Opini

Politisi Wanita Berebut Tahta, Indahnya Khofifah versus Puti

OPINI

Politisi Wanita Berebut Tahta , Indahnya Khofifah versus Puti

Oleh Djoko Tetuko - Pimred Koran Transparansi

 

Panggung Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di Provinsi Jawa Timur, tiba-tiba saja menjadi sebuah pertarungan politisi wanita atau aktifis wanita. Sejak tarik ulur siapa calon yang paling sesuai dengan perkembangan provinsi paling ujung timur di Pulau Jawa ini, nama-nama politisi pria menghiasi pohon-pohon reklame politik. Baliho dan berbagai aksesoris ajakan berpolitik untuk memilih calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur sudah menyebar ke seluruh penjuru, bahkan menebar pesona massa dengan berbagai kampanye terselubung.

Pukul 00:00 hari Kamis, tanggal 11 Januari 2019, sebagai batas waktu tidak ada lagi pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pemilihan Gubernur di Jawa Timur, tercatat secara administrasi hanya dua pasangan calon, menghiasai Pilkada serentak se Indoensia di 171 daerah, 17 di antaranya Pemilihan Gubernur. Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak dan Saifullah Yusuf dengan Puti Guntur Soekarnoputra.

Panggung politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa Timur secara resmi menjadi bagian dari kompetisi politisi wanita merebut tahta, Jatim-1 (Gubernur) dan Jatim-2 (Wakil Gubernur). Rekam jejak politisi wanita itu, memang berbeda dalam panggung organisasi politik maupun komunitas perjuangan sebagai aktifis. Sehingga, 6 bulan ke depan, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, peta pemilih bakal menjadi ’’warna pelangi’’. Setiap pasangan calon (paslon) tidak tertutup kemungkinan akan mendapat dukungan suara dari berbagai pendukung partai politik atau suara ’’warna pelangi’’ dalam simbol warna kepartaian.

Khofifah sebagai wanita calon Gubernur yang ketiga kalinya tetap mencanangkan tekad ingin merebut tahta Jatim-1, tentu saja dengan perhitungan-perhitungan politik yang matang, serta dengan keyakinan bakal mampu merebut sesuai dengan target dan harapannya. Perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini, meninggalkan jabatan lebih empuk dan lebih mapan bahkan nyaman, sebagai Menteri Sosial dengan anggaran jauh lebih tinggi dibanding mengelola APBD Jatim.

Menteri Khofifh tercatat sebagai Menteri Sosial Indoensia ke-27 dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-5, memang sudah dua kali mencalonkan sebagai Gubernur Jatim pada tahun 2008 dan 2013, tetapi dengan kekalahan tipis, atau selalu gagal mengalahkan Gubernur Soekarwo yang istiqomah berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai refresentasi Nahdltul Ulama.

Sebagai politisi wanita yang sudah memimpin fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1992 dan tiga tahun kemudian pada tahun 1995, menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI, memang sudah malang melintang di dunia perpolitikan. Juga kemampuan menghipnotis Muslimat NU menjadi bagian terpenting dalam catatan sejarah kehidupannya, dengan terpiluh 3 kali berturut-turut sebagai Ketua Umum PB Muslimat NU. Dan kini bersama Emil Dardak berusaha merebut tahta Jatim-1.

Puti Guntur dengan nama asli Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, sebagai cucu Soekarno, Presiden RI pertama, dan keponakan Megawati Soekarnoputri, Presiden RI wanita pertama, memang baru dikenal di kalangan pemilih Jatim. Bahkan seandainya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) tidak mundur sebagai calon Wakil Gubernur, refresentasi dari PDIP, maka nama Puti Guntur Soekarno, tidak bakal terdaftar di KPU RI Jawa Timur.

Puti sebagai keponakan Megawati yang lahir di Jakarta 26 Juni 1971, atau 5 tahun lebih muda dibanding dengan ’’Lawan Politiknya’’ pada Pilgub 2018 Jatim, Khofifah, tentu saja bukan pendatang baru di dunia politik. Walaupun baru menyatakan berani bersaing di panggung politik sebagai pemimpin daerah, ketika ikut meramaikan pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, pada saat itu Puti menyatakan, sebagai kader partai harus siap dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta. 

