Tajuk

Mengubah Tradisi

Dec 23, 2018
Mengubah Tradisi

Tajuk Transparansi

MENGUBAH tradisi setiap pergantian tahun bagi masyarakat Indonesia memang tidak mudah, mengingat tradisi meniup terompet, membakar kembang api atau petasan berbagai model, di akhir tahun sampai awal tahun, seakan-akan menjadi sebuah titel bahwa mereka telah mampu berpesta selama 2 tahun. (akhir dan awal tahun), sehingga kalau dilakukan secara terus menerus setiap tahun, seakan-akan sebagai manusia hebat sepanjang tahun.

Tetapi pemikiran salah tersebut, sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan sudah menjadi tradisi, sehingga tidak mudah mengubah begitu saja. Apalagi di Indonesia budaya ikut-ikutan cukup kuat, bahkan hanya karena mempertahankan paham ikut-ikutan, tidak jarang bisa menimbulkan pertikaian atau permusuhan turun temurun.

Khusus untuk tradisi akhir dan awal tahun, masyarakat Indonesia terutama umat Islam, perlu melakukan perenungan sangat mendalam bahwa melepas dari tradisi salah itu harus dilawan dengan kesantunan.

Berikut ini do’a akhir tahun ketika Rasulullah Muhammad saw, mengajarkan pada pergantian tahun hijriyah. Do’a Akhir Tahun ’’Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala Puji bagi Allah, Tuhan seluruh Alam.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, segala yang telah kukerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat, padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.

Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.

Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.’’.

Doa di atas sangat menggambarkan begitu agung umat Islam mendapatkan tuntunan untuk melakukan inrospeksi atas kesalahan, bahkan kemaksiatan agar mendapat ampunan juga selalu mendapat rahmat dan kesejehteraan.

Tentu saja selamat duinia dan akhirat, Alangkah indah dan bermartabat ketika umat Islam Indonesia menjadikan pergantian tahun baru masehi dan digunakan sebagai penanggalan administrasi negara dan bangsa Indonesia, mengubah tradisi salah kaprah menuju tradisi berdo’a dan berdzikir.

Selanjutnya meneruskan tradisi berdoa’a dan berdzikir dengan membaca do’a awal tahun di bawah ini: Do’a Awal Tahun ’’Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang.

Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarganya dan sahabatnya.

Dan Segala puji milik Allah, Tuhan seluruh alam. Amin yaa rabbal ‘alamin Semoga Allah SWT mengijabah doa-doa kita. Amin.’’ InsyaAllah dengan memanjatkan do’a kepada Allah SWT, maka umat Islam khusus dan bangsa serta negara Indonesia pada umumnya, akan diselematkan dari berbagai marah bahaya, dan ancaman dekadensi moral, bahkan kekuatan pemodal dan kekuatan pengusaha nakal narkotika meracuni anak bangsa kini dan akan datang, akan dijauhkan.

Dengan banyak memanjatkan do’a dan terus menerus beribadah untuk mengubah menuju kebaikan, takdir kebaikan akan diterima masyarakat Indoensia dengan ridlo dan pertolongan Allah SWT Mari mengubah sebuah tradisi salah kaprah menuju tradisi bermartabat..

GURU

Dec 03, 2018
Pemimipin Redaksi Transparansi Djoko Tetuko

Guru

SETIAP tanggal 25 November, selalu diperingati sebagai Hari Guru Nasional, tentu saja bukan sekedar menetapkan, tetapi ada sejarah panjang perjalanan guru di bangsa dan negara Indonesia ini. 

 

 

Menurut sejarah singkat, bermula dari organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman penjajahan Belanda yang berdiri pada tahun 1912, Organisasi tersebut bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan dari berbagai guru dengan latar pendidikan yang berbeda-beda.

 

Dengan berkembangnya PGHB, kemudian muncullah organisasi-organisasi guru yang lain. Masing-masing terdiri dari Persatuan Guru Bantu (PGUB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Peserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), dan masih banyak lagi..

