Wawancara

Published in Wawancara

Golkar Punya Komitmen dengan Kiai Hasyim Usung Khofifah

May 18, 2017 Publish by 
Mensos, Khofifah Indar Parawansa dan Ketua DPP Partai Golkar, Zainuddin Amali
Mensos, Khofifah Indar Parawansa dan Ketua DPP Partai Golkar, Zainuddin Amali

SEBAGAI Parpol yang konsisten dari Pemilu ke Pemilu, langkah Golkar dalam mengusung calon kepala daerah, termasuk di Pilgub Jatim 2018, menarik ditunggu. Siapa jagoan Golkar yang akan meneruskan kepemimpinan Soekarwo di Jawa Timur?

Hingga kini belum ada keputusan pasti. Tapi menerik disimak statement Ketua DPP Partai Golkar, Zainuddin Amali yang membuka 'rahasia' soal komitmen politik antara Ketua Umum DPP Golkar, Setya Novanto (Setnov) dan mantan Ketua Umum PBNU dua periode, KH Hasyim Muzadi.    
Kedua tokoh nasional itu, ternyata sejak tahu lalu punya komitmen politik untuk mengusung Khofifah Indar Parawansa. Bahkan, tak hanya komitmen, seluruh elite Golkar juga sudah satu suara untuk mengusung Khofifah, termasuk penangung jawab pemenangan Pilkada wilayah Jawa-Sumatera, Nusron Wahid.
Berikut wawancara dengan Zainuddin Amali usai bertemu Khofifah secara 'tak sengaja' di rumah makan di Jalan Juanda, Sidoarjo, akhir pekan lalu.
     
Sudah cukup banyak sinyal yang diberikan elite Golkar terkait calon yang akan diusung di Pilgub Jatim 2018. Bisakah anda memberikan sikap Golkar yang lebih dari sekadar sinyal?
Ya, jadi pada saat almarhum Kiai Hasyim masih ada dan ketika itu ada acara di Golkar pada bulan Ramadhan, sudah ada pembicaraan yang serius dengan Pak Ketua Umum (Setnov) tentang beliau (Khofifah). Tapi memang akhirnya terpulang (atas izin) pada Bapak Presiden (Joko Widodo). 
Selain itu, mayoritas yang ada di Golkar, khususnya yang bertanggung jawab dalam urusan pemenangan wilayah Jawa-Sumatera, Mas Nusron (Wahid). Kalau Mas Nusron sudah sangat tegas ke (dukung) Ibu Khofifah.
Jadi, saya kira, tinggal dimatangkan dan dikomunikasikan kembali setelah Kiai Hasyim nggak ada. Kalau beliau (Kiai Hasyim) kan komunikatornya Bu Khofifah dimana-mana selama ini. Nah, sekarang harus ada yang menggantikan untuk mengkomunikasikan itu.

Apakah komitmen itu masih berlaku setelah Kiai Hasyim wafat?
Saya kira Pak Setnov masih seperti itu (menjaga komitmen) seperti apa yang dibicarakannya dengan Kiai Hasyim.

Jadi bisa dipastikan kalau Khofifah maju maka Golkar akan memberikan dukungan?
Kelihatannya begitu, karena saya mengikuti waktu masih ada almarhum. Kemudian Nusron Wahid kan berkali-kali menyampaikan itu. Dia punya kekuatan untuk mendorong dan tidak mendorong.

Bagaimana mekanisme pengusungan calon kepala daerah di Golkar?
Di Golkar ini kan ada tim pemenangan di level pusat (DPP) untuk Pilkada serentak. Disurvei, semua nama masuk, kemudian diputuskan. Kalau untuk posisi Jatim, seperti yang saya sampaikan tadi, yang saya tahu sampai hari ini belum bergeser dari apa yang dikomunikasikan almarhum Kiai Hasyim dengan Ketua Umum (Setnov).

Sudah ada komunikasi dengan Parpol lain untuk koalisi?
Ada-lah komunikasi dengan Parpol lain. Ketua Umum dan Sekjen kan membuka komunikasi kemana-mana.

Termasuk kemungkinan menyodorkan wakil untuk mendampingi Golkar?  
Ya, kemungkinan itu, tapi kan akhirnya begini. Yang akan berpasangan dengan dengan calon wakil untuk lima tahun ke depan itu kan gubernur. Saya secara pribadi, berikan keleluasaan kepada calon gubernur siapapun yang diusung itu untuk dia cocoknya dengan siapa, karena ini selama lima tahun. Nggak bisa kita paksakan.

Banyak kejadian yang begitu dipaksakan, belum setahun yang satu ke kanan yang satu ke kiri. Jadi, secara pribadi, saya lebih mau silakan calon gubernur yang menentukan atau dia dikasih beberapa pilihan. Jangan paksakan.

Mengapa Golkar lebih memilih Khofifah dibanding kandidat lain?
Saya kira secara kapasitas, kapabilitas beliau nggak diragukan lagi. Soal leadership, manajemen skill-nya sudah cukup. Apalagi secara kultural beliau sangat mengakar di Jatim, baik sebagai tokoh perempuan maupun Ketum PP Muslimat NU.
Saya kira ke depan bagaimana beliau akan membawa Jatim, saya secara pribadi sudah melihat beliau memimpin kementerian kan bagus itu. Nah kira-kira saya membayangkan seperti itu untuk Jatim dipimpin Bu Khofifah nanti.(zal/abn)

banner
 

> BERITA TERKINI lainnya ...