Puti juga secara organisatoris sudah disiapkan meramaikan Pilgub Jabar 2018 karena lebiuh dekat tempat tinggalmya selama di Bekasi. Puti disebut-sebit bakal menjadi Jabar0-1 atau Jabar-2. Anak tunggal dari putra sulung Bung Karno dari ibu Fatmawati, Guntur Soekarno. Puti memilih terjun ke politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Puti, begitu dia biasa disapa smenjadi anggota dewan komisi X DPR periode 2009-2014. Wanita poliisi ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan.

Puti memang menganggap PDIP itu mempunyai nilai yang pasti. Partai ini yang bisa membawa aspirasi untuk rakyat. Wanita yang hobi membaca ini ingin memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Seperti masyarakat yang masih miskin dan bodoh, kekayaan alam yang dieksploitasi untuk kepentingan bangsa lain dan kondisi bangsa yang diperlakukan sebagai bangsa kuli. Itu bagian dari perjuangan.

Dalam viral di media sosial pidato Puti begitu berapi-api, mampir menyerupai kakeknya, Soekrno, menyampaikan tentang perjuangan mensejahterakan masyarakat Indonesia dengan cara gotong royong. Puti dengan orasi cukup mantab, sebagai politisi wanita, menjelaskan dengan begitu meyakinkan bagaimana dengan gotong royong, menyelesaikan persamasalahan di Indonesia, juga di Jawa Timur.

Indahnya, para politisi wanita merebut tahta, Khofifah versus Puti, sebuah warna baru yang sama-sama menjadi kekuatan partai di Jawa Timur dan sama-sama mempunyai akar rumput sangat kuat. Khofifah dengan referensi NU yang notabene adalah pendukung nasionalis, tentu punya cara dan strategi khusus dengan visi dan misinya merebut Jatim-1. Demikian juga Puti dengan latar belakang Nasionalis dari PDIP yang notabene juga mendapat dukungan dari NU, tentu juga sudah merencanakan sesuatu dengan visi dan misinya merebut Jatim-2. Sejarah akan mencatat bahwa perhelatan politik paling dinamis dengan menampilkan dua gender sekaligus, bahkan berhadap-hadapan langsung. Memang baru di Provinsi Jawa Timur. Kita tunggu masa-masa kampanye dan perebutan suara dari cara-cara berpolitik yang berbudi luhur, berakhlaq. Siapa memilih siapa? (***)

Djoko Tetuko

Detik-detik menjelang pendaftaran secara resmi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, dalam pelaksanaan demokrasi nasional secara massal untuk Pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang, mendadak  pasangan Saifullah Yusuf dan  Abddullah Azwar Anas, terkena gelombang tsunami bahwa tiba-tiba ada kabar Anas bakal mundur karena isu kurang sedap. 

Pergulatan politik memang selalu menghadirkan kekagetan-kekagetan, bahkan tidak tertutup kemungkinan mengubah sesuatu yang wajar menjadi tidak wajar. Dan simbol sebagai pembahasan politik selalu saja seakan-akan semua itu dihalalkan, dengan berbagai dalil penguatan. 

Tetapi tujuan akhir mencapai target ’’kekuasaan’’. Apakah berhasil atau tidak, namun  jurus-jurus maut biasanya selalu saja bermunculan sejak panggung digebyar, seperti pencak silat di film-film Tiongkok, enak ditonton, enak diceritakan, apalagi diwarnai dengan adegan pegang mengkilat dan sang  lakon selalu saja menjadi pemenang.

Khusus Pilkada Jatim guna menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai catatan ini ditulis masih muncul dua pasangan, Saifullah Yusuf (sekarang Wakil Gubernur Jawa Timur) dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dengan gelombang isu cukup dahsyat, dan belum tahu bertahan atau selamat sampai tujuan. Dan pasangan Khofifah Indar Parawansa (sekarang Menteri Sosial) dengan Bupati Trenggalek Emil Dardak. 

’’Perang Dunia Nahdlatul Ulama’’ memang nampak di permukaan, walaupun sesungguhnya di warga pemilih biasa-biasa saja, belum ada kepastian siapa mendukung siapa? Walaupun para pihak yang belum ditunjuk sebagai tim sukses, sudah kampanye dari pintu ke pintu sampai dari dapur ke kasur?

