Politik

Wakil Ketua DPC PKB Surabaya Satuham

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Bakal calon anggota legislatif dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Surabaya terancam tidak bisa ikut Pemilu 2019 menyusul sejak 21 Maret 2018 hingga saat ini terjadi kekosongan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Surabaya.

"Batas terakhir pendaftaran caleg tanggal 30 Mei 2018, tapi hingga saat ini belum ada kepengurusan DPC. Padahal salah satu syarat pendaftaran caleg ke KPU harus ada ketua DPC definitif," kata Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Surabaya Satuham kepada Antara di Surabaya, Sabtu.

Menurut dia, di jajaran DPC PKB Surabaya yang masih berlaku SK-nya hingga saat ini hanya LPP. Hal ini dikarenakan LPP mempunyai tugas untuk melakukan proses pendaftaran bakal caleg di PKB dan KPU Surabaya.

Satuham mengaku belum mengetahui kapan akan ada pengganti Syamsul Arifin yang masa jabatannya sebagai Ketua DPC PKB Surabaya berakhir pada 21 Maret 2018.

"Hingga saat ini belum ada kabar dari DPP PKB maupun DPW PKB Jatim soal itu," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, bakal caleg yang daftar di PKB Surabaya hingga saat ini masih kurang yakni hanya sekitar 23 orang dari target 50 orang atau sesuai dengan jumlah kursi di DPRD Surabaya.

Adapun 23 bakal caleg tersebut, lanjut dia, kebanyakan berasal dari kalangan mantan pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) PKB Surabaya. Sedangkan dari lima anggota Fraksi PKB DPRD Surabaya hingga saat ini belum ada yang daftar.

"Jadi saya luruskan pemberitaan sebelumnya tentang lima anggota dewan dari PKB terancam dicoret. Bagaimana dicoret, daftar saja belum," katanya sebagaimana dilangsir kantor berita Antara.

Saat ditanya kenapa lima anggota dewan tersebut belum daftar, Satuham mengatakan bisa saja mereka daftar setelah menunggu adanya kepengurusan DPC PKB Surabaya yang baru. (kh)

Dosen Fisip Unair Aribowo menilai bahwa peran Pakde Karwo hanya sebatas pengusung Khofifa-Emil

SURABAYA (KoranTransparansi.com) – Meski Gubernur Jawa Timur Soekarwo ada dibayang bayang Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, namun tidak memiliki pengaruh apa apa. Kalaupun ada tidak terlalu signifikan.

Malah sebaliknya jika Pakde Karwo terlibat dalam kampanye dan terus ada di areal kampanye malah akan menyulitkan Khofifah sendiri. Itu sebabnya, dugaan sementara orang bahwa Pakde Karwo allout untuk Khofifah, saya kok tidak melihat itu. Ini komentar pengamat politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Aribowo kepada korantransparansi.com, Kamis.

Dalam kontek pilgub Jawa Timur , dukungan Pakde Karwo hanya sebatas Ketua Partai Demokrat Jawa Timur sebagai pengusung pasangan Khofifah-Emil. Hanya sebatas itu saja. Pakde tidak kemana mana. 

Mengapa begitu, menurut Dosen senior Unair  Aribowo, kehadiran pakde Karwo dalam setiap kampanye tidak menguntungkan. Materi kampanye Khofifah penekanannya mengkritisi semua kebijakan penguasa sebelumnya yaitu Pakde Karwo dan Gus Ipul. Jadi kalau Pakde ada disitu malah akan menyulitkan. 

Misalmya soal kemiskinan, pendidikan, ekonomi dan lainya. Itu menjadi materi kampanye Khofifah. Dan akan terus disuarakan. Lalu, apa mungkin Khofifah mengkritisi kebijakan penguasa sebelumhya, sementara penguasa itu adalah Pakde Karwo.

Aribowo mengatakan bahwa pemilih pilgub ini rata rata pada usia 17 sampai 45 tahun. Ini menjadi bidang garapan dua cawagub. Tapi Cawagub ini geliatnya membidik generasi 17 ampai 45 tahun gregetnya kurang. Perlu diingat, bahwa Khofifah itu bisa diterima di pedesaan dan perkotaan. 

Khofifah dinilai sangat percaya diri dengan Muslimatnya. Dan Muslimat itu patuh betul dengan Khofifah. Mereka sangat sulit ditarik keluar. Loyalitas dan militensi mereka tidak diragukan. Itu sudah terbukti sejak pilgub pertama sampai pigub 2018 ini. Saya juga tidak melihat akan terjadi pergeeseran kekuatan. 

