Opini

Published in Opini

Resolusi Jihad = Hari Santri Nasional

Nov 02, 2017 Publish by 
Joko Tetuko
Joko Tetuko

Oleh : Djoko Tetuko

SEJARAH Indonesia memang telah mencatat bahwa tanggal 10 Nopember, ditetapkan sebagai hari Pahlawan, catatan tinta emas itu sebagai hadiah atas perjuangan ’’hidup-mati’’ seluruh kekuatan anak bangsa di Surabaya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan 2 (dua) bulan sebelumnya. Tidak hanya tetengger itu, kota Surabaya sebagai tempat berlangsungnya peperangan terbesar sepanjang sejarah Nusantara, mendapat kehormatan sebagai kota Pahlawan.

Tugu Pahlawan di tengah-tengah kota Surabaya (kilometer 0) menjadi saksi bisu bahwa tanah leluhur suku Jawa di kota Surabaya, pernah terjadi peperangan dahsyat dengan korban ribuan pejuang 45 (santri) dan pimpinan Netherlands Indies Civil Administration (NICA) Jenderal Mallaby bersama sejumlah pasukan elite Inggris itu. Seluruh kota banjir darah dan di mana-mana mayat pejuang dan syuhada’ tidur di jalan-jalan dari Jembatan Merah sampai Surabaya Selatan,, puncaknya di Hotel Oranye (Hotel Mojopahit, sekarang) Tunjungan Surabaya.

Surabaya tempo dulu dengan catatan sejarah sangat menakjubkan telah menoreh-noreh keabadian bahwa kota ini menjadi saksi dunia selalu saja memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara, walaupun dengan mempertaruhkan nyawa, harta benda, juga tahta. Bahkan tidak berlebihan jika tidak ada perlawanan terhadap pasukan Sekutu dengan pimpinan pasukan Inggris yang memenangkan Perang Dunia II, saat ingin merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia dari kota Surabaya, Indonesia akan kembali dijajah.

Waktu itu, pasukan Inggris telah menduduki Medan, Padang, Palembang, Bandung, dan Semarang lewat pertempuran-pertempuran dahsyat. Sedangkan kota-kota besar di kawasan timur Indonesia telah diduduki oleh Australia. Pasukan Inggris lalu masuk ke Surabaya pada 25 Oktober 1945, berkekuatan sekitar 6.000 orang yang terdiri dari serdadu jajahan India. Di belakangnya membonceng pasukan Belanda yang masih bersemangat menguasai Indonesia.

Perlawanan Kultural

Perlawanan kultural terhadap pemerintah kolonial Belanda, berhasil membentuk kiai dan santri-santrinya menjadi lapisan masyarakat bangsa Indonesia yang sangat anti penjajah, Pada gilirannya, sikap anti penjajah ini memberikan sumbangan yang sangat besar pada perjuangan menuju Indonesia merdeka.

Perlawanan kultural itu terus tumbuh dan berkembang menjadi keyakinan di pondok pesantren dengan kekuatan kiai dan para santri bahwa melawan kemungkaran dan kebatilan, sebagaimana dilakukan para penjajah selama ini, akan mendapatkan tempat terhormat dan insyaAllah selalu dalam petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala.

Bahkan kalangan kiai dan santri NU, sejak jaman penjajahan menolak sistem pendidikan Belanda dan cara berpakaian meraka karena menjaga marwah berbangsa dengan sungguhs-sungguh, juga menjaga kedaulatan negara Indonesia dengan terus menerus melakukan perlawanan dengan berbagai cara dan upaya. 

Bahkan ketika  Jepang mewajibkan agar bangsa Indonesia mengikuti pendewaan terhadap Kaisar Jepang Tenno Haika dengan cara membungkukkan badan ke arah Timur pada waktu-waktu tertentu, NU langsung menyatakan penolakannya. Seperti juga semua orang Islam, pendewaan kepada selain Allah, dipandang sebagai perbuatan syirik oleh NU.

KH. Hasyim Asy’ari secara terbuka menyatakan penolakan itu. Pengaruhnya yang besar menghantarkan kiai pendiri NU ini dijebloskan Jepang ke dalam tahanan. Saikerei yang diwajibkan kepada bangsa Indonesia menjadi api yang membakar perlawanan umat Islam. Adalah KH. Zaenal Musthofa dari Singaparna, seorang anggota NU, kemudian mengangkat senjata. Sebuah perlawanan bersenjata pertama kali terhadap Jepang.

 

Resolusi Jihad Semakin Punah

Pada 21 Oktober 1945, telah berkumpul para kiai se-Jawa dan Madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”. Sejarawan Belanda Bruinessen mengakui, Resolusi Jihad ini tidak mendapat perhatian yang layak dari para sejarawan.

Dari perspektif historis, banyak orang-orang NU sendiri yang tidak mengerti posisi sejarah Resolusi Jihad. Sangat disayangkan, Resolusi Jihad yang diperankan NU termaginalisasi, bahkan terhapus dari memori sejarah bangsa. Itu akibat pergulatan dan manuver politik, ada upaya-upaya dari kelompok tertentu yang ingin menggusur NU dari dinamika percaturan politik kebangsaan.