’’Perang Dunia’’ sesungguhnya hanya karena simbol Nahdlatul Ulama adalah bola dunia dengan tulisan NU beserta tali tampar, seakan-akan mengisyaratkan bahwa walaupun seperti ’’Perang Dunia’’, tetapi adem ayem saja. Semua akan berjalan seperti para Walisongo berdakwa jaman itu, selalu mengalir mengikuti waktu dan waktu, juga selalu mensandarkan pada kebenaran. 

Sehingga mendekati pemilihan, maka siapa yang paling benar dan berperilaku kejujuran (tingkat tinggi), maka itulah nanti sebagai pemenang.

Catatan ini hanya sekedar mengisahkan bahwa kenapa Azwar Anas tiba-tiba mendapatkan gelombang isu cukup dahsyat? Adakah kesalahan fatal atau karena sepak terjang kurang piawai, semua tentu seperti berita politik hanya panas di permukaan, tetapi akan sedikit demi sedikit dingin bahkan bisa membeku seperti salju.

Sekedar catatan dari release, bahwa  Azwar Anas melalui program-program ekonomi kerakyatan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. 

Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang tembus dua digit.

Produk Domestik Regional Bruto naik 104 persen dari Rp32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim.Bahkan  juga sudah punya Mall Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli.

”Jadi terkait apa yang jadi desus-desus itu, saya sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah saya terima sejak tahun kedua menjabat ketika saya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern, memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan, dan sebagainya. Bahkan, saya dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut,” jelas Anas.

Jaman Rasulullah Muhammad SAW ada seorang sahabat bernama Sya’ban ra, dengan istiqomah menjadi jamaah di masjid Nabawi dengan tempat paling pojok yang diperhitungkan tidak mengganggu jamaah yang lain. 

Keistimewaan sahabat ini ialah selalu hadir persis pada saat fajar atau subuh. Kebiasaan ini membuat Muadzin Bilal (sahabat Bilal sbagai juru adzan) tidak perlu harus naik ke atap paling tinggi masjid untuk memastikan sudah terbit fajar atau belum. (karena sahabat Sya’ban istiqomah menjaga kehadiran tepar fajar).

Keistimewaan sahabat Sya’ban ra ini, selalu diperhatikan oleh Rasulullah, dan pada saat tiba waktu subuh, tiba-tiba saja Sya’ban tidak muncul, bahkan dengan senang hati Rasulullah masih mengumumkan sholat subuh ditunda sampai menunggu kehadiran Sya’ban. Tetapi batas waktu yang ditentukan tidak kunjung datang. Maka sholat subuh pun berlangsung, dan ssmpai selesai sahabat Sya’ban juga belum hadir.

Usai memimpin sholat berjamaah subuh, Rasulullah menanyakan kepada jamaah apakah ada yang mengetahui rumah Sya’ban, dan ada salah satu sahabat memastikan pengetahui rumah Sya’ban. Maka Rasulullah bersama para jamaah mendatangi rumah Sya’ban kira-kira ditempuh perjalanan selama 3 jam. Dari perjalanan panjang itu berarti setiap hari sampai subub tiba di Masjid Nabawi, Sya’ban harus berjalan dari rumahnya sekitar 3 jam (kalau subuh pukul 04:00 maka Sya’ban harus berangkat pukul 01:00)

Pada saat  rombongan Rasulullah sampai di rumah Sya’ban terjadi dialog:

Rasulullah: “Benarkah ini rumah Sya’ban?” 

Wanita di rumah itu: “Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” 

Rasulullah: “Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” 

Istri Sya’ban “ (Dengan berlinangan air mata) ,  “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian bertanya;

Istri Sya’ban  ra :  “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

Rasulullah : “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” 

Istri Sya’ban: “D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” 

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

Rasulullah : Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. 

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,’’

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Seeungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Geliat politik selalu saja ada hitam putih, ada baik dan jelek, ada prestasi dan kebobrokan, selalu muncul ke permukaan? Jika perbuatan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur sesuatu yang baik? Pasti akan ditampakkan. Demikian juga sebaliknya? Oleh karena itu, jauh lebih indah dan menjadi satu kekuatan memperbaiki Jawa Timur ke depan lebih baik, bahwa setiap calon dengan kelebihan dan kebaikannya, yang selalu kita harapkan mengubah Jawa Timur ke depan lebih baik dan otpimal. Dan dengan pertolongan Allah SWT akan diberikan petunjuk untuk memilih para calon yang memang baik juga berbuat otpimal. 

