Opini

Published in Opini

Politisi Wanita Berebut Tahta, Indahnya Khofifah versus Puti

Jan 11, 2018 Publish by 
Politisi Wanita Berebut Tahta, Indahnya Khofifah versus Puti

OPINI

Politisi Wanita Berebut Tahta , Indahnya Khofifah versus Puti

Oleh Djoko Tetuko - Pimred Koran Transparansi

 

Panggung Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di Provinsi Jawa Timur, tiba-tiba saja menjadi sebuah pertarungan politisi wanita atau aktifis wanita. Sejak tarik ulur siapa calon yang paling sesuai dengan perkembangan provinsi paling ujung timur di Pulau Jawa ini, nama-nama politisi pria menghiasi pohon-pohon reklame politik. Baliho dan berbagai aksesoris ajakan berpolitik untuk memilih calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur sudah menyebar ke seluruh penjuru, bahkan menebar pesona massa dengan berbagai kampanye terselubung.

Pukul 00:00 hari Kamis, tanggal 11 Januari 2019, sebagai batas waktu tidak ada lagi pendaftaran calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pemilihan Gubernur di Jawa Timur, tercatat secara administrasi hanya dua pasangan calon, menghiasai Pilkada serentak se Indoensia di 171 daerah, 17 di antaranya Pemilihan Gubernur. Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak dan Saifullah Yusuf dengan Puti Guntur Soekarnoputra.

Panggung politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa Timur secara resmi menjadi bagian dari kompetisi politisi wanita merebut tahta, Jatim-1 (Gubernur) dan Jatim-2 (Wakil Gubernur). Rekam jejak politisi wanita itu, memang berbeda dalam panggung organisasi politik maupun komunitas perjuangan sebagai aktifis. Sehingga, 6 bulan ke depan, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, peta pemilih bakal menjadi ’’warna pelangi’’. Setiap pasangan calon (paslon) tidak tertutup kemungkinan akan mendapat dukungan suara dari berbagai pendukung partai politik atau suara ’’warna pelangi’’ dalam simbol warna kepartaian.

Khofifah sebagai wanita calon Gubernur yang ketiga kalinya tetap mencanangkan tekad ingin merebut tahta Jatim-1, tentu saja dengan perhitungan-perhitungan politik yang matang, serta dengan keyakinan bakal mampu merebut sesuai dengan target dan harapannya. Perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 ini, meninggalkan jabatan lebih empuk dan lebih mapan bahkan nyaman, sebagai Menteri Sosial dengan anggaran jauh lebih tinggi dibanding mengelola APBD Jatim.

Menteri Khofifh tercatat sebagai Menteri Sosial Indoensia ke-27 dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ke-5, memang sudah dua kali mencalonkan sebagai Gubernur Jatim pada tahun 2008 dan 2013, tetapi dengan kekalahan tipis, atau selalu gagal mengalahkan Gubernur Soekarwo yang istiqomah berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai refresentasi Nahdltul Ulama.

Sebagai politisi wanita yang sudah memimpin fraksi Partai Persatuan Pembangunan pada tahun 1992 dan tiga tahun kemudian pada tahun 1995, menjadi pimpinan Komisi VIII DPR RI, memang sudah malang melintang di dunia perpolitikan. Juga kemampuan menghipnotis Muslimat NU menjadi bagian terpenting dalam catatan sejarah kehidupannya, dengan terpiluh 3 kali berturut-turut sebagai Ketua Umum PB Muslimat NU. Dan kini bersama Emil Dardak berusaha merebut tahta Jatim-1.

Puti Guntur dengan nama asli Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri, sebagai cucu Soekarno, Presiden RI pertama, dan keponakan Megawati Soekarnoputri, Presiden RI wanita pertama, memang baru dikenal di kalangan pemilih Jatim. Bahkan seandainya Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) tidak mundur sebagai calon Wakil Gubernur, refresentasi dari PDIP, maka nama Puti Guntur Soekarno, tidak bakal terdaftar di KPU RI Jawa Timur.

Puti sebagai keponakan Megawati yang lahir di Jakarta 26 Juni 1971, atau 5 tahun lebih muda dibanding dengan ’’Lawan Politiknya’’ pada Pilgub 2018 Jatim, Khofifah, tentu saja bukan pendatang baru di dunia politik. Walaupun baru menyatakan berani bersaing di panggung politik sebagai pemimpin daerah, ketika ikut meramaikan pencalonan Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, pada saat itu Puti menyatakan, sebagai kader partai harus siap dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta. 

Puti juga secara organisatoris sudah disiapkan meramaikan Pilgub Jabar 2018 karena lebiuh dekat tempat tinggalmya selama di Bekasi. Puti disebut-sebit bakal menjadi Jabar0-1 atau Jabar-2. Anak tunggal dari putra sulung Bung Karno dari ibu Fatmawati, Guntur Soekarno. Puti memilih terjun ke politik dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Puti, begitu dia biasa disapa smenjadi anggota dewan komisi X DPR periode 2009-2014. Wanita poliisi ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati dan Ketua Yayasan Wildan.

Puti memang menganggap PDIP itu mempunyai nilai yang pasti. Partai ini yang bisa membawa aspirasi untuk rakyat. Wanita yang hobi membaca ini ingin memperjuangkan berbagai permasalahan yang ada di Indonesia. Seperti masyarakat yang masih miskin dan bodoh, kekayaan alam yang dieksploitasi untuk kepentingan bangsa lain dan kondisi bangsa yang diperlakukan sebagai bangsa kuli. Itu bagian dari perjuangan.

Dalam viral di media sosial pidato Puti begitu berapi-api, mampir menyerupai kakeknya, Soekrno, menyampaikan tentang perjuangan mensejahterakan masyarakat Indonesia dengan cara gotong royong. Puti dengan orasi cukup mantab, sebagai politisi wanita, menjelaskan dengan begitu meyakinkan bagaimana dengan gotong royong, menyelesaikan persamasalahan di Indonesia, juga di Jawa Timur.

Indahnya, para politisi wanita merebut tahta, Khofifah versus Puti, sebuah warna baru yang sama-sama menjadi kekuatan partai di Jawa Timur dan sama-sama mempunyai akar rumput sangat kuat. Khofifah dengan referensi NU yang notabene adalah pendukung nasionalis, tentu punya cara dan strategi khusus dengan visi dan misinya merebut Jatim-1. Demikian juga Puti dengan latar belakang Nasionalis dari PDIP yang notabene juga mendapat dukungan dari NU, tentu juga sudah merencanakan sesuatu dengan visi dan misinya merebut Jatim-2. Sejarah akan mencatat bahwa perhelatan politik paling dinamis dengan menampilkan dua gender sekaligus, bahkan berhadap-hadapan langsung. Memang baru di Provinsi Jawa Timur. Kita tunggu masa-masa kampanye dan perebutan suara dari cara-cara berpolitik yang berbudi luhur, berakhlaq. Siapa memilih siapa? (***)

banner