Opini

 Dirut RRI HM Rohanudin (kanan) dan wartawan KoranTransparansi Djoko Tetuko

Wawancara khusus Wartawan KoranTransparnsi dengan Dirut RII HM Rohanudin

Satu-satunya Radio Pemegang Hak Siar Piala Dunia di Indonesia

RADIO Republik Indonesia (RRI) tiba-tiba saja mengangetkan publik se antero nusantara, karena pada tanggal 30 Januari 2018 lalu, menandatangani kontrak kerja sama dengan perwakilan Federation Internationale de Football Association (FIFA), PT Futbal Momentum Asia, dimana RRI ditunjuk dan dipercaya menjadi pemegang hak siar radio satu-satunya di Indonesia, siaran langsung Piala Dunia 2018 Russia dengan berbagai programa kreatif dan teknologi modern.

Lebih detail mengenai Memorandum of Undestanding (MoU) sebagai berkah buat radio perjuangan ini, berikut ini wawancara dengan M. Rohanudin, Dirut RRI dengan Djoko Tetuko dari Koran Transparansi.

Selamat pak Rohan atas sukses RRI menerima kepercayaan dari FIFA?

Terima kasih atas perhatian dan atensinya, ini memang sebuah penghargaan dari FIFA untuk RRI, setelah 4 tahun terakhir RRI melakukan programa-programa yang revolusioner, sebagai media mainstream, yang terus menerus melakukan perubahan sesuai dengan jaman now dan memberikan ruang kepada generasi milenial.

Semua pengamat  media dan broadcasting hampir tidak percaya dengan kepercayaan FIFA kepada RRI?

Pertanyaan itu juga sempat saya terima dari teman-teman pers dan radio yang lain, pada saat menerima kabar bahwa RRI mendapat kepercayaan dari FIFA sebagai pemegang hak siar tunggal, atau satu-satunya radio di Indonesia, yang berhak menyiarkan siaran langsung pertandingan sepakbola Piala Dunia di Russia, yang sudah diinovasikan dan dikreatifkan melalui sentuhan program bertitle 

’’Pesta Bola’’ oleh FMA sebagai kepanjangan tangan FIFA yang mengurusi semua program kerja bareng ini.

Bahkan teman-teman wartawan ada yang tanya? RRI harus bayar berapa dan melakukan lobi seperti apa? Tetapi semua saya tegaskan bahwa RRI tidak mengeluarkan anggaran atau biaya atas kepercayaan ini, juga tidak melakukan lobi-lobi kepada perwakilan FIFA atau FMA.

Lalu, apa kelebihan RRI sehingga mendapat kepercayaan dunia internasional dari FIFA begitu luar biasa?

Pertimbangan dari FMA sampai melakukan MoU dengan RRI, bahwa hasil survei internal mereka secara diam-diam, membuktikan bahwa RRI merupakan radio yang paling banyak pendengarnya di seluruh Indoensia, bahkan terbesar pula di antara pendengar disabel yang jumlahnya di Indonesia mencapai 1,5 juta pendengar.

Pertimbangan yang lain?

Pertimbangan lain, ya...  berasal dari hasil survei FIFA di 3 provisni di Indoensia, yang juga dirahasiakan, khusus dari segi pendengar radio. 

Pertama, ternyata RRI lah yang dinilia pantas jadi radio Piala Dunia 2018 Russia untuk pendengar radio di Indonesia, kemudian kebutuhan yang kedua, FIFA ingin memberi perhatian kepada kelompok disabel, dan berdasarkan survei memang yang terbesar di antara mereka mendengarkan RRI.

Seperti apa bentuk negoisasi dengan FMA?

Sebenarnya tidak ada negoisasi apapun untuk menjadi satu-satunya radio yang memiliki hak siar siaran langsung, dan programa-programa terkait Piala Dunia di Indoensia, termasuk pergelaran Pesta Bola pada pesta sepakbola Piala Dunia 14 Juni – 15 Juli mendatang. Namun, reputasi RRI yang sudah disurvei oleh FMA itu. 

Bahkan (mohon maaf), .RRI sendiri tidak tahu, memang menunjukkan hasil yang sangat pentas diberikan kepercayaan oleh FIFA memegang hak siar tunggal itu. Apalagi kalau survei itu ditambahkan dua provinsi Papua dan Maluku.

Hal lain sebagai pertimbangan, data yang berbeda dari hasil survei Nielsen  (survei pendengar radio di Indonesia kecuali Papua dan Maluku, RRI rating tertinggi di Indonesia). Pendengar radio di Indonesia 35%  dari jumlah penduduk di Indonesia atau setara dengan 75 juta masyarakat di Indonesia. RRI menurut hasil survei itu 10%  (dari 37% itu) pendengar atau sekitar 7,5 juta pendengar, dan itu merupakan data tertinggi di Indonesia.

Oleh karena itu, mengenai negoisasi, sekali lagi  memang tidak ada negoisasi, tetapi kerja sama dengan FIFA ini ada kesepakatan bahwa kegiatan Piala Dunia di Russia,  RRI harus menyiarkan kegiatan-kegiatan itu, siaran langsung di Russia semua pertandingan sampai semi final dan final. 

Pada saat yang sama RRI yang mempunyai 97 stasiun di Indonesia, (65 stasiun di antaranya nanti akan menggelar Pesta Bola (seperti nonton bareng) dengan layar lebar dan berbagai programa-programa berkaitan dengan Piala Dunia. 

Tetapi semua itu difasilitasi FMA, termasuk penerimaan satelit ke layar lebar di 65 stasiun yang akan menjadi tempat pergelaran Pasta Bola Piala Dunia 2018.

Berarti ini sebuah penghargaan dari FIFA karena kesuksesan programa-programa RRI?