Azwar Anas, Saifullah Yusuf, Khofifah, Emil Dardak atau calon lain memang bukan sahabat Sya’ban ra, tetapi dari kisah sahabat Sya’ban ini, paling tidak menjadi inspirasi, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, dan itu jauh lebih elegan jika disikapi dengan positif bahwa menjelang Pilkada serentak, semua pihak positif thinking, sehingga akan melahirkan pemimpin yang memang berniat baik. 

Dan dari Catatan Cak Transparansi ini, kita berdoa dan berharap mendapat pemimpin yang baik. Dengan harapan semoga gonjang ganjing isu politik menjelang Pilkada berhenti  di Jawa Timur ini, sehingga secara nasional akan berjalan lancar dan menjadi sebuah pesta demokrasi kerakyatan yang mampu mengubah jaman menjadi gilang gemilang cemerlang untuk Negara Kesatuan Republik Indoensia. 

Ingatlah bahwa perbuatan baik dan optimal dengan ikhlas, bukan hanya sekedar menguatkan ’’kursi kekuasaan’’ sebagai pemimpin di dunia semata, tetapi akan menjadi impian di taman surga sebagai amal ibadah pemimpin yang bersahaja. (djoko tetuko).

 

 

Joko Tetuko

Tajuk

Menghitung Amal Perbuatan

(Refleksi Akhir 2017-Awal 2018)

Salah satu nasehat Khalifah Umar bin Khattab RA ialah, ’’Hitung-hitunglah (amal perbuatan) dirimu sebelum engkau diperhitungkan (di hari kiamat)’’. Nasehat ini sangat menyentuh seluruh kehidupan manusia, apalagi menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, tahun 2017 tinggal hitungan hari bahkan jam atau detik berganti tahun baru 2018. Paling tidak, sebagai refleksi menutup akhir tahun (menutup amal perbuatan) dan menyongsong membuka awal tahun (memulai melanjutkan amal perbuatan), nasehat di atas patut menjadi cermin.

Belajar dari hiruk pikuk kehidupan pokok manusia dalam berbangsa dan bernegara, maka kebutuhan akan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial dan budaya juga pendidikan, serta pertahanan dan  keamanan nasional, sangat kental untuk mengukur apakah amal perbuatan insan manusia secara menyeluruh sudah mencapai titik sukses dengan gilang gemilang, atau titik terendah dengan terpuruk sampai pada titik jenuh.

Perkembangan pertumbuhan ilmu pengetahuan di Indonesia, alhamdulillah sudah kembali bangkit dengan diresmikan pesawat N-219 Nurtanio, sebagai transportasi masa depan sekaligus mengembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia di bidang dirgantara. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pasti dengan berbagai pandangan pakar ekonomi, sesuai dengan kepentingan masing-masing dalam memandang untuk kepentingan tertentu, sehingga kepakaran para ilmuan sebagai tanggung jawab moral memperjuangkan kesejahteraan manusia, kadang harus dijual belikan dengan kepentingan perut atau kepentingan lain yang lebih menjanjikan.

Tanpa memberikan ukuran secara detail dengan angka-angka, khusus perkembangan pertumbuhan ekonomi, seorang teman pedagang di Tanah Abang Jakarta menceritakan, bahwa pada tahun 1992, pedagang Tanah Abang sekitar 20 ribu orang dengan perputaran uang mencapai sekitar 5 triliun rupiah setiap hari. Dan pada akhir 2017, jumlah pedagang Tanah Abang berlipat ganda dengan catatan jumlah toko dan kios sekitar 40 ribu, namun peprputaran hanya kisaran miliaran rupiah setiap hari. Sebuah kenyataan pahit. 

Pemandangan geliat ekonomi di Mall dan pasar perdagangan mengalami tingkat kelesuhan cukup rendah, dengan ditandai beberapa gerai bahkan toko kesohor di Mall seperti Matahari, Ramayana, dan sejumlah nama terkenal menutup dunia usaha yang selama ini nmenjadi kebanggaan masyarakat. Dan catatan sampai kahir tahun ini, kehidupan perekonomian di tingkat bawah memang belum ada keluhan, tetapi potret peningkatan kebutuhan skuder, apalagi skunder plus sedikit mengalami kelesuhan.

