Opini

HPN dan Kemerdekaan Pers Jaman Now

Oleh : Djoko Tetuko

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah) adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Menurut A. H. Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno. Presiden memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah".

 Dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun yang gawat, perang saudara, dan seterusnya. Disebutkan pula bahwa MPRS belumlah berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah MPR hasil pemilu terbentuk.

Tanggal 9  Februari didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 itu, menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila, sehingga pemerintah memberikan hadiah kepada kalangan pers sebagai bagian dari proses pembangunan berbangsa dan bernegara, proses pembangunan demokrasi menuju demokrasi sejati, Pancasila sejati.

Tanggal 9 Februari 2018 adalah 40 tahun silam, ketika wacana Hari Pers Nasional digodok, waktu itu pada Kongres ke-28 Persatuan Wartawan (PWI) di Padang, Sumatera Barat, pada 1978. Kesepakatan tersebut, tak terlepas dari kehendak masyarakat pers untuk menetapkan satu hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Pada sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung tanggal 19 Februari 1981, kehendak tersebut disetujui oleh Dewan Pers untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Sejarah panjang HPN memang bukan sekedar menetapkan begitu saja, tetapi menelusuri tonggak sejarah perjuangan pers, sehingga kalau jaman now ini, di Negara Kesatuan Republik Indonesia masih ada kalangan pers, menyebut sebagai pro kontra, maka harus menengok ke belakang sebuah perjalanan sejarah pers. Ingat ’’Jasmerah’’

Memahami pers tentu saja tidak boleh hanya sepotong-potong, membutuhkan pemahaman komprehenship dengan meletakkan semua kepentingan dan ego sebagai pribadi maupun sebagai akivitis di golongan tertentu atau partai tertentu. Mengapa? Bahwa pers nasional Indonesia memang mempunyai jati diri tersendiri, jati diri sejati pers Pancasila, sehingga perjalanan panjang sampai terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tanggal 9 Feberuari 1946, adalah sebuah kesepakatan dan musyawarah dari berbagai aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia. Demikian juga ketika mengusulkan dan menetapkan Hari Pers Nasional.

Sekedar kontemplasi pemikiran tentang perjuangan wartawan dan pers, bahwa sejarah sebelum kemerdekaan RI, hampir seluruh wartawan dan pers di Nusantara, terutama di kota-kota besar di Jawa, Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Padang, dan Jakarta, menyuarakan kemerdekaan dengan berbagai tulisan, juga menyuarakan perjuangan dengan suara dan pidato seperti Bung Tomo ketika mengajak para perjuang melawan sekutu di Surabayam bersamaan Resolusi Jihad NU, dan akhirnya Surabaya ditetapkan sebagai kota pahlawan dengan memperingati secara nasional setiap tanggal 10 November karena perjuangan sangat herois arek-arek Suroboyo yang berhasil mengusir penjajah Sekutu dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Media

Menurut Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990, mengatakan bahwa media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’.Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat (hardware).

Menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.

Dalam Buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006 : 119), media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, maka media yang paling dominasi dalam berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata dan telinga. Pesan – pesan yang diterima selanjutnya oleh pancaindera selanjutnya diproses oleh pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan.

Association of Education and Communication Technology (AECT), mengatakan bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi.

Dari beberapa pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima. 

Sedangkan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa.

Fungsi Pers

Pengertian pers secara umum dan menurut para ahli yang saya ambil dari Wikipedia UU No 40 tahun 1999 tentang Pers, ’’Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia’’.

Menurut R Eep Saefulloh Fatah. ’’Pers merupakan pilar keempat bagi demokrasi (the fourth estate of democracy) dan mempunyai peranan yang penting dalam membangun kepercayaan, kredibilitas, bahkan legitimasi pemerintah’’.. Menurut Oemar Seno Adji, ’’Pers dalam arti sempit, yaitu penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan, atau berita-berita dengan kata tertulis’’, dan ’’Pers dalam arti luas, yaitu memasukkan di dalamnya semua media mass communications yang memancarkan pikiran dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis maupun dengan lisan’’..

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia  Pers berarti: (1) surat kabar dan majalah yang berisi berita; (2) alat cetak untuk mencetak buku atau surat kabar; (3) alat untuk menjepit atau memadatkan; (4) orang yang bekerja di bidang persurat kabaran. Menurut

Wilbur Schramm dslam bukunya Four Theories of the Press yang ditulis oleh Wilbur Schramm dkk mengemukakan 4 teori terbesar pers, yaitu the authotarian, the libertarian, the social responsibility dan the soviet communist theory. Keempat teori tersebut mengacu pada satu pengertian pers sebagai pengamat, guru, dan forum yang menyampaikan pandangannya tentang banyak hal yang mengemuka ditengah tengah mesyarakat. Sedangkan McLuhan Pers sebagai the extended man, yaitu yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain dan peristiwa satu dengan peristiwa lain pada moment yang bersamaan.