 

Tahun 1932 PGHB duubah menjadi Perstauan Guru Indonesia (PGI). Tidak ada catatan negatif dari guru-guru di jaman penjajahan maupun Orde Lama, kecuali hanya mengajar dan mengajar dengan niat berjuang, murni sebagai seorang guru.

 

Pemerintah Indonesia pada jaman Orde Baru, secara politis mempersatukan guru dengan mengumpulkan dalam Persatuan Guru Republik Indonedia (PGRI), yang secara kebetulan menetapkan tanggal 25 November sebagai kelahiran organisasi guru itu, sehingga untuk memperkuat kekompakan guru, maka tanggal kelahiran PGRI ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional.

 

Penetapan Hari Guru Nasional, tentu saja berbau ada muatan politis untuk memperkuat Golongan Karya (Golkar) sebagai partai pemerintah yang berkuasa, dengan 2 (dua) oposisi, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI)

 

Pertimbangan dalam Peraturan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 tentang Hari Guru Nasional menyebutkan bahwa  (1) guru memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting dalampelaksanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia; (2)bahwa tanggal 25 November selama ini telah diperingati sebagai hari ulangtahun Persatuan Guru Republik Indonesia dan sebagai upaya untuk mewujudkanpenghormatan kepada guru, dipandang perlu menetapkan tanggal 25 Novembertersebut sebagai Hari Guru Nasional;

 

Menteri Pendidikan Muhadjir Effend mengatakan, saat ini Indonesia masih kekurangan tenaga pengajar berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dari jumlah guru secara nasional sekitar 3,017 juta orang, jumlah tersebut meliputi guru dengan status PNS dan honorer baik di sekolah negeri maupun swasta.Guru bukan PNS di sekolah negeri 735 ribu, guru bukan PNS di sekolah swasta 790 ribu.

 

Total guru bukan PNS 1,5 juta, sementara total guru PNS di sekolah negeri dan swasta 1,4 juta. Oleh karena itu, sektor pendidikan kekurangan guru PNS di sekolah negeri sebanyak 988.133. Mengingat jumlah guru PNS yang telah pensiun mencapai 295.779.

 

Guru dengan tugas mulia dan utama menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didik (murid/SD, pelajar/SMP, siswa/SMA dan mahasiswa/perguruan tinggi ), menjadi kunci apakah para guru dengan jumlah mencapai 3 juta atau hanya sekitar 1 persen dari jumlah penduduk di negeri ini, berniat menjadi pendidikan sejati atau, atau para guru sudah mengubah niat menjadi pekerja murni, bukan pendidik apalagi guru.

 

Mengapa niat menjadi guru merupakan kata kunci? Sebab jika berniat menjadi guru dan pendidik sejati, maka insysAllah dunianya akan mendapatkan rejeli sesuai dengan janji Allah SWT, sekaligus derajat.

 

Tetapi, jika berniat menjadi pekerja murni dan mengajar, mendidik, memberi contoh hanya tuntutan pekerjaan, maka hanya akan mendapatkan dunia belaka, tanpa catatan perjuangan, tanpa catatan pengabdian, apalagi ibadah.

 

Sekedar mengingatkan para guru, bersamaan dengan masih tergiang momentum peringatan Hari Guru Nasional, bahwa niat menjadi kunci, sebab dengan niat masih menjadi penentu, apakah guru masih bagian dari pejuang dan selalu berjuang bersama jaman, atau sudah luntur hanya menjadi pekerja tanpa mau peduli dengan pendewasaan dan budi pekerti para anak didik.

 

Dan itulah yang sangat membahayakan, banyak anak didik berpendidikan tinggi, tetapi ilmunya kurang manfaat.

 

Islam membagi derajat, marwah atau martabat guru atau pendidik ada 4 (empat); Pertama, Mudarris (mengajar) dimana guru : hanya mengajar mata pelajaran kemahiran mereka saja. Kedua, Mu’allim (mengamalkan ilmu), dimana:  guru yang tidak hanya mengajar mata pelajaran mereka tetapi turut menyampaikan/mengalamkan ilmu-ilmu lain. Ketiga, Mursyid (menuntun dan menunjukkan jalan kebenaran), dimana guru yang menyampaikan ilmu dan menunjukkan jalan yang benar.