Perkembangan pembangunan politik di Indonesia, mengalami jungkir balik luar biasa, pemilihan gubernu dan wakil gubernur di DKI Jakarta, memberi hasil sangat negatif, dimana posisi Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai incumben dengan hasil survei 70 persen lebih mendapat dukungan dan tidak tergeser bahkan tersaingi, terbukti pada akhir Pilkada pasangan Ahok-Djarot harus menelan pil pahit, setelah dikalahkan pasangan Gubernur sekarang Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam percaturan politik kenegaraaan, Ketua DPR RI Setia Novanto yang juga Ketua Umum Partai Golkar, harus menerima kenyataan getir, setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus E-KTP. Bahkan tarik ulur secara politik melalui lobi-lobi tingkat tinggi belum mampu menepis isu bahwa perpolitikan sedang memanas, sebagai pamanasan Pilpres 2019. Bahkan isu pergantian Panglina TNI juga dikait-kaitkan dengan suksesi Pilpres 2019.

Perkembangan pembangunan sosial dan budaya, sentuhan mengembalikan budaya lokal bangsa Indonesia dengan budaya sopan santun tinggi, sebagai wujud dari peradaban suatu bangsa, memang terus menerus berusaha dibangun sebagai bagian dari pembangunan nasional, dengan konsep pembangunan mental secara nasional. Tetapi penguatan pembangunan mental melalui revoluasi mental, justru di beberapa daerah semakin menguat korupsi oleh pejabat negara, sehingga revolusi mental, nampak masih sebatas wacana.

Dunia pendidikan sedang mengalami uji coba dan uji ketahanan, dimana pendidikan dasar dan menengah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2017 sempat terjadi tarik ulur mengenai pendidikan 5 hari dan full day school. Sedangkan dunia perguruan tinggi melalui kementerian pendidikan tinggi, melakukan kontrol dan kualitas perguruan tinggi, bahkan mengancam akan menutup serta melakukan merger. Perkembangan dunia pendidikan hanya wacana perubahan.

Pertaruhan sangat berat mengakhiri tahun 2017, sekedar menghitung amal perbuatan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Yusuf Kalla, selain berusaha meningkatkan perolehan pemasukan dari wajib pajak, serta melakukan percepatan pembangunan akses sarana dan prasarana fasilitas umum, seperti jalan tol, pembangunan rel kereta api di luar Jawa, pembangunan pelabuhan-pelabuhan kecil di daerah terpencil, yang belum dirasakan hasilnya mendongkrak pertumbuhan perekonomian nasional secara nyata. 

Prioritas pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di Jawa dan luar Jawa begitu gencar, juga mempersiapkan sebagai tuan rumah Asia Games, pada Agustus 2018, dengan pembangunan kereta api cepat dan kerata api khusus menuju Bandara Soekarno-Hatta, memang sebagia bagian dari upaya meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional, tetapi harus ada perhitungan secara matang dan menjanjikan. Kapan kondisi ipoleksosbud hankamnas stabil dan mengalami peningkatan sesuai dengan kamajuan di jaman modern ini.

Sekedar menghitung amal perbuatan secara kualitatif, tidak menggunakan angka-angka, hanyalah sekedar menghitung apakah pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla mengalami kemajuan di semua bidang dengan bukti nyata, atau justru sebaliknya mengalami kemajuan (salah kaprah) sehingga menimbul kemandegan berbagai bidang usaha, juga pembangunan di bidang lain. Membuktikan dengan angka-angka memang elok dan sempurna. Tetapi merasakan dengan jujur dan kesatria dengan keadaan sesungguhnya jauh lebih dari sekedar potret sementara atau potret rekayasa. 

Mari menyatakan dengan hati nurani sebuah kejujuran diri atas amal perbuatan kita sendiri, sekaligus memotret amal perbuatan para pemimpin negeri ini, dengan kacamata suci. Kata Sayyida Ali bin Abi Tahlib, ’’Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali bagi dua golongan manusia, yaitu:Pertama, seseorang yang berbuat dosa, lalu dia cepat-cepat meluruskan perbuatannya dengan bertobat. Kedua, seseorang yang selalu bersegera dalam amal kebajikan’’.