Dalam pasal pasal 3 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, serta kontrol sosial. Sedangkan Pasal 6 UU Pers Nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:(1) Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkan nilai nilai dasar demokrasi dan mendorong terwujudnya supremasi hukum dan HAM. Pers juga harus menghormati kebinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar melakukan pengawasan.; dan (2) Sebagai pelaku Media Informasi

Pers Jaman Now

Posisi pers pada jaman now memang tidak dapat dipungkiri, sudah lebih dekat dengan berbagai kepentingan masyarakat, bahkan masyarakat sudah jauh lebih cerdas dalam memilih dan memilah media pers. Sebab perkembangan media dengan meletakkan media sosial (online) sebagai media tercepat menyampaikan informasi, baik melalui saluran resmi pers maupun khalayak atau masyarakat bukan pers, menyebarluaskan informasi itu, maka disinilah kunci daripada ’’Pers Jaman Now’’ .

Memahami pengertian media dan pers, juga fungsi media dan pers, di atas maka sudah jelas dan gamblang, bahkan nampak terang benderang bahwa secara garis besar ’’Pers Jaman Now’’ paling tidak terbagi sebagai berikut ; Pertama, pers penjaga kebenaran; dan kedua, pers penyebar fitnah. Sebab, dengan berbagai undang-undang maupun peraturan perundangan terkait, ternyata belum mampu meredam, kesabaran kalangan pers untuk bertindak dan berperilaku secara profesional dan proporsional, sebagaimana semboyan yang selalu digembar-gemborkan. ’’profesional’’.

Sedikit mengingatkan sebagai bahasan ringan, setiap peringatan Hari Pers Nasional (HPN), maka masih ada kelompok garis berbeda menyuarakan bahwa HPN perlu ditinjau kembali dengan berbagai alasan, di antarnya merasa organisasi atau pers yang diikuti paling benar. 

Dan andaikata ada kesalahan masa lalu, maka harus dilawan dan diberangus habis sampai tanpa ada catatan sejarah. Tetapi bukan diambil hikmah, mana yang baik dan benar-benar sesuai dengan jati diri pers Pancasila, dan mana yang tidak sesuai dengan Pancasila. Sebab berbicara pers nasional, maka satu kunci sebagai jawaban dan pegangan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila.

Mengapa Pers Jaman Now hanya ada 2 pilihan. Menjaga Kebenaran atau Menyebar Fitnah. Agama Islam yang dibawah nabi terakhir, Rasulullah Muhammad Saw, 1437 tahun silam, sudah memberikan warning (peringatan) bahwa pada akhir jaman, seperti jaman now sekarang ini, maka umat manusia tinggal menentukan dua pilihan. Pertama, memilih selalu menjaga kebenaran dengan saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran atau saling menyebar fitnah bahkan kebencian.

Kebenaran

Firman Allah dalam Surat Al ‘Ashr (ayat 1-3) dengen jelas menyatakan, ’’Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” 

Allah bersumpah dengan al ‘ashr (demi masa/ demi waktu) Manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian di sini adalah lawan dari keberuntungan. Kerugian sendiri ada dua macam kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah. Yang pertama, kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat, karena luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim Yang kedua, kerugian kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

Pers Jaman Now, apabila memposisikan sebagai profesional dan proporsional, maka wajib mengikuti yang kedua, yaitu kebenaran. Tentu dengan harapan supaya tidak merugi (kerugian) sebagai penyebar informasi dengan fungsi, pendidikan, hiburan, kontrol sosial. Tentu saja dengan landasan empat sifat di atas, sehingga benar-benar menjaga dan mengawal kemerdekaan pers berdasarkan undang-undang, kepatuhan kode etik jurnalistik pers se dunia, dan kode etik jurnalistik Indonesia, kode perilaku perilaku wartawan serta kode perilaku pers nasional.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dua hal yang pertama (iman dan amal sholeh) untuk menyempurnakan diri manusia. Sedangkan dua hal berikutnya untuk menyempurnakan orang lain. Seorang manusia menggapai kesempurnaan jika melakukan empat hal ini. Itulah manusia yang dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keberuntungan yang besar.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 934).

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.” Sebagaimana hal ini dinukil oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam Kitab Tsalatsatul Ushul.

Hoax

Firman Allah dalam Surat Al Lahab (ayat 105) menyatakan, ’’Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” 

Tafsiran istri Abu Lahab Pembawa Kayu Bakar adalah Ummu Jamil adalah wanita sering menyebar namimah, yaitu si A mendengar pembicaraan B tentang C, lantas si A menyampaikan berita si B pada si C dalam rangka adu domba. Ini pendapat sebagian ulama. Perilaku namimah (hoax) merupakan suatu dosa karena dapat menyebabkan suatu perpecahan atau permusuhan kedua belah pihak, lebih lanjut lagi akan dapat menyebabkan kontak fisik seperti berkelahi, tawuran, kerusakan, yang tentunya dapat menyebabkan terjadinya hal-hal negatif yang tidak diinginkan.

Pengertian ayat Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Memberikan tafsir bahwa kekauatan media atau pers nasional, sehebat apapun, jika pada akhirnmya menebarkan dan menyebarkan berita hoas (namimah) memfitnaah dan mengadu domba, maka pada akhirnya akan meninbulkan kerugikan bahkan kerusakan. 

