Opini

Published in Opini

Maulid Nabi Muhammad Penguatan Akhlaq

Dec 03, 2017 Publish by 
Djoko Tetuko
Djoko Tetuko

 

Opini

Maulid Nabi Muhammad Penguatan Akhlaq

Oleh : Djoko Tetuko 

Peringatan maulid Nabi Muhammad saw pada bulan Robiul Awal,  selama satu bulan penuh dengan puncak peringatan pada tanggal 12 Robiul Awal, tidak lebih dan tidak kurang, menjadi momentum untuk menguatkan kembali akhlaq umat Islam sebagai penganut ajaran sejati dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebab, dalam sebuah hadits dengan jelas disebutkan, ’’Sesungguhnya aku (Muhammad saw) dutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia’’.

Mengingat memperingati maulid Nabi Muhammad saw sesungguhnya sudah dilakukan setiap hari Senin, dimana hari kelahiran Nabi Muhammad saw itu disunnahkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa sunnah, Senin-Kamis. Dalam penjelasan di beberapa hadits Rasulullah pernah menjelaskan bahwa puasa Senin-Kamis itu, selain sebagai hari dimana amal perbuatan manusia dilaporkan kepada Allah swt melalui para malaikatnya, maka khusus pada hari Senin, ialah dimana memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw.

Oeh karena itu, peringatan maulid Nabi Muhammad saw sesungguhnya bagi umat Islam secara tidak langsung sudah diperingati setiap hari Senin. Hal itu kalau direnungkan justru masih belum sepadan dengan kebutuhan umat Islam untuk penguatan iman dan islam, sebagai pintu peningkatan taqwa kepada Allah swt. Sebab dalam sehari semalam, sekurang-kurangnya, apabila mengerjakan sholat 5 waktu, maka wajib membaca syahadat 9 kali saat duduk tasyahud. Belum lagi kalau 5 waktu itu harus didahului dengan wudhu, maka juga disunnahkan saat memulai doa wudhu membaca basmallah dan syahadat, sehingga terbaca 5 kali sehari semalam syahadat. Total kalau perhitungan minim umat Islam berwudhu 5 kali dan sholat wajib 5 waktu tanpa tambahan sholat sunnah atau memperbaruhi wudhu saat batal, maka seorang muslim selalu membaca syahadat 14 kali sehari semalam.

Jika memperingati kelahiran Nabi Muhammad hanya seminggu sekali pada hari Senin, maka untuk menguatkan syahadat sebagai persaksian bahwa ’’Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul utusan Allah swt’’. Yang sehari semalam minim 14 kali, sementara belum pernah melihat langsung Nabi Muhammad yang sudah wafat 1400 tahun silam, tentu saja sebagai penguatan akhlaq dengan benteng iman, islam dan peningkatan taqwa, belum ada apa-apanya peringatan maulid setiap seminggu sekali.

Sebagaimana kalimat syahadat yang hanya khusus dihadiahkan oleh Allah swt, hanya kepada Nabi Muhammad saw, bukan nabi-nabi yang lain. Hal itu menandakan bahwa memang Nabi Muhammad saw, sebagai nabi akhir jaman sekaligus penutup dari para nabi, mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Sehingga, kalau mau berlomba-lomba melakukan kebaikan untuk syiar Islam yang tinggi dan tidak ada yang menandingi di mata Allah, serta memperlajari perkembangan ilmu pengetahuan sepanjang jaman, maka setiap hari memperingati maulid Nabi Muhammad serasa belum apa-apa. Mengingat syahadat merupakan kunci dari keimanan umat Islam seantero dunia. 

 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Tahunan

Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah. Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata: Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal. Sang raja, seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil, merayakan secara besar-besaran – semoga Allah merahmatinya.

Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulama Hadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat Al-A`yan menceritakan bahwa Al-Imam Al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam dan seterusnya ke Irak. Ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 Hijriah, dia mendapati Sultan Al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karena itu, Al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “Al-Tanwir Fi Maulid Al-Basyir An-Nadzir”. Karya ini kemudian dia hadiahkan kepada Sultan Al-Muzhaffar.