Kira-kira seperti itu, sehingga programa khusus Pesta Bola Piala Dunia dari Russia ini, adalah gayung bersambut antara RRI dengan FIFA melalui PT FMA,yang sama-sama berharap Piala Dunia menjadi hiburan masyarakat dunia, termasuk pendengar radio di Indonesia. 

Jadi FIFA membutuhkan siaran melalui radio dan memilih sekaligus memberikan kepercayaan kepada RRI yang mempunyai jangkauan siaran juga pendengar hasil survei dengan rating tertinggi. 

RRI juga membutuhkan brand sebagai media mainstream yang selalu ada di tengah-tengah masyarakat Indonesia untuk mencerdaskan bangsa dan memberikan informasi secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya, termasuk siaran langsung pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018, dengan informasi yang benar dan dapat dipercaya.

Lalu apa hak dan kewajiban RRI?

RRI sesuai dengan kesepakatan menyediakan tempat di 65 stasiun di seluruh Indoensia untuk pergelaran Pesta Bola, juga beberapa programa terkait Piala Dunia 2018 di Russia itu. 

Sedangkan PT FMA sebagai EO FIFA akan melakukan berbagai kegiatan untuk meramaikan dan memeriahkan Pesta Bola melalui berbagai siaran di RRI, sehingga pendengar akan mendapatkan informasi mengenai Piala Dunia sebanyak-banyaknya dari event dan narasumber terpercaya yang langsung dapat didengar di wilayah perbatasan maupun daerah terpencil dan pesisir di Negara Republik Indonesia ini.

Namun sesuai kesepakatan, RRI tidak boleh memberikan hak siar kepada pihak lain maupun mencari iklan untuk acara Pesta Bola, semua menjadi hak dari PT FMA sebagai kepanjangan dari FIFA mengkreatifkan programa-programa Piala Dunia Russia 2018 dengan semaksimal mungkin melalui siaran di RRI, dan merupakan programa istimewa bagi pendengar RRI di mana pun berada, sesuai motto RRI, ‘’Sekali di udara, Tetap di udara’’ dengan siaran Piala Dunia Russia 2018.

Berarti kerja sama ini sangat membanggakan dan prestisius?

Alhamdulillah, sangat membangakan, karena RRI dipilih dan dipercaya menjadi radio satu-satunya di Indoensia dalam programa Pesta Bola Piala Dunia 2018.. Apalagi sebagai Lembaga Penyaiaran Publik, RRI yang tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi mengedepankan tugas khusus untuk memberikan kecerdasan kepada masyarakat, menjalankan tanggung jawab sosial, terutama menyampaikan informasi, pendidikan, dan hiburan, tidak terkecuali terhadap kelompok minoritas dan disabel, Dan itulah salah satu di antaranya pertimbangan FIFA memilih RRI.

Kelompok Disabel selama ini mendapat programa apa?

Kelompok disabel di Indonedia sekitar 1,5 juta (tuna tetra dan sebagainya) pokoknya kelompok itu, yang memang memerlukan pelayanan khusus, sudah pasti mendapat programa-programa yang beragam dan sangat banyak melalui siaran apa saja. 

Disamping itu, RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang mempunyai jaringan paling banyak dengan jangkauan terbesar di Indoensia, melalui 97 stasiun penyiaran, 222 stasiun relay, dan 30 di antaranya stasiun penyiaran yang berada di wilayah  perbatasan, daerah terpencil dan pesisir,  Semua programa-programa itu, sangat memanjakan pendengar, bahkan semua sudah dalam pembaharuan teknologi dengan melakukan terobosan melalui konvergensi media.

Selain itu, FIFA sebagai operator tunggal penyelenggaraan Piala Dunia Russia 2018, mempunyai tujuan sangat mulia untuk membangun dan mengembangkan kemampuan orang-orang disabel dengan diberikan hiburan acara-acara yang diharapkan juga sama diterima orang-orang normal, khususya tentang berita Piala Dunia 2018. 

Perhatian begitu besar dari FIFA itu, RRI juga gayung bersambut berusaha semaksimal mungkin mendukung program PT FMA melalui siaran yang kreatif. Dan melalui siaran RRI insyaAllah akan ditampilkan dalam gaya khas dan berbeda, sehingga seakan-akan tidak ada perbedaan bagi kalangan disabel menerima informasi dengan baik dan benar,  bahkan kalau datang di arena penyelenggaraan Pesta Bola, pasti akan mendapat hiburan sangat menyenangkan dan mencerdaskan.

Perkembangan RRI sendiri bagiamna?

Alhamdulillah,  perkembangan RRI selama setahun ini mengalami kemajuan yang sangat revolusioner, bahkan pada tahun 2017 dalam konteks membangun kohesi (membangun perekat bangsa), RRI menyelenggarakan konser kebangsaan, melalui siaran-siaran off air musik, di 6 kota (Jakarta, Kendari, Samarinda, Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta).

Konser kebangsaan itu, mendapat antusiasme publik yang sangat besar dari semua daerah. Bahkan, penyanyi yang ditampilkan penyanyi kelas atas, terakhir di Jakarta untuk high class dengan musisi Dwiki Dharmawan berserta istrinya Ita Purnamasari, ada juga Yuni Sara, dan beberapa penyanyi papan atas.

Jadi pada intinya tujuan RRI menyelenggarakan konser kebangsaan, sebagai wakil negara hadir di semua daerah, untuk meraih publik yang besar, publik sebagai agen perubahan, menyampaikan informasi yang sehat menuju informasi dan demokrasi yang cerdas, berwawasan, berpendidikan, juga memberi hiburan, sehingga kegiatan off air dapat menaikan reputasi, juga. brand siaran RRI. Dengan cara itu telah terbukti menaikkan jumlah pendengar RRI sebagaimana mengacu pada hasil survei. (JT)

Dirut RRI HM Rohanudin

Wawancara Wartawan KoranTransparansi Djoko Tetuko dengan Dirut RRI HM Rohanudin Tentang RRI mendapat kepercayaan menyiarkan piala dunia

 

TENTU saja keberhasilan RRI mendapat kepercayaan dari FIFA melalui PT FMA, bukan karena kebetulan atau karena sebagai Lembaga Penyiaran Publik berlebel pemerintah, tetapi manajemen radio berbasis perjuangan dan menjalankan fungsi komunikasi melali siaran berbasis konvergensi media, terbukti secara terus menerus menyebarkan informasi pembangunan secara positif dan konstruktif. Tentu saja dengan memanfaatkan perkembangan kemajuan teknologi.