Oleh karena itu, memperingati HPN 2018, mau tidak mau, mari mengembalikan Pers Jaman Now pada posisi empat pilar sebagai pers profesional berbudi pekerti luhur ; (1) meyakini kebenaran untuk diperjuangkan; (2) berbuat baik dalam segala hal; (3) saling mengingatkan tentang kebenaran; dan (4) saling mengingatkan tentang kesabaran. Empat pilat itu sebagai benteng untuk menjaga marwah kemerdekaan pers bermartabat. (*)

 

Banjir di pintu akses masuk stadion GBK saat jelang pertandingan Indonesia v Islandia, Minggu malam (14/1)

Indonesia vs Islandia

“Demi masa, sesungguhnya semua manusia merugi, kecuali yang beriman dan beramal sholeh, serta berani saling mengingatkan tentang kebenaran dan tentang kesabaran”. 

Ketua Umum Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Timur, Ahmad Riyadh UB, Ph.D, menyitir surat As Ashr, setelah kekalahan Timnas Indonesia 1-4 dari Islandia, tim peserta Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Riyadh mengamati dari dua persoalan pokok yang terjadi di luar pertandingan, pada saat menyaksikan di stadion Gelora Bung Karno, kompleks Senayan Jakarta, Minggu malam (14/1). 

Menurut Riyadh saat mengomentari peresmian renovasi stadion GBK untuk persiapan Asian Games, mengatakan coba lihat saat pertandingan berlangsung pemain cadangan Islandia, melakukan pemanasan dengan serius di sebelah kanan bangku cadangan. 

“Pola latihan neraka saat menunggu diturunkan sebagai pemain pengganti, tidak hanya sekedar pemanasan senam, tetapi sudah seperti latihan resmi, dengan berbagai peralatan,” katanya. 

Sementara pemain Indonesia yang dipersiapkan akan menjadi pemain pengganti lebih menikmati di bangku cadangan, tanpa melakukan gerakan-gerakan. 

Dari dua perbandingan ini, lanjut Riyadh, nampak sekali bahwa kita sudah kalah masa, kalah waktu, pemain Islandia benar-benar sungguh-sungguh mengimani sepakbola dengan baik, dan mereka menjaga tentang kebenaran dan kesabaran dalam urusan sepakbola.

“Disinilah kita kalah waktu dan kalah masa, karena kalah dalam memanfaatkan waktu yang sempit dalam memaksimalkan kemampuan individu skill,” tandas bang Riyadh.

Yang kedua, menurut Riyadh, pada saat memanfaatkan waktu istirahat, baik pemain Indonesia maupun pemain Islandia yang cadangan, sama-sama melakukan pemanasan dengan pola yang berbeda. Islandia dengan pola pemanasan memainkan pola permainan mereka dengan bola-bola atas, dan tendangan ke gawang yang serius.

Sementara Indonesia, lanjut dia, hanya melakukan pemanasan dengan pola yang lama hanya dengan model 4-1 dan 6-1, pendek-pendek di tengah lapangan saja. “Pemain Islandia memanfaatkan seluruh lebar lapangan dengan maksimal, itu juga kelihatan saat pemain cadangan pemanasan saat pertandingan berlangsung. Pemain yang bertanding dengan yang pemanasan sama, sementara pemain Indonesia hanya senam-senam saat mau bermain saja,” tandas bang Riyadh.

Riyadh menjelaskan, inilah yang saya katakan bahwa Indonesia kalah masa, kalah waktu, dalam mengejar kekalahan dan kemampuan individu skill memanfaatkan waktu dalam suasana pertandingan. “Oleh karena itu, saya nanti akan usul agar budaya yang sudah ketinggalan harus diubah menjadi budaya harus maju seperti tim-tim dunia,” tandasnya. 

Kalau soal pertandingan, lanjut Riyadh, dari segi kualitas individu skill pemain memang sudah kalah. Demikian juga cara memandang sebuah pertandingan Indonesia masih model lama dan kurang percaya diri, sehingga banyak blunder, walaupun sudah cukup lumayan secara tim.

Tetapi Islandia, katanya, mereka sudah seperti terukur dan memainkan pertandingan dengan santai, dan sudah mempunyai pola baku. Walaupun tidak bermain secara penuh. “Kita jangan sekedar mendatangkan untuk pertandingan saja, tetapi mencontoh berlatih secara benar dan bertanding dengan mental juara yang sportif, harus kita teladani supaya dapat mengejar ketinggalan,” ujarnya.

“inilah salah satu pekerjaan rumah yang harus diselsaikan secara sungguh -sungguh, kalau memang Indonesia mau lolos di Olimpiade pada tahun 2024 dan sukses di tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2034, sebagaimana dipaparkan pada saat Kongres PSSI 2018 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Sabtu lalu (13/1). (Djoko Tetuko).

Politisi Wanita Berebut Tahta, Indahnya Khofifah versus Puti

OPINI

Politisi Wanita Berebut Tahta , Indahnya Khofifah versus Puti

Oleh Djoko Tetuko - Pimred Koran Transparansi

 

Panggung Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di Provinsi Jawa Timur, tiba-tiba saja menjadi sebuah pertarungan politisi wanita atau aktifis wanita. Sejak tarik ulur siapa calon yang paling sesuai dengan perkembangan provinsi paling ujung timur di Pulau Jawa ini, nama-nama politisi pria menghiasi pohon-pohon reklame politik. Baliho dan berbagai aksesoris ajakan berpolitik untuk memilih calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur sudah menyebar ke seluruh penjuru, bahkan menebar pesona massa dengan berbagai kampanye terselubung.

