Opini

Published in Opini

Ketika Semen tidak Panen

Jun 13, 2018 Publish by 
Ketika Semen tidak Panen
Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi KoranTrasparansi.com

Sekedar Catatan (SETAN) ; Djoko Tetuko

Surabaya (KoranTransparansi.com) – Tiba-tiba saja pembangunan infrastruktur dengan berbagai terobosan sekaligus terabasan (kebijakan luar biasa), sama sekali tidak menyentuh peningkatan pendapatan pabrikan semen di Indonesia, terutama pabrik semen lokal, milik BUMN, setelah sekian lama menjadi pemain tunggal dan merasakan keuntungan cukup signifikan.

Terabasan pemerintah dengan membuka kran begitu lebar tanpa ada saringan bahkan perhitungan untung rugi perusahaan negera, maupun memperhitungkan kapasitas bahan olahan semen dalam negeri, membuat produski semen secara nasional mencapai 107 ton per tahun. Sementara kebutuhan domestik hanya 66 juta ton per tahun, dan kemampuan eksport hanya 2,5 juta ton per tahun.

Begitu menerabas sekaligus menerobos dengan berbagai kelebihan dan kekurangan, maka 3 tahun terakhir ini, pemain semen (pabrik semen, red) mulai pasang kuda-kuda, mulai merencanakan berbagai kemungkinan untuk mempertahankan citra positif kualitas produksi, juga citra positif masih mampu bertahan, di tengah-tengah persaingan yang tidak sehat. Dan inilah masa dimana ketika pabrik semen tidak lagi panen.

’’Kapasitas produksi seluruh pabrik semen di Indonesia mencapai 107 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan dalam nasional dan eksport total baru mencapai 68,5 juta ton per tahun,’’ kata  Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, saat pertemuan dengan pimpinan media massa di Kota Surabaya, Kamis (7/6/2018) lalu

Kondisi ini, mau tidak mau, diperkirakan dalam kurun waktu 5-7 tahun ke depan, persaingan bisnis semen di Indonesia akan berlangsung sangat ketat dan keras. Sebab, sejak 2015 sampai 2022 diperkirakan surplus pasokan semen tetap tinggi di pasar nasional. Eksport semen nasional ke mancanegara tahun 2017 hanya 2,5 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 2 juta ton di antaranya oleh PT Semen Indonesia Grup,’’ kata Agung.

Mengapa semen tidak panen? Khusus eksport ke luar negeri saja, jika pada masa kejayaan Semen Indonesia sudah dapat dipastikan, ada keuntungan (margin) sangat signifikan. Tetapi, sejak produksi semen melimpah, maka bisa menutup biaya saja sudah cukup baik. ’’Margin eksport semen itu sangat kecil. Yang penting bisa menutup biaya produksi dan meningkatkan utilisasi pabrik,’’ tandas Agung.

Agung menjelaskan, bahwa salah satu faktor semen tidak panen dalam waktu cukup lama, karena tingkat konsumsi per kapita per tahun di Indonesia masih sangat rendah, yakni mencapai 262 kilogram/tahun/per kapita. Bandingkan dengan China yang mencapai 1.648 kilogram/tahun/per kapita.

Tingkat konsumsi semen di Indonesia kalah dibanding Malaysia, Thailand, dan Vietnam. ’’Oleh karena itu, sampai pada tahun 2021 mendatang, diperkirakan oversupply semen masih berada di kisaran 30 juta ton,’’ ujarnya.

Dengan persaingan sangat ketat antarpabrikan semen di Indonesia seperti sekarang ini, tambah Agung,  rata-rata tingkat utilisasi pabrikan semen di Indonesia hanya 63%. Artinya, jika pabrikan semen memandang ada unit pabriknya dinilai tak efisien dioperasikan, sebaiknya unit pabrik semen tersebut dimatikan sementara waktu. "Semen Indonesia bersyukur tingkat utilisasinya mencapai 83%. Market share kita masih tinggi di angka sekitar 42%," jelasnya. 

Bahkan, lanjutnya, Kendati memiliki kapasitas produksi per tahun lebih dari 32 juta ton per tahun dengan tingkat utilisasi sebesar 83% di tahun 2017, tingkat profit bersih Semen Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun. Hal itu disebabkan, harga semen di pasaran nasional terus menurun.

Tahun 2017 lalu, tingkat harga semen di pasar nasional turun sebesar 9% dibandingkan periode 2016. ’’Tahun 2016 harga semen per ton sebesar USD 880 dan di 2017 turun menjadi USD 730 per ton,’’ kata Agung.

Tidak Masuk Daftar Negatif Investasi

Harjanto, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin, mengatakan kendati akan terjadi kelebihan pasokan semen, pihaknya tidak akan mengusulkan industri ini untuk masuk ke dalam daftar negatif investasi. ’

’Kami akan segera mengusulkan persyaratan teknis kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal [BKPM] khusus untuk industri semen. Salah satunya seperti investasi industri semen harus berada di luar Pulau Jawa,” ujarnya..