Artinya Muslimat muslimat muda atau pemilih muda lebih melihat Khofifah sebagai sosok yang dianggap cerdas. Konsep Khofifah dianggap lebih menyentuk. Persoalanya sekarang tinggal bagaimana manuver Cawagubnya.

Di Mataraman juga tidak akan berubah. Hanya saja akan terjadi beberapa varian. Misalnya, jika calonya  dekat dengan mereka dan memberikan program bagus, maka masyarakat akan memberikan respon bagus. Oleh sebab itu alam pilgub ini, kalaupun ada yang menang, maka selisihnya sangat tipis.

Dua cagub ini memiiliki basis yang sama. Kompetisinya orang kedua. Keduanya berlomba lomba mengambil hati di Mataraman. Khofifah tetap menguasai Mataraman , sedangkan Gus Ipul ada di Pandalungan.   (min)

 

Foto : Sekretaris DPD l Partai Golkar Jawa Timur Sahat Tua Simanjuntak SH saat memberikan pengarahan pada pembukaan diklat fungsionaris partai Golkar yang akan maju caleg pada pemilu legislatif 2019. Fungsionaris juga harus siap diterjunkan menjadi jurkam.
SURABAYA (KoranTransparansi.com) ) – Diklat kader fungsionaris angkatan ke 2 DPD l Partai Golkar Jawa Timur berlangsung di kantor Golkar Jawa Tinur Jalan Ahmad Yani Surabaya Rabu (3/5/2018). Diklat angkatan 2 dibuka Sekretris Golkar Jawa Timur Sahat Tua Simanjuntak SH.
 
Diklat berlangsung berkelanjutan sampai tujuh angkatan. Sedangkan angkatan pertama telah dilakukan pada Senin (1/5/2018) khusus untuk anggota fraksi baik DPRD Jawa Timur, DPRD Kabupaten/Kota dan KSB (Ketua,Sekretris dan Bendahara) partai Golkar Provinsi dan Kabupaten/Kota.
 
Sahat Tua Simnjuntak SH mengatakan ruangan ini sangat bersejarah lantaran dari rungan ini telah melahirkan pemimpin pemimpin Jawa Timur mulai Gubernur sampai Bupati/Walikota.
 
Gedung ini juga menjadi saksi hidup dalam perkembangan Golkar Jawa Timur di bakar oleh massa pada tahun 1998, saat bergulirnya reformasi.
 
Disisi lain Sahat Sahat juga mengingatkan agar teman teman jangan hanya menjadi kader nusda melainkan fungsionaris yang loyal pada partai karena disinilah munculnya pemimpin pemimpin besar.
 
Menurut Sahat Kader Musda adalah kader yang hanya datang saat Musda saja. Kalau sudah tidak jadi pengurus harian, sudah tidak datang lagi. “Ini adalah kader yang tidak baik,” ujarnya.
 
 
Dalam kesempatan itu juga diingat peswrta diklat fungsionaris jangan punya pikiran lagi karena sudah punya sertifikat, lalu tidak mau ikut dan merasa tidak penting lagi mengikuti diklat fungsionaris seperti yang berlangsung saat ini.
 
“Ketua Fraksi Golkar DPRD Jawa Timur mengatakan diklat ini diyakini akan melahirkan fungsionaris fungsionaris handal bukan lagi kadsr struktural saja,” tanbahnya lagi
 
Dikatakan bahwa dalam waktu dekat ini akan banyak partai akan turun semua. Akan berbahaya kalau hanya mengnsilkan kader kader struktutal saja.
 
Partai butuh popularitas dan elektabilitas. Kita sudah sepakat bahwa Golkar mengusung presiden Pak Jokowi dan harus menunjukan peningkatan diatas 65 persen . Kalau ini tercapai maka akan sangat berpengaruh pada pada partai Golkar.
 
Sahat juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Hasta karya yang sudah mengirimkan kader kadernya dalam diklat fungsionaris ini
 
Sementara itu ketua pnitia Kodrat Sunyoto mengatakan Golkar sebagai parpol dalam kurum waktu 2019 dihadapkan tiga tantangan besar selain pilkada pilgub, pilkada Bupati/Walikota, pileg dan pilpres sehingha diharapkan ada peningkatan, pemahaman dan kondisi politik dan militansi kader. Kewajiban sebagai pejuang partai Golkar adalah untuk memenangkan pemilu nanti.
 