Pukul 00:00 hari Kamis, tanggal 11 Januari 2019, sebagai batas waktu tidak ada lagi pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pemilihan Gubernur di Jawa Timur, tercatat secara administrasi hanya dua pasangan calon, menghiasai Pilkada serentak se Indoensia di 171 daerah, 17 di antaranya Pemilihan Gubernur. Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak dan Saifullah Yusuf dengan Puti Guntur Soekarnoputra.

Panggung politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa Timur secara resmi menjadi bagian dari kompetisi politisi wanita merebut tahta, Jatim-1 (Gubernur) dan Jatim-2 (Wakil Gubernur). Rekam jejak politisi wanita itu, memang berbeda dalam panggung organisasi politik maupun komunitas perjuangan sebagai aktifis. Sehingga, 6 bulan ke depan, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, peta pemilih bakal menjadi ’’warna pelangi’’. Setiap pasangan calon (paslon) tidak tertutup kemungkinan akan mendapat dukungan suara dari berbagai pendukung partai politik atau suara ’’warna pelangi’’ dalam simbol warna kepartaian.

Khofifah sebagai wanita calon Gubernur yang ketiga kalinya tetap mencanangkan tekad ingin merebut tahta Jatim-1, tentu saja dengan perhitungan-perhitungan politik yang matang, serta dengan keyakinan bakal mampu merebut sesuai dengan target dan harapannya. Perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini, meninggalkan jabatan lebih empuk dan lebih mapan bahkan nyaman, sebagai Menteri Sosial dengan anggaran jauh lebih tinggi dibanding mengelola APBD Jatim.

Menteri Khofifh tercatat sebagai Menteri Sosial Indoensia ke-27 dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-5, memang sudah dua kali mencalonkan sebagai Gubernur Jatim pada tahun 2008 dan 2013, tetapi dengan kekalahan tipis, atau selalu gagal mengalahkan Gubernur Soekarwo yang istiqomah berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai refresentasi Nahdltul Ulama.

Sebagai politisi wanita yang sudah memimpin fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1992 dan tiga tahun kemudian pada tahun 1995, menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI, memang sudah malang melintang di dunia perpolitikan. Juga kemampuan menghipnotis Muslimat NU menjadi bagian terpenting dalam catatan sejarah kehidupannya, dengan terpiluh 3 kali berturut-turut sebagai Ketua Umum PB Muslimat NU. Dan kini bersama Emil Dardak berusaha merebut tahta Jatim-1.

Puti Guntur dengan nama asli Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, sebagai cucu Soekarno, Presiden RI pertama, dan keponakan Megawati Soekarnoputri, Presiden RI wanita pertama, memang baru dikenal di kalangan pemilih Jatim. Bahkan seandainya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) tidak mundur sebagai calon Wakil Gubernur, refresentasi dari PDIP, maka nama Puti Guntur Soekarno, tidak bakal terdaftar di KPU RI Jawa Timur.

Puti sebagai keponakan Megawati yang lahir di Jakarta 26 Juni 1971, atau 5 tahun lebih muda dibanding dengan ’’Lawan Politiknya’’ pada Pilgub 2018 Jatim, Khofifah, tentu saja bukan pendatang baru di dunia politik. Walaupun baru menyatakan berani bersaing di panggung politik sebagai pemimpin daerah, ketika ikut meramaikan pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, pada saat itu Puti menyatakan, sebagai kader partai harus siap dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta. 

Puti juga secara organisatoris sudah disiapkan meramaikan Pilgub Jabar 2018 karena lebiuh dekat tempat tinggalmya selama di Bekasi. Puti disebut-sebit bakal menjadi Jabar0-1 atau Jabar-2. Anak tunggal dari putra sulung Bung Karno dari ibu Fatmawati, Guntur Soekarno. Puti memilih terjun ke politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Puti, begitu dia biasa disapa smenjadi anggota dewan komisi X DPR periode 2009-2014. Wanita poliisi ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan.

Puti memang menganggap PDIP itu mempunyai nilai yang pasti. Partai ini yang bisa membawa aspirasi untuk rakyat. Wanita yang hobi membaca ini ingin memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Seperti masyarakat yang masih miskin dan bodoh, kekayaan alam yang dieksploitasi untuk kepentingan bangsa lain dan kondisi bangsa yang diperlakukan sebagai bangsa kuli. Itu bagian dari perjuangan.

Dalam viral di media sosial pidato Puti begitu berapi-api, mampir menyerupai kakeknya, Soekrno, menyampaikan tentang perjuangan mensejahterakan masyarakat Indonesia dengan cara gotong royong. Puti dengan orasi cukup mantab, sebagai politisi wanita, menjelaskan dengan begitu meyakinkan bagaimana dengan gotong royong, menyelesaikan persamasalahan di Indonesia, juga di Jawa Timur.

