Opini

Dhimam Abror Djuraid

Tak ada rotan akar pun jadi.

Tak ada Prabowo Hashim pun jadi.

Tak gampang mendapatkan waktu dari Capres 02 di tengah kesibukannya sekarang. Tapi, beruntung ada Hashim Djojohadikusumo yang bisa menggantikannya.

Dalam dunia sepakbola dikenal istilah _super-sub,_ pemain pengganti yang super istimewa. Ia bukan pemain utama dalam _line up_. Tapi, setiap kali ia diturukan ke lapangan ia akan memberikan gol penentu yang memenangkan tim. Itulah posisi Hashim. Ia pemain supersub. Ia turun pada saat yang tepat dan pada saatnya akan mencetak gol penentu kemenangan.

Beberapa waktu setelah Reuni 212 serangan terhadap prabowo makin kencang. Prabowo pun menyuarakan kekecewaan terhadap media dan mengambil jarak. Ketika Prabowo defensif terhadap media, Hashim justru ofensif datang ke dapur media, atau mengundang media untuk ngobrol.

Hashim menguasai isu-isu penting dan paham visi misi, serta memahami psikologi Prabowo. Makanya seorang wartawan senior nyeletuk, "Pak Hashim ini seperti replika Prabowo..."

Ia mengagumi kakaknya. Meskipun, sebagai adik ia tetap diperlakukan sebagai junior.

Prabowo muslim, Hashim nasrani, mereka saling menghormati dan menyayangi. Pelajaran demokrasi dimulai dari keluarga.

Ia bukan sekadar kasir seperti banyak diduga orang selama ini, ia jurubicara terbaik Prabowo yang tidak hanya memahami visi misi (karena ia terlibat langsung), tetapi memahami _asbab al nuzul_ dan _asbab al wurudnya_, plus sejarah dan suasana kebatinannya.

Prabowo memikirkan nasib bangsa Indonesia sejak jauh hari ketika ia masih kolonel muda di awal 1990an. Ketika itu Prabowo mengirim surat kepada petinggi ABRI mengenai nasib bangsa kedepan. Ia, terutama, menyoroti bahaya stunting, cebol karena kurang gizi, yang bisa menyebabkan Indonesia mengalami _lost generation._ Stunting akan menghambat pertumbuhan fisik dan mental. Secara fisik anak Indonesia akan cebol dan kecerdasan rendah.

Hashim terkagum-kagum oleh pemikiran kakaknya yang visioner. "Saya heran ada kolonel kok mikir soal stunting." 

Saat ini setidaknya satu di antara tiga balita Indonesia terancam stunting.

Prabowo pun mencanangkan program Indonesia Emas yang sekarang menjadi salah satu program unggulannya. Targetnya, seluruh balita di Indonesia harus mendapat gizi cukup paling tidak seliter susu sehari plus nutrisi lain dari ikan atau kacang-kacangan.

Kebijakan inilah yang diterapkan oleh pemerintah China sehingga mereka bisa memetik hasilnya dengan generasi unggul sekarang ini.

Ketika Prabowo menyuarakan kekecewaannya kepada media massa nasional pasca-Reuni 212, banyak kalangan melihat Prabowo sengaja menerapkan strategi kill the messenger dengan _men-down-grade_ media _mainstream_ untuk mempromote media sosial sebagai alternatif.

Ketika media mainstream menjaga jarak (kalau tidak menjauhi) dari Prabowo, Hashim--yang secara formal menjadi direktur media dan komunikasi BPN--malah aktif melakukan media visit ke hampir semua media nasional.

Ia juga mengadakan _coffee morning_ dengan pemimpin redaksi dan berbicara berjam-jam kepada mereka. "Ini bebas, _on the record_. Silakan rekam," kata Hashim di depan 10 pimpinan media Jumat (21/12).

Hampir semua pemimpin redaksi media massa terperangah oleh sikap Hashim yang _bold and blunt_ alias blak-blakan. Ia berbicara mengenai keprihatinannya terhadap potensi kecurangan pemilu 2019, terutama karena karut-marut DPT (Daftar Pemilih Tetap. _"I can't take it anymore,"_ sergah Hashim mengenai potensi kecurangan karena adanya jutaan pemilih ganda.

Pada pemilu 2014 ia merasakan pahitnya dicurangi. "Saya pergi ke luar negeri berminggu-minggu karena kecewa," kata Hashim. Bagaimana dengan Prabowo? Dengan besar hati dia menerima kekalahan dan hadir di acara pelantikan Joko Widodo. " Itulah jiwa besar Prabowo. Ia legawa. Ia tak pernah mendendam," kata Hashim.

Ia prihatin dengan kondisi ekonomi Indonesia sekarang. Kemiskinan tinggi, kesenjangan menganga, pekerjaan sulit, dan harga tak terjangkau. " Saya akui, saya orang kaya, saya tidak merasakan harga-harga tak terjangkau. Tapi, saya punya pegawai, sopir, sanak saudara di kampung, mereka mengeluhkan harga-harga yang mahal," kata bapak tiga anak ini.

Ia tak mau terlibat debat kusir soal angka kemiskinan. Prabowo menegaskan kekayaan Indonesia hanya dinikmati 1 persen orang sementara 99 persen sisanya hidup pas-pasan dan sulit. Sementara pemerintah Jokowi mengklaim kemiskinan di Indonesia sudah bisa ditekan sampai di bawah dua digit. "Itu main-main dengan statistik saja. Ada kategori miskin, hampir miskin, dan rentan miskin. Padahal ketiganya sulit dibedakan. Kalau digabung akan jauh lebih besar dari angka pemerintah."

