba meningkatkan prestasi internasional dalam banyak hal, sesuai dengan fokus program studi di universitasnya. 

Tren internasional pada jaman now ini apa?

Saya melihat bahwa jurnal internasional dengan standar scoupus indexed journal merupakan salah satu parameter untuk mengukur keaktifan dosen dan mahasiswa pasca sarjana untuk mempublikasikan hasil karya melalui riset maupun melalui forum diskusi atau seminar dan kegiatan yang sama, menyampaikan temuan-temuan baru atau pemikiran baru dengan landasan teori yang sudah baku.

Bagaimana cara mencapai keaktifan di jurnal Scoupus itu

Tentu saja masing-masing berbeda, tetapi kebijakan kementerian pendidikan tinggi di Indonesia, misalnya, mensyaratkan jurnal standar scoupus menjadi salah satu penilaian menyelesaikan program studi, maka hal itu akan membawa dampak kemajuan prestasi yang baik dan sudah masuk pada perbincangan internasional. Karena standar scoupus itu ialah jurnal dengan referensi dari penulis jurnal sebelumnya di scoupus dan dipublikasikan scoupus. Dengan catatan karena memenuhi standar penulis jurnal jaman sakarang.

Apakah ada perbedaan jurnal jaman sekarang dengan dahulu?

Ada perbedaan, dahulu hanya orientasi pada publikasi atau menulis untuk dipublikasikan dengan model atau cara menulis masing-masing. Tetapi sekarang sudah standar abstrak, yaitu sama dengan ringkasan penulisan ilmiah.

Pengalaman selama ini?

Saya pernah mengunjungi beberapa universitas di Indonesia, termasuk salah satu universitas akreditasi C di Sumatera Utara, dan beberapa ke Universitas Telkom dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Indonesia, Unjversitas Negeri Surakarta (UNS), Universitas Bina Nusantara (Binus) dan banyak lagi sepeti daftar yang sudah ada sekitar 70 universitas, yang tentu saja tidak semuanya. Saya melihat UNS sangat produktif melakukan riset maupun menulis jurnal, tetapi dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, untuk masa sakarang itu sudah berubah dan bergeser menjadi jurnal dengan konstruksi tulisan seperti abstrak dengan bahasa Ingris. Sehingga mau tidak mau harus menyesuaikan dan menstandarkan. 

Usul atau strategi bagi universitas jaman sekarang apa?

Karakter dari universitas supaya proses studi berkualitas sesuai dengan program studi yang sudah direncanakan, maka rektor atau lektor (pimpinan universitas atau dekan) paling tidak mewajibkan dosen dan mahasiswa meningkatkan sumberdaya mereka dengan menulis jurnal standar scoupus. Sehingga akan menjadi bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dunia atau internasional yang secara langsung diikuti oleh ilmuan internasional. Bahkan ditanggapi dan diambil sebagai referensi. Kalau sudah seperti itu, maka akan populer dan prestasi internasional dengan sendirinya akan tercatat.

Apakah ada contoh ?

Kemajuan atau prestasi perguruan tinggi di Singapura yang jumlahnya sangat sedikit bahkan yang populer hanya 4, 10 tahun yang lalu karena strategi dari negeri dan universitas mewajibkan menulis jurnal standar scoupus, maka sakarang ini kemajuan mereka luar biasa.

Bagaimana dengan Malaysia? 

Malaysia setelah mengetahui perkembangan di dunia seperti ini terus meningkatkan sumberdaya untuk bersaing internasional , dan UUM peringkat 6 perguruan tinggi di Malaysia terus meningkatkan kemampuan dan pada masa 10 tahun terakhir ini melakukan strategi wajib bagi mahasiswa dan dosen menulis jurnal standar scoupus, maka juga prestasinya meningkat hampir 10 universitas yang ternama di Malaysia, termasuk UUM tercatat sebagai penulis jurnal yang aktif dan menjadi bagian dari perbincangan keilmuan internasional. Dari situlah maka kemajuan atau prestasi universitas dan sumberdaya dosen maupun mahasiswanya akan nampak. 

Pengalaman universitas di Indonesia yang anda ketahui?

Saya katakan tadi UNS itu dalam tahun-tahun terakhir ini memberikan biaya kepada dosen dan mahasiswa yang menulis jurnal, disiapkan transleter atau penerjemah, supaya dapat masuk jurnal scoupus. UI bahkan membiayai konsultan untuk memberikan pengetahuan soal jurnal dari mulai menulis sesuai standar scoupus sampai berpeluang masuk jurnal scoupus dan banyak universitas di Asia Tengara melakukan hal yang  sama.

Bagaimana selama bertukar pengetahuan di Umsida (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)?

Saya menekankan bahwa identitas dan karaketer wajib dibangun dengan kesadaran dari program universitas meningkatkan kemampuan internal dengan karya ilmiah berupa jurnal nasional maupun internasional. Cara itu untuk menjadi Umsida bisa berprestasi di tingkat Jawa Timur maupun nasional serta internasional. 

Program nyatanya seperti apa?

Yang membangun kebersamaan dalam memanfaatkan kelebihan masing-masing untuk meningkatkan prestasi. Minimal Indonesia dan Malaysia melalui program studi atau forum seminar dan yang lainnya. Dan sekarang ini mengajak dosen dan mahasiswa Umsida meningkatkan ilmu pengetahuan di UUM.(jt)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...