Tajuk

Published in Tajuk

Antara Mudik, Idul Fitri, dan Hari Raya Ketupat

Jun 19, 2017 Publish by 
Antara Mudik, Idul Fitri, dan Hari Raya Ketupat

Suasana Mudik pada setiap lebaran sudah mulai terasa sejak3 bulan sebelum tradisi mengujungi kampung halamanitu dilaksanakan, di Indonesia tiket kereta api sudah mulaiboleh dipesan dan dibeli, dan itupun harus antri dan berebut. Panitia Mudik di sejumlah instansi dan lembaga juga sudah mulai merencanakan acara Mudik. Sebuah potret bahwa begitu sakral bagi umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan tradisi Mudik ini

Bahkan begitu kuat tradisi Mudik di Indonesia, sehingga hampir semua aktifi tas pada saat menjelang dan sesudah berlangsung Mudik, hampir semua organisasi pemerintah dan swasta konsentrasi penuh dalam program Mudik. Mulai Mudik Aman dengan persiapan jalan-jalan protokol disulap menjadi mulus tanpa lubang sampai faktor keamanan pemudik dengan disediakan berbagai kemudahan secara masiv. Bahkan pemerintah melalui sejumlah lembaga maupun kementerian juga pihak swasta menyelenggarakan kegiatan bernama ’’Mudik Gratis’’.

Tradisi Mudik sesungguhnya adalah perwujudan dari sebuah kegiatan ritual begitu kuat dalam menjalan ibadah secara berkesinambungan sesuai dengan perintah Allah SWT dalam kitab Suci Al-Qur’an, ’’Hai Orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan pada umat sebelumnya, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa’’. Dimana umat Islam setelah meraih kemenangan menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang didalam bulan itu, ada sholat sunnah Taraweh yang khusus hanya diselengggarakan pada bulan Ramadhan, turunnya Al-Qur’an pertama kali pada malam 17 bulan Ramadhan, juga sebuah hadiah terbesar sepanjang jaman yaitu Lailatul Qadar (dimana iabadah satu malam bernilai sama dengan ibadah 83 tahun atau 1000 bulan), dan sejumlah rangakain ibadah lainnya, sehingga sangatlah pantas kegembiraan itu diwujudkan dalam bentuk Mudik. Apalagi Mudik sebagai sebuah keniscayaan itu sendiri bermuatan memohon maaf dan memberi maaf atau sesama umat Islam saling memafaatkan.

Sebagai referensi bahwa kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya ’’Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’’ dan Sabda Rasulullah lain. ’’Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu’’. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri bisa berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal saat manusia dilahirkan sewaktu bayi, dalam keadaan suci (sebuah hubungan dengan Allah Ta’ala) sedangkan menyempurnakan menjadi suci dalam berhubungan dengan sesama manusia, maka saling memaaf an itulah pada dasarnya harus meminta maaf dengan tulus ikhlas kepada kedua orangtua, juga sanak saudara.

Dalam bahasa Jawa, hari raya Idul Fitri disebut juga dengan istilah “lebaran”. Lebaran mengandung maksud lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya akan bisa lebaran dari kemaksiatan. Lebur artinya lebur dari dosa. Luber artinya luber dari pahala, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT. Labur artinya bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa, makanya wajar kalau mau lebaran rumah-rumah banyak yang dicat (dilabur/dikuas) hal ini mengandung arti pembersihan dhohir disamping pembersihan batin yang telah dilakukan.

Antara Mudik, Idul Fitri, dan Hara Raya Ketupat mengandung makna sangat hakiki sebagai sebuah tradisi suci bagi umat Islam yang dengan sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan selama 1 (satu) bulan penuh, kemudian dengan tulus ikhlas menyatakan kembali ke kampung halaman, kembali ke pangkuan orangtua (sungkem orangtua) untuk memohon maaf, sekaligus berniat silaturrahmi dengan melakukan kunjungan ke sanak saudara serta famili untuk saling memaaf an, merupakan satu rangkaian ibadah begitu dahsyat.

Bahkan filosofi dari ’’Hari Raya Ketupat’’ sebagai sebuah hadiah bagi umat Islam berhasil menjalan puasa 1 tahun penuh, hal itu sebagai penjelasan dari Hadits Rasulullah SAW, ’’Barangsiapa berpuasa 1 hari mendapat pahala (sedikitnya sama dengan puasa 10 hari)’’. Maka penggabungan setelah puasa Ramadhan 30 hari, ditambah puasa sunnah Syawal 6 hari, maka setiap umat Islam setelah berhasil melewati puasa wajib dan sunnah dengan total 36 hari tersebut, berarti sama dengan puasa 360 hari atau puasa 1 tahun penuh.

Filosofi dan makna agung dari Hari Raya Ketupat, terkait hidangan khas waktu lebaran yaitu ketupat, dalam bahasa Jawa ketupat diartikan dengan ngaku lepat alias mengaku kesalahan, bentuk segi empat dari ketupat mempunyai makna kiblat papat lima pancer yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat yaitu arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh harus dikembalikan kepada kehendak Allah SWT.

Kekayaan budaya Jawa dengan makna dan filosofi begitu agung, dimana proses membuat anyaman ketupat dari janur digambarkan sebagai potret kehidupan manusia. Warna putih ketupat ketika dibelah dimaknai melambangkan kebersihan setelah bermaafmaafan. Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran. Janur yang ada di ketupat berasal dari kata jaa-a al-nur bermakna telah datang cahaya atau janur adalah sejatinya cahaya kesucian dari hamba Allah SWT yang beribadah dengan sungguh-sungguh dalam gerakan tradisi. Apalagi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, para ulama dari jaman dulu memberi simbol sesama umat atau warga negara Indonesia saling memaaf an dengan tradisi ’’Halal bi Halal’’ yang sama sekali belum pernah ada di negara mana pun. Dengan sebuah harapan saat itu sudah saling memaaf an dan tidak ada rasa permusuhan sama sekali. Inilah sebuah kekayaan ibadah.

Gerakan kebersamaan menuju kebaikan itu adalah sebuah kekayaan ibadah, maka pesan paling mendalam dari berbagai aktifi tas yang berkaitan dengan Mudik, Idul Fitri, dan Hari Raya Ketupat, juga berbagai kegiatan maupun aktifi tas dengan berdasar dari tradisi dan ibadah suci ini, maka semua harus dijalan dengan berbudi pekerti yang tinggi, dengan moral yang santun, sebagaimana pesan sekaligus tugas utama Rasulullah SAW. ’’Sesungguhnya Aku (Nabi Muhammad) diutus –-hanya--- Untuk menyempurnakan akhlaq (manusia) menjadi mulia’’.

Oleh karena itu, tradisi Mudik sebagai penyempurna menjalankan rangkaian ibadah suci selama bulan suci Ramadhan, baik ibadah wajib maupun sunnah, maka seluruh umat Islam harus menjaga makna kesucian serta keluhuran perpaduan antara ibadah dan tradisi yang sama-sama perwujudan dari nilai kesucian dengan berperilaku yang sopan santun, bersahaja, dan selalu menjaga serta memelihara dalam suasana beribadah penuh makna untuk kesejahteraan sesama umat manusia menuju kehidupan sempurna, selamat, sukses dan surplus total dalam kehidupan di dunia dan akherat. (*)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...