Opini

Published in Opini

Refleksi Hari Pahlawan 10 November 2017 ,Pahlawan Anti Narkoba, Anti Korupsi, Anti Penjajahan Hanya Bayang-Bayang

Nov 16, 2017 Publish by 
Refleksi Hari Pahlawan 10 November 2017 ,Pahlawan Anti Narkoba, Anti Korupsi, Anti Penjajahan Hanya Bayang-Bayang

 

 

Oleh : Djoko Tetuko Abdul Latif *)

Peringatan Hari Pahlawan sudah satu minggu berlalu dan memang sudah berlalu, tidak membekas pada gerakan massal mencontoh suri tauladan para pahlaawan, arek-arek Suroboyo yang dengan tulus dan ikhlas mengorbankan jiwa dan raga bahkan nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan Negara Indonesia, yang ketika itu baru seumur jagung. Contoh kongkret melakukan perlawanan secara nasional pada kondisi bangsa dan negara yang sudah kritis, seperti memerangi narkoba, korupsi (KKN) dan penjajahan, nampak hanya bayang-bayang.

Pidato dan penghargaan berkaitan dengan Hari Pahlawan memang menggema menjadi viral di berbagai media dan terus menerus dibicarakan, misalnya, Presiden Joko Widodo memberi nama pesawat N219 dengan nama Nurtanio.Pesawat N219 adalah pesawat buatan lokal, kolaborasi antara PT Dirgantara Indonesia (DI) bekerjasma dengan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). Pesawat ini melakukan uji terbang perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8/2017) lalu.

N219 merupakan pesawat penumpang kapasitas 19 penumpang yang digerakkan dengan dua mesin turboprop produksi Pratt and Whitney. Pesawat ini didesain sesuai dengan kebutuhan masyarakat terutama wilayah perintis. Pesawat ini mampu terbang dan mendarat di landasan pendek sehingga mudah dioperasikan di daerah terpencil. 

Penamaan pesawat buatan dalam negeri bukan kali pertama dilakukan oleh Presiden RI. Sebelumnya, pesawat N250 buatan PTDI dinamakan oleh Presiden ke-2 RI Soeharto dengan julukan Tetuko. Pesawat besutan BJ Habibie berhasil melakukan terbang perdana pada 1995. 

Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo (dikenal juga dengan nama L.M.U Nurtanio, LMU Nurtanio) (lahir di Kandangan, Kalimantan Selatan, 3 Desember 1923 – meninggal di Bandung, 21 Maret 1966 pada umur 42 tahun adalah sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Bersama Wiweko Soepono, Nurtanio membuat pesawat layang Zogling NWG (Nurtanio-Wiweko-Glider) pada tahun 1947. Ia membuat pesawat pertama all metal dan fighter Indonesia yang dinamai Sikumbang, disusul dengan Kunang-kunang (mesin VW) dan Belalang, dan Gelatik (aslinya Wilga) serta mempersiapkan produksi F-27.

Contoh Pahlawan

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memiliki pesan khusus saat menyampaikan kepada wartawan di Aula Gatot Subroto Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Kamis, 9 November 2017 bahwa  memperingati Hari Pahlawan 10 November 2017, sebagai Bangsa Indonesia harus mencontoh pahlawan.

Hal yang perlu dicontoh dari pahlawan Indonesia adalah sikap berjuang tanpa memandang status. Pahlawan berjuang tidak memandang aspek perbedaan. Pahlawan juga berjuang tanpa memandang perbedaan antar sesama. Bahkan, saat berjuang dahulu, pahlawan tidak melihat agama, suku, warna kulit, serta darimana mereka berasal. "Jadi mari bersatu, jangan saling menghina, mencaci maki, tetapi kita bersatu membangun bangsa ini, seperti pahlawan kita," kata Panglima TNI..

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menjadi Inspektur Upacara pada peringatan Hari Pahlawan di Lapangan eks IRTI Monas, Jumat (10/11). Ini adalah pertama kalinya Sandiaga menjadi Inspektur Upacara setelah dirinya dilantik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Dalam upacara ini, Sandiaga juga berkesempatan untuk menyampaikan pidato resmi milik Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Pidato tersebut total berjumlah 12 halaman. 

Dalam sambutan usai membacakan Pidato Menteri Sosial, Sandi mengatakan, Indonesia sebagai bangsa yang besar harus menghormati jasa para pahlawannya. Hal itu ia sampaikan dengan meminjam kalimat Presiden RI pertama, Soekarno. Menurut Sandi, kalimat dari Bung Karno itu mempunyai makna mendalam. "Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Kalimat singkat dari Bung Karno ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kita semua," ucap dia.