Indahnya, para politisi wanita merebut tahta, Khofifah versus Puti, sebuah warna baru yang sama-sama menjadi kekuatan partai di Jawa Timur dan sama-sama mempunyai akar rumput sangat kuat. Khofifah dengan referensi NU yang notabene adalah pendukung nasionalis, tentu punya cara dan strategi khusus dengan visi dan misinya merebut Jatim-1. Demikian juga Puti dengan latar belakang Nasionalis dari PDIP yang notabene juga mendapat dukungan dari NU, tentu juga sudah merencanakan sesuatu dengan visi dan misinya merebut Jatim-2. Sejarah akan mencatat bahwa perhelatan politik paling dinamis dengan menampilkan dua gender sekaligus, bahkan berhadap-hadapan langsung. Memang baru di Provinsi Jawa Timur. Kita tunggu masa-masa kampanye dan perebutan suara dari cara-cara berpolitik yang berbudi luhur, berakhlaq. Siapa memilih siapa? (***)

Djoko Tetuko

Detik-detik menjelang pendaftaran secara resmi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, dalam pelaksanaan demokrasi nasional secara massal untuk Pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang, mendadak  pasangan Saifullah Yusuf dan  Abddullah Azwar Anas, terkena gelombang tsunami bahwa tiba-tiba ada kabar Anas bakal mundur karena isu kurang sedap. 

Pergulatan politik memang selalu menghadirkan kekagetan-kekagetan, bahkan tidak tertutup kemungkinan mengubah sesuatu yang wajar menjadi tidak wajar. Dan simbol sebagai pembahasan politik selalu saja seakan-akan semua itu dihalalkan, dengan berbagai dalil penguatan. 

Tetapi tujuan akhir mencapai target ’’kekuasaan’’. Apakah berhasil atau tidak, namun  jurus-jurus maut biasanya selalu saja bermunculan sejak panggung digebyar, seperti pencak silat di film-film Tiongkok, enak ditonton, enak diceritakan, apalagi diwarnai dengan adegan pegang mengkilat dan sang  lakon selalu saja menjadi pemenang.

Khusus Pilkada Jatim guna menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai catatan ini ditulis masih muncul dua pasangan, Saifullah Yusuf (sekarang Wakil Gubernur Jawa Timur) dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dengan gelombang isu cukup dahsyat, dan belum tahu bertahan atau selamat sampai tujuan. Dan pasangan Khofifah Indar Parawansa (sekarang Menteri Sosial) dengan Bupati Trenggalek Emil Dardak. 

’’Perang Dunia Nahdlatul Ulama’’ memang nampak di permukaan, walaupun sesungguhnya di warga pemilih biasa-biasa saja, belum ada kepastian siapa mendukung siapa? Walaupun para pihak yang belum ditunjuk sebagai tim sukses, sudah kampanye dari pintu ke pintu sampai dari dapur ke kasur?

’’Perang Dunia’’ sesungguhnya hanya karena simbol Nahdlatul Ulama adalah bola dunia dengan tulisan NU beserta tali tampar, seakan-akan mengisyaratkan bahwa walaupun seperti ’’Perang Dunia’’, tetapi adem ayem saja. Semua akan berjalan seperti para Walisongo berdakwa jaman itu, selalu mengalir mengikuti waktu dan waktu, juga selalu mensandarkan pada kebenaran. 

Sehingga mendekati pemilihan, maka siapa yang paling benar dan berperilaku kejujuran (tingkat tinggi), maka itulah nanti sebagai pemenang.

Catatan ini hanya sekedar mengisahkan bahwa kenapa Azwar Anas tiba-tiba mendapatkan gelombang isu cukup dahsyat? Adakah kesalahan fatal atau karena sepak terjang kurang piawai, semua tentu seperti berita politik hanya panas di permukaan, tetapi akan sedikit demi sedikit dingin bahkan bisa membeku seperti salju.

Sekedar catatan dari release, bahwa  Azwar Anas melalui program-program ekonomi kerakyatan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. 

Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang tembus dua digit.

Produk Domestik Regional Bruto naik 104 persen dari Rp32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim.Bahkan  juga sudah punya Mall Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli.

”Jadi terkait apa yang jadi desus-desus itu, saya sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah saya terima sejak tahun kedua menjabat ketika saya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern, memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan, dan sebagainya. Bahkan, saya dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut,” jelas Anas.

Jaman Rasulullah Muhammad SAW ada seorang sahabat bernama Sya’ban ra, dengan istiqomah menjadi jamaah di masjid Nabawi dengan tempat paling pojok yang diperhitungkan tidak mengganggu jamaah yang lain. 

Keistimewaan sahabat ini ialah selalu hadir persis pada saat fajar atau subuh. Kebiasaan ini membuat Muadzin Bilal (sahabat Bilal sbagai juru adzan) tidak perlu harus naik ke atap paling tinggi masjid untuk memastikan sudah terbit fajar atau belum. (karena sahabat Sya’ban istiqomah menjaga kehadiran tepar fajar).

Keistimewaan sahabat Sya’ban ra ini, selalu diperhatikan oleh Rasulullah, dan pada saat tiba waktu subuh, tiba-tiba saja Sya’ban tidak muncul, bahkan dengan senang hati Rasulullah masih mengumumkan sholat subuh ditunda sampai menunggu kehadiran Sya’ban. Tetapi batas waktu yang ditentukan tidak kunjung datang. Maka sholat subuh pun berlangsung, dan ssmpai selesai sahabat Sya’ban juga belum hadir.