Hashim sependapat. Kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia terjadi karena salah kebijakan. Ada kalangan _privileged few_ yang sengaja melestarikannya. Terhadap mereka Hashim tak segan berkata keras. "Praktik ini harus diakhiri".

Masalah kesehatan membuat Hashim prihatin. Dokter-dokter mengatakan banyak peralatan yang harusnya sekali pakai (disposable), tapi dipakai sampai empat kali di Indonesia. _''Believe it or not,_ sekarang ada yang dipakai sampai 40 kali," Hashim geleng-geleng kepala.

Kualitas pendidikan juga menjadi keprihatinannya. Kita kalah peringkat dari Vietnam, apalagi dari negara-negara maju.

Apakah Prabowo anti-Cina? "Itu isu lama dihembuskan lagi. Siapa yang bawa Ahok ke Jakarta? Prabowo".

Prabowo pelanggar HAM? "Setiap lima tahun sekali isu itu dimunculkan lagi. Kalau pelanggar berat HAM Prabowo tidak bisa bebas ke luar negeri. Mengapa pada 2009 saat menjadi Cawapres Ibu Mega tidak dipersoalkan? Bagaimana dengan Wiranto dan Hendropriyono?"

Tak hanya soal-soal serius yang dijawab Hashim. Soal-soal remeh-temeh pun ia layani. Soal pendamping Prabowo kalau jadi presiden Hashim menukas, "Sudah ada ibu pendamping." Siapa, pak? "Ibu Pertiwi...Hahaha..."

Bagaimana kalau jadi presiden jomblo? _"What's the problem?_ Duarte jomblo, Vladimir Putin, Francois Hollande, Junichiro Koizumi, dan Thomas Jefferson pada jomblo, tapi tidak ada masalah".

Yakin Prabowo menang? "InsyaAllah.." 

Apa yang dilakukan Prabowo kalau kalah? "Naik kuda..."(Oleh : Dhimam Abror Djuraid)

Foto : Djoko Tetuko

Oleh : Djoko Tetuko

PERKEMBANGAN  dan percepatan teknologi dengan memberikan berbagai fasilitas sangat memanjakan kepada hampir seluruh warga di dunia, maka demokrasi seakan-akan tanpa menggunakan teori baru atau kajian baru, semakin terkikis menuju demo crazy (demo gila).

Demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan atau organisasi yang dianggap baik, bahkan merupakan sistem paling diagung-agungkan. Ketika semua cara dihalalkan atau berbagai cara dilakukan, maka campur-aduk memaknai demokrasi sudah semakin kabur.

Bahkan tidak berlebihan menggambarkan tontonan demokrasi saat ini, sangat vulgar memamerkan demokrasi, namun praktik dalam melaksanakan seperti demo crazy (demo gila).

Mengapa demikian? Karena hampir semua jurus-jurus baru atau teori lama demokrasi, sudah dicampur-aduk menjadi, kegilaan-kegilaan yang didemokan atau dipamerkan, guna merebut kekuasaan, bahkan mempertahankan kekuasaan.

Lebih dahsyat lagi, melakukan demo crazy, hanya karena mempertahankan pendapat, sehingga semakin nyata bahwa pamer kegilaan hampir di semua penjuru dunia, berdampak pada penguatan ego kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama, sudah keluar dari rel ajaran kebenaran. 

Mengembalikan makna hakiki demokrasi, maka mencontoh keteladanan dan kepemimpinan Nabi Muhammad saw, sangat mendekati menuju kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama yang mendekati sempurna. Mengingat ajaran tertinggi sebagai rasul (utusan), ialah, ’’Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia’’. 

Mengingat dalam perkembangan sistem pemerintahan dan sistem organisasi dengan mengatasnamakan demokrasi, justru akhir-akhir ini hampir di semua negara, termasuk di Indonesia, lebih banyak dikuasai pemilik modal. 

Bahkan pesta demokrasi di Indonesia, bukan hanya pemodal raksasa nasional saja menentukan peta demokrasi dan arah demokrasi mau dibelokkan ke mana? Tetapi di beberapa daerah, ’’raja kecil’’ di Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur, Walikota dan Wakil Walikota, Bupati dan Wakil Bupati, juga di Pilkades, sudah bermain-main untuk memamerkan demo crazy. 

Oleh karena itu, tidak berlebihan menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 serentak, Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, DPRD Provinsi, serta DPRD Kab/Kota, maka permainan itu semakin nampak di permukaan.

Demokrasi           

Demokrasi secara etimologis demokrasi terdiri dari dua kata Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan cratein atau cratos yang berarti kekuasaan atau kedaulatan.

Demos-cratein atau demos-cratos (demokrasi) memiliki arti suatu sistem pemerintahan  dari, oleh, dan untuk rakyat. Menurut Hendry B. Mayo,  demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnnya kebebasan politik.

Bahkan, demokrasi dianggap paling populer diantara pengertian yang ada. Sebagaimana pengertian yang dikemukakanoleh Abraham Lincoln (1863) yang mengatakan, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the peolple).

Dan, C.F Strong menyatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dalam mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta  atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah  mempertanggung jawabkan tindakan-tindakan kepada mayoritas itu.

Demokrasi, dalam pengertian klasik, pertama kali muncul pada abad ke-5 SM tepa di Yunani. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi dilakukan secara langsung, dalam artian rakyat berkumpul pada suatu tempat tertentu dalam rangka membahas pelbagai permasalahan kenegaraan. 

Bentuk negara demokrasi klasik lahir dari pemikiran aliran yang dikenal berpandangan a tree partite classification of state yang membedakan bentuk negara atas tiