Opini

Haornas Hanya Tinggal Upacara

                                              Oleh: Djoko Tetuko
Tiga puluh empat tahun silam ketika peringatan Hari Olahraga Nasional pertama kali dihelat dengan sebuah motto sangat merakyat, ’’Mengolahragakan Masyarakat, dan Memasyarakatkan Olahraga’’, rasanya bahwa prestasi olahraga Indonesia bakal menyodok ke persaingan internasional, seperti kejayaan pada saat menjadi tuan rumah Ganefo dan Asian Games pada tahun 1962, sehingga event SEA Games dikhususkan atlet-atlet muda potensi dan berbakat yang bakal bersinar di arena dunia dan internasional
3-5 tahun ke depan. Itu sebuah angan-angan ketika prestasi cabang olahraga sangat mengagumkan di kawasan Asia Tenggara, dan mulai mampu bersaing pada cabang olahraga tertentu di berbagai event Asia dan Dunia.

Pada tanggal 9 September 2017 nanti cipta karya Pemerintahan Orde Baru dengan Presiden Soeharto akan diperingati kembali, Hari Olahraga Nasional (Haornas), sebuah hari amat sakral karena pemerintah telah memberikan sebuah penghargaan tertinggi terhadap seluruh cabang olahraga dengan mencanangkan secara nasional. Itu artinya bahwa olahraga bukan sekedar main-main atau tanpa tujuan, tetapi sudah menjadi satu cita-cita luhur untuk mensejajarkan dengan prestasi-prestasi negara maju dan negara modern lainnya, yang sudah maju pesat di cabang olahraga, Indonesia menyatakan sebuah tekad besar untuk menyamai bahkan tidak tertutup kemungkinan mengejar dan memimpin di depan.

Peringatan Haornas pertama kali berlangsung tanggal 9 September 1983. Dasar penetapan itu berkaitan erat dengan momen bersejarah dalam olahraga Indonesia, yakni diselenggarakannya Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama tanggal 9-12 September 1948 di Stadion Sriwedari Solo, Jawa Tengah, atau 35 tahun setelah PON pertama kali digelar. Presiden Soeharto melalui Kepres nomor 67 tahun 1985 tentang Haornas menetapkan bahwa tanggal 9 September diperingati secara nasional oleh masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Filosofi Olahraga Gerakan Nasional Panji Olahraga sebagai satu kesatuan dari Haornas sekaligus mempopulerkan motto ; ’’Mengolahragakan Masyarakat dan Memasyarakatkan Olahraga’’, tidak lepas dari sejarah bangsa Yunani kuno pada saat melakukan perubahan besar terhadap kemajuan olahraga
dari primitif menjadi modern, dengan mencontohkan membangun pasukan perang yang tangguh. Olahraga secara fi losofi s, diartikan sebagai proses, actus tubuh dalam mencapai kesegaran, ketangkasan, dan kecerdasan.

Plato dalam Republica menyatakan seni olah tubuh meningkatkan entitas kemanusiaannya melalui disiplin gerak yang menyatu. Buah pemikiran Plato tentang olahraga kemudian menghasilkan revolusi masyarakat Yunani kuno yaitu dengan munculnya kaum Spartan. Kelompok ini dikenal dalam sejarah peradaban dunia sebagai pasukan militer yang tangguh dalam berperang, sehingga berhasil menaklukan sebagian dunia. Spartan mengutamakan kedisiplinan, kemahiran bertarung dan semangat yang solid. Itu sama dengan olahraga bahwa dibutuhkan kemauan, disiplin dan kemahiran.

Haornas dengan penguatan Gerakan Nasional Panji Olahraga dengan sambutan masyarakat begitu antusias mempopulerkan motto, ’’Mengolahragakan Masyarakat dan Memasyarakatkan Olahraga’’. Juga ’’Mens Sana In Corpore Sano’’, bak gayung bersambung pembinaan olahraga di Indonesia sempat menjadi kiblat Asia, apalagi diikuti dengan pendirian sekolah olahraga Ragunan. Sedangkan sebelumnya, Presiden Soekarno dengan berbagai pendekatan budaya dan olahraga dalam kancah perpopolitikan berhasil menggelar event Ganefo sebagai tandingan Asia Games, dengan melakukan pendekatan politik yang bebas aktif dan begitu piawai ketika menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika. Gerakan politik kebangsaan, gerakan budaya, gerakan olahraga, menyatu menyelimuti kebesaran bangsa dan negara Indonesia.

PON sebagai Pondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia mencatat sebuah sejarah besar ketika 3 (tiga) tahun setelah memproklamirkan kemerdekaan dengan tekanan internasional, termasuk Pasukan Sekutu dan kekuatan asing lainnya, berhasil mencetuskan satu sikap berbangsa dan bernegara dalam satu gerakan lebersamaan untuk mencapai prestasi di bidang olahraga dengan menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tanggal 9-12 September 1948. Lepas dari kekurangan atau bahkan kesederhaan, tetapi moment itu sangat luar biasa, sekaligus sebagai pondasi bagi kekuatan Indonesia dalam menggalang persatuan dan kesatuan, menentukan arah politik, menentu arah mencapai tujuan besar dengan mensejajarkan dengan bangsa-bangsa di dunia.