Paling tidak, sentuhan selama 3 tahun M Rohanudin dipercaya sebagai direktur teknik dan media baru, kemudian mendapat kepercayaan sebagai direktur utama yang sudah dijalani selama 1 tahun hingga 2021 nanti, tanda-tanda perubahan membawa pembaharuan dan kemajuan sudah mulai nampak.

Terobosan apa yang dilakukan RRI?

Alhamdulillah sejak mendapat kepercayaan selama 3 tahun menjadi direktur teknik dan media baru, RRI bermain-main di semua multi platform atau mengembangkan konvergensi media. Terobosan konvergensi media ini menjadi keunggulan RRI bisa didengar dan dinikmati oleh semua kalangan pendengarnya di mana saja berada dengan baik dan memuaskan, Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote

Contohnya seperti apa?

RRI mempunyai aplikasi ‘’RRI Play’’ dan aplikasi ini sudah  2 kali mendapat penghargaan tingkat dunia pada tahun 2015 dan 2017, terakhir di Cheng Du, Tiongkok.

Mengapa aplikasi yang dibangun RRI ini mendapat penghargaan dunia.

Pertama, aplikasi ini berisi 170 programa siaran RRI seluruh Indoensia yang merepresentasikan kearifan lokal (budaya lokal) misalnya RRI Wamena, maka siaran lokal itu menampakkan Wamena dan gambar lokal Wamena. Representasi kearifan lokal ini menjaga kekhas budaya suatu daerah.

Yang kedua, aplikasi yang dinilai sebagai aplikasi green broadcasting radio (sebagai aplikasi yang memiliki efesiensi tinggi, karena terbiasa dengan sistem digitilasisasi).

Selain itu, apa ada terobosan konvergensi yang lain?

Disampimng itu RRI juga punya aplikasi DE-YOUNG, itu aplikasi spesial untuk anak muda, pelayanan siaran untuk kelompok genarasi milenial jaman now, jadi gaya siarannya untuk anak muda, dengan penyiar yang bergaya muda juga, sehingga pola komunikasi siaran dan lagu yang diputar, spesial siaran anak muda, program kampus, dan programa generasi milenial

Yang lain lagi, ada RRI 30 Detik, itu zetizen juournalisme, public share, jadi kita menyaiapkan domain, publik menyampaikan report ke aplikasi itu. Itu juga sudah dilakukan pada saat saya menjabat direktur teknik dan media baru.

Lalu soal Radio Divisualkan?

Seluruh pendengar RRI, saya minta sabar menunggu media konvergensi radio divisualkan, mungkin tidak lama lagi, RRI akan masuk mendunia ’’Radio Divisualkan’’ dengan tag line ’’Tonton apa yang anda dengar’’.

Jadi dengan munculnya semua dimensi media, RRI telah masuk konvergensi media secara total sesuai dengan perkembangan kemajuan teknologi, RRI.co.id, itu portal, tetapi sudah dikembangkan sekian aplikasi, radio teresterial, (baik di FM analog maupun digital audio broadcasting atau DAB).

Radio Digital, itu  “DAB Plus”, uji coba dilakukan di Jakrta. 1 frekuensi memiliki 8 kanal (channel). Beberapa radio, termasuk Pro3 RRI 88,8 FM hanya punya 1 programa. Tetapi DAB Plus RRI mempunyai 8  programa dengan 8 channel, itu teknologi baru, sebagai radio terestrial pertama di Jakarta.

Bahkan channel lima RRI Surabaya dipancarkan ke satelit, lalu diterima di RRI Jakarta, dan disalurkan melalui siaran DAB plus. 

Kalau DAB kelebihannya apa?

Khusus DAB sudah dikembangkan sejak 4 tahun lalu, sejak saya jadi direktur teknik dan media baru, ini DAB RRI sebagai radio pertama yang menggunakan 8 kanal (channel), mulai musik jazz, musik klasik, musik keroncong, termasuk salah satunya channel RRI Surabaya itu musik 91,7 Mhz (91 FM), juga dipancarkan ke satelit ke DAB Plus di Jakarta, kemudian disiarkan secara nasional.

Radio Visual muncul di dunia. Pertama di RRI Play, siaran Teresterial Satelit, apa yang diinginkan dengan terobosan memanfaatkan perkembangan kemajuan teknologi ini, bahwa dalam rangka memberikan pelayanan siaran supaya memuaskan dan maksimal, maka RRI mencari celah teknologi siaran  yang mampu menyentuh kelompok muda atau generasi milenial atau generasi jaman now.

Sehingga programa-programa siaran RRI sengaja banyak didesain untuk meraih pendengar di kelompok itu sebanyak-banyaknya. Tentu saja ke depan dengan Radio Visual.

Bagaimana kiprah RRI dibanding negara lain?

Ada yang penting memang untuk disampaikan atau diinfokan, bahwa negara-negara besar di Asia mulai Jepang dengan NHK,  Korea Selatan dengan KBS, dan beberapa radio terkenal yang tergabung dalam organisasi ABU (Asia Broadcasting Union), termasuk RRI, melakukan kesepakatan bersama di Cheng Du, Tiongkok, pada akhir 2017,  dimana RRI yang memposisikan diri sebagai pejuang media mainstream, sekaligus mengkampanyekan sebagai  media untuk melawan hoax.  