Sandi menjelaskan bahwa tanpa pengorbanan dan perjuangan para pahlawan dan perintis kemerdekaan, tidak akan ada gagasan besar untuk mendirikan sebuah Negara. Dan saat ini adalah saatnya bangsa Indonesia menuntaskan perjuangan para pahlawan untuk membangun bangsa. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan sikap mental yang positif dan konstruktif. 

"Hanya dengan revolusi mental yang positif, optimis dan sadar riwayat sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan terbuka, kita menyelami tantangan dan persoalan yang kita hadapi bersama dengan semangat persatuan di dalam kesetaraan seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi," tutur Sandi.

Sandi mengatakan, hari pahlawan saat ini harus diperingati bukan hanya dengan mengapresiasi para pahlawan semata, namun juga harus terus mengingat dan mengenang jasa-jasa mereka. Sebab, jika tanpa para pahlawan maka dirinya maupun semua warga yang ikut dalam upacara peringatan itu tidak akan bisa berdiri di lapangan untuk menikmati kemerdekaan. 

Lawan Korupsi

Sementara itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama LBH Jakarta, Gusdurian dan PP Muhammadiyah menggelar diskusi memperingati Hari Pahlawan 2017.Acara yang digelar di restoran Queen's Head, Kemang, Jakarta Selatan itu bertemakan "Jangan Lelah Lawan Korupsi".

Diskusi kali ini, sekaligus memperingati 7 bulan kasus penyerangan penyelidik KPK Novel Baswedan yang sebelumnya diserang oleh 2 orang pelaku pada 11 April 2017. Wakil Koordinator ICW, Ade Irawan dalam sambutan mengatakan, bahwa saat ini korupsi telah menjadi sumber masalah yang menghambat cita-cita bangsa untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia.

"Semua yang menghambat adalah korupsi yang membuat kita miskin. Gap antara orang kaya dan miskin sudah makin jauh, menyulitkan akses kesehatan dan pendidikan," kata Ade Irawan, Jumat (10/11/2017). Oleh karena itu, Ade berharap melalui acara-acara semacam ini bisa menumbuhkan nilai-nilai dan semangat untuk melawan korupsi.

Sementara itu, turut hadir sebagai pembicara Mantan Pimpinan KPK Bambang Widjojanto, Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar, Jubir KPK Febri Diansyah, aktris Sophia Latjuba, dan sejarawan Zen RS.

 

Narkoba 

Walaupun penggunaan narkoba sudah menembus 6 juta, sebuah angka sangat mencegangkan dan mengancam kehisupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, santun dan bersahaja. Tetapi tidak banyak disinggung menjadi prioritas dalam memperjuangkan mengisi kemerdekaan, pada saat memepringati Hari Pahlawan, sehingga masih sangat dibutuhkan dan terus menerus didorong untuk membentuk pahlawan-pahlawan anti narkoba.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan hingga kini masyarakat yang masuk dalam fase ketergantungan narkoba hampir mencapai 6 juta orang. Angka ini belum termasuk pengguna ganda baik pengedar maupun masyarakat yang masih coba-coba.  Deputi Pencegahan BNN Irjen Ali Djohardi Wirogioto mengatakan, dalam penelitian yang dilakukan pihaknya bersama Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) Depok, hampir 6 juta masyarakat aktif masuk dalam jeratan narkotika berbagai jenis. Ditambah lagi rentan usia pengguna narkoba semakin meluas.

Narkoba merupakan akronim dari narkotika dan obat-obatan berbahaya. Istilah bahaya narkoba yang banyak digunakan di Indonesia sebenarnya mengacu kepada penyalahgunaan obat-obat berbahaya. Mengapa disebut penyalahgunaan? Karena sebenarnya beberapa jenis narkoba merupakan obat yang digunakan oleh dunia kedokteran sebagai obat bius, penghilang rasa sakit, dan mengobati berbagai penyakit berbahaya. Namun, penyalahgunaan terjadi ketika orang mengkonsumsi jenis obat narkoba tanpa resep dokter dan atau menggunakannya di luar dosis yang dianjurkan. Akibatnya, orang yang mengkonsumsi tersebut menjadi kecanduan.