Dilporkan oleh Kodrat bahw Pada gelombang dua diikuti 320 kader terdiri peserta 106 laki laki 214 perempuan . Ini membanggakan karenna prosentasenya naik 68 persen.
 
Ada selapan materi yng harua diikuti oleh peserta menyangkut isu isu strategis kampanye,
Komunikasi politik dan medsos, Lalu kententun pilkada pemilu. Dan kede etik dan strategi pemenangan.
 
Diharapkn 8 materi pokok sangat menentukan lukus tidaknya dikkat fungsionaris ini yang diawali dengan tes urin dan kehadiran peserta yang mencapai 97 persen. (min)
Wasekjen PDIP Ahmad Basarah (kedua kanan)

 

SURABAYA (KoranTransparansi.com) - Ketua Umum Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Ahmad Basarah menyampaikan kedatangan putra sulung presiden pertama RI Guntur Soekarno di Jawa Timur pada 11 Mei 2018 membawa tiga misi.

"Ada tiga tujuan yang dibawa Guntur terkait pertemuan di Grand City Surabaya 11 Mei mendatang," ujarnya kepada wartawan usai rapat konsolidasi di Surabaya, Senin malam.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan itu merinci, tujuan pertamanya adalah temu kangen Guntur bersama para barisan Soekarnois di Jawa Timur, kemudian sebagai sarana konsolidasi ideologis kaum Soekarnois, serta dalam rangka kepentingan politik menghadapi Pilkada Jatim 2018.

Menurut dia, Mas Tok, sapaan akrab Guntur, sejak awal tahun 1970-an menghilang dari dinamika politik nasional sehingga banyak publik yang bertanya dan merasakan kehilangan seorang Guntur.

"Beliau sangat lama tidak muncul di permukaan dan inilah saatnya Barisan Soekarnois bertemu dan melepas rindu. Mas Tok hadir juga sebagai wujud bahwa Jatim adalah provinsi marwah Bung Karno hidup karena lahir, besar dan dimakamkan di Jatim," ucapnya.

Sedangkan, terkait Pilkada Jatim, diakuinya sebagai momentum tepat menyatukan kaum nasionalis untuk menambah elektabilitas sekaligus mendongkrak suara pasangan Gus Ipul-Puti Guntur pada Pilkada 27 Juni 2018.

Pada pertemuan bertajuk "Temu Kangen Barisan Soekarnois bersama Guntur Soekarno Putra", kata dia, sudah terdapat 27 organisasi barisan Soekarnois yang menyatakan kehadirannya atau sekitar 1.500 orang.

"Sudah banyak organisasi barisan Soekarnois yang menjadi kepanitiaan dan hadir, tapi kehadiran seluruhnya bersifat eksponensial, artinya pribadi yang tergabung di organisasi-organisasi tersebut," kata ketua tim pemenangan internal PDI Perjuangan untuk Pilkada Jatim itu.

Sejumlah tokoh nasional, lanjut dia, juga dijadwalkan hadir, salah satunya Eros Djarot yang merupakan budayawan terkenal dan akan membawakan puisi khusus.

"Kami juga mengundang Gubernur Jatim Soekarwo yang juga mantan Ketua Umum PA GMNI secara resmi. Apalagi beliau sejatinya adalah Soekarnois. Kepada beliau juga akan kami lapori selaku Gubernur dan tetap menghormati kapasitasnya sebagai ketua Demokrat Jatim," katanya. (den/min)

Ajak Menang dengan Elegan, Gus Ipul : Jangan Gunakan Program Pemerintah untuk Kampanye

KEDIRI - Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut dua, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri deklarasi pemenangan di Kota Kediri, Senin (30/4/2018). 

Berlangsung di Pondok Pesantren Al-Amin, Kota Kediri, acara ini dihadiri oleh ribuan kiai, nyai, hingga gus dan ning (putra dan putri kiai) di Jawa Timur. 

Di antara ulama kharismatik yang hadir di antaranya adalah KH Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amin Kediri dan KH Zainuddin Djajuli, pengasuh Ponpes Al Falah Ploso, Kediri. 

Di awal acara ini, juga diisi pembacaan deklarasi pemenangan pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno. 

Kiai Anwar yang juga tuan rumah di acara ini berpesan kepada jemaah yang hadir untuk menjalankan bunyi deklarasi tersebut. 

Menurutnya, berjuang untuk pasangan Gus Ipul dan Mbak Puti sama halnya dengan memperjuangkan intruksi ulama dan kiai. 