Mengapa  itu kemudian dijadikan gerakan untuk melawan hoax oleh negara-negara Asia Pasific, karena media mainstream dalam mengekpose berita melalui proses cukup panjang, dengan seleksi sangat ketat, check and recheck, dan seterusnya yang tidak mungkin akan melakukan pemberitaan bohong atau fitnah atau hoax, apalagi seperti NHK sudah menggunakan   kecanggihan teknologi untuk memastikan suatu peristiwa benar-benar terjadi.  

NHK kalau ada peristiwa menggunakan satelit dulu, mengecek untuk melihat kebenaran berita itu, kekuatan itulah yang diharapkan mengembalikan public trust (kepercayaan publik).

Sebab dengan munculnya digitalisasi, masyarakat dengan mudahnya mendapatkan informasi dan mengekpose kembali informasi itu, dan ketika mereka muda mengekpose itu, disitulah peluang hoax dengan mudah dilakukan, karena tanpa melalui proses seleksi.

Oleh karena itu, sangat diharapkan media mainstream mampu memberikan kepecayaan yamg besar kepada masyarakat dunia untuk melawan berita-berita bohong. (*).

HPN dan Kemerdekaan Pers Jaman Now

Oleh : Djoko Tetuko

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah) adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Menurut A. H. Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno. Presiden memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah".

 Dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun yang gawat, perang saudara, dan seterusnya. Disebutkan pula bahwa MPRS belumlah berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah MPR hasil pemilu terbentuk.

Tanggal 9  Februari didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 itu, menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila, sehingga pemerintah memberikan hadiah kepada kalangan pers sebagai bagian dari proses pembangunan berbangsa dan bernegara, proses pembangunan demokrasi menuju demokrasi sejati, Pancasila sejati.

Tanggal 9 Februari 2018 adalah 40 tahun silam, ketika wacana Hari Pers Nasional digodok, waktu itu pada Kongres ke-28 Persatuan Wartawan (PWI) di Padang, Sumatera Barat, pada 1978. Kesepakatan tersebut, tak terlepas dari kehendak masyarakat pers untuk menetapkan satu hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Pada sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung tanggal 19 Februari 1981, kehendak tersebut disetujui oleh Dewan Pers untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Sejarah panjang HPN memang bukan sekedar menetapkan begitu saja, tetapi menelusuri tonggak sejarah perjuangan pers, sehingga kalau jaman now ini, di Negara Kesatuan Republik Indonesia masih ada kalangan pers, menyebut sebagai pro kontra, maka harus menengok ke belakang sebuah perjalanan sejarah pers. Ingat ’’Jasmerah’’

Memahami pers tentu saja tidak boleh hanya sepotong-potong, membutuhkan pemahaman komprehenship dengan meletakkan semua kepentingan dan ego sebagai pribadi maupun sebagai akivitis di golongan tertentu atau partai tertentu. Mengapa? Bahwa pers nasional Indonesia memang mempunyai jati diri tersendiri, jati diri sejati pers Pancasila, sehingga perjalanan panjang sampai terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Feberuari 1946, adalah sebuah kesepakatan dan musyawarah dari berbagai aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia. Demikian juga ketika mengusulkan dan menetapkan Hari Pers Nasional.

Sekedar kontemplasi pemikiran tentang perjuangan wartawan dan pers, bahwa sejarah sebelum kemerdekaan RI, hampir seluruh wartawan dan pers di Nusantara, terutama di kota-kota besar di Jawa, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Padang, dan Jakarta, menyuarakan kemerdekaan dengan berbagai tulisan, juga menyuarakan perjuangan dengan suara dan pidato seperti Bung Tomo ketika mengajak para perjuang melawan sekutu di Surabayam bersamaan Resolusi Jihad NU, dan akhirnya Surabaya ditetapkan sebagai kota pahlawan dengan memperingati secara nasional setiap tanggal 10 November karena perjuangan sangat herois arek-arek Suroboyo yang berhasil mengusir penjajah Sekutu dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Media

Menurut Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990, mengatakan bahwa media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’.Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware).

Menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.

Dalam Buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006 : 119), media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, maka media yang paling dominasi dalam berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata dan telinga. Pesan – pesan yang diterima selanjutnya oleh pancaindera selanjutnya diproses oleh pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan.

Association of Education and Communication Technology (AECT), mengatakan bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi.

Dari beberapa pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima. 

Sedangkan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa.

Fungsi Pers

Pengertian pers secara umum dan menurut para ahli yang saya ambil dari Wikipedia UU No 40 tahun 1999 tentang Pers, ’’Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia’’.

Menurut R Eep Saefulloh Fatah. ’’Pers merupakan pilar keempat bagi demokrasi (the fourth estate of democracy) dan mempunyai peranan yang penting dalam membangun kepercayaan, kredibilitas, bahkan legitimasi pemerintah’’.. Menurut Oemar Seno Adji, ’’Pers dalam arti sempit, yaitu penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan, atau berita-berita dengan kata tertulis’’, dan ’’Pers dalam arti luas, yaitu memasukkan di dalamnya semua media mass communications yang memancarkan pikiran dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis maupun dengan lisan’’..

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia  Pers berarti: (1) surat kabar dan majalah yang berisi berita; (2) alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar; (3) alat untuk menjepit atau memadatkan; (4) orang yang bekerja di bidang persurat kabaran. Menurut

Wilbur Schramm dslam bukunya Four Theories of the Press yang ditulis oleh Wilbur Schramm dkk mengemukakan 4 teori terbesar pers, yaitu the authotarian, the libertarian, the social responsibility dan the soviet communist theory. Keempat teori tersebut mengacu pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru, dan forum yang menyampaikan pandangannya tentang banyak hal yang mengemuka ditengah tengah mesyarakat. Sedangkan McLuhan Pers sebagai the extended man, yaitu yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain dan peristiwa satu dengan peristiwa lain pada moment yang bersamaan.