 

Keempat, Murabbi (mengasuh dan memimpin), dimana guru yang mendidik, memelihara, mengasuh, mentarbiyyah anak didiknya  menjadi manusia yang berilmu, sebagai pimpinan yang bertaqwa dan beramal soleh.

 

Oleh karena itu, peringatan Hari Guru Nasional, sesungguhnya bukan sekedar peringatan dengan upacara dan pidato-pidato semata. Tetapi hakikinya mengembalikan posisi dan peran guru sebagai pendidik sejati, mendewasakan dengan menggabungkan keilmuan para guru menjadi, mudarris, mu’allim, mursyid, dan murabbi.

 

Dengan niat mendewasakan anak didik sepanjang masa secara totalitas, insyaAllah guru akan selalu mendapat derajat mulia di dunia maupun di akherat kelak. Juga ilmunya akan bermanfaat. (jt)

Djoko Tetuko

Musibah, bencana, ujian cukup berat, kecelakaan dahsyat sampai kecelakaan di luar nalar, terus menerus menimpa bangsa Indonesia. Gempa bumi tidak terhitung sudah berapa ratus kali di Nusa Tenggara Barat serta merembet ke Nusa Tenggara Timur, Tsunami Super Dahsyat di Palu dan Donggala, pesawat Lion Air jatuh di Laut Cikarang.

 

Tanggal 10 Oktober 2018 beberapa daerah di Jatim digoyang gempa dari Situbondo dengan menggoyang lebih dari 10 daerah terimbas. Tanggal 9 malam 10 November drama kolosal menelan korban jiwa amat dramatis. Bukan soal jumlah korban jiwa melayang sia-sia, tetapi membiarkan dan tidak melindungi rakyat adalah dosa besar.

Peristiwa sangat memilukan itu, ialah drama kolosal di sekitar Tugu Pahlawan, sebagai tetenger sekaligus mengingatkan bahwa peristiwa para pahlawan melawan Sekutu dengan korban berjatuhan nyawa melayang terbesar dalam sejarah perang, tetapi dengan hasil sangat menakjubkan karena berhasil mengusir Sekutu dari bumi Surabaya dan sekitarnya, termasuk Jenderal Malaby sebagai panglima perang gugur di sekitar jembatan merah.

Drama kolosal dengan melibatkan rakyat baik sebagai pelaku pertunjukkan sejarah maupun rakyat sebagai penonton, tiba-tiba saja digegerkan dengan kecelakaan dramatis, ketika penonton di atas rel kereta api di atas jembatan tugu pahlawan, tertabrak kereta api, 2 orang tewas dan lebih dari 5 orang luka cukup berat dan ringan.

Tetapi, peristiwa itu sudah hilang dalam pembicaraan dari kampung ke kampung, dari para pejabat yang berwenang apalagi mengaku tidak tahu apa-apa. Bahkan berusaha menghindar dengan harapan terkesan tidak tahu menahu dengan kecelakaan dramatis itu.

Sebagai penyampai informasi dan melakukan kontrol sosial, terutama atas peristiwa itu, sebaiknya seluruh rangkaian Hari Pahlawan, pemerintah harus hadir di tengah-tengah rakyat, menjadi pelayanan rakyat dan penyambung berbagai aspirasi rakyat.

Mengingat para pejabat dengan menggunakan uang APBN atau APBD, sesungguhnya menjalankan amanat dari UUD dan undang-undang untuk menjalankan roda pemerintahan yang mensejahterakan dan memakmurka rakyat.

Drama kolosal dengan korban kecelakaan sangat dramatis, semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal perijinan dan pembiayaan, dan rakyat dengan berbagai kreatifitas dan inovasi membangkitkan ide-ide melanjutkan semangat perjuangan tinggal menuangkan berbagai cara yang positif, yang konstruktif.