Usai memimpin sholat berjamaah subuh, Rasulullah menanyakan kepada jamaah apakah ada yang mengetahui rumah Sya’ban, dan ada salah satu sahabat memastikan pengetahui rumah Sya’ban. Maka Rasulullah bersama para jamaah mendatangi rumah Sya’ban kira-kira ditempuh perjalanan selama 3 jam. Dari perjalanan panjang itu berarti setiap hari sampai subub tiba di Masjid Nabawi, Sya’ban harus berjalan dari rumahnya sekitar 3 jam (kalau subuh pukul 04:00 maka Sya’ban harus berangkat pukul 01:00)

Pada saat  rombongan Rasulullah sampai di rumah Sya’ban terjadi dialog:

Rasulullah: “Benarkah ini rumah Sya’ban?” 

Wanita di rumah itu: “Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” 

Rasulullah: “Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” 

Istri Sya’ban “ (Dengan berlinangan air mata) ,  “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian bertanya;

Istri Sya’ban  ra :  “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

Rasulullah : “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” 

Istri Sya’ban: “D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” 

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

Rasulullah : Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. 

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,’’

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Seeungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Geliat politik selalu saja ada hitam putih, ada baik dan jelek, ada prestasi dan kebobrokan, selalu muncul ke permukaan? Jika perbuatan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur sesuatu yang baik? Pasti akan ditampakkan. Demikian juga sebaliknya? Oleh karena itu, jauh lebih indah dan menjadi satu kekuatan memperbaiki Jawa Timur ke depan lebih baik, bahwa setiap calon dengan kelebihan dan kebaikannya, yang selalu kita harapkan mengubah Jawa Timur ke depan lebih baik dan otpimal. Dan dengan pertolongan Allah SWT akan diberikan petunjuk untuk memilih para calon yang memang baik juga berbuat otpimal. 

Azwar Anas, Saifullah Yusuf, Khofifah, Emil Dardak atau calon lain memang bukan sahabat Sya’ban ra, tetapi dari kisah sahabat Sya’ban ini, paling tidak menjadi inspirasi, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, dan itu jauh lebih elegan jika disikapi dengan positif bahwa menjelang Pilkada serentak, semua pihak positif thinking, sehingga akan melahirkan pemimpin yang memang berniat baik. 

Dan dari Catatan Cak Transparansi ini, kita berdoa dan berharap mendapat pemimpin yang baik. Dengan harapan semoga gonjang ganjing isu politik menjelang Pilkada berhenti  di Jawa Timur ini, sehingga secara nasional akan berjalan lancar dan menjadi sebuah pesta demokrasi kerakyatan yang mampu mengubah jaman menjadi gilang gemilang cemerlang untuk Negara Kesatuan Republik Indoensia. 

Ingatlah bahwa perbuatan baik dan optimal dengan ikhlas, bukan hanya sekedar menguatkan ’’kursi kekuasaan’’ sebagai pemimpin di dunia semata, tetapi akan menjadi impian di taman surga sebagai amal ibadah pemimpin yang bersahaja. (djoko tetuko).

 

 

Joko Tetuko

Tajuk

Menghitung Amal Perbuatan

(Refleksi Akhir 2017-Awal 2018)

Salah satu nasehat Khalifah Umar bin Khattab RA ialah, ’’Hitung-hitunglah (amal perbuatan) dirimu sebelum engkau diperhitungkan (di hari kiamat)’’. Nasehat ini sangat menyentuh seluruh kehidupan manusia, apalagi menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, tahun 2017 tinggal hitungan hari bahkan jam atau detik berganti tahun baru 2018. Paling tidak, sebagai refleksi menutup akhir tahun (menutup amal perbuatan) dan menyongsong membuka awal tahun (memulai melanjutkan amal perbuatan), nasehat di atas patut menjadi cermin.

Belajar dari hiruk pikuk kehidupan pokok manusia dalam berbangsa dan bernegara, maka kebutuhan akan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial dan budaya juga pendidikan, serta pertahanan dan  keamanan nasional, sangat kental untuk mengukur apakah amal perbuatan insan manusia secara menyeluruh sudah mencapai titik sukses dengan gilang gemilang, atau titik terendah dengan terpuruk sampai pada titik jenuh.

Perkembangan pertumbuhan ilmu pengetahuan di Indonesia, alhamdulillah sudah kembali bangkit dengan diresmikan pesawat N-219 Nurtanio, sebagai transportasi masa depan sekaligus mengembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia di bidang dirgantara. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pasti dengan berbagai pandangan pakar ekonomi, sesuai dengan kepentingan masing-masing dalam memandang untuk kepentingan tertentu, sehingga kepakaran para ilmuan sebagai tanggung jawab moral memperjuangkan kesejahteraan manusia, kadang harus dijual belikan dengan kepentingan perut atau kepentingan lain yang lebih menjanjikan.