Dalam pasal pasal 3 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol sosial. Sedangkan Pasal 6 UU Pers Nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:(1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai nilai dasar demokrasi dan mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM. Pers juga harus menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar melakukan pengawasan.; dan (2) Sebagai pelaku Media Informasi

Pers Jaman Now

Posisi pers pada jaman now memang tidak dapat dipungkiri, sudah lebih dekat dengan berbagai kepentingan masyarakat, bahkan masyarakat sudah jauh lebih cerdas dalam memilih dan memilah media pers. Sebab perkembangan media dengan meletakkan media sosial (online) sebagai media tercepat menyampaikan informasi, baik melalui saluran resmi pers maupun khalayak atau masyarakat bukan pers, menyebarluaskan informasi itu, maka disinilah kunci daripada ’’Pers Jaman Now’’ .

Memahami pengertian media dan pers, juga fungsi media dan pers, di atas maka sudah jelas dan gamblang, bahkan nampak terang benderang bahwa secara garis besar ’’Pers Jaman Now’’ paling tidak terbagi sebagai berikut ; Pertama, pers penjaga kebenaran; dan kedua, pers penyebar fitnah. Sebab, dengan berbagai undang-undang maupun peraturan perundangan terkait, ternyata belum mampu meredam, kesabaran kalangan pers untuk bertindak dan berperilaku secara profesional dan proporsional, sebagaimana semboyan yang selalu digembar-gemborkan. ’’profesional’’.

Sedikit mengingatkan sebagai bahasan ringan, setiap peringatan Hari Pers Nasional (HPN), maka masih ada kelompok garis berbeda menyuarakan bahwa HPN perlu ditinjau kembali dengan berbagai alasan, di antarnya merasa organisasi atau pers yang diikuti paling benar. 

Dan andaikata ada kesalahan masa lalu, maka harus dilawan dan diberangus habis sampai tanpa ada catatan sejarah. Tetapi bukan diambil hikmah, mana yang baik dan benar-benar sesuai dengan jati diri pers Pancasila, dan mana yang tidak sesuai dengan Pancasila. Sebab berbicara pers nasional, maka satu kunci sebagai jawaban dan pegangan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila.

Mengapa Pers Jaman Now hanya ada 2 pilihan. Menjaga Kebenaran atau Menyebar Fitnah. Agama Islam yang dibawah nabi terakhir, Rasulullah Muhammad Saw, 1437 tahun silam, sudah memberikan warning (peringatan) bahwa pada akhir jaman, seperti jaman now sekarang ini, maka umat manusia tinggal menentukan dua pilihan. Pertama, memilih selalu menjaga kebenaran dengan saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran atau saling menyebar fitnah bahkan kebencian.

Kebenaran

Firman Allah dalam Surat Al ‘Ashr (ayat 1-3) dengen jelas menyatakan, ’’Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” 

Allah bersumpah dengan al ‘ashr (demi masa/ demi waktu) Manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian di sini adalah lawan dari keberuntungan. Kerugian sendiri ada dua macam kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat, karena luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim Yang kedua, kerugian kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

Pers Jaman Now, apabila memposisikan sebagai profesional dan proporsional, maka wajib mengikuti yang kedua, yaitu kebenaran. Tentu dengan harapan supaya tidak merugi (kerugian) sebagai penyebar informasi dengan fungsi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial. Tentu saja dengan landasan empat sifat di atas, sehingga benar-benar menjaga dan mengawal kemerdekaan pers berdasarkan undang-undang, kepatuhan kode etik jurnalistik pers se dunia, dan kode etik jurnalistik Indonesia, kode perilaku perilaku wartawan serta kode perilaku pers nasional.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 934).

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.” Sebagaimana hal ini dinukil oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tsalatsatul Ushul.

Hoax

Firman Allah dalam Surat Al Lahab (ayat 105) menyatakan, ’’Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” 

Tafsiran istri Abu Lahab Pembawa Kayu Bakar adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama. Perilaku namimah (hoax) merupakan suatu dosa karena dapat menyebabkan suatu perpecahan atau permusuhan kedua belah pihak, lebih lanjut lagi akan dapat menyebabkan kontak fisik seperti berkelahi, tawuran, kerusakan, yang tentunya dapat menyebabkan terjadinya hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Pengertian ayat Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Memberikan tafsir bahwa kekauatan media atau pers nasional, sehebat apapun, jika pada akhirnmya menebarkan dan menyebarkan berita hoas (namimah) memfitnaah dan mengadu domba, maka pada akhirnya akan meninbulkan kerugikan bahkan kerusakan. 

Oleh karena itu, memperingati HPN 2018, mau tidak mau, mari mengembalikan Pers Jaman Now pada posisi empat pilar sebagai pers profesional berbudi pekerti luhur ; (1) meyakini kebenaran untuk diperjuangkan; (2) berbuat baik dalam segala hal; (3) saling mengingatkan tentang kebenaran; dan (4) saling mengingatkan tentang kesabaran. Empat pilat itu sebagai benteng untuk menjaga marwah kemerdekaan pers bermartabat. (*)

 

Banjir di pintu akses masuk stadion GBK saat jelang pertandingan Indonesia v Islandia, Minggu malam (14/1)

Indonesia vs Islandia

“Demi masa, sesungguhnya semua manusia merugi, kecuali yang beriman dan beramal sholeh, serta berani saling mengingatkan tentang kebenaran dan tentang kesabaran”. 

Ketua Umum Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Timur, Ahmad Riyadh UB, Ph.D, menyitir surat As Ashr, setelah kekalahan Timnas Indonesia 1-4 dari Islandia, tim peserta Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Riyadh mengamati dari dua persoalan pokok yang terjadi di luar pertandingan, pada saat menyaksikan di stadion Gelora Bung Karno, kompleks Senayan Jakarta, Minggu malam (14/1). 