Penyelenggaraan PON I di kota Solo diikuti 600 atlet dari 13 kontingen tingkat kota/kabupaten dan karesidenan (setingkat pembantu gubernur) dengan mempertandingkan 9 cabang olahraga, serta memperebutkan total 108 medali, emas, perak dan perunggu. Kontingen daerah yang berpartisipasi adalah Surakarta, Yogyakarta, Bandung, Madiun, Magelang, Malang, Semarang, Pati, Jakarta, Kedu, Banyuwangi, dan Surabaya. Dari 13 kontingen Jawa Timur termasuk jumlah peserta terbanyak karena mengikutikan 4 kabupaten/kota, Madiun, Malang, Banyuwangi dan Surabaya. Hal itu menandakan bahwa pembinaan olahraga di Jawa Timur sejak dahulu memang sudah mengalami kemajuan. Penyelenggaraan PON pada Orde Lama berlangsung 6 (enam) kali dengan Jakarta dua kali sebagai tuan rumah. Sedangkan mengawali PON di masa awal Orde Baru di Surabaya (Jawa Timur) dan awal Reformasi di Sidoarjo dan 15 kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Timur. (lihat matrik).

Dari Asian Games, Ganefoh sampai SEA Games Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau Games of the New Emerging Forces (GANEFO), adalah suatu ajang olahraga yang didirikan mantan presiden Indonesia, Soekarno, pada akhir tahun 1962 sebagai tandingan Olimpiade. GANEFO menegaskan bahwa politik tidak bisa dipisahkan dengan olahraga, hal ini menentang doktrin Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang memisahkan antara politik dan olahraga. Indonesia mendirikan GANEFO setelah kecaman
KOI yang bermuatan politis pada Asian Games 1962, karena Indonesia tidak mengundang Israel dan Taiwan dengan alasan simpati terhadap Tiongkok dan negara-negara Arab.

Partisipasi kontingen peserta sekitar 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin seperti Afghanistan, Albania, Aljazair, Arab Saudi, Republik Arab Bersatu (sekarang Mesir dan Suriah), Argentina, Belanda, Belgia, Bolivia, Brasil, Bulgaria, Cekoslovakia, Chili, Tiongkok, Republik Dominika, Filipina, Finlandia, Guinea, Hungaria, Indonesia, Irak, Italia, Jepang, Jerman Timur, Kamboja, Korea Utara, Kuba, Laos, Lebanon, Mali, Maroko, Meksiko, Mongolia, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Palestina, Polandia, Prancis, Rumania, Senegal, Somalia, Sri Lanka, Thailand, Tunisia, Uni Soviet, Uruguay, Vietnam Utara, Yugoslavia.

Pada Asian Games 1962 adalah Asian Games yang ke-4 dan diselenggarakan di Jakarta, Indonesia, dari tanggal 24 Agustus sampai 4 September 1962. 1.460 atlet berlaga, datang dari 16 negara, dengan 15 cabang olahraga. Indonesia sebagai tuan rumah tidak mengundang tim dari Israel dan Taiwan yang merupakan anggota Federasi Asian Games, untuk menghormati negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok. Sebenarnya Indonesia kala itu menyalahi undang-undang Asian Games Federation. Selain itu Indonesia sebenarnya sudah janji akan mengundang delegasi dari tiga negara yang kala itu tidak memiliki hubungan diplomatik, yaitu Israel, Republik China atau Taiwan dan Korea Selatan.

Perhelatan Asian Games IV di Jakarta bukan sekedar Indonesia mampu menjadi tuan rumah, sekaligus menunjukkan kepada negara di dunia bahwa Jakarta sudah mampu menyelenggarakan event inetrenasional dengan sarana olahraga standar internasional, sehingga bukan sekedar pamer kemampuan sebegai negara merdeka yang aktif dalam berbagai politik internasional, tetapi prestasi olahraga anak-anak bangsa benar-benar ditunjukkan dengan mengukir prestasi yang tidak mengecewakan bahkan membanggakan.

Sejarah SEA Games diawali SEAP Games (South East Asian Peninsular Games) pada tahun 12-17 Desember di Bangkok 1959 diikuti oleh 7 negara awal yaitu: Thailand, Burma (sekarang Myanmar), Malaysia, Laos, Vietnam dan Kamboja (dengan Singapura dimasukkan kemudian), saat itu mereka sebagai negara pelopor setuju untuk mengadakan ajang ini dua tahun sekali dengan mempertandingkan 12 cabang olahraga. Selain itu dibentuk juga Komite Federasi SEAP Games.