Tanpa memberikan ukuran secara detail dengan angka-angka, khusus perkembangan pertumbuhan ekonomi, seorang teman pedagang di Tanah Abang Jakarta menceritakan, bahwa pada tahun 1992, pedagang Tanah Abang sekitar 20 ribu orang dengan perputaran uang mencapai sekitar 5 triliun rupiah setiap hari. Dan pada akhir 2017, jumlah pedagang Tanah Abang berlipat ganda dengan catatan jumlah toko dan kios sekitar 40 ribu, namun peprputaran hanya kisaran miliaran rupiah setiap hari. Sebuah kenyataan pahit. 

Pemandangan geliat ekonomi di Mall dan pasar perdagangan mengalami tingkat kelesuhan cukup rendah, dengan ditandai beberapa gerai bahkan toko kesohor di Mall seperti Matahari, Ramayana, dan sejumlah nama terkenal menutup dunia usaha yang selama ini nmenjadi kebanggaan masyarakat. Dan catatan sampai kahir tahun ini, kehidupan perekonomian di tingkat bawah memang belum ada keluhan, tetapi potret peningkatan kebutuhan skuder, apalagi skunder plus sedikit mengalami kelesuhan.

Perkembangan pembangunan politik di Indonesia, mengalami jungkir balik luar biasa, pemilihan gubernu dan wakil gubernur di DKI Jakarta, memberi hasil sangat negatif, dimana posisi Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai incumben dengan hasil survei 70 persen lebih mendapat dukungan dan tidak tergeser bahkan tersaingi, terbukti pada akhir Pilkada pasangan Ahok-Djarot harus menelan pil pahit, setelah dikalahkan pasangan Gubernur sekarang Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam percaturan politik kenegaraaan, Ketua DPR RI Setia Novanto yang juga Ketua Umum Partai Golkar, harus menerima kenyataan getir, setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus E-KTP. Bahkan tarik ulur secara politik melalui lobi-lobi tingkat tinggi belum mampu menepis isu bahwa perpolitikan sedang memanas, sebagai pamanasan Pilpres 2019. Bahkan isu pergantian Panglina TNI juga dikait-kaitkan dengan suksesi Pilpres 2019.

Perkembangan pembangunan sosial dan budaya, sentuhan mengembalikan budaya lokal bangsa Indonesia dengan budaya sopan santun tinggi, sebagai wujud dari peradaban suatu bangsa, memang terus menerus berusaha dibangun sebagai bagian dari pembangunan nasional, dengan konsep pembangunan mental secara nasional. Tetapi penguatan pembangunan mental melalui revoluasi mental, justru di beberapa daerah semakin menguat korupsi oleh pejabat negara, sehingga revolusi mental, nampak masih sebatas wacana.

Dunia pendidikan sedang mengalami uji coba dan uji ketahanan, dimana pendidikan dasar dan menengah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2017 sempat terjadi tarik ulur mengenai pendidikan 5 hari dan full day school. Sedangkan dunia perguruan tinggi melalui kementerian pendidikan tinggi, melakukan kontrol dan kualitas perguruan tinggi, bahkan mengancam akan menutup serta melakukan merger. Perkembangan dunia pendidikan hanya wacana perubahan.

Pertaruhan sangat berat mengakhiri tahun 2017, sekedar menghitung amal perbuatan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Yusuf Kalla, selain berusaha meningkatkan perolehan pemasukan dari wajib pajak, serta melakukan percepatan pembangunan akses sarana dan prasarana fasilitas umum, seperti jalan tol, pembangunan rel kereta api di luar Jawa, pembangunan pelabuhan-pelabuhan kecil di daerah terpencil, yang belum dirasakan hasilnya mendongkrak pertumbuhan perekonomian nasional secara nyata. 

Prioritas pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di Jawa dan luar Jawa begitu gencar, juga mempersiapkan sebagai tuan rumah Asia Games, pada Agustus 2018, dengan pembangunan kereta api cepat dan kerata api khusus menuju Bandara Soekarno-Hatta, memang sebagia bagian dari upaya meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional, tetapi harus ada perhitungan secara matang dan menjanjikan. Kapan kondisi ipoleksosbud hankamnas stabil dan mengalami peningkatan sesuai dengan kamajuan di jaman modern ini.

Sekedar menghitung amal perbuatan secara kualitatif, tidak menggunakan angka-angka, hanyalah sekedar menghitung apakah pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla mengalami kemajuan di semua bidang dengan bukti nyata, atau justru sebaliknya mengalami kemajuan (salah kaprah) sehingga menimbul kemandegan berbagai bidang usaha, juga pembangunan di bidang lain. Membuktikan dengan angka-angka memang elok dan sempurna. Tetapi merasakan dengan jujur dan kesatria dengan keadaan sesungguhnya jauh lebih dari sekedar potret sementara atau potret rekayasa. 

Mari menyatakan dengan hati nurani sebuah kejujuran diri atas amal perbuatan kita sendiri, sekaligus memotret amal perbuatan para pemimpin negeri ini, dengan kacamata suci. Kata Sayyida Ali bin Abi Tahlib, ’’Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali bagi dua golongan manusia, yaitu:Pertama, seseorang yang berbuat dosa, lalu dia cepat-cepat meluruskan perbuatannya dengan bertobat. Kedua, seseorang yang selalu bersegera dalam amal kebajikan’’.