Menurut Riyadh saat mengomentari peresmian renovasi stadion GBK untuk persiapan Asian Games, mengatakan coba lihat saat pertandingan berlangsung pemain cadangan Islandia, melakukan pemanasan dengan serius di sebelah kanan bangku cadangan. 

“Pola latihan neraka saat menunggu diturunkan sebagai pemain pengganti, tidak hanya sekedar pemanasan senam, tetapi sudah seperti latihan resmi, dengan berbagai peralatan,” katanya. 

Sementara pemain Indonesia yang dipersiapkan akan menjadi pemain pengganti lebih menikmati di bangku cadangan, tanpa melakukan gerakan-gerakan. 

Dari dua perbandingan ini, lanjut Riyadh, nampak sekali bahwa kita sudah kalah masa, kalah waktu, pemain Islandia benar-benar sungguh-sungguh mengimani sepakbola dengan baik, dan mereka menjaga tentang kebenaran dan kesabaran dalam urusan sepakbola.

“Disinilah kita kalah waktu dan kalah masa, karena kalah dalam memanfaatkan waktu yang sempit dalam memaksimalkan kemampuan individu skill,” tandas bang Riyadh.

Yang kedua, menurut Riyadh, pada saat memanfaatkan waktu istirahat, baik pemain Indonesia maupun pemain Islandia yang cadangan, sama-sama melakukan pemanasan dengan pola yang berbeda. Islandia dengan pola pemanasan memainkan pola permainan mereka dengan bola-bola atas, dan tendangan ke gawang yang serius.

Sementara Indonesia, lanjut dia, hanya melakukan pemanasan dengan pola yang lama hanya dengan model 4-1 dan 6-1, pendek-pendek di tengah lapangan saja. “Pemain Islandia memanfaatkan seluruh lebar lapangan dengan maksimal, itu juga kelihatan saat pemain cadangan pemanasan saat pertandingan berlangsung. Pemain yang bertanding dengan yang pemanasan sama, sementara pemain Indonesia hanya senam-senam saat mau bermain saja,” tandas bang Riyadh.

Riyadh menjelaskan, inilah yang saya katakan bahwa Indonesia kalah masa, kalah waktu, dalam mengejar kekalahan dan kemampuan individu skill memanfaatkan waktu dalam suasana pertandingan. “Oleh karena itu, saya nanti akan usul agar budaya yang sudah ketinggalan harus diubah menjadi budaya harus maju seperti tim-tim dunia,” tandasnya. 

Kalau soal pertandingan, lanjut Riyadh, dari segi kualitas individu skill pemain memang sudah kalah. Demikian juga cara memandang sebuah pertandingan Indonesia masih model lama dan kurang percaya diri, sehingga banyak blunder, walaupun sudah cukup lumayan secara tim.

Tetapi Islandia, katanya, mereka sudah seperti terukur dan memainkan pertandingan dengan santai, dan sudah mempunyai pola baku. Walaupun tidak bermain secara penuh. “Kita jangan sekedar mendatangkan untuk pertandingan saja, tetapi mencontoh berlatih secara benar dan bertanding dengan mental juara yang sportif, harus kita teladani supaya dapat mengejar ketinggalan,” ujarnya.

“inilah salah satu pekerjaan rumah yang harus diselsaikan secara sungguh -sungguh, kalau memang Indonesia mau lolos di Olimpiade pada tahun 2024 dan sukses di tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2034, sebagaimana dipaparkan pada saat Kongres PSSI 2018 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Sabtu lalu (13/1). (Djoko Tetuko).

Politisi Wanita Berebut Tahta, Indahnya Khofifah versus Puti

OPINI

Politisi Wanita Berebut Tahta , Indahnya Khofifah versus Puti

Oleh Djoko Tetuko - Pimred Koran Transparansi

 

Panggung Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di Provinsi Jawa Timur, tiba-tiba saja menjadi sebuah pertarungan politisi wanita atau aktifis wanita. Sejak tarik ulur siapa calon yang paling sesuai dengan perkembangan provinsi paling ujung timur di Pulau Jawa ini, nama-nama politisi pria menghiasi pohon-pohon reklame politik. Baliho dan berbagai aksesoris ajakan berpolitik untuk memilih calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur sudah menyebar ke seluruh penjuru, bahkan menebar pesona massa dengan berbagai kampanye terselubung.

Pukul 00:00 hari Kamis, tanggal 11 Januari 2019, sebagai batas waktu tidak ada lagi pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pemilihan Gubernur di Jawa Timur, tercatat secara administrasi hanya dua pasangan calon, menghiasai Pilkada serentak se Indoensia di 171 daerah, 17 di antaranya Pemilihan Gubernur. Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak dan Saifullah Yusuf dengan Puti Guntur Soekarnoputra.

Panggung politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa Timur secara resmi menjadi bagian dari kompetisi politisi wanita merebut tahta, Jatim-1 (Gubernur) dan Jatim-2 (Wakil Gubernur). Rekam jejak politisi wanita itu, memang berbeda dalam panggung organisasi politik maupun komunitas perjuangan sebagai aktifis. Sehingga, 6 bulan ke depan, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, peta pemilih bakal menjadi ’’warna pelangi’’. Setiap pasangan calon (paslon) tidak tertutup kemungkinan akan mendapat dukungan suara dari berbagai pendukung partai politik atau suara ’’warna pelangi’’ dalam simbol warna kepartaian.

Khofifah sebagai wanita calon Gubernur yang ketiga kalinya tetap mencanangkan tekad ingin merebut tahta Jatim-1, tentu saja dengan perhitungan-perhitungan politik yang matang, serta dengan keyakinan bakal mampu merebut sesuai dengan target dan harapannya. Perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini, meninggalkan jabatan lebih empuk dan lebih mapan bahkan nyaman, sebagai Menteri Sosial dengan anggaran jauh lebih tinggi dibanding mengelola APBD Jatim.

