Tajuk

Published in Tajuk

Halal Bi Halal = Pancasila

Jul 14, 2017 Publish by 
Halal Bi Halal = Pancasila

Tradisi halal bi halal merupakan sebuah kekuatan dahsyat bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak? Tradisi modern hasil ijtihad ulama-ulama di Indonesia memberikan penguatan bahawa dengan menetapkan halal bi halal sebagai model merekatkan  persaudaraan dan persatuan juga kesatuan antar-anak bangsa, justru lahir dari sebuah kegiatan religius sangat fundamnetal, yaitu meneruskan Hari Raya Idul Fitri, sebagai simbol kemenangan umat Islam  mencapai derajat bertaqwa, bagi mereka yang beriman dan beramal  sholeh, juga menjalankan ibadah wajib puasa sebulan penuh dalam  bulan suci Ramadhan.

Halal bi halal juga sangat identik dengan dasar negara Pancasila, sebab Pancasila dengan 5 sila sangat mendasar dalam kehidupan manusia di muka bumi Indonesia, menjadi falsafah dan dasar hukum bagi masyarakat Indonesia, bukan sekedar sila pertama, KeTuhanan Yang Maha Esa, yang menjadi dasar sangat kuat dan kokoh, tetapi sila kedua sampai kelima menunjukkan bahwa halal bi halal memang sama sebangun dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang dikenal dengan kekuatan gotong royong, kebersamaan dalam segala hal.

Bahwa sila pertama sudah mencerminkan bahwa di Indonesia wajib sebagai syarat warga negara beragama sudah jelas, tegas, dan cerdas, namun sila kedua, Kemanusian yang adil dan beradab; sila ketiga, Persatuan Indonesia; sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat  kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan sila kelima,  keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka jiwa gotong royong  dan kebersamaan dalam segala hal seharusnya menjadi ciri khas bangsa  Indonesia, atau siapa saja yang menginjakkan kaki serta menghirup  udara segar di bumi pertiwi Indonesia.

Oleh karena itu, halal bi halal merupakan sebuah hasil karya besar ulama dalam berdakwah yang sangat stretagis. Halal bi halal sesungguhnya bukan sekedar salam salaman saling memaafk  an, dan itu memang simbol dari kekuatan antarmanusia untuk saling meminta maaf  dan memberi maaf secara tulus dan ikhlas. Namun yang terkandung dari  maksud halal bi halal bahwa setiap melakukan tradisi ini, konon ulama menyatakan bahwa halal bi halal berlaku untuk umat beragama lain atau keyakinan lain, itu berarti mengingatkan bahwa setiap melaksanakan tradisi itu, seharusnya melakukan cermin diri atas kesalahan berbangsa dan bernegara, juga kesalahan dan kekhilafan melakukan hubungan atau komunikasi dalam melakukan aktifi tas sehari-hari.

Mengapa demikian? Karya besar ulama bernama halal bi halal ini, selain hanya ada di Indonesia dan belum dijumpai di negara Islam manapun. Hal itu tidak lepas dari fi losofi   Pancasila yang merupakan jiwa dan roh dari Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, bahwa masyarakat Indonesia dengan halal bi halal sesungguhnya dari penguasa, pengusaha, dan publik (masyarakat) untuk selalu introspeksi bahwa tradisi saling meminta maaf dan memberi maaf, harus dilakukan dengan cermin diri, apakah selama ini sudah sesuai dengan sila-sila Pancasila atau hanya sekedar mengucapkan, tetapi belum melaksanakan.

Apalagi kalau sekedar mengucapkan dan berencana atau sudah melakukan menyimpangan bahkan pembusukan, maka hal itu sangat mengkhianati Pancasila juga tidak memahami dan mengerti apa makna dan hikmah besar yang terkandung pada tradisi halal bi halal yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia, bahkan bangsa-bangsa negara  lain yang hidup di Indonesia untuk saling meminta maaf dan memberi  maaf. Sebuah keluhuran budi pekerti sekaligus evaluasi sebagai cermin   diri, maka keajaiban di bumi Indonesia yang sudah berkali kali nyata  dalam berbagai peristiwa, tidak tertutup kemungkinan bakal terjadi lagi.

Memang sampai hari ini belum ada kepastian dan menjadi hak cipta atau penemuan dari ijtihad ulama siapa awal mula halal bi halal ditetapkan sebagai tradisi, tetapi semakin modern justru tradisi ini semakin  mendekatkan sebuah kesadaran bermasyarakat untuk saling mengevaluasi, mengoreksi, juga melakukan perbaikan perilaku diri. Sehingga ada  muatan amat dahsyat untuk meningkatkan kerukunan antarmasyarakat  dalam berbagai aktifi  tas, walaupun berbeda agama dan keyakinan.