 

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

---Tajuk---

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

Setelah Khofifah secara resmi mengumumkan bakal berpasangan dengan Emil Dardak, maka Pilkada Jatim sesungguhnya sudah selesai, karena dua pasangan atau tiga pasangan, maka calon Gubernur dan Wakil Gubernur semua merupakan ’’orang dekat’’ Dr H Soekarwo (Pak De Karwo) Gubernur Jawa Timur 2 pperiode dengan prestasi amat sangat membanggakan dengan berbagai keberhasilan membangun provinsi paling ujung timur di pulau Jawa ini.

Pak De Karwo dengan kepiawiannya sebagai pendekar demokrasi sempat menyampaikan secara terbuka, wacana kemungkinan calon tunggal Gubernur dan Wakil Gubernur? Tentu saja ide itu langsung ditanggapi dengan berbagai komentar pedas dan miring bahwa seakan-akan kursi Jatim 1 tidak boleh lepas dari pengaruh Gubernur dengan seambrek pengharagaan ini. Dan itu merupakan kecerdasan sebagai pendekar demokrasi. Menyatakan dengan umpan-umpan menohok? Dan sudah pasti akan mendapat jawaban pro kontra karena kepentingan.

Kamis tanggal 5 Mei 2017 bahkan PKB Jawa Timur menggulirkan wacana calon tunggal di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Menurut Ketua DPW PKB Jawa Timur, Halim Iskandar, calon tunggal juga bagian dari demokrasi. ’’Saya kira adalah kemajuan dalam berdemokrasi. Pilkada musyawarah mufakat. Tidak liberal dan tentu Pancasilais dengan mewacanakan pilkada musyawarah mufakat,’’ kata pria yang akrab disapa Gus Halim ini saat safarai ke Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Kamis (1/5/2017).

Gus Halim juga mengatakan, sebenarnya wacana pilkada musyawarah mufakat ini berasal dari Ketua DPD Partai Demokrat Soekarwo, pada Pilgub tahun 2013 lalu. Sayangnya, setelah terpilih menjadi gubernur belum bisa terealisasi.. Halim juga mengatakan, kedatangan PKB ke Kantor Partai Demokrat ini adalah mengajak untuk sama-sama mengusung calon gubernur Jawa Timur yakni Saifullah Yusuf. Sebagaimana diketahui, PKB telah memutuskan Gus Ipul untuk maju Pilgub Jatim 2017 atas perintah dari sejumlah kiai.

Kini, calon Gubernur Jawa Timur dan Wakil Gubernur Jawa Timur sudah menyatakan insyaAllah akan mengikuti kontes Pilkada serentak pada tangal 27 Juni 2018, ialah pasangan Saifulla Yusuf dan Azwar Anas (pasangan paling awal mengumumkan dengan dukungan dari partai penguasa di Jatim, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan Khofifah sebagai calon dengan harapan dan tujuan untuk mensejajarkan kaum hawa menerobos gubernur di Indonesia dan diperjuangkan dari Jatim, walaupun sudah dua kali gagal. Bahkan rela meninggalkan kenyamanan sebagai Menteri Sosial, tetap berkeinginan maju dan sudah mengumumkan berpasangan dengan Emil Dardak.

Kemungkinan menyusul menjadi pesaing dua pasangan dari Nahdlatul Ulama ini, adalah La Nyala Mahmud Mattaliti, refresentasi dari Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN), jika tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, bakal maju menjadi kontestan Pilkada Jatim nanti, maka inilah sesungguhnya gelar pendekar demokrasi sangat pantas disandang oleh Pak De Karwo. Sebab dari tiga calon Gubernur yang bakal maju, semua termasuk ’’orang dekat’’.

Bahkan Khofifah yang semula maju dengan harapan ingin membalas kekelahan dua kali, karena merasa belum puas. Maka pada detik-detik terakhir harus mengikuti arus politik bahwa walaupun secara organisatoris melalui ’’Tim Sembilan’’ dengan juru bucara KH Sholahuddin Wahid, tetapi Partai Demokrat dengan cerdas membonceng dengan memproklamirkan Emil Dardak sebagai calon wakil Gubernur Khofifah, bersama empuhnya Partai Demakrat, Presiden ke’6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepiawian Pak De Karwo sebagai pndekar demokrasi di Jatim, tidak berlebihan jika banyak pengamat menyatakan bahwa Pilkada Jatim 2018 sudah selesai, Siapa pun sebagai pemenang, maka kemenangan itu menjadi kemenangan semua kepentingan di Jatim. Bahkan menjadi contoh model perubahan kepemimpinan dengan latar belakang berbeda, namun tertata dengan sangat indah dan elok. Tidak ada gontok-gontokan atau kubu-kubuan yang sangat fanatik, bahkan mengakibatkan permusuhan.

 

Suasana kebatinan Pilkada Jatim 2018 sudah nampak di permukaan begitu  terkesan adem ayem tenterem. Bahkan dalam perebutan suara, saling memanfaat dan mencuri suara dari kasak-kusuk sesama pendukung dalam satu dapur. Ini menandakan bahwa persoalan apa pun di Jatim sepanjang proses musyawarah mufakat melalui stempel demokrasi kepartaian atau demokrasi model lain secara gotong royong, justru membuahkan hasil akhir sangat gilang gemilang. (*).

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...