Opini

Published in Opini

Menghitung Amal Perbuatan

Dec 23, 2017 Publish by 
Joko Tetuko
Joko Tetuko

Tajuk

Menghitung Amal Perbuatan

(Refleksi Akhir 2017-Awal 2018)

Salah satu nasehat Khalifah Umar bin Khattab RA ialah, ’’Hitung-hitunglah (amal perbuatan) dirimu sebelum engkau diperhitungkan (di hari kiamat)’’. Nasehat ini sangat menyentuh seluruh kehidupan manusia, apalagi menjelang akhir tahun seperti sekarang ini, tahun 2017 tinggal hitungan hari bahkan jam atau detik berganti tahun baru 2018. Paling tidak, sebagai refleksi menutup akhir tahun (menutup amal perbuatan) dan menyongsong membuka awal tahun (memulai melanjutkan amal perbuatan), nasehat di atas patut menjadi cermin.

Belajar dari hiruk pikuk kehidupan pokok manusia dalam berbangsa dan bernegara, maka kebutuhan akan ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial dan budaya juga pendidikan, serta pertahanan dan  keamanan nasional, sangat kental untuk mengukur apakah amal perbuatan insan manusia secara menyeluruh sudah mencapai titik sukses dengan gilang gemilang, atau titik terendah dengan terpuruk sampai pada titik jenuh.

Perkembangan pertumbuhan ilmu pengetahuan di Indonesia, alhamdulillah sudah kembali bangkit dengan diresmikan pesawat N-219 Nurtanio, sebagai transportasi masa depan sekaligus mengembalikan kejayaan bangsa dan negara Indonesia di bidang dirgantara. Sedangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, pasti dengan berbagai pandangan pakar ekonomi, sesuai dengan kepentingan masing-masing dalam memandang untuk kepentingan tertentu, sehingga kepakaran para ilmuan sebagai tanggung jawab moral memperjuangkan kesejahteraan manusia, kadang harus dijual belikan dengan kepentingan perut atau kepentingan lain yang lebih menjanjikan.

Tanpa memberikan ukuran secara detail dengan angka-angka, khusus perkembangan pertumbuhan ekonomi, seorang teman pedagang di Tanah Abang Jakarta menceritakan, bahwa pada tahun 1992, pedagang Tanah Abang sekitar 20 ribu orang dengan perputaran uang mencapai sekitar 5 triliun rupiah setiap hari. Dan pada akhir 2017, jumlah pedagang Tanah Abang berlipat ganda dengan catatan jumlah toko dan kios sekitar 40 ribu, namun peprputaran hanya kisaran miliaran rupiah setiap hari. Sebuah kenyataan pahit. 

Pemandangan geliat ekonomi di Mall dan pasar perdagangan mengalami tingkat kelesuhan cukup rendah, dengan ditandai beberapa gerai bahkan toko kesohor di Mall seperti Matahari, Ramayana, dan sejumlah nama terkenal menutup dunia usaha yang selama ini nmenjadi kebanggaan masyarakat. Dan catatan sampai kahir tahun ini, kehidupan perekonomian di tingkat bawah memang belum ada keluhan, tetapi potret peningkatan kebutuhan skuder, apalagi skunder plus sedikit mengalami kelesuhan.

Perkembangan pembangunan politik di Indonesia, mengalami jungkir balik luar biasa, pemilihan gubernu dan wakil gubernur di DKI Jakarta, memberi hasil sangat negatif, dimana posisi Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) sebagai incumben dengan hasil survei 70 persen lebih mendapat dukungan dan tidak tergeser bahkan tersaingi, terbukti pada akhir Pilkada pasangan Ahok-Djarot harus menelan pil pahit, setelah dikalahkan pasangan Gubernur sekarang Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam percaturan politik kenegaraaan, Ketua DPR RI Setia Novanto yang juga Ketua Umum Partai Golkar, harus menerima kenyataan getir, setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus E-KTP. Bahkan tarik ulur secara politik melalui lobi-lobi tingkat tinggi belum mampu menepis isu bahwa perpolitikan sedang memanas, sebagai pamanasan Pilpres 2019. Bahkan isu pergantian Panglina TNI juga dikait-kaitkan dengan suksesi Pilpres 2019.

Perkembangan pembangunan sosial dan budaya, sentuhan mengembalikan budaya lokal bangsa Indonesia dengan budaya sopan santun tinggi, sebagai wujud dari peradaban suatu bangsa, memang terus menerus berusaha dibangun sebagai bagian dari pembangunan nasional, dengan konsep pembangunan mental secara nasional. Tetapi penguatan pembangunan mental melalui revoluasi mental, justru di beberapa daerah semakin menguat korupsi oleh pejabat negara, sehingga revolusi mental, nampak masih sebatas wacana.

Dunia pendidikan sedang mengalami uji coba dan uji ketahanan, dimana pendidikan dasar dan menengah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2017 sempat terjadi tarik ulur mengenai pendidikan 5 hari dan full day school. Sedangkan dunia perguruan tinggi melalui kementerian pendidikan tinggi, melakukan kontrol dan kualitas perguruan tinggi, bahkan mengancam akan menutup serta melakukan merger. Perkembangan dunia pendidikan hanya wacana perubahan.

Pertaruhan sangat berat mengakhiri tahun 2017, sekedar menghitung amal perbuatan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Yusuf Kalla, selain berusaha meningkatkan perolehan pemasukan dari wajib pajak, serta melakukan percepatan pembangunan akses sarana dan prasarana fasilitas umum, seperti jalan tol, pembangunan rel kereta api di luar Jawa, pembangunan pelabuhan-pelabuhan kecil di daerah terpencil, yang belum dirasakan hasilnya mendongkrak pertumbuhan perekonomian nasional secara nyata. 

Prioritas pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur di Jawa dan luar Jawa begitu gencar, juga mempersiapkan sebagai tuan rumah Asia Games, pada Agustus 2018, dengan pembangunan kereta api cepat dan kerata api khusus menuju Bandara Soekarno-Hatta, memang sebagia bagian dari upaya meningkatkan pertahanan dan keamanan nasional, tetapi harus ada perhitungan secara matang dan menjanjikan. Kapan kondisi ipoleksosbud hankamnas stabil dan mengalami peningkatan sesuai dengan kamajuan di jaman modern ini.

Sekedar menghitung amal perbuatan secara kualitatif, tidak menggunakan angka-angka, hanyalah sekedar menghitung apakah pemerintahan Joko Widodo-Yusuf Kalla mengalami kemajuan di semua bidang dengan bukti nyata, atau justru sebaliknya mengalami kemajuan (salah kaprah) sehingga menimbul kemandegan berbagai bidang usaha, juga pembangunan di bidang lain. Membuktikan dengan angka-angka memang elok dan sempurna. Tetapi merasakan dengan jujur dan kesatria dengan keadaan sesungguhnya jauh lebih dari sekedar potret sementara atau potret rekayasa. 

Mari menyatakan dengan hati nurani sebuah kejujuran diri atas amal perbuatan kita sendiri, sekaligus memotret amal perbuatan para pemimpin negeri ini, dengan kacamata suci. Kata Sayyida Ali bin Abi Tahlib, ’’Tidak ada kebaikan di dunia ini kecuali bagi dua golongan manusia, yaitu:Pertama, seseorang yang berbuat dosa, lalu dia cepat-cepat meluruskan perbuatannya dengan bertobat. Kedua, seseorang yang selalu bersegera dalam amal kebajikan’’.

 

banner