Opini

Published in Opini

Catatan Cak Transparansi : Antara Anas dan Sya’ban

Jan 05, 2018 Publish by 
Djoko Tetuko
Djoko Tetuko

Detik-detik menjelang pendaftaran secara resmi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, dalam pelaksanaan demokrasi nasional secara massal untuk Pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang, mendadak  pasangan Saifullah Yusuf dan  Abddullah Azwar Anas, terkena gelombang tsunami bahwa tiba-tiba ada kabar Anas bakal mundur karena isu kurang sedap. 

Pergulatan politik memang selalu menghadirkan kekagetan-kekagetan, bahkan tidak tertutup kemungkinan mengubah sesuatu yang wajar menjadi tidak wajar. Dan simbol sebagai pembahasan politik selalu saja seakan-akan semua itu dihalalkan, dengan berbagai dalil penguatan. 

Tetapi tujuan akhir mencapai target ’’kekuasaan’’. Apakah berhasil atau tidak, namun  jurus-jurus maut biasanya selalu saja bermunculan sejak panggung digebyar, seperti pencak silat di film-film Tiongkok, enak ditonton, enak diceritakan, apalagi diwarnai dengan adegan pegang mengkilat dan sang  lakon selalu saja menjadi pemenang.

Khusus Pilkada Jatim guna menentukan Gubernur dan Wakil Gubernur sampai catatan ini ditulis masih muncul dua pasangan, Saifullah Yusuf (sekarang Wakil Gubernur Jawa Timur) dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas, dengan gelombang isu cukup dahsyat, dan belum tahu bertahan atau selamat sampai tujuan. Dan pasangan Khofifah Indar Parawansa (sekarang Menteri Sosial) dengan Bupati Trenggalek Emil Dardak. 

’’Perang Dunia Nahdlatul Ulama’’ memang nampak di permukaan, walaupun sesungguhnya di warga pemilih biasa-biasa saja, belum ada kepastian siapa mendukung siapa? Walaupun para pihak yang belum ditunjuk sebagai tim sukses, sudah kampanye dari pintu ke pintu sampai dari dapur ke kasur?

’’Perang Dunia’’ sesungguhnya hanya karena simbol Nahdlatul Ulama adalah bola dunia dengan tulisan NU beserta tali tampar, seakan-akan mengisyaratkan bahwa walaupun seperti ’’Perang Dunia’’, tetapi adem ayem saja. Semua akan berjalan seperti para Walisongo berdakwa jaman itu, selalu mengalir mengikuti waktu dan waktu, juga selalu mensandarkan pada kebenaran. 

Sehingga mendekati pemilihan, maka siapa yang paling benar dan berperilaku kejujuran (tingkat tinggi), maka itulah nanti sebagai pemenang.

Catatan ini hanya sekedar mengisahkan bahwa kenapa Azwar Anas tiba-tiba mendapatkan gelombang isu cukup dahsyat? Adakah kesalahan fatal atau karena sepak terjang kurang piawai, semua tentu seperti berita politik hanya panas di permukaan, tetapi akan sedikit demi sedikit dingin bahkan bisa membeku seperti salju.

Sekedar catatan dari release, bahwa  Azwar Anas melalui program-program ekonomi kerakyatan berhasil meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016 atau ada kenaikan 99 persen. 

Angka kemiskinan pun menurun cukup pesat menjadi 8,79 persen pada 2016, jauh lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Jatim yang tembus dua digit.

Produk Domestik Regional Bruto naik 104 persen dari Rp32,46 triliun menjadi Rp 66,34 triliun. Banyuwangi juga terus menjadi daerah dengan inflasi terendah se-Jatim.Bahkan  juga sudah punya Mall Pelayanan Publik yang mengintegrasikan ratusan izin dan dokumen di satu tempat yang transparan, tanpa pungli.

”Jadi terkait apa yang jadi desus-desus itu, saya sudah biasa. Perlakuan yang sama persis seperti ini sudah saya terima sejak tahun kedua menjabat ketika saya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern, memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan, dan sebagainya. Bahkan, saya dilaporkan melakukan kriminalisasi kebijakan karena kebijakan-kebijakan tersebut,” jelas Anas.

Jaman Rasulullah Muhammad SAW ada seorang sahabat bernama Sya’ban ra, dengan istiqomah menjadi jamaah di masjid Nabawi dengan tempat paling pojok yang diperhitungkan tidak mengganggu jamaah yang lain. 

Keistimewaan sahabat ini ialah selalu hadir persis pada saat fajar atau subuh. Kebiasaan ini membuat Muadzin Bilal (sahabat Bilal sbagai juru adzan) tidak perlu harus naik ke atap paling tinggi masjid untuk memastikan sudah terbit fajar atau belum. (karena sahabat Sya’ban istiqomah menjaga kehadiran tepar fajar).