 

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

---Tajuk---

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

Setelah Khofifah secara resmi mengumumkan bakal berpasangan dengan Emil Dardak, maka Pilkada Jatim sesungguhnya sudah selesai, karena dua pasangan atau tiga pasangan, maka calon Gubernur dan Wakil Gubernur semua merupakan ’’orang dekat’’ Dr H Soekarwo (Pak De Karwo) Gubernur Jawa Timur 2 pperiode dengan prestasi amat sangat membanggakan dengan berbagai keberhasilan membangun provinsi paling ujung timur di pulau Jawa ini.

Pak De Karwo dengan kepiawiannya sebagai pendekar demokrasi sempat menyampaikan secara terbuka, wacana kemungkinan calon tunggal Gubernur dan Wakil Gubernur? Tentu saja ide itu langsung ditanggapi dengan berbagai komentar pedas dan miring bahwa seakan-akan kursi Jatim 1 tidak boleh lepas dari pengaruh Gubernur dengan seambrek pengharagaan ini. Dan itu merupakan kecerdasan sebagai pendekar demokrasi. Menyatakan dengan umpan-umpan menohok? Dan sudah pasti akan mendapat jawaban pro kontra karena kepentingan.

Kamis tanggal 5 Mei 2017 bahkan PKB Jawa Timur menggulirkan wacana calon tunggal di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Menurut Ketua DPW PKB Jawa Timur, Halim Iskandar, calon tunggal juga bagian dari demokrasi. ’’Saya kira adalah kemajuan dalam berdemokrasi. Pilkada musyawarah mufakat. Tidak liberal dan tentu Pancasilais dengan mewacanakan pilkada musyawarah mufakat,’’ kata pria yang akrab disapa Gus Halim ini saat safarai ke Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Kamis (1/5/2017).

Gus Halim juga mengatakan, sebenarnya wacana pilkada musyawarah mufakat ini berasal dari Ketua DPD Partai Demokrat Soekarwo, pada Pilgub tahun 2013 lalu. Sayangnya, setelah terpilih menjadi gubernur belum bisa terealisasi.. Halim juga mengatakan, kedatangan PKB ke Kantor Partai Demokrat ini adalah mengajak untuk sama-sama mengusung calon gubernur Jawa Timur yakni Saifullah Yusuf. Sebagaimana diketahui, PKB telah memutuskan Gus Ipul untuk maju Pilgub Jatim 2017 atas perintah dari sejumlah kiai.

Kini, calon Gubernur Jawa Timur dan Wakil Gubernur Jawa Timur sudah menyatakan insyaAllah akan mengikuti kontes Pilkada serentak pada tangal 27 Juni 2018, ialah pasangan Saifulla Yusuf dan Azwar Anas (pasangan paling awal mengumumkan dengan dukungan dari partai penguasa di Jatim, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan Khofifah sebagai calon dengan harapan dan tujuan untuk mensejajarkan kaum hawa menerobos gubernur di Indonesia dan diperjuangkan dari Jatim, walaupun sudah dua kali gagal. Bahkan rela meninggalkan kenyamanan sebagai Menteri Sosial, tetap berkeinginan maju dan sudah mengumumkan berpasangan dengan Emil Dardak.

Kemungkinan menyusul menjadi pesaing dua pasangan dari Nahdlatul Ulama ini, adalah La Nyala Mahmud Mattaliti, refresentasi dari Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN), jika tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, bakal maju menjadi kontestan Pilkada Jatim nanti, maka inilah sesungguhnya gelar pendekar demokrasi sangat pantas disandang oleh Pak De Karwo. Sebab dari tiga calon Gubernur yang bakal maju, semua termasuk ’’orang dekat’’.

Bahkan Khofifah yang semula maju dengan harapan ingin membalas kekelahan dua kali, karena merasa belum puas. Maka pada detik-detik terakhir harus mengikuti arus politik bahwa walaupun secara organisatoris melalui ’’Tim Sembilan’’ dengan juru bucara KH Sholahuddin Wahid, tetapi Partai Demokrat dengan cerdas membonceng dengan memproklamirkan Emil Dardak sebagai calon wakil Gubernur Khofifah, bersama empuhnya Partai Demakrat, Presiden ke’6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepiawian Pak De Karwo sebagai pndekar demokrasi di Jatim, tidak berlebihan jika banyak pengamat menyatakan bahwa Pilkada Jatim 2018 sudah selesai, Siapa pun sebagai pemenang, maka kemenangan itu menjadi kemenangan semua kepentingan di Jatim. Bahkan menjadi contoh model perubahan kepemimpinan dengan latar belakang berbeda, namun tertata dengan sangat indah dan elok. Tidak ada gontok-gontokan atau kubu-kubuan yang sangat fanatik, bahkan mengakibatkan permusuhan.

