Politik

Published in Politik

Khofifah Apresiasi KPP, Ibu Ibu Harus Bergerak dan Kawal Pilgub

Feb 13, 2018 Publish by 
Pasangan Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestaianto Dardak saat menghadiri deklarasi Koalisi PeRempuan Pemenangan(KPP) Khofifah - Emil Dardak di sebuah Hotel di Surabaya, Selasa (12/2/2018)
Pasangan Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestaianto Dardak saat menghadiri deklarasi Koalisi PeRempuan Pemenangan(KPP) Khofifah - Emil Dardak di sebuah Hotel di Surabaya, Selasa (12/2/2018) (kt/fir)

SURABAYA (KoranTransparansi.com) - Komisi  Pemilihan Umum (KPU) Jatim sudah menetapkan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak Elestianto dan pasangan Saifukllah Yusuf-Puti Guruh Soekarno sebagai pasangan Cagub-Cawagub Jatim periode 2019-2023.

Penetapan berlangsung di kantor KPU pada Senin kemarin. Dan Selasa (13/2/2018) siang ini sesuai jadwal KPU Jatim pengundian nomor urut di Hotel Mercure Jalan Raya Darmo, pukul 13.00.

Jika masyarakat Jawa Timur memberikan amanah pada Khofifah-Emil, maka Khofifah bakal menorehkan sejarah sebagai gubernur perempuan pertama di Jawa Timur.

Modal untuk menuju Grahadi 1 sangat terbuka. Bukan saja dukungan para Kiai besar, kaum perempuan yang tergabung dalam bebagai organisasi kemasyarakatan seperti Fatayat, pengusaha maupun  perempuan enam partai pengusung dan kaum nasional.

Keenam perempuan partai yng sudah mendeklarsikan Khofifah-Emil terdiri dari Wanita Persatuan Pembangunan (sayap PPP), Srikandi Hanura (Partai Hanura), Srikandi Demokrat (Partai Demokrat), Garda Wanita Nasional Demokrat (Partai Nasdem), Perempuan Amanat Nasional (PAN), Kesatuan Perempuan Partai Golkar (Partai Golkar).

Dan mereka sudah mendeklarasikan memenangkan Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak di sebuuah Hotelk di Surabaya pada Senin (12/2/2018) .

Apabila pasangan Khofifah-Emil berhasil memenangi Pilgub Jatim Juni nanti, maka sejarah baru bagi Jawa Timur memiliki Gubernur perempuan pertama yang brasal dari Nahdliyin, masyarakatnya sangat relegi sekaligus mengukuhkan Jawa Timur sebagai provinsi santri.

Dalam catatan sejarah, sejak era Gubernur RMT Ario Soerjo (1945-1947) hingga dua periode kepemimpinan Soekarwo (2009-2014 dan 2014-2019) belum ada satupun perempuan yang duduk di kursi gubernur Jatim.

Tak hanya itu, Khofifah juga berpeluang besar mengulang sekaligus meneruskan sejarah sebagai gubernur perempuan kedua di Indonesia. Sejak Ratu Atut Chosiyah memimpin Provinsi Banten, hingga kini belum ada lagi perempuan yang menjadi gubernur. Sedangkan untuk Bupati/Walikota jumlahnya sudah sangat banyak.

Di hadapan seribu perempuan pemenangan (KPP) pendukung Khofifah – Emil , Calon Gubernur Khofifah menegaskan, hari ini di negeri ini belum terpilih kembali seorang gubernur perempuan. Bahkan, hingga hari ini pula, Jatim belum pernah dipimpin gubernur perempuan.

"Hari ini kita sedang membangun sejarah. Kita akan melahirkan seorang gubernur perempuan di Jatim," kata Khofifah yang disambut aplaus panjang ribuan perempuan yang hadir.

Khofifah tak bisa menutupi rasa bangganya, karena Parpol pengusung menghadirkan tokoh-tokoh perempuan luar biasa yang akan menggerakkan mesin pemenangan tidak hanya di internal partainya, tapi di setiap lini masyarakat.

"Saya mohon jaringan ibu-ibu digerakkan. Semua elemen disatukan, dibulatkan tekadnya, dikawal suaranya agar pada 27 Juni nanti semuanya akan menjadi bagian dari suara untuk kemenangan Khofifah-Emil," kata perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu.

Bagi Khofifah, sudah saatnya perempuan menjadi gubernur Jatim, karena dari bumi Jatim sejak dahulu telah mengalir pemimpin-pemimpin perempuan mulai Kerajaan Majapahit hingga Blambangan.

"Ini menunjukkan kalau konsep nusantara berangkat dari Jatim, konsep Merah Putih berangkat dari Jatim. Maka kita tegakkan Merah Putih dari seluruh elemen perempuan yang ada di Jatim. Kita kawal nusantara melalui tangan-tangan teguh, tangguh dan pendirian yang kuat dari perempuan-perempuan Jatim," paparnya berapi-api.

Apalagi, lanjutnya, masih banyak perempuan-perempuan di perdesaan di Jatim yang mengalami kemiskinan. Makanya ketika Khofifah diajak merumuskan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2007, dia menekankan bahwa ibu-ibu dari keluarga miskin yang memiliki balita dan tak bisa memberikan asupan gizi yang baik, harus disapa lewat PKH.

"Kenapa saya usul intervensinya lewat ibu-ibu kurang mampu yang hamil maupun yang punya bayi balita? Karena inilah sebetulnya embrio ketika kita ingin menyiapkan generasi emas di negeri ini," tambah perempuan yang pernah menjadi kepala BKKBN, serta mengikuti studi banding di banyak negara terkait pengentasan kemiskinan tersebut.

Karena itu, tandas Khofifah, kemiskinan di Jatim, terutama di perdesaan menjadi PR bersama. "Bahagiakan ibu-ibu yang ada di desa-desa. Lepaskan mereka dari jeratan rentenir, bikin mereka bisa hidup mandiri," ajaknya.

Khofifah dan Emil juga sudah menghitung Posyandu di Jatim agar tidak sekadar diberikan tambahan makanan untuk anak balita yang sedang ditimbang. "Tapi Posyandu harus menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi kader-kader Posyandu," katanya.

Di ujung pidato politiknya, Khofifah mengajak seluruh elemen partai pengusung untuk terjun dan menyapa secara langsung masyarakat terutama di perdesaan.

"Sapa saudara kita yang ada di desa supaya mereka bisa senyum. Bahagianya ibu-ibu Parpol pengusung juga harus menjadi bahagianya ibu-ibu di desa," katanya.(fir)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...