Tajuk

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi meminta maaf atas prestasi jeblok kontingen SEA Games 2017, sekaligus merupakan catatan prestasi terburuk sejak Indonesia berpartisipasi aktif dalam perhelatan olahraga bangsabangsa se Asia Tenggara pada tahun 1977 atau 40 tahun silam.

Menpora juga akan bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.’’Tidak terpenuhinya target dan perkembangan yang terjadi, bahkan desakan dari seluruh rakyat Indonesia, selain minta maaf barang tentu kami akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga karena ini harga diri bangsa yang harus ditangani serius,’’ ujar Imam. dalam konferensi pers di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (31/8), Imam juga megapresiasi kontingen Indonesia yang meraih 38 emas, 63 perak, dan 90 perunggu di SEA Games 2017.

Keberanian Menpora minta maaf, keberanian Menpora akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga, merupakan sedikit perubahan budaya terhadap para pejabat di Negera Kesatuan Republik Indonesia, dimana mau menyatakan kegagalan dan memohon maaf. Tetapi berbeda dengan di negara-negara maju, kebiasaan seperti itu dilanjutkan dengan mengundurkan diri atau menyatakan tidak sanggup mengemban amanat dengan berbagai alasan sangat kuat.

Sementara Menpora hanya sekedar menyampaikan pidato secara umum tanpa memberikan alasan mengapa kontingen Indonesia gagal total, dan sepanjang keikutsertaan di SEA Games, dimana Indonesia ketika ikut pertama kali di Malaysia pada tahun 1977 berhasil meraih predikat juara umum dengan perolehan medali emas 62, Thailand 37 dan Burma / Myanmar 31.

Menpora juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para atlet yang berhasil membawa pulang 38 medali emas, ’’Kita tentu harus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dedikasi pengorbanan untuk menghadirkan prestasi meraih medali. Terima kasih kepada atlet yang berjuang penuh kejujuran, sportivitas dan meraih medali yang diperoleh dari kejujuran dan sportivitas itu,’’ kata menteri.

Tetapi sesungguhnya hal itu sama sekali tidak cukup kuat untuk mengubah kekuatan olahraga di Negara Kesatuan Republik Indonesia, kalau hanya pidato-pidato saja tanpa ada penjelasan secara rinci dari masing-masing cabang olahraga, dengan penjelasan secara detail pada cabang olahraga terukur dengan perbandingan dengan negara lain, dan kelebihan serta kelemahan atlet Indonesia. Sebab, kalkulasi di bidang olahraga memang membutuhkan transpransi secara utuh dan membutuhkan menanganan non-tehnis yang super ekstra. Oleh sebab itu, langkah besar seperti apa menghadapi Asian Games yang kurang 1 tahun, dimana Indonesia sebagai tuan rumah, tentu saja masih menjadi pertanyaan besar, tentang
keseriusan penanganan olahraga secara sungguh-sungguh.

Itu berbeda ’’Ketika Menpora Minta Maaf’’ dengan kalkulasi olahraga yang membutuhkan keahlian khusus menyampaikan bahwa kegagalan di Malaysia dari seluruh cabang olahraga yang diikuti disebabkan karena faktor kekalahan di nomor terukur, dan kemenangan atau keberhasilan di nomor terukur, dijelaskan dengan panjang lebar, sekaligus menyampaikan secara terbuka dengan mengirim atlet beserta offi cial cukup besar itu, menghabiskan anggaran APBN berapa? Atau ada kendala-kendala apa saja.

Itu berbeda ’’Ketika Menpora Minta Maaf’’ jika kalkulasi olahraga yang dijelaskan ada pernyataan non-tehnis mengapa Malaysia begitu super hebat sehingga mampu mengumpulkan pundi-pundi emas 145, jauh daripada perolehan Indonesia yang memang masih di bawah Thailand, Vietnam dan Singapura, sehingga mau tidak mau harus ada perhitungan olahraga cerdas, termasuk kira-kira peluang pada perhelatan Asian Games mendatang.

Menpora secara samar Menpora menjelaskan bahwa ada persoalan dengan keuangan karena menyesuaikan tertib administrasi keuangan, tetapi apakah kontingen SEA Games 2017, masih harus berhitung soal keuangan, mengingat mereka adalah duta bangsa dan menjadi wakil 260 juta lebih warga negara Indonesia yang sangat berharap Indonesia berjaya walau harus mengeluarkan anggaran besar.

Kalkulasi olahraga tidak berbeda jauh dengan kalkulasi membangun jembatan atau jalan tol, sehingga harus satu tambah satu sama dengan dua. Padahal percepatan pembangunan jalan tol sudah berubah dengan satu tambah satu boleh lebih dari dua. Artinya bahwa masalah olahraga tidak sekedar, membina, melatih, menjadi guru, menjadi bapak, menjadi pelatih, tetapi menyelami jiwa atlet sehingga secara totalitas mengetahui kebutuhan mendasar dan kebutuhan lain, sehingga atlet hanya memikirkan prestasi olahraga, tanpa harus memikirkan dapur, kasur, dan sumur. Demikian juga bagi atlet yang masih di bangku pendidikan menengah pertama, menengah atas, maupun perguruan tinggi, model pembelajaran harus diubah, dimana mereka tidak boleh lagi mendapat kewajiban belajar sama dengan pelajar atau mahasiswa yang bukan atlet.

