Tajuk

Published in Tajuk

Ketika Menpora Minta Maaf (Bukan Bim Salabim)

Sep 07, 2017 Publish by 

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi meminta maaf atas prestasi jeblok kontingen SEA Games 2017, sekaligus merupakan catatan prestasi terburuk sejak Indonesia berpartisipasi aktif dalam perhelatan olahraga bangsabangsa se Asia Tenggara pada tahun 1977 atau 40 tahun silam.

Menpora juga akan bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.’’Tidak terpenuhinya target dan perkembangan yang terjadi, bahkan desakan dari seluruh rakyat Indonesia, selain minta maaf barang tentu kami akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga karena ini harga diri bangsa yang harus ditangani serius,’’ ujar Imam. dalam konferensi pers di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (31/8), Imam juga megapresiasi kontingen Indonesia yang meraih 38 emas, 63 perak, dan 90 perunggu di SEA Games 2017.

Keberanian Menpora minta maaf, keberanian Menpora akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga, merupakan sedikit perubahan budaya terhadap para pejabat di Negera Kesatuan Republik Indonesia, dimana mau menyatakan kegagalan dan memohon maaf. Tetapi berbeda dengan di negara-negara maju, kebiasaan seperti itu dilanjutkan dengan mengundurkan diri atau menyatakan tidak sanggup mengemban amanat dengan berbagai alasan sangat kuat.

Sementara Menpora hanya sekedar menyampaikan pidato secara umum tanpa memberikan alasan mengapa kontingen Indonesia gagal total, dan sepanjang keikutsertaan di SEA Games, dimana Indonesia ketika ikut pertama kali di Malaysia pada tahun 1977 berhasil meraih predikat juara umum dengan perolehan medali emas 62, Thailand 37 dan Burma / Myanmar 31.

Menpora juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para atlet yang berhasil membawa pulang 38 medali emas, ’’Kita tentu harus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dedikasi pengorbanan untuk menghadirkan prestasi meraih medali. Terima kasih kepada atlet yang berjuang penuh kejujuran, sportivitas dan meraih medali yang diperoleh dari kejujuran dan sportivitas itu,’’ kata menteri.

Tetapi sesungguhnya hal itu sama sekali tidak cukup kuat untuk mengubah kekuatan olahraga di Negara Kesatuan Republik Indonesia, kalau hanya pidato-pidato saja tanpa ada penjelasan secara rinci dari masing-masing cabang olahraga, dengan penjelasan secara detail pada cabang olahraga terukur dengan perbandingan dengan negara lain, dan kelebihan serta kelemahan atlet Indonesia. Sebab, kalkulasi di bidang olahraga memang membutuhkan transpransi secara utuh dan membutuhkan menanganan non-tehnis yang super ekstra. Oleh sebab itu, langkah besar seperti apa menghadapi Asian Games yang kurang 1 tahun, dimana Indonesia sebagai tuan rumah, tentu saja masih menjadi pertanyaan besar, tentang
keseriusan penanganan olahraga secara sungguh-sungguh.

Itu berbeda ’’Ketika Menpora Minta Maaf’’ dengan kalkulasi olahraga yang membutuhkan keahlian khusus menyampaikan bahwa kegagalan di Malaysia dari seluruh cabang olahraga yang diikuti disebabkan karena faktor kekalahan di nomor terukur, dan kemenangan atau keberhasilan di nomor terukur, dijelaskan dengan panjang lebar, sekaligus menyampaikan secara terbuka dengan mengirim atlet beserta offi cial cukup besar itu, menghabiskan anggaran APBN berapa? Atau ada kendala-kendala apa saja.

Itu berbeda ’’Ketika Menpora Minta Maaf’’ jika kalkulasi olahraga yang dijelaskan ada pernyataan non-tehnis mengapa Malaysia begitu super hebat sehingga mampu mengumpulkan pundi-pundi emas 145, jauh daripada perolehan Indonesia yang memang masih di bawah Thailand, Vietnam dan Singapura, sehingga mau tidak mau harus ada perhitungan olahraga cerdas, termasuk kira-kira peluang pada perhelatan Asian Games mendatang.

Menpora secara samar Menpora menjelaskan bahwa ada persoalan dengan keuangan karena menyesuaikan tertib administrasi keuangan, tetapi apakah kontingen SEA Games 2017, masih harus berhitung soal keuangan, mengingat mereka adalah duta bangsa dan menjadi wakil 260 juta lebih warga negara Indonesia yang sangat berharap Indonesia berjaya walau harus mengeluarkan anggaran besar.

Kalkulasi olahraga tidak berbeda jauh dengan kalkulasi membangun jembatan atau jalan tol, sehingga harus satu tambah satu sama dengan dua. Padahal percepatan pembangunan jalan tol sudah berubah dengan satu tambah satu boleh lebih dari dua. Artinya bahwa masalah olahraga tidak sekedar, membina, melatih, menjadi guru, menjadi bapak, menjadi pelatih, tetapi menyelami jiwa atlet sehingga secara totalitas mengetahui kebutuhan mendasar dan kebutuhan lain, sehingga atlet hanya memikirkan prestasi olahraga, tanpa harus memikirkan dapur, kasur, dan sumur. Demikian juga bagi atlet yang masih di bangku pendidikan menengah pertama, menengah atas, maupun perguruan tinggi, model pembelajaran harus diubah, dimana mereka tidak boleh lagi mendapat kewajiban belajar sama dengan pelajar atau mahasiswa yang bukan atlet.

Kalimat bersayap Menpora ’’.....akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga’’. Sungguh sangat strategis jika benar-benar segera direalisasikan dengan mengajak para pemangku olahraga bersama Presiden Joko Widodo dan seluruh kementerian terkait, duduk bersama membincangkan prestasi olahraga Indonesia yang sudah sangat memprihatinkan. Paling tidak menyelamatkan muka Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2017, bukan sekedar merenovasi Stadion Utama Bung Karno dan beberapa venus atau membangun fasilitas tambahan di Palembang,
namun atlet Indonesia mampu menorehkan sejarah dengan mengukir prestasi yang Bukan Bim Salabim. Prestasi spektakuler di event Asian Games dan internasional sehingga ada harapan di depan mata bahwa kita akan bangkit lagi. Indonesia akan bangkit lagi. !!!

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...