Menteri Khofifh tercatat sebagai Menteri Sosial Indoensia ke-27 dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-5, memang sudah dua kali mencalonkan sebagai Gubernur Jatim pada tahun 2008 dan 2013, tetapi dengan kekalahan tipis, atau selalu gagal mengalahkan Gubernur Soekarwo yang istiqomah berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai refresentasi Nahdltul Ulama.

Sebagai politisi wanita yang sudah memimpin fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1992 dan tiga tahun kemudian pada tahun 1995, menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI, memang sudah malang melintang di dunia perpolitikan. Juga kemampuan menghipnotis Muslimat NU menjadi bagian terpenting dalam catatan sejarah kehidupannya, dengan terpiluh 3 kali berturut-turut sebagai Ketua Umum PB Muslimat NU. Dan kini bersama Emil Dardak berusaha merebut tahta Jatim-1.

Puti Guntur dengan nama asli Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, sebagai cucu Soekarno, Presiden RI pertama, dan keponakan Megawati Soekarnoputri, Presiden RI wanita pertama, memang baru dikenal di kalangan pemilih Jatim. Bahkan seandainya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) tidak mundur sebagai calon Wakil Gubernur, refresentasi dari PDIP, maka nama Puti Guntur Soekarno, tidak bakal terdaftar di KPU RI Jawa Timur.

Puti sebagai keponakan Megawati yang lahir di Jakarta 26 Juni 1971, atau 5 tahun lebih muda dibanding dengan ’’Lawan Politiknya’’ pada Pilgub 2018 Jatim, Khofifah, tentu saja bukan pendatang baru di dunia politik. Walaupun baru menyatakan berani bersaing di panggung politik sebagai pemimpin daerah, ketika ikut meramaikan pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, pada saat itu Puti menyatakan, sebagai kader partai harus siap dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta. 

Puti juga secara organisatoris sudah disiapkan meramaikan Pilgub Jabar 2018 karena lebiuh dekat tempat tinggalmya selama di Bekasi. Puti disebut-sebit bakal menjadi Jabar0-1 atau Jabar-2. Anak tunggal dari putra sulung Bung Karno dari ibu Fatmawati, Guntur Soekarno. Puti memilih terjun ke politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Puti, begitu dia biasa disapa smenjadi anggota dewan komisi X DPR periode 2009-2014. Wanita poliisi ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan.

Puti memang menganggap PDIP itu mempunyai nilai yang pasti. Partai ini yang bisa membawa aspirasi untuk rakyat. Wanita yang hobi membaca ini ingin memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Seperti masyarakat yang masih miskin dan bodoh, kekayaan alam yang dieksploitasi untuk kepentingan bangsa lain dan kondisi bangsa yang diperlakukan sebagai bangsa kuli. Itu bagian dari perjuangan.

Dalam viral di media sosial pidato Puti begitu berapi-api, mampir menyerupai kakeknya, Soekrno, menyampaikan tentang perjuangan mensejahterakan masyarakat Indonesia dengan cara gotong royong. Puti dengan orasi cukup mantab, sebagai politisi wanita, menjelaskan dengan begitu meyakinkan bagaimana dengan gotong royong, menyelesaikan persamasalahan di Indonesia, juga di Jawa Timur.

Indahnya, para politisi wanita merebut tahta, Khofifah versus Puti, sebuah warna baru yang sama-sama menjadi kekuatan partai di Jawa Timur dan sama-sama mempunyai akar rumput sangat kuat. Khofifah dengan referensi NU yang notabene adalah pendukung nasionalis, tentu punya cara dan strategi khusus dengan visi dan misinya merebut Jatim-1. Demikian juga Puti dengan latar belakang Nasionalis dari PDIP yang notabene juga mendapat dukungan dari NU, tentu juga sudah merencanakan sesuatu dengan visi dan misinya merebut Jatim-2. Sejarah akan mencatat bahwa perhelatan politik paling dinamis dengan menampilkan dua gender sekaligus, bahkan berhadap-hadapan langsung. Memang baru di Provinsi Jawa Timur. Kita tunggu masa-masa kampanye dan perebutan suara dari cara-cara berpolitik yang berbudi luhur, berakhlaq. Siapa memilih siapa? (***)

Djoko Tetuko

Detik-detik menjelang pendaftaran secara resmi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, dalam pelaksanaan demokrasi nasional secara massal untuk Pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang, mendadak  pasangan Saifullah Yusuf dan  Abddullah Azwar Anas, terkena gelombang tsunami bahwa tiba-tiba ada kabar Anas bakal mundur karena isu kurang sedap. 

Pergulatan politik memang selalu menghadirkan kekagetan-kekagetan, bahkan tidak tertutup kemungkinan mengubah sesuatu yang wajar menjadi tidak wajar. Dan simbol sebagai pembahasan politik selalu saja seakan-akan semua itu dihalalkan, dengan berbagai dalil penguatan. 

Tetapi tujuan akhir mencapai target ’’kekuasaan’’. Apakah berhasil atau tidak, namun  jurus-jurus maut biasanya selalu saja bermunculan sejak panggung digebyar, seperti pencak silat di film-film Tiongkok, enak ditonton, enak diceritakan, apalagi diwarnai dengan adegan pegang mengkilat dan sang  lakon selalu saja menjadi pemenang.

Khusus Pilkada Jatim guna menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai catatan ini ditulis masih muncul dua pasangan, Saifullah Yusuf (sekarang Wakil Gubernur Jawa Timur) dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dengan gelombang isu cukup dahsyat, dan belum tahu bertahan atau selamat sampai tujuan. Dan pasangan Khofifah Indar Parawansa (sekarang Menteri Sosial) dengan Bupati Trenggalek Emil Dardak. 