"Acara ini bertujuan untuk menata dan menguatkan hati sebagai bentuk kepatuhan terhadap kiai," kata Gus War, sapaan akrab Kiai Anwar Iskandar. 

Gus War menambahkan, kemenangan pasangan Gus Ipul dan Mbak Puti bukan hanya membawa kemaslahatan untuk Nahdlatul Ulama atau kiai, namun juga kemaslahatan Indonesia. 

"Ini adalah pemimpin yang sudah dipilihkan oleh kiai. Jati diri kita adalah patuh dengan ulama dan guru-guru kita. Insya Allah akan membawa kemenangan untuk Jawa Timur dan Indonesia," kata Gus War. 

Meskipun demikian, Gus War meminta relawan untuk melaksanakan proses pemenangan melalui cara-cara yang mentaati aturan. 

 

"Soal menang atau kalah itu urusan Allah. Terpenting, kesadaran kita untuk memperjuangkan intruksi ulama. Kalau bisa kompak, insya Allah kita menang," tegasnya membakar semangat jemaah yang hadir. 

Senada dengan hal itu, Gus Ipul yang juga memberikan sambutan pada acara ini pun mengingatkan para jemaah untuk berkampanye dengan cara elegan. 

"Sebab kita berjuang untuk memenangkan intruksi ulama. Maka, sudah selaiknya kita berjuang dengan cara yang elegan agar tetap mendapat barokah ulama," ujar salah satu Ketua PBNU ini.

Satu di antaranya adalah dengan tidak menggunakan program pemerintah untuk berkampanye. 

Gus Ipul lantas menyebut temuan kasus dugaan penyalahgunaan Program Keluarga Harapan (PKH) yang dilakukan dengan menyisipkan penyebaran stiker salah satu paslon. 

"Jangan sampai kita menggunakan program pemerintah untuk aktivitas kampanye," tegasnya. 

"Saya minta tolong untuk menyosialisasikan program-program yang telah kami siapkan saja. Di antaranya, program pengurangan kesenjangan ekonomi dan penurunan kemiskinan," ujarnya. 

Kalau niat kita berjuang untuk mencari barokah ulama dan kiai, maka akan dimudahkan jalannya," pungkas keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini. (min)

Karena Keduanya NU, KH Zubair Bangkalan Nyatakan Dukungan untuk Khofifah-Emil

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak sowan ke kediaman KH Zubair Muntasor, Bangkalan, Madura. Khofifah dan Emil disambut hangat Kaia Zubair. 

Silaturahmi ini sekaligus mengawali safari Khofifah dan Emil di Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (27/4/2018). Pasangan nomor satu ini langsung disambut Kiai Zubair ketika memasuki pintu Ponpes.

KH Zubair Muntasor, merupakan salah satu cucu KH Syaikhona Kholil (Mbah Kholil). Kiai Syaikhona Kholil ini merupakan ulama kharismatik yang telah melahirkan ulama-ulama berpengaruh di nusantara dari K.H. Hasyim Asy'ari, K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan lainnya.

Sambutan hangat Kiai Zubair ternyata menegaskan dukungan terhadap pasangan Khofifah-Emil. Pasangan yang didukung para ulama sepuh Jawa Timur ini dinilai sosok yang lahir dan tumbuh besar di NU.

"Sangat layak untuk Jawa Timur, sangat mendukung, sangat mendukung Khofifah dan Emil," KH Zubari menegaskan. 

Khofifah dan Emil dinyatakan KH Zubair, sebagai perwakilan terbaik NU di pemerintahan. Khofifah-Emil disebut layak untuk memimpin Jawa Timur. 

"Dua-duanya dari Nahdlatul Ulama. Khofifah dari NU, wakilnya dari NU. Dua-duanya NU," tuturnya.

KH Zubair pun mendoakan Khofifah dan Emil pun agar diberi kekuatan untuk memimpin Jawa Timur. Saat bersilaturahmi, Khofifah dan Emil ditemani sejumlah kiai kharismatik Jawa Timur, salah satunya Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chlaim.

Di tempat yang sama, Khofifah mengatakan restu ulama untuknya dinilai sangat penting. Pesantren memiliki peran penting sebagai tempat pendidikan dan perjuangan masyarakat.

"Ini bagian penguatan betapa, membangun Jawa Timur harus mendengarkan, rekomendasi  dan mohon doa kepada seluruh elemen terutama para pengasuh pesantren. Ini punya peran signifikan dari sebelum Indonesia merdeka. Pesantren ini menjadi penguatan pendidikan kepada masyarakat," pungkasnya. (tek/min)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...