Penjajahan Modern

Wakil Ketua MPR Oesman Sapta di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Ibnu Khaldun, Kota Bogor, Jawa Barat, 11 Oktober 2017, mengatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menyosialisasikan Empat Pilar karena ada ancaman intervensi asing pada bangsa Indonesia

Oesman menjelaskan, intervensi asing itu dilakukan untuk merebut kekayaan alam Indonesia. Mereka melakukan intervensi dengan tak bermartabat. Bangsa asing itu mempengaruhi pejabat di Indonesia dengan tujuan ingin melakukan penjajahan modern. Intervensi dilakukan agar kita menjual kekayaan alam pada bangsa lain. 

Oesman mencontohkan penjajahan modern itu dengan adanya tekanan mengekspor bahan mentah ke luar negeri, selanjutnya bahan mentah diolah menjadi bahan jadi, dan bahan jadi itu dijual kembali ke Indonesia dengan harga berlipat.

Pemerintah sekarang ingin memproduksi sendiri, sisanya baru dijual ke asing Apalagi intervensi dari luar juga dilakukan asing lewat narkoba. Intervensi yang menyasar anak-anak muda ini bertujuan agar penerus bangsa menjadi bodoh dan tak berguna.

 

Mewujudkan Bayang Bayang

Perjuangan bangsa Indonesia sampai pada peringatan Hari Pahlawan ke 72 tahun memang masih sama, atau dengan kata lain hanya bayang-bayang, terutama pada permasalahan korupsi, narkoba, dan penjajahan modern. Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk mencetak generasi kini dan masa depan, pahlawan-pahlawan anti korupsi, anti narkoba, dan anti penjajahan modern. 

Mengapa demikian? Permasalahan korupsi, narkoba, dan penjajahan modern, semakin lama bukan semakin berkurang atau dapat dihentikan dengan taktik atau strategi jitu, tetapi justru semakin berkembang dan menjamur menjadi satu kekuatan baru tersendiri yang setiap saat, tidak tertutup kemungkinan tiba-tiba menjadi ’’lawan’’ Apabila persoalan ini dibiarkan dengan bahasa demokrasi dan/atau hak asasi manusia, maka tidak tertutup kemungkinan akan menjadi ’’Bom Waktu’’ yang sangat membahayakan serta mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indoensia.

Refleksi dari peringatan Hari Pahlawan 2017 ini sekedar mengingatkan mari membaca kembai pesan Presiden Pertama Indoensia Soekarno (Bung Karno), ’’Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe, Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka daripada makan nestik tapi budak’’.

Wanita bernama lengkap Raden Ajeng Kartini seorang perempuan pahlawan kemerdekaan nasional, berpesan, ’’Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi!.Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.’’

Jenderal Besar Soedirman sebagai seorang perwira tinggi Indoensia pada masa Revolusi Nasional berpesan untuk para pemuda, ’’Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiawaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi’’.

Pesan sangat patriot dari para pahlawan itu, terkandung satu makna abadi bahwa bangsa Indonesia lebih baik hidup sederhana tanpa tekanan dari manapun, daripada berpura-pura ,merdeka tetapi sesungguhnya dijajah, bahkan tidak punya mimpi apa-apa. Dan itu kata Kartini sama artinya dengan hidup tetapi mati.

Oleh karena itu, pernik-pernik kegagalan mengisi kemerdekaan dengan semakin membudayanya korupsi, narkoba, dan penjajahan modern, maka pemerintah bersama rakyat pemilik sah Republik Indonesia, harus berani dengan sungguh-sungguh menyatakan perang dengan mencetak pahlawan-pahlawan baru anti korupsi, anti narkoba, anti penjahahan modern, dengan target sekurang-kurang 2025 (pada ssat Indoensia 80 merdeka) sudah tuntas, sehingga menyongsong ’’Indonesia Emas’’ benar-benar merasakan nikmatnya kemerdekaan.

Satu kata kunci siapa Presiden terpilih pada Pemilu 2019, siapapun wakil rakyat dari pusat sampai daerah, maka harus ada kesamaan bahasa bahwa Gerakan Melawan atau Memerangi korupsi, narkoba, dan penjajahan modern, harus dikobarkan sebagai peperangan besar mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan memberi manfaat untuk bangsa dan negara, bukan memberi kemudaratan, kemelaratan, juga kesengsaraan. Karena itulah sesungguhnya kemerdekaan hakiki mewujudkan bayang-bayang merdeka menjadi merdeka sejati.

*) Direktur Utama Korantransparansi.com dan Ketua Dewan Kehormatan Provinsi PWI Jatim

 

banner