Namun sayang, tak dipungkiri, semangat ke-jam’iyyah-an NU di kalangan generasi muda kini semakin merosot. Pada lingkup internal, banyak kader-kader muda NU yang tidak mengerti rangkaian sejarah Resolusi Jihad. Survei membuktikan, ingatan masyarakat tentang Resolusi Jihad NU 1945 yang memiliki mata rantai dengan Peristiwa 10 November di Surabaya semakin punah.

“Oleh karena itu, wacana Resolusi Jihad NU harus dihidupkan kembali, direkonstruksi dan tidak ditempatkan pada upaya politisasi sejarah. Tanpa Resolusi Jihad, tidak akan ada NKRI seperti yang kita cintai saat ini,” kata Gugun El-Guyanie, penulis buku Resolusi Jihad Paling Syar’i.

Jangankan masyarakat umum, generasi-generasi penerus NU dari pusat sampai ranting, Ansor-Fatayat, IPNU-IPPNU pun banyak yang tidak mendapatkan transfer sejarah mengenai resolusi penting itu. Mengingatkan kembali sejarah besar itu, di Surabaya, sudah mulai dibangun museum Resolusi Jihad oleh PCNU Surabaya. Pengurus NU dan kader-kadernya pun mulai berdiskusi dan memperingati hari Resolusi Jihad tiap tanggal 22 Oktober.

Wakaf Nyawa

Resolusi Jihad PBNU ketika itu adalah seruan kepada umat Islam, terutama warga NU dan masyarakat Indonesia yang santri (belajar mengaji ke pondok pesantren maupun di kampung), untuk berjuang kembali melawan penjajah, setelah NU melaihat bahwa kemerdekaan Indonesia dalam ancaman Sekutu bersama NICA.

Guna memantapkan sikap perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan NU mengirim surat kepada pemerintan yang isinya :, ’’Memohon dengan sangat kepada pemerintah Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap Belanda dan kaki tangannya. Supaya pemerintah melanjutkan perjuangan yang bersifat ”sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan beragama Islam.’’.

Adapun resolusi yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa itu berbunyi:

1.Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.

2.Republik Indonesia (RI) sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan.

3.Musuh RI, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.

4.Umat Islam, terutama NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.

5.Kewajiban tersebut adalah jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap muslim (fardhu ’ain) yang berada pada jarak radius 94 km (jarak dimana umat Islam diperkenankan shalat jama’ dan qashar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut.

Resolusi jihad tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat arek-arek Surabaya bersamaa kekuatan dari seluruh Nusantara yang ada di Surabaya, juga rakyat yang radius 94 km, mewakafkan myawanya untuk bertempur habis-habisan melawan penjajah. Dengan semangat takbir yang dipekikkan Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat yang heroik pada 10 November 1945 di Surabaya.

Dari kalangan pesantren dan kampung-kampung santri, para santri bersama pemuda-pemuda telah rela mewakafkan nyawanya untuk berjuang melawan penjajah, setelah Rois Akbar NU Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad. Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid.

Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin yang dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. 

Hari Santri

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperingati Hari Santri Nasional (HSN) menyatakan bahwa peringatan ini untuk menutup kekurangan sejarah Indonesia atas peristiwa pertempuran Surabaya yang dilatarbelangi Resolusi Jihad. ’’Keluarga NU dan rakyat Indonesia, memperingati peristiwa mengenang jasa ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.

Said berharap perjuangan kaum santri di masa awal kemerdekaan Indonesia mampu diaktualisasikan di masa kini yaitu dengan menolak terorisme, radikalisme, gerakan ekstrim, melawan kemiskinan dan memerangi peredaran narkoba. Said juga mengatakan HSN adalah momentum memperingati keluarnya Resolusi Jihad oleh pendiri NU Hasyim Asy'ari dengan tujuan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, pengertian santri bukan semata murid yang menimba ilmu di sebuah pesantren. Santri adalah orang Islam yang beriman kepada Allah dan berakhal mulia, serta mempunyai semangat membela Islam dan tanah air. ’’Alhamdulillah, tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Banyak sekali yang merespons positif, ada Presiden Jokowi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sekretaris Negara, Ibu Megawati Soekarno Putri, Bapak Hidayat Nur Wahid, di samping Ormas yang hadir di sini," kata Said.

Hari Santri merupakan wujud apresiasi untuk mengenang jasa santri dan ulama melawan serangan sekutu di Surabaya pada 10 November 1945. Said mengisahkan, bahwa pembunuh Jenderal Mallby adalah santri bernma Harun dari Jombang, dan salah satu pejuang yang merobek bendera warna biru di Hotel Oranye adalah santri bernama Asy’ari dari Surabaya. 

Korban dari pejuang Indonesia pada saat pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, sampai 20 ribu santri, Resolusi jihad inilah yang mengobarkan jiwa para santri untuk berperang melawan penjajah yang datang kembali ke Surabaya. Dengan ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, maka jihad sekarang dan ke depan untuk kemanfaatan bangsa dan negara harus bergser ke jihad intelektual, ekonomi, budaya, politik, tapi semangatnya harus seperti KH Hasyim Asy'ari ketika melawan penjajah.  Selamat Hari Santri Nasional. (*)

banner