Para ulama, semenjak zaman Sultan Al-Muzhaffar dan zaman selepasnya hingga sampai sekarang ini menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sesuatu yang baik. Para ulama terkemuka dan Huffazh Al-Hadis telah menyatakan demikian. Di antara mereka seperti Al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), Al-Hafizh Al-Iraqi (w. 806 H), Al-Hafizh As-Suyuthi (w. 911 H), Al-Hafizh Al-Sakhawi (w. 902 H), SyeIkh Ibn Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Imam Al-Nawawi (w. 676 H), Al-Imam Al-Izz ibn Abd Al-Salam (w. 660 H), mantan mufti Mesir yaitu Syeikh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i (w. 1354 H), mantan Mufti Beirut Lubnan yaitu Syeikh Mushthafa Naja (w. 1351 H), dan terdapat banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan Al-Imam Al-Suyuthi menulis karya khusus tentang Maulid yang berjudul “Husn Al-Maqsid Fi Amal Al-Maulid”. Karena itu perayaan Maulid Nabi, yang biasa dirayakan pada bulan Rabiul Awal menjadi tradisi umat Islam di seluruh dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Membaca sejarah awal peringatan maulid Nabi Muhammad saw tahunan dan perkembangannya, sekitar 700 tahun setelah Rasululloh wafat, tentu saja sangat meriah dan begitu spesial, karena tidak sekedar membaca sejarah Nabi Muhammad, tetapi juga mengajak umat Islam mensyukuri nikmat Allah dengan menyembelih ribuan kambing dan unta. Oleh karena itu, peringatan maulid Nabi Muhammad tahunan ini, sebaiknya dimanfaatkan untuk menguatkan akhlaq umat Islam menjadi akhlaq yang mulia. Paling tidak mencontoh sebagian kecil akhlaq Rasululloh yang begitu rendah hati dan sangat menghargai dan menghormati umat manusia, baik kawan maupun lawan. 

Peristiwa Lahirnya Nabi Muhammad 

Ada 12 peristiwa pada saat Nabi Muhammad saw dilahirkan, yang sudah populer ketika pasukan Gajah Raja Abrahah, pimpinan Panglima Abu Rughal pada saat berangkat akan menghancurkan Ka’bah diserang oleh burung-burung ababil yang membawa batu-batu panas dan berpijar. Sayyidah Siti Aminah, ibu Nabi Muhammad saw, selama mengandung tidak merasa letih akibat kandungannya. Padahal setiap wanita yang hamil selalu merasa letih karena kandungannya.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, Qishashul Anbiyya, bahwa ketika Aminah mengandung Rasulullah saw, sama sekali ia tidak merasa kesulitan maupun kepayahan sebagaimana wanita umumnya yang mengandung. Ia juga menyatakan bahwa selama mengandung, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-nabi terdahulu, dari sejak bulan pertama, yaitu bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabi’ul Awwal.Bulan ke-1 didatangi oleh Nabi Adam (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi pemimpin agama yang besar. Bulan ke-2 didatangi Nabi Idris (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah. Bulan ke-3 didatangi Nabi Nuh (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.

Bulan ke-4 didatangi Nabi Ibrahim (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah.

Bulan ke-5 didatangi Nabi Ismail (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mu’jizat yang besar.Bulan ke-6 didatangi Nabi Musa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah. Bulan ke-7 didatangi Nabi Daud (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar. Bulan ke-8 didatangi Nabi Sulaiman (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul. Bulan ke-9 didatangi Nabi Isa (as) yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan membawa Al-Qur’an yang diridhai.

Semua Nabi-nabi yang hadir di mimpi Aminah itu sama-sama berpesan kepadanya bahwa jika telah lahir, namai anak itu dengan nama Muhammad yang artinya Terpuji, karena anak itu akan menjadi makhluk yang paling terpuji di dunia dan akhirat. Firasat mengenai penamaan Muhammad itu pun terbersit di hati mertuanya, Abdul Muthalib, sehingga ketika Rasulullah saw lahir, Abdul Muthalib memberinya nama Muhammad. Ketika masyarakat Mekkah bertanya mengapa ia dinamai Muhammad, bukan nama para leluhur-leluhurnya, maka Abdul Muthalib menjawab: “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.”

Sayyidah Siti Aminah, juga merasakan tanda-tanda akan melahirkan secara tiba-tiba pada malam hari. Pada saat itu mertuanya Abdul Muthalib sedang pergi ke Masjidilharam. Sementara, Abdullah suaminya, sudah meninggal dunia. Kemudian, datang banyak wanita cantik. Ada 2 wanita yang jadi perhatian Aminah, mereka memberi salam dan menyebut dirinya Asiya (istri Raja Fir'aun) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.).

Siti Aminah bahkan tidak merasa sakit layaknya wanita yang melahirkan. Padahal saat itu belum ada obat bius sehingga melahirkan benar-benar secara alami. Begitulah, kisah-kisah istimewa dan ajaib yang melingkupi peristiwa menjelang sampai kelahiran Muhammad saw. Sungguh semua itu adalah bukti bahwa Rasulullah saw adalah manusia pilihan, utusan yang jadi penghulu para nabi dan sebaik-baik manusia.

Oleh karena itu, sebagai penguatan akhlaq umat Islam di abad modern dengan serba serbi informasi begitu cepat menggelinding melalui dunia maya, tentu saja peringatan maulid Nabi Muhammad saw tahunan, harus benar-benar dijadikan moment untuk mengembalikan akhlaq umat Islam pada jati diri sesungguhnya. Rahmat bagi seluruh alam. Tentu saja dengan budi pekerti mulia, dengan contoh-contoh perilaku yang mengikuti Nabi Muhammad saw dalam mengabdi kepada Allah swt, maupun melakukan komunikasi dengan sesama manusia. (*)

 

banner