 

Suasana kebatinan Pilkada Jatim 2018 sudah nampak di permukaan begitu  terkesan adem ayem tenterem. Bahkan dalam perebutan suara, saling memanfaat dan mencuri suara dari kasak-kusuk sesama pendukung dalam satu dapur. Ini menandakan bahwa persoalan apa pun di Jatim sepanjang proses musyawarah mufakat melalui stempel demokrasi kepartaian atau demokrasi model lain secara gotong royong, justru membuahkan hasil akhir sangat gilang gemilang. (*).

Djoko Tetuko

 

Opini

Maulid Nabi Muhammad Penguatan Akhlaq

Oleh : Djoko Tetuko 

Peringatan maulid Nabi Muhammad saw pada bulan Robiul Awal,  selama satu bulan penuh dengan puncak peringatan pada tanggal 12 Robiul Awal, tidak lebih dan tidak kurang, menjadi momentum untuk menguatkan kembali akhlaq umat Islam sebagai penganut ajaran sejati dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, dalam sebuah hadits dengan jelas disebutkan, ’’Sesungguhnya aku (Muhammad saw) dutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia’’.

Mengingat memperingati maulid Nabi Muhammad saw sesungguhnya sudah dilakukan setiap hari Senin, dimana hari kelahiran Nabi Muhammad saw itu disunnahkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa sunnah, Senin-Kamis. Dalam penjelasan di beberapa hadits Rasulullah pernah menjelaskan bahwa puasa Senin-Kamis itu, selain sebagai hari dimana amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah swt melalui para malaikatnya, maka khusus pada hari Senin, ialah dimana memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Oeh karena itu, peringatan maulid Nabi Muhammad saw sesungguhnya bagi umat Islam secara tidak langsung sudah diperingati setiap hari Senin. Hal itu kalau direnungkan justru masih belum sepadan dengan kebutuhan umat Islam untuk penguatan iman dan islam, sebagai pintu peningkatan taqwa kepada Allah swt. Sebab dalam sehari semalam, sekurang-kurangnya, apabila mengerjakan sholat 5 waktu, maka wajib membaca syahadat 9 kali saat duduk tasyahud. Belum lagi kalau 5 waktu itu harus didahului dengan wudhu, maka juga disunnahkan saat memulai doa wudhu membaca basmallah dan syahadat, sehingga terbaca 5 kali sehari semalam syahadat. Total kalau perhitungan minim umat Islam berwudhu 5 kali dan sholat wajib 5 waktu tanpa tambahan sholat sunnah atau memperbaruhi wudhu saat batal, maka seorang muslim selalu membaca syahadat 14 kali sehari semalam.

Jika memperingati kelahiran Nabi Muhammad hanya seminggu sekali pada hari Senin, maka untuk menguatkan syahadat sebagai persaksian bahwa ’’Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul utusan Allah swt’’. Yang sehari semalam minim 14 kali, sementara belum pernah melihat langsung Nabi Muhammad yang sudah wafat 1400 tahun silam, tentu saja sebagai penguatan akhlaq dengan benteng iman, islam dan peningkatan taqwa, belum ada apa-apanya peringatan maulid setiap seminggu sekali.

Sebagaimana kalimat syahadat yang hanya khusus dihadiahkan oleh Allah swt, hanya kepada Nabi Muhammad saw, bukan nabi-nabi yang lain. Hal itu menandakan bahwa memang Nabi Muhammad saw, sebagai nabi akhir jaman sekaligus penutup dari para nabi, mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Sehingga, kalau mau berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk syiar Islam yang tinggi dan tidak ada yang menandingi di mata Allah, serta memperlajari perkembangan ilmu pengetahuan sepanjang jaman, maka setiap hari memperingati maulid Nabi Muhammad serasa belum apa-apa. Mengingat syahadat merupakan kunci dari keimanan umat Islam seantero dunia. 