’’Perang Dunia Nahdlatul Ulama’’ memang nampak di permukaan, walaupun sesungguhnya di warga pemilih biasa-biasa saja, belum ada kepastian siapa mendukung siapa? Walaupun para pihak yang belum ditunjuk sebagai tim sukses, sudah kampanye dari pintu ke pintu sampai dari dapur ke kasur?

’’Perang Dunia’’ sesungguhnya hanya karena simbol Nahdlatul Ulama adalah bola dunia dengan tulisan NU beserta tali tampar, seakan-akan mengisyaratkan bahwa walaupun seperti ’’Perang Dunia’’, tetapi adem ayem saja. Semua akan berjalan seperti para Walisongo berdakwa jaman itu, selalu mengalir mengikuti waktu dan waktu, juga selalu mensandarkan pada kebenaran. 

Sehingga mendekati pemilihan, maka siapa yang paling benar dan berperilaku kejujuran (tingkat tinggi), maka itulah nanti sebagai pemenang.

Catatan ini hanya sekedar mengisahkan bahwa kenapa Azwar Anas tiba-tiba mendapatkan gelombang isu cukup dahsyat? Adakah kesalahan fatal atau karena sepak terjang kurang piawai, semua tentu seperti berita politik hanya panas di permukaan, tetapi akan sedikit demi sedikit dingin bahkan bisa membeku seperti salju.

Sekedar catatan dari release, bahwa  Azwar Anas melalui program-program ekonomi kerakyatan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. 

Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang tembus dua digit.

Produk Domestik Regional Bruto naik 104 persen dari Rp32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim.Bahkan  juga sudah punya Mall Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli.

”Jadi terkait apa yang jadi desus-desus itu, saya sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah saya terima sejak tahun kedua menjabat ketika saya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern, memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan, dan sebagainya. Bahkan, saya dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut,” jelas Anas.

Jaman Rasulullah Muhammad SAW ada seorang sahabat bernama Sya’ban ra, dengan istiqomah menjadi jamaah di masjid Nabawi dengan tempat paling pojok yang diperhitungkan tidak mengganggu jamaah yang lain. 

Keistimewaan sahabat ini ialah selalu hadir persis pada saat fajar atau subuh. Kebiasaan ini membuat Muadzin Bilal (sahabat Bilal sbagai juru adzan) tidak perlu harus naik ke atap paling tinggi masjid untuk memastikan sudah terbit fajar atau belum. (karena sahabat Sya’ban istiqomah menjaga kehadiran tepar fajar).

Keistimewaan sahabat Sya’ban ra ini, selalu diperhatikan oleh Rasulullah, dan pada saat tiba waktu subuh, tiba-tiba saja Sya’ban tidak muncul, bahkan dengan senang hati Rasulullah masih mengumumkan sholat subuh ditunda sampai menunggu kehadiran Sya’ban. Tetapi batas waktu yang ditentukan tidak kunjung datang. Maka sholat subuh pun berlangsung, dan ssmpai selesai sahabat Sya’ban juga belum hadir.

Usai memimpin sholat berjamaah subuh, Rasulullah menanyakan kepada jamaah apakah ada yang mengetahui rumah Sya’ban, dan ada salah satu sahabat memastikan pengetahui rumah Sya’ban. Maka Rasulullah bersama para jamaah mendatangi rumah Sya’ban kira-kira ditempuh perjalanan selama 3 jam. Dari perjalanan panjang itu berarti setiap hari sampai subub tiba di Masjid Nabawi, Sya’ban harus berjalan dari rumahnya sekitar 3 jam (kalau subuh pukul 04:00 maka Sya’ban harus berangkat pukul 01:00)

Pada saat  rombongan Rasulullah sampai di rumah Sya’ban terjadi dialog:

Rasulullah: “Benarkah ini rumah Sya’ban?” 

Wanita di rumah itu: “Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” 

Rasulullah: “Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” 

Istri Sya’ban “ (Dengan berlinangan air mata) ,  “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian bertanya;

Istri Sya’ban  ra :  “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

Rasulullah : “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” 

Istri Sya’ban: “D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” 

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

Rasulullah : Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. 

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,’’

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Seeungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Geliat politik selalu saja ada hitam putih, ada baik dan jelek, ada prestasi dan kebobrokan, selalu muncul ke permukaan? Jika perbuatan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur sesuatu yang baik? Pasti akan ditampakkan. Demikian juga sebaliknya? Oleh karena itu, jauh lebih indah dan menjadi satu kekuatan memperbaiki Jawa Timur ke depan lebih baik, bahwa setiap calon dengan kelebihan dan kebaikannya, yang selalu kita harapkan mengubah Jawa Timur ke depan lebih baik dan otpimal. Dan dengan pertolongan Allah SWT akan diberikan petunjuk untuk memilih para calon yang memang baik juga berbuat otpimal. 

Azwar Anas, Saifullah Yusuf, Khofifah, Emil Dardak atau calon lain memang bukan sahabat Sya’ban ra, tetapi dari kisah sahabat Sya’ban ini, paling tidak menjadi inspirasi, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, dan itu jauh lebih elegan jika disikapi dengan positif bahwa menjelang Pilkada serentak, semua pihak positif thinking, sehingga akan melahirkan pemimpin yang memang berniat baik. 

Dan dari Catatan Cak Transparansi ini, kita berdoa dan berharap mendapat pemimpin yang baik. Dengan harapan semoga gonjang ganjing isu politik menjelang Pilkada berhenti  di Jawa Timur ini, sehingga secara nasional akan berjalan lancar dan menjadi sebuah pesta demokrasi kerakyatan yang mampu mengubah jaman menjadi gilang gemilang cemerlang untuk Negara Kesatuan Republik Indoensia. 

Ingatlah bahwa perbuatan baik dan optimal dengan ikhlas, bukan hanya sekedar menguatkan ’’kursi kekuasaan’’ sebagai pemimpin di dunia semata, tetapi akan menjadi impian di taman surga sebagai amal ibadah pemimpin yang bersahaja. (djoko tetuko).

 

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...