Peristiwa korban kecelakaan dramatis di sekitar Tugu Pahlawan adalah peringatan bagi semua pejabat dan insan yang menjadi wakil rakyat, juga peduli nasib rakyat, bahwa dalam situasi dan kondisi apa pun rakyat harus dinomorsatukan, bukan dijadikan korban atau tumbal kesombongan kekuasaan.

Drama kolosal dengan korban kecelakaan dramatis merupakan catatan peristiwa nasional yang harus menjadi pelajaran berharga bagi kelanjutan berbangsa dan bernegara yang melindungi kepentingan rakyat.

Oleh karena itu, belajar  dan mengambil hikmah dari peristiwa drama kolosal dengan kecelakaan sangat dramatis, maka pemerintah beserta seluruh aparatur negara wajib melindungi, bukan membiarkan, apalagi terkesan tidak tidak membela rakyat, tidak menjaga hati rakyat. (@)

Sumpah Pemuda

Nov 06, 2018
Sumpah Pemuda

Tajuk Transparansi

Djoko Tetuko

 

Sumpah Pemuda

Sumpah Apa

Sumpah Milik Siapa

Pertama:

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea:

Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga:

Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia

Sumpah Pemuda kembali diperingati di seluruh penjuru nusantara Indonesia Raya, banyak klaim atas kehebatan atau kesuksesan dikaitkan dengan Sumpah Pemuda, seperti sukses Asian Games di Jakarta dan Palembang serta Asian Para Games di Jakarta. Juga sederetan prestasi pemuda-pemudi Indonesia di kancah internasional dalam mengibarkan merah putih dengan lagu kebangsaan ’’Indonesia Raya’’.

Berbagai catatan tentang sepak terjang kesuksesan pemuda dan pemudi Indonesia dikaitkan dengan Sumpah Pemuda memang sah-sah saja, sebab kunci menuju kemerdekaan Indonesia, salah satu upaya menyatukan perjuangan seluruh nusantara memang menjadi sangat kuat setelah ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, tetapi apakah Sumpah Pemuda yang sakral itu, hanya sekedar sebuah peringatan yang diagung-agungkan atau harus terus menerus sekedar mendapat nilai kehormatan dalam mewujudkan kesetaraan, kesejahteraan, kemakmuran, dan pemerataan dalam berbagai bidang pembangunan, tanpa menyentuh subtansi atau makna sesungguhnya.. 

Oleh karena itu, sekedar mengingatkan kembali bahwa Sumpah Pemuda (kalimat sumpah pertama), bahwa Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Apakah dalam mengatur tata pertanahan secara nasional, sudah menjadikan Sumpah Pemuda ini menjadi dasar dan pijakan, sehingga tanah Indonesia dalam ’’kekuasaan negara’’. Dalam hal ini, negara hadir melalui peran aktif seluruh komponen pejabat negara untuk menyampaikan secara transparan atau secara terbuka masalah pertanahan kepada seluruh warga negara.

Mengingatkan kembali bahwa Sumpah Pemuda (kalimat sumpah kedua), bahwa Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Nilai luhur amat sakral kalimat kebangsaan dari Sumpah Pemuda ini, mengandung arti sangat mulia bahwa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, berbagai budaya, berbagai kekuatan daerah, berbagai kerajaan daerah, dan simbol-simbol kebesaran secara adat istiadat, dinyatakan dalam Sumpah Pemuda menjadi satu bangsa Indonesia.

Dalam hal ini, negara hadir melalui peran aktif seluruh komponen pejabat negara, menyatakan bahwa kebangsaan kita sudah final, bangsa Indonesia, jika ada campur tangan asing, atau masih ada bangsa Indonesia berjuang untuk kepentingan asing, maka harus segera diluruskan kembali karena itu sama halnya dengan mengkhiati bangsa Indonesia.

Mengingatkan kembali bahwa Sumpah Pemuda (kalimat sumpah ketiga), bahwa Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memang sudah mengakar dan hampir merata menjadi alat komunikasi nasional seluruh nusantara, sudah dipahami dari Sabang sampai Merauke, tetapi itu hanya sekedar bahasa, hanya menggunakan bahasa.

