Opini

Published in Opini

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

Dec 07, 2017 Publish by 
Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

---Tajuk---

Pak De Karwo Pendekar Demokrasi

Setelah Khofifah secara resmi mengumumkan bakal berpasangan dengan Emil Dardak, maka Pilkada Jatim sesungguhnya sudah selesai, karena dua pasangan atau tiga pasangan, maka calon Gubernur dan Wakil Gubernur semua merupakan ’’orang dekat’’ Dr H Soekarwo (Pak De Karwo) Gubernur Jawa Timur 2 pperiode dengan prestasi amat sangat membanggakan dengan berbagai keberhasilan membangun provinsi paling ujung timur di pulau Jawa ini.

Pak De Karwo dengan kepiawiannya sebagai pendekar demokrasi sempat menyampaikan secara terbuka, wacana kemungkinan calon tunggal Gubernur dan Wakil Gubernur? Tentu saja ide itu langsung ditanggapi dengan berbagai komentar pedas dan miring bahwa seakan-akan kursi Jatim 1 tidak boleh lepas dari pengaruh Gubernur dengan seambrek pengharagaan ini. Dan itu merupakan kecerdasan sebagai pendekar demokrasi. Menyatakan dengan umpan-umpan menohok? Dan sudah pasti akan mendapat jawaban pro kontra karena kepentingan.

Kamis tanggal 5 Mei 2017 bahkan PKB Jawa Timur menggulirkan wacana calon tunggal di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Menurut Ketua DPW PKB Jawa Timur, Halim Iskandar, calon tunggal juga bagian dari demokrasi. ’’Saya kira adalah kemajuan dalam berdemokrasi. Pilkada musyawarah mufakat. Tidak liberal dan tentu Pancasilais dengan mewacanakan pilkada musyawarah mufakat,’’ kata pria yang akrab disapa Gus Halim ini saat safarai ke Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Kamis (1/5/2017).

Gus Halim juga mengatakan, sebenarnya wacana pilkada musyawarah mufakat ini berasal dari Ketua DPD Partai Demokrat Soekarwo, pada Pilgub tahun 2013 lalu. Sayangnya, setelah terpilih menjadi gubernur belum bisa terealisasi.. Halim juga mengatakan, kedatangan PKB ke Kantor Partai Demokrat ini adalah mengajak untuk sama-sama mengusung calon gubernur Jawa Timur yakni Saifullah Yusuf. Sebagaimana diketahui, PKB telah memutuskan Gus Ipul untuk maju Pilgub Jatim 2017 atas perintah dari sejumlah kiai.

Kini, calon Gubernur Jawa Timur dan Wakil Gubernur Jawa Timur sudah menyatakan insyaAllah akan mengikuti kontes Pilkada serentak pada tangal 27 Juni 2018, ialah pasangan Saifulla Yusuf dan Azwar Anas (pasangan paling awal mengumumkan dengan dukungan dari partai penguasa di Jatim, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan Khofifah sebagai calon dengan harapan dan tujuan untuk mensejajarkan kaum hawa menerobos gubernur di Indonesia dan diperjuangkan dari Jatim, walaupun sudah dua kali gagal. Bahkan rela meninggalkan kenyamanan sebagai Menteri Sosial, tetap berkeinginan maju dan sudah mengumumkan berpasangan dengan Emil Dardak.

Kemungkinan menyusul menjadi pesaing dua pasangan dari Nahdlatul Ulama ini, adalah La Nyala Mahmud Mattaliti, refresentasi dari Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN), jika tiga pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur, bakal maju menjadi kontestan Pilkada Jatim nanti, maka inilah sesungguhnya gelar pendekar demokrasi sangat pantas disandang oleh Pak De Karwo. Sebab dari tiga calon Gubernur yang bakal maju, semua termasuk ’’orang dekat’’.

Bahkan Khofifah yang semula maju dengan harapan ingin membalas kekelahan dua kali, karena merasa belum puas. Maka pada detik-detik terakhir harus mengikuti arus politik bahwa walaupun secara organisatoris melalui ’’Tim Sembilan’’ dengan juru bucara KH Sholahuddin Wahid, tetapi Partai Demokrat dengan cerdas membonceng dengan memproklamirkan Emil Dardak sebagai calon wakil Gubernur Khofifah, bersama empuhnya Partai Demakrat, Presiden ke’6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Kepiawian Pak De Karwo sebagai pndekar demokrasi di Jatim, tidak berlebihan jika banyak pengamat menyatakan bahwa Pilkada Jatim 2018 sudah selesai, Siapa pun sebagai pemenang, maka kemenangan itu menjadi kemenangan semua kepentingan di Jatim. Bahkan menjadi contoh model perubahan kepemimpinan dengan latar belakang berbeda, namun tertata dengan sangat indah dan elok. Tidak ada gontok-gontokan atau kubu-kubuan yang sangat fanatik, bahkan mengakibatkan permusuhan.

 

Suasana kebatinan Pilkada Jatim 2018 sudah nampak di permukaan begitu  terkesan adem ayem tenterem. Bahkan dalam perebutan suara, saling memanfaat dan mencuri suara dari kasak-kusuk sesama pendukung dalam satu dapur. Ini menandakan bahwa persoalan apa pun di Jatim sepanjang proses musyawarah mufakat melalui stempel demokrasi kepartaian atau demokrasi model lain secara gotong royong, justru membuahkan hasil akhir sangat gilang gemilang. (*).

banner