Selain itu, syarat teknis lainnya adalah kapasitas produksi pab rik semen tidak boleh lebih tinggi dari tiga kali lipat total kebutuhan semen dalam satu provinsi. Kemudian, penggunaan teknologi harus ramah lingkungan serta rendah konsumsi energi.

Dengan demikian, investasi yang masuk ke dalam industri semen dalam negeri harus benar-benar memiliki daya saing, ramah lingkungan, dan berada di luar Pulau Jawa. Pengaturan lebih lanjut terdapat beberapa spesifikasi teknis pabrik yang harus dipenuhi investor.

Menurutnya, pemerintah tidak akan mengizinkan pendirian pabrik semen relokasi dari negara lain dengan teknologi rendah serta menggunakan energi dalam jumlah besar. Dengan demikian, pendirian industri semen akan lebih selektif.

Terkait dengan kelebihan pasokan yang akan terjadi pada 2017, sisa lebih produksi diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar ekspor. Saat ini terdapat lima pembangunan pabrik semen yang akan berproduksi optimal pada 2017, yaitu Jui Shin, Anhui Conch, Siam Cement, Cemindo Gemilang dan Panasia.

Untuk pulau Jawa sendiri, berdasarkan data duniaindustri, dikuasai dua pemain semen yang besar, yaitu PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan pangsa pasar 38,8% dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang pangsa pasarnya 37%. Di Kalimantan, kedua pemain ini berbagi kue, SMGR mendapatkan 51,6% dan INTP memperoleh 27,9 pangsa pasar.

Siap Kompetisi

Seperti kompetisi sepakbola dalam negeri, Liga 1 dengan jumlah klub standar, tetapi tetap saja dengan gaji di bawa rata-rata klub standar internasional Asia. Maka kompetisi itu sendiri hanya sekedar memutar dan menyelenggarakan, bukan menghasilkan klub dan pemain dengan materi terbaik standar internasional, sekaligus berdampak cukup baik tim nasional.

Apalagi kalau melihat lebih dekat Liga 2 dan Liga 3, maka hampir dapat dipastikan bahwa sepekbola Indonesia, memang masih sekedar kompetisi.

Begitu juga persaingan pabrikan semen di Indonesia, Semen Indonesia, kini harus menghadapi persaingan begitu ketat dan keras, dengan pebrikan semen dari luar negeri, yang sudah biasa menurunkan harga dan menjungkirbalikkan harga ’’demi persaingan tidak sehat’’, dan itu untuk sementara sah-sah saja, karena memang dengan berdalih untuk pembangunan infrastuktur, maka semua boleh-boleh saja. Walaupun sudah mulai nampak persaingan tidak sehat.

Dalam persoalan harga, Semen Indonesia sangat merasakan dampaknya, sehingga harus melakukan perubahan strategi untuk bersaing dan berkompetisi dengan pabrikan semen lainnya. ’’Beda harga antara produk Semen Indonesia dengan semen pabrikan tertentu bisa mencapai Rp 9.000 per sak. Ya kondisi ini mengharuskan kita lakukan penyesuaian harga. Tingkat penjualan Semen Indonesia tetap tinggi, tapi harga menurun. Akibatnya, pendapatan dan profit bersih korporasi juga menurun," tegas Agung. 

Sementara itu, di pasar nasional, sejumlah pemain besar semen dunia memiliki pabrik dan produknya beredar di pasar nasional. Misalnya, Lafarge Holcim Prancis, Anhui Conch China, Heidelberg Jerman, dan lainnya. Dalam beberapa tahun ke depan, tingkat kapasitas produksi pabrikan Anhui Conch di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta ton.

Sebagai pabrikan semen terbesar di China dan ketiga di dunia, Conch memiliki kapasitas produksi mencapai 209 juta ton per tahun. Karena itu, Conch sangat agresif menyerang pasar semen Indonesia dengan kebijakan harga sangat kompetitif, sehingga menggoyang keseimbangan pasar semen nasional.

Agung dengan diplomatis dan optimis menyatakan, walaupun mendapat serangan keras dari pabrik pabrikan semen asing, terutama dari China dan Thailand (Siam Cement), Agung menandaskan, Semen Indonesia Grup siap menghadapi kompetisi bisnis semen yang sangat keras ini dengan sekuat tenaga.

Satu di antaranya, korporasi melakukan langkah efisiensi internal dengan menekan operational expenditure (Opex), menjadwal ulang sejumlah langkah ekspansi pembangunan pabrik semen baru seperti Bangladesh, Nangroe Aceh Darussalam, dan Kupang (NTT). ’’Termasuk tidak naik gaji selama 3 tahun terakhir ini,’’ ungkap Agung/ (djoko tetuko)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...