Kalimat bersayap Menpora ’’.....akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga’’. Sungguh sangat strategis jika benar-benar segera direalisasikan dengan mengajak para pemangku olahraga bersama Presiden Joko Widodo dan seluruh kementerian terkait, duduk bersama membincangkan prestasi olahraga Indonesia yang sudah sangat memprihatinkan. Paling tidak menyelamatkan muka Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2017, bukan sekedar merenovasi Stadion Utama Bung Karno dan beberapa venus atau membangun fasilitas tambahan di Palembang,
namun atlet Indonesia mampu menorehkan sejarah dengan mengukir prestasi yang Bukan Bim Salabim. Prestasi spektakuler di event Asian Games dan internasional sehingga ada harapan di depan mata bahwa kita akan bangkit lagi. Indonesia akan bangkit lagi. !!!

Merdeka atau Mereka

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu adalah hak segala bangsa
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar belum
merasakan kemerdekaan secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu bebas dari penjajahan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar terjerumus
dalam praktek penjajahan secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu menjunjung tinggi
perikemanusian dan perikeadilan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar masuk
jurang cukup dalam praktek tidak manusiawi, bahkan jatuh
terperosok masuk lingkaran jauh dari rasa keadilan secara
sungguh-sungguh.
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu kebahagiaan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak bahagia
bahkan masih tercatat sengsara secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu pintu gerbang bersatu
    Mengapa persatuan (maaf, gotong royong) hanya
digembar gemborkan saat kerja bhakti tetapi sesungguhnya
tercabik cabik dalam perpecahan sunyi karena sesungguhnya
memang tidak bersatu secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu berdaulat
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
berdaulat (bahkan tanpa mahkota martabat) secara sungguhsungguh
    Hakikinya merdeka itu adil dan makmur
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
menikmati keadilan juga tidak makmur secara sungguhsungguh.
Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas
    Mengapa bangsa Indonesia sebagai besar tidak
memperoleh kehidupan kebangsaan yang bebas secara
sungguh-sungguh
    Hakikinya kemerdekaan itu Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar,
memain-mainkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara
sungguh-sungguh (maaf, bersumpah, beragama, berkorupsi,
berpungli, ber...niat meninggalkan dan menanggalkan kebaikan)
    Hakikinya merdeka itu dorongan keinginan luhur
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak mencerminkan
leluhur yang berbudi pekerti luhur secara sungguhsungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu membentuk suatu pemerintah
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
mendapat perlindungan secara sungguh-sungguh.
    Hakikinya merdeka itu memajukan kesejahteraan umum
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar di depan
umum banyak tidak sejahtera secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu mencerdaskan kehidupan bangsa
Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar belum
mendapatkan kesempatan cerdas secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial secara sungguh sungguh.
    Mengapa banga Indonesia sebagian besar tidak
menikmati secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu sudah bisa mensyukuri dan
menikmati semua kenikmatan di Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan sungguh-sungguh
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
menikmati secara sungguh-sungguh (maaf, menjadi buruh
di negeri sendiri dan menjadi buruh negeri orang)
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa),

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu sudah 72 tahun
Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar sepertinya
belum merdeka,
    Masih nampak seperti anak kemarin secara
sungguh-sungguh.
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar masih terjajah
secara sungguh-sungguh
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar sepertinya
masih berjuang (kembali). secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa),

Lokasi tempat Nabi Ismail disembelih (dlingkari) di kawasan Mina.

HAMPIR seluruh jamaah haji para dloifullah (tamu Allah) mulai berdatangan ke Makkatul Mukarromah, di Mekah. Selain melaksanakan umroh wajib bagian dari ritual ibadah haji (baik yang memilih haji Tamattu’ atau haji Qiron), para tamu yang diberikan kebarokahan oleh Allah SWT tentu berlomba memperbanyak ibadah di masjidil Haram, sambil menunggu puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arofah, pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Pesta Demokrasi

Aug 03, 2017
Pesta Demokrasi

Negara Kesatuan Republik Indonesia kembaliakan memecahkan rekor pelaksanaan pestademokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyatuntuk kali ketiga, pada tanggal 27 Juni 2018, ketika Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan digelar pada 17 provinsi, termasuk Provinsi Jawa Timur, 154 kabupaten/kota, dengan catata 18 berada di Jatim. Situasi politik di 171 daerah mulai memanas dan pertarungan perebutan kekuasaan mulai diletup-letupkan.

Halal Bi Halal = Pancasila

Tradisi halal bi halal merupakan sebuah kekuatan dahsyat bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak? Tradisi modern hasil ijtihad ulama-ulama di Indonesia memberikan penguatan bahawa dengan menetapkan halal bi halal sebagai model merekatkan  persaudaraan dan persatuan juga kesatuan antar-anak bangsa, justru lahir dari sebuah kegiatan religius sangat fundamnetal, yaitu meneruskan Hari Raya Idul Fitri, sebagai simbol kemenangan umat Islam  mencapai derajat bertaqwa, bagi mereka yang beriman dan beramal  sholeh, juga menjalankan ibadah wajib puasa sebulan penuh dalam  bulan suci Ramadhan.

Antara Mudik, Idul Fitri, dan Hari Raya Ketupat

Suasana Mudik pada setiap lebaran sudah mulai terasa sejak3 bulan sebelum tradisi mengujungi kampung halamanitu dilaksanakan, di Indonesia tiket kereta api sudah mulaiboleh dipesan dan dibeli, dan itupun harus antri dan berebut. Panitia Mudik di sejumlah instansi dan lembaga juga sudah mulai merencanakan acara Mudik. Sebuah potret bahwa begitu sakral bagi umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan tradisi Mudik ini

  •  Start 
  •  1 
  •  End 
banner

> BERITA TERKINI lainnya ...