 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Tahunan

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Sang raja, seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil, merayakan secara besar-besaran – semoga Allah merahmatinya.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, dia mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian dia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.

Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadis telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Nawawi (w. 676 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Membaca sejarah awal peringatan maulid Nabi Muhammad saw tahunan dan perkembangannya, sekitar 700 tahun setelah Rasululloh wafat, tentu saja sangat meriah dan begitu spesial, karena tidak sekedar membaca sejarah Nabi Muhammad, tetapi juga mengajak umat Islam mensyukuri nikmat Allah dengan menyembelih ribuan kambing dan unta. Oleh karena itu, peringatan maulid Nabi Muhammad tahunan ini, sebaiknya dimanfaatkan untuk menguatkan akhlaq umat Islam menjadi akhlaq yang mulia. Paling tidak mencontoh sebagian kecil akhlaq Rasululloh yang begitu rendah hati dan sangat menghargai dan menghormati umat manusia, baik kawan maupun lawan. 

Peristiwa Lahirnya Nabi Muhammad 

Ada 12 peristiwa pada saat Nabi Muhammad saw dilahirkan, yang sudah populer ketika pasukan Gajah Raja Abrahah, pimpinan Panglima Abu Rughal pada saat berangkat akan menghancurkan Ka’bah diserang oleh burung-burung ababil yang membawa batu-batu panas dan berpijar. Sayyidah Siti Aminah, ibu Nabi Muhammad saw, selama mengandung tidak merasa letih akibat kandungannya. Padahal setiap wanita yang hamil selalu merasa letih karena kandungannya.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah saw, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabi’ul Awwal.Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar. Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah. Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.

Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.

Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat yang besar.Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah. Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar. Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul. Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Qur’an yang diridhai.

Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah saw lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab: “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.”

Sayyidah Siti Aminah, juga merasakan tanda-tanda akan melahirkan secara tiba-tiba pada malam hari. Pada saat itu mertuanya Abdul Muthalib sedang pergi ke Masjidilharam. Sementara, Abdullah suaminya, sudah meninggal dunia. Kemudian, datang banyak wanita cantik. Ada 2 wanita yang jadi perhatian Aminah, mereka memberi salam dan menyebut dirinya Asiya (istri Raja Fir'aun) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.).

Siti Aminah bahkan tidak merasa sakit layaknya wanita yang melahirkan. Padahal saat itu belum ada obat bius sehingga melahirkan benar-benar secara alami. Begitulah, kisah-kisah istimewa dan ajaib yang melingkupi peristiwa menjelang sampai kelahiran Muhammad saw. Sungguh semua itu adalah bukti bahwa Rasulullah saw adalah manusia pilihan, utusan yang jadi penghulu para nabi dan sebaik-baik manusia.

Oleh karena itu, sebagai penguatan akhlaq umat Islam di abad modern dengan serba serbi informasi begitu cepat menggelinding melalui dunia maya, tentu saja peringatan maulid Nabi Muhammad saw tahunan, harus benar-benar dijadikan moment untuk mengembalikan akhlaq umat Islam pada jati diri sesungguhnya. Rahmat bagi seluruh alam. Tentu saja dengan budi pekerti mulia, dengan contoh-contoh perilaku yang mengikuti Nabi Muhammad saw dalam mengabdi kepada Allah swt, maupun melakukan komunikasi dengan sesama manusia. (*)

 

Refleksi Hari Pahlawan 10 November 2017 ,Pahlawan Anti Narkoba, Anti Korupsi, Anti Penjajahan Hanya Bayang-Bayang

 

 

Oleh : Djoko Tetuko Abdul Latif *)

Peringatan Hari Pahlawan sudah satu minggu berlalu dan memang sudah berlalu, tidak membekas pada gerakan massal mencontoh suri tauladan para pahlaawan, arek-arek Suroboyo yang dengan tulus dan ikhlas mengorbankan jiwa dan raga bahkan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia, yang ketika itu baru seumur jagung. Contoh kongkret melakukan perlawanan secara nasional pada kondisi bangsa dan negara yang sudah kritis, seperti memerangi narkoba, korupsi (KKN) dan penjajahan, nampak hanya bayang-bayang.

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...