Keistimewaan sahabat Sya’ban ra ini, selalu diperhatikan oleh Rasulullah, dan pada saat tiba waktu subuh, tiba-tiba saja Sya’ban tidak muncul, bahkan dengan senang hati Rasulullah masih mengumumkan sholat subuh ditunda sampai menunggu kehadiran Sya’ban. Tetapi batas waktu yang ditentukan tidak kunjung datang. Maka sholat subuh pun berlangsung, dan ssmpai selesai sahabat Sya’ban juga belum hadir.

Usai memimpin sholat berjamaah subuh, Rasulullah menanyakan kepada jamaah apakah ada yang mengetahui rumah Sya’ban, dan ada salah satu sahabat memastikan pengetahui rumah Sya’ban. Maka Rasulullah bersama para jamaah mendatangi rumah Sya’ban kira-kira ditempuh perjalanan selama 3 jam. Dari perjalanan panjang itu berarti setiap hari sampai subub tiba di Masjid Nabawi, Sya’ban harus berjalan dari rumahnya sekitar 3 jam (kalau subuh pukul 04:00 maka Sya’ban harus berangkat pukul 01:00)

Pada saat  rombongan Rasulullah sampai di rumah Sya’ban terjadi dialog:

Rasulullah: “Benarkah ini rumah Sya’ban?” 

Wanita di rumah itu: “Ya benar, ini rumah Sya’ban. Saya istrinya.” 

Rasulullah: “Bolekah kami menemui Sya’ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?” 

Istri Sya’ban “ (Dengan berlinangan air mata) ,  “Beliau telah meninggal tadi pagi”.

“Innalilahi Wainnailaihiroji’un” jawab semuanya.

Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian bertanya;

Istri Sya’ban  ra :  “Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia bertetiak tiga kali dengan masing-masing teriakan di sertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya”

Rasulullah : “Apa saja kalimat yang diucapkannya?” 

Istri Sya’ban: “D imasing-masing teriakannya, dia berucap kalimat ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” 

Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

Rasulullah : Saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya’ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. 

Dalam padangannya yang tajam itu Sya’ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,’’

Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap “Aduh mengapa tidak lebih jauh” timbul penyesalan dalam diri Sya’ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya’ban ra melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin

Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya’ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.

Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju liuar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.

Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya’ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi “Aduh!! Kenapa tidak yang baru” timbul lagi penyesalan dibenak Sya’ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.

Berikutnya, Sya’ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran  rata-rata roti Indonesia). ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal itu, Sya’ban ra merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudan mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudain memperlihatkan Sya’ban ra dengan surga yang indah.

Ketika melihat itupun Sya’ban ra teriak lagi “ Aduh kenapa tidak semua!!” Sya’ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis  tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya’ban bukan menyesali perbuatanya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.

Seeungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati, akan menyesal dan tentu dengan kadar yang berbeda. Bahkan ada yang memiunta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Geliat politik selalu saja ada hitam putih, ada baik dan jelek, ada prestasi dan kebobrokan, selalu muncul ke permukaan? Jika perbuatan para calon Gubernur dan Wakil Gubernur sesuatu yang baik? Pasti akan ditampakkan. Demikian juga sebaliknya? Oleh karena itu, jauh lebih indah dan menjadi satu kekuatan memperbaiki Jawa Timur ke depan lebih baik, bahwa setiap calon dengan kelebihan dan kebaikannya, yang selalu kita harapkan mengubah Jawa Timur ke depan lebih baik dan otpimal. Dan dengan pertolongan Allah SWT akan diberikan petunjuk untuk memilih para calon yang memang baik juga berbuat otpimal. 

Azwar Anas, Saifullah Yusuf, Khofifah, Emil Dardak atau calon lain memang bukan sahabat Sya’ban ra, tetapi dari kisah sahabat Sya’ban ini, paling tidak menjadi inspirasi, bahwa setiap kebaikan pasti akan mendapatkan balasan kebaikan, dan itu jauh lebih elegan jika disikapi dengan positif bahwa menjelang Pilkada serentak, semua pihak positif thinking, sehingga akan melahirkan pemimpin yang memang berniat baik. 

Dan dari Catatan Cak Transparansi ini, kita berdoa dan berharap mendapat pemimpin yang baik. Dengan harapan semoga gonjang ganjing isu politik menjelang Pilkada berhenti  di Jawa Timur ini, sehingga secara nasional akan berjalan lancar dan menjadi sebuah pesta demokrasi kerakyatan yang mampu mengubah jaman menjadi gilang gemilang cemerlang untuk Negara Kesatuan Republik Indoensia. 

Ingatlah bahwa perbuatan baik dan optimal dengan ikhlas, bukan hanya sekedar menguatkan ’’kursi kekuasaan’’ sebagai pemimpin di dunia semata, tetapi akan menjadi impian di taman surga sebagai amal ibadah pemimpin yang bersahaja. (djoko tetuko).

 

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...