Pada SEAP Games VIII tahun 1975, Federasi SEAP mempertimbangkan masuknya Indonesia dan Filipina. Kedua negara ini masuk secara resmi pada 1977, dan pada tahun yang sama Federasi SEAP berganti nama menjadi Southeast Asian Games Federation (SEAGF), dan ajang ini menjadi Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara. Brunei dimasukkan pada Pesta Olahraga Negara- Negara Asia Tenggara X di Jakarta, Indonesia, dan Timor Leste di Pesta Olahraga Negara-Negara Asia Tenggara XXII di Hanoi, Vietnam.

Sejak pertama kali Indonesia ikut SEA Games IX tahun 1977 di Kuala Lumpur langsung menyabet Juara Umum sampai 4 SEA Games berikutnya berturut-turut. Dan dilanjutkan pada tahun 1987 di SEA Games ke XIV sampai SEA Games ke XIX tahun 1997, Indonesia selalu tampil sebagai juara umum dan hanya 1 kali yaitu di tahun 1995 saat SEA Games ke XVIII di Chiang Mai, Thailand sebagai tuan rumah, Thailand berhasil merebut juara umum. Setelah itu mulai turun peringkat dan 1997 itu adalah terakhir kalinya Indonesia tampil sebagai juara umum. Pada tahun 2011 Indonesia bangkit kembali, tetapi sayang berhenti lagi.

SEA Games 2017 baru saja berlalu dan menyongsong Asian Games 2018, jujur saja perhitungan di atas kertas, rasanya sulit mengulang kejayaan seperti pada Ganefo di Jakarta, dengan sukses masuk 3 besar bersama negara-negara berkembang yang sekarang sudah maju luar biasa. Olah karena itu, pada Haornas 2017 ini, apakah masih hanya upacara dan pidato-pidato saja atau benar-benar melakukan gerakan perubahan. Tentu saja perubahan besar tahun ini bukan hanya sekedar mengejar prestasi Asian Games yang sudah pasti tertinggal jauh dari negara-negara pesaing di kawasan Asia, tetapi mengembalikan moment bersejarah bahwa Indonesia yang pernah berjaya, wajib dibangkitkan melalui Haornas 2017 dengan berbagai gerakan membumi mengembalikan citra olahraga nusantara menuju prestasi dunia, paling tidak 5 atau 10 tahun depan, dengan pembinaan, pendekatan, pemeliharaan, dan pemberian kehormatan yang sungguh-sungguh. Indonesia kembali menjadi terhebat di asia dan dunia (*)

Berkurban sebuah Refleksi Gotong Royong

Oleh: Djoko Tetuko   

1. Inna a’toina kalkautsar (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak). 2. fasollilirobbika wanhar (Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah). 3. innasyaniaka huwal abtar (Sesungguhnya orangorang yang membenci kamu (Nabi Muhammad dan ajarannya) dialah yang terputus).

Ilustrasi

Oleh: Djoko Tetuko

Rasulullah Muhammad Saw 1400 tahunsilam, telah memperingatkan bahwaAllah Swt melaknat umatnya yang mel-akukan proses suap menyuap maupun pihak terkait yang bertugas menjadi perantara perilaku ’’haram’’ itu, sebagaimana hadits diriwayatkan Al-Hakim, ’’Allah melaknat orang yang menyuap, orang yang menerima suap dan orang yang menjadi perantara keduanya’’.

Menghajikan Indonesia

HAJI adalah rukun Islam yang kelima, dan umat muslim meyakini ibadah ini sebagai indikator kesempurnaan keislaman. Urutan penyebutan rukun Islam dalam teks hadis dimaknai sebagai hierarki kesempurnaan berislam. Pengertiannya, sebelum menunaikan ibadah haji, seseorang harus terlebih dahulu bersyahadat, salat, puasa, dan zakat. Empat rukun Islam yang lain merupakan prasyarat untuk seseorang berhaji. Itulah bekal haji. Sebagaimana disebutkan di dalam Alquran, 'Berbekallah untuk menunaikan ibadah haji. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa'. Demikianlah pendapat sebagian umat Islam.

Awas  Teroris Intelektual

Oleh: Djoko Tetuko

Teka-teki pembacokan dan perbuatan pengarah kepada percobaan pembunuhan terhadap ahli IT Hermansyah,  memang secara hukum positif sudah  menunjukkan tanda-tanda keberhasilan pihak keamanan dalam hal ini kepolisian. Tim Jaguar Polres Depok berhasil menangkap dua orang yang merupakan pelaku pembacokan terhadap ahli IT Hermansyah. Kedua pelaku dibawa ke Mapolresta Depok.

Bahaya!!! Jangan Makan Beras dan Harta Zakat

Oleh: Djoko Tetuko

’’Sesungguhnya zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, zakat adalah kotoran manusia.’’

  •  Start 
  •  1 
  •  End 
banner

> BERITA TERKINI lainnya ...