Tetapi arti yang sangat dalam dari kalimat bahasa Indonesia itu, ialah kesamaan seperjuangan untuk menyuarakan satu tekad tentang Indonesia, dalam keadaan suka maupun duka. Bahasa menjadi bahasa bangsa bahwa dengan bahasa persatuan, maka persatuan bertanah air dan berbangsa, wajib menjadi satu, bukan saling menjatuhkan. Apalagi ’’Saling Menjajah’’. Sebuah pengingkaran terhadap Sumpah Pemuda.

Sekedar mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda ialah sumpah agung bangsa Indonesia, dengan berbagai konsekuensi logis bahwa melanggar sumpah akan mendapatkan balasan setimpal atas upaya mengingkari sumpah itu sendiri. Sudah menjadi catatan sejarah bahwa usaha-usaha mengkhianati bangsa sekaligus mengingkari sumpah, mendatangkan ujian dan cobaan dalam berbangsa dan bernegara yang sangat membahayakan. Ketika daerah-daerah potensi dengan adat istiadat sangat menjunjung tinggi budaya beradab, sopan, santun bergeser ke budaya asing dengan penuh kebobrokan moral, maka terjadi musibah dan bencana.

Sekedar menjawab pertanyaan konyol dari beberapa pemuda, lalu Sumpah Pemuda itu apa? Tanpa bermaksud merendahkan nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda bahwa itu Sumpah Pemuda Indonesia pada tahun 1928 atau sudah 90 tahun yang lalu. Sumpah itu milik pemuda dan pemudi Indonesia sampai kapan pun, mengingatkan kembali takdir dari Yang Maha Kuasa sudah menuliskan seperti demikian, sehingga tatanan pertanahan, tatanan berbangsa, dan tatanan berbahasa (tatanan persatuan), sudah mulai terkoyak dalam ’’Penjajahan Modern’’, maka hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, akan menyelesaikan dengan takdri baikNya. Oleh karena itulah, yakinlah bahwa Sumpah Pemuda itu milik pemuda-pemudi Indonesia sampai kapan pun dengan kekuatan Ilahi Robbi.

Sekedar menjawab pertanyaan konyol dari beberapa pemuda, lau Sumpah Pemuda itu milik siapa? Tanpa bermaksud merendahkan pemuda-pemudi Indonesia jaman dulu kala 90 tahun silam, juga pemuda pemudi Indonesia jaman now, maka sumpah itu milik pemuda-pemudi Indonesia, sehingga barang siapa melanggar, mengkhiati, mengingkari, maka lambat laun akan mendapatkan balasan setimpal sebagaimana Sumpah Pemuda menjadi ’’Paku Bumi’’, kekuatan paling mendasar bangsa dan negara Indonesia. 

Sumpah Pemuda akan menjadi kekuatan dahsyat ketika pemuda pemudi Indonesia membutuhkan kekuatan itu, akan menjadi kekuatan ghaib ketika pemuda pemudi Indonesia membutuhkan kekuatan itu, akan menjadi kekuatan penyeimbang modernisasi dunia ketika pemuda pemudi Indonesia membutuhkan kekuatan itu, dan akan menjadi kekuatan mensejahteraan dan memakmurkan bangsa Indonesia ketika pemuda pemudi Indonesia membutuhkan kekuatan itu. Karena memang Sumpah Pemuda itu milik pemuda pemudi Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, ialah 17 tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945, ialah 17 tahun setelah Sumpah Pemuda, semangat perjuangan ulama dan santri berkobar, Hari Pahlawan 10 November 1945, juga setelah 17 tahun Sumpah Pemuda disumpahkan dalam sumpah suci, Cikal bakal suatu negara berdiri dan merdeka dalam Sumpah Pemuda. 

Menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara secara sungguh-sungguh penuh kebenaran dan kejujuran, serta segera bertobat (tidak mengulang lagi perbuatan negatif, bahkan langsung memperbaiki ke arah yang benar) akan mengantar kemurnian Sumpah Pemuda sebagai sebuah keniscayaan karena pertolongan dari Allah Subahanahu wa Ta’ala, Yang Maha Esa, Maha Bijaksana, juga Maha Kuasa atas seluruh kekuasaan dan kekuatan di jagad raya. (*)

 

Merdeka atau Mereka

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu adalah hak segala bangsa
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar belum
merasakan kemerdekaan secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu bebas dari penjajahan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar terjerumus
dalam praktek penjajahan secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu menjunjung tinggi
perikemanusian dan perikeadilan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar masuk
jurang cukup dalam praktek tidak manusiawi, bahkan jatuh
terperosok masuk lingkaran jauh dari rasa keadilan secara
sungguh-sungguh.
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu kebahagiaan
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak bahagia
bahkan masih tercatat sengsara secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu pintu gerbang bersatu
    Mengapa persatuan (maaf, gotong royong) hanya
digembar gemborkan saat kerja bhakti tetapi sesungguhnya
tercabik cabik dalam perpecahan sunyi karena sesungguhnya
memang tidak bersatu secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu berdaulat
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
berdaulat (bahkan tanpa mahkota martabat) secara sungguhsungguh
    Hakikinya merdeka itu adil dan makmur
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
menikmati keadilan juga tidak makmur secara sungguhsungguh.
Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu supaya berkehidupan kebangsaan
yang bebas
    Mengapa bangsa Indonesia sebagai besar tidak
memperoleh kehidupan kebangsaan yang bebas secara
sungguh-sungguh
    Hakikinya kemerdekaan itu Atas berkat rahmat Allah Yang
Maha Kuasa
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar,
memain-mainkan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara
sungguh-sungguh (maaf, bersumpah, beragama, berkorupsi,
berpungli, ber...niat meninggalkan dan menanggalkan kebaikan)
    Hakikinya merdeka itu dorongan keinginan luhur
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak mencerminkan
leluhur yang berbudi pekerti luhur secara sungguhsungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu membentuk suatu pemerintah
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
mendapat perlindungan secara sungguh-sungguh.
    Hakikinya merdeka itu memajukan kesejahteraan umum
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar di depan
umum banyak tidak sejahtera secara sungguh-sungguh
    Hakikinya merdeka itu mencerdaskan kehidupan bangsa
Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar belum
mendapatkan kesempatan cerdas secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial secara sungguh sungguh.
    Mengapa banga Indonesia sebagian besar tidak
menikmati secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa)

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu sudah bisa mensyukuri dan
menikmati semua kenikmatan di Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan sungguh-sungguh
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar tidak
menikmati secara sungguh-sungguh (maaf, menjadi buruh
di negeri sendiri dan menjadi buruh negeri orang)
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa),

    Merdeka atau Mereka
    Hakikinya merdeka itu sudah 72 tahun
Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar sepertinya
belum merdeka,
    Masih nampak seperti anak kemarin secara
sungguh-sungguh.
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar masih terjajah
secara sungguh-sungguh
    Mengapa bangsa Indonesia sebagian besar sepertinya
masih berjuang (kembali). secara sungguh-sungguh
    Sebagian kecil bangsa Indonesia menikmati kemerdekaan
bersama mereka (bukan siapa siapa),

Lokasi tempat Nabi Ismail disembelih (dlingkari) di kawasan Mina.

HAMPIR seluruh jamaah haji para dloifullah (tamu Allah) mulai berdatangan ke Makkatul Mukarromah, di Mekah. Selain melaksanakan umroh wajib bagian dari ritual ibadah haji (baik yang memilih haji Tamattu’ atau haji Qiron), para tamu yang diberikan kebarokahan oleh Allah SWT tentu berlomba memperbanyak ibadah di masjidil Haram, sambil menunggu puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arofah, pada tanggal 9 Dzulhijjah.

  •  Start 
  •  1 
  •  End 
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...