Tajuk

Kecerdasan Kultural

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin pada orasi ilmiah wisuda ke-78 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (18 Maret) menyampaikan khasanah baru bagi sarjana muslim Indonesia modern, agar senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan di masyarakat tidak sekedar berpedoman kepada kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spritual (SQ), Namun mengajak alumni UINSA memadukan dengan kecerdasan kultural (CQ).

Raja Salman sebuah Inspirasi

RAJA Kerajaan Saudi Arabia Salman Salman bin Abdulaziz al-Saud beberapa waktu lalu mengunjungi Indonesia, sambutan masyarakat begitu luar biasa, hujan dan terik panas matahari sama sekali tidak mengurangi semangat rakyat memberikan sambutan.

Presiden Joko Widodo dan Ketua DPR RI Setya Novanto begitu antusias memberikan sambutan kenegaraan sesuai dengan proporsinya masing masing secara profesional, hampir di semua acara sambutan kenegaraan maupun semi kenegaraan sambutan begitu luar biasa. bahkan tokoh agama dan pimpinan ormas keagamaan serta tokoh masyarakat walaupun hanya sebentar bertemu sang raja, tetap memberi rasa hormat.

Sebelas bentuk kerjasama ditandatangani dan rencana investasi 7 miliar dolar USA (sekira Rp 93 triliun) digelontorkan dengan Indonesia. Dan catatan menggembirakan adalah tambahan Quota haji bagi calon Jamaah haji Indonesia, sehingga memangkas antrean haji lebih cepat 5-8 tahun sesuai dengan jatah kabupaten/kota masing masing.

Hingar bingar dan sambutan luar biasa, sesungguhnya sebuah inspirasi bagi pimpinan di Indonesia bahwa magnet raja Salman begitu kuat dan mengakar di Masyarakat Indonesia, walau ada bumbu masalah tenaga kerja terancam hukuman gantung dengan demo kecil serta beberapa tuntutan yang sama sekali tidak sampai terjadi dialog

Di Pulau Dewata Bali seperti saat Raja Salman disambut ribuan orang dengan rela kehujanan dan terus menerus melambaikan bendera merah putih dan bendera hijau Laa Ila Ha Illallah ... , juga disambut yang sama dengan hangat di pinggir pinggir jalan dengan sambutan menyejukkan, masyarakat Bali.

Raja Salman memang bukan sekedar raja dari Saudi Arabia penjaga haramain (Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh) tempat Jamaah haji Indonesia menjalankan ibadah haji, juga kiblat umat Islam beribadah sholat, serta jutaan orang mengadu nasib menjadi tenaga kerja wanita (TKW/TKI), namun ada kerinduan dengan dengan pemimpin yang bersahaja.

Inilah sebuah inspirasi bagi para pemimpin di negeri ini bahwa menjadi seorang pemimpin butuh keteladanan yang tinggi dan mampu menjaga jati diri sebagai pemimpin sejati, penuh tanggung jawab tanpa janji tetapi mampu memberi pasti, memberi kepastian terhadap semua program. juga transparan dan mampu menjaga kemajuan jaman.


Raja Salman dengan latar belakang pernah menjadi gubernur selama 40 tahun lebih di Riyadh ibu kota Kerajaan Saudi  Arabia, dengan rombongan besar sama sekali tidak ada kesombongan atau kecongkakan , sama sekali bahkan pamer sebagai negara kaya raya yang sombong dan sewenang wenang, tetapi menjaga dengan sopan santun dan akhlaqul Karimah bahkan terkesan mampu mengendalikan nafsu dan emosi dengan cerdas.

Raja Salman sebagai seorang kuffat (hafal Al Quran) sejak kecil dengan pengalaman pemerintahan cukup lama dan kepala sekretariat Kerajaan hampir 10 tahun, menunjukkan seorang pemimpin teladan tanpa mau intervensi urusan keagamaan, walau negara Indonesia sedang gonjang ganjing soal penistaan agama.

Inspirasi seperti ini sebuah kerinduan bagi rakyat Indonesia, pemimpin penuh dengan keteladanan, kejujuran, keterbukaan, kemampuan mengendalikan diri, dan tetap santun walau datang dengan kebesaran. Semoga kedatangan Raja Salman setelah 47 tahun belum ada raja Saudi Arabia datang ke Indonesia, setelah terakhir Raja Saud semasa pemerintahan Presiden Soeharto, setidaknya mampu meredam sebuah persoalan kebangsaan sesaat menjadi hingar bingar kegembiraan. Kita tunggu pemimpin dambaan rakyat yang transparan, jujur, adil, santun, menyejukkan dan mendahulukan kepentingan rakyat dari semua kepentingan. (*)

Transparansi Anggaran Pilkada Serentak

Pesta demokrasi terbesar di dunia di Negara Kesatuan Republik Indonesia masih menyimpan kekurangan mengenai transparansi anggaran, mengingat Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) tidak menerbitkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU)tentang transparansi anggaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Padahal, demokrasi terbesar dalam sejarah anak manusia ini menghabiskan dana trilunan rupiah.

Sepakbola Indonesia dari Titik Nol

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Edy Rahmayadi yang paham benar arti fair play dalam sepakbola, sudah terpilih dan dilantik menjadi Ketua Umum PSSI  periode 2016-2020, beberapa program sudah mulai dijalankan termasuk memilih pelatih asing dan pelatih terbaik di republik ini.

Media Jurnalistik

Jan 18, 2017
Ilustrasi

Ketika media sosial tiba-tiba saja menjelma menjadi ’’petarung’’ di dunia maya, menjelma menjadi media informasi, media informasi publik, bahkan mengubah model menjadi media informaasi (jurnalistik). Pemerintah mau tidak mau harus menghadapi sebuah tantangan fenemena baru perkembangan dan percepatan transformasi informasi yang sudah mampu menembus mata dunia dari hasil karya anak-anak bangsa.

Terorisme? Teror atau Jihad

Sekadar merenung saja apakah aktivitas kelompok tertentu yang disebut terotis, seperti ’’Bom Panci’’, ’’Bom Tangsel’’, ’’Bom Samarinda’’, sudah kelas teroris atau sekedar teror ataukah jihad. Jihad dalama sejerah bangsa Indonesia adalah Resolusi Jihad pada tanggal 21-22 Oktober di Surabaya, teroris terbesar di antara rentetan teror adalah Bom Bali. Sekali lagi sekedar merenung?

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...