Wawancara

Published in Wawancara

Khofifah Maju, Pilgub akan Kompetitif

Jul 14, 2017 Publish by 
MOCHTAR W OETOMO - Pengamat Politik:
MOCHTAR W OETOMO - Pengamat Politik:

SUASANA politik Jawa Timur semakin menghangat jelang Pemilihaan Gubernur (Pilgub). Setelah sebelumnya terasa adem dan hambar. Sejumlah gimmick politik mulai bermunculan. Aroma jegal-menjegal juga sudah muncul. Mulai melibatkan petinggi negara hingga melibatkan ulama sebagai upaya memuluskan jalan politik sudah terlihat.

Pengamat politik menilai langkah ini wajar dilakukan dalam berpolitik. Apalagi dalam Pigub Jatim peran kiai sangat dominan dalam mempengaruhi massa. Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo menegaskan jika sosio-kultural masyarakat Jatim berpengaruh besar terhadap pemilih.

Selain itu, menurut Direktur Surabaya Survey Center (SSC) ini citra kandidat tak kalah pentingnya untuk menjadi magnet pemilih. Berikut wawancara lengkap dengan Mochtar W Oetomo:

Jelang Pilgub bagaimana pola pemilih Jatim?
Kalau berkaitan dengan Pilgub itu kompleks bukan hanya soal partai, tetapi juga soal citra kandidat dan persoalan sosio-kultural masyarakat pemilih yang bisa menjadi penentu. Artinya peran partai tidak bisa menjadi dominan, kekuatan sosiokultural lebih kuat dibanding partai politik.

Saat ini dari sekian banyak partai PKB seakan mendominasi dinamika politik saat ini, apa benar?
Sosio-kultural masyarakat pemilih Jatim ini kan NU, ketika ada yang menjadi representasi NU secara kepartaian adalah PKB akhirnya tampak dominan. Ini juga tidak lepas dari kiprah 21 kiai yang sempat menyurati PKB terkait usulan kandidat calon Gubernur dari PKB.

Bukankah ke-21 kiai itu mewakili struktur NU, bagaimana dengan kekuatan kiai non-struktur?
Ini jelas masing-masing memiliki kekuatan sendiri. Cuma masalahnya siapa yang memiliki akses ke publik. Ini bisa dimaknai siapa yang memiliki akses media. Kita tahu kiai struktural ini memiliki akses besar ke media dibanding kiai kultural yang lebih dekat dengan pemilih atau masyarakat.

Bagaimana kekuatan kiai kultural?
Dalam beberapa survei secara politik kekuatan kiai kultural lebih besar dibanding kiai di struktural. Ini karena mereka dianggap masih murni oleh masyarakat. Tetapi ya itu, mereka tidak memiliki cukup ruang publik. Karena mereka tidak memiliki akses ke media dan media tidak menggali ke mereka, suara mereka tidak cukup mendapat perhatian.

Bagaimana dengan safari politik yang dilakukan Saifullah Yusuf ke partai-partai apakah bisa jadi kekuatan di Pilgub?
Kalau partai, sebenarnya fungsi utamanya menyediakan tiket maju Pilgub. Dalam konteks pertarungan riil saat calon mendapat tiket, ada banyak faktor lain yang menentukan seperti faktor sosio-kultural, media, aparatur desa dan masih banyak lagi.

Bagaimana dengan pendaftaran yang dibuka DPW partai, padahal keputusan ada di pusat?
Dalam konteks Indonesia dewan pimpinan cabang partai (tingkat kabupaten/kota) mengusulkan tingkat provinsi kemudian diteruskan ke pusat. DPP juga tidak bisa menentukan tanpa usulan tersebut. Meski begitu tak jarang pusat mengabaikan usulan provinsi. Beberpa kasus telah terjadi seperti di Pilgub DKI Jakarta. PDIP mengusung Ahok (Basuki Tjahja Purnama) padahala tidak pernah mendaftar.

Hal ini juga terjadi pada Soekarwo yang awalnya menang di konvensi PDIP Jatim, ternyata prekom pusat jatuh pada Sucipto kala Pilgub Jatim 2008. Jadi sesungguhnya kontekstasi fit dan proper test hanya sebuah langkah pencitraan partai kepada publik.

Bagaimanya dengan tokoh yang akan maju di Pilgub?
Sudah ada beberapa nama tokoh yang muncul seperti Gus Ipul (Saifullah Yusuf). Halim Iskandar, Tri Rismaharini dan sejumlah nama lain. Namun hanya Gus Ipul yang menyatakan maju sebagai kandidat gubernur hingga saat ini.

Bagaimana dengan tergesernya Halim Iskandar oleh Saifullah Yusuf?
Secara umum semua itu basis penilaiannya dari berbagai survei. Nilai Pak Halim tidak beranjak dan cenderung stagnan, sehingga dimungkinkan tidak bisa berkompetisi dalam Pilgub. Dari sisi sosio-kultural, kedekatan hubungan, sumbangsih Pak Halim tidak sebesar Gus Ipul terhadap kiai dan pondok pesantren.

Ini akan menjadi pertimbangan khusus. Tinggal  persoalan nanti, siapa yang akan jadi lawan calon NU. Karena sudah sekian puluh tahun tandem (wakil gubernur)-nya NU. Ini momentum NU untuk menempati posisi gubernur dan kira-kira siapa kader terbaik yang mampu menjadi gubernur.

Siapa yang bisa menandingi Gus Ipul?
Kalau di dalam NU ada nama Khofifah Indar Parawansa ada Azwar Anas ini juga bisa representasi PDIP. Kalau di luar NU ya ada Tri Rismaharini.

Risma kan menyatakan sudah tidak mau maju?
Itu kan memang karakter Risma, dulu Pilwali menyatakan tidak mau toh juga maju. Risma memang tidak mungkin mendaftar, kalau ditunjuk lain persoalan.

Bagaimana dengan sosok Khofifah?
Kalau khofifah maju Pilgub akan kompetitif, karena beliau memiliki track record cukup bagus di Jatim basis suaranya juga cukup kuat di Muslimat dan NU. Saya rasa akan berbagi irisan dengan Gus Ipul

Kalau Khofifah tidak maju?
Maka koalisi partai tertentu akan mencoba membangun kekuatan baru mengusung nama baru yang bisa menandingi kekuatan yang ada.

Kenapa Khofifah belum bersikap?
Ini kompleks, karena partai penyedia tiket belum ada yang dengan jelas menyatakan mendukung, semua masih tahap lobi. Selama belum ada dukungan partai terus melakukan deklarasi kan aneh juga. Posisi Khofifah sebagai Mensos RI kan juga butuh persetujuan presiden. Saya rasa injury time akan muncul keputusannya.

Bagaimana dengan sikap Gus Ipul yang sudah deklarasi tapi belum memiliki partai?
Saya rasa ini juga bagian dari strategi tinggal bagaimana efektifitasnya. Yang satu deklarasi dulu yang satu lobi-lobi dulu.(zal/abn)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...