Ijtihad ulama mentradisikan halal bi halal tentu saja berdasarkan hadits di bawah ini, ’’Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa pernah berbuat dzalim kepada saudaranya, maka hendaknya ia minta kehalalannya (minta maaf). Sebab disana (akhirat) tidak ada dinar dan dirham (untuk menebus kesalahan). Sebelum amal kebaikannya diambil dan diberikan kepada saudaranya yang didzalimi tersebut. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan dilemparkan kepadanya’’. (HR alBukhari No 6534)

Madzlamah atau perbuatan dzalim tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Saw (dalam riwayat Ahmad No 10580) meliputi dua hal, yakni  berbuat salah kepada orang lain secara fi sik atau psikis, dan berbuat  salah yang berkaitan dengan harta. Dari perbuatan dzalim tersebut,  kita diharuskan meminta halal atau maaf kepada orang yang pernah  kita dzalimi. Kendatipun terlihat remeh dan sepele, namun meminta  halal atau maaf ini memiliki hikmah yang sangat berguna, yakni nanti  kita tidak melewati peradilan akhirat yang sangat berat sebagaimana  dijelaskan dalam hadis tersebut, sehingga lebih cepat dalam proses  masuk ke surga Allah, Amin.

Namun karya besar ulama bernama halal bi halal ini juga berlaku  bagi umat non-muslim karena tradisi halal bi halal memang bukan  sekedar urusan keagamaan, tetapi sudah menyentuh pada urusan komunikasi kehidupan dalam kenyataan sehari-hari, baik di kantor, kampung, tempat kerja, terminal, stasiun, atau tempat-tempat di mana manusia senantisasi melakukan komunikasi untuk kepentingan diri atau kepentingan kelompok dan kepentingan negeri.

Sebagaimana hadis Rasulullah Saw: ’’Diriwayatkan dari Sakhbarah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa diberi cobaan  kemudian bersabar, diberi nikmat kemudian bersyukur, dianiaya kemudian memaafk  an, dan berbuat dzalim kemudian meminta maaf, maka merekalah yang mendapatkan kedamaian dan merekalah yang mendapat hidayah’’ (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 6482 dan alBaihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 4117).

Dengan demikian, dalam kehiduapan berbangsa dan bernegara di Indonesia, maka halal bi halal bukan sekedar menjalankan tradisi sebuah karya besar ulama Indonesia, tetapi menjadi bagian terpenting dakwah tingkat tinggi, karena selalu terselip permohonan maaaf dan memberi maaf, yang tentu saja dalam pengamalan Pancasila menyangkut hak pribadi maupun hak hajat hidup orang banyak. Disinilah apabila diambil hikmah yang sangat terpuji dan mulia, maka di Indonesia pada  masa mendatang, tidak akan ada lagi disparitas dalam berbagai hal atau  kepentingan. Sebab, standar kehidupan akan menjadi kesepakatan  masyarakat secara gotong royong, kemudian menyampaikan kepada  para wakil sebagai satu sikap menuju perjuangan sejati, yakni Indonesia  berdiri dengan kaki sendiri, mengangkat derajat anak negeri.

Halal bi halal pada Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah tentu saja masih jauh dari nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila, tetapi tradisi ini sudah menjadi model memaknai kehidupan di bumi pertiwi. Redaksi Koran Transparansi (cetak) maupun Korantransparansi.com mengucapkan mohon maaf lahir batin, tentu saja dalam kapasitas sebagai sebuah  penerbitan dan online, tradisi yang sama juga menyesuaikan dengan  bidang dan aktifi tas masing-masing sesuai dengan profesi, kegiatan,  aktifi  tas maupun rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.

Hari ini memang baru menjalankan tradisi halal bi halal sebuah karya besar ulama, tetapi insyaAllah dengan keyakinan amat tinggi, dengan ridlo dan pertolongan Allah Swt, bukan sesuatu yang muskil akan terjadi kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran yang sudah lama menjadi cita-cita akan menjadi kenyataan karena kesadaran melalui halal bi halal, dan menenun sejarah berbangsa, berenegara, dan  beragama melalui fi losofi  halal bi halal, selalu evaluasi, introspeksi, dan  memperbaiki diri dalam bentuk apa pun karena kemauan hati nurani nan suci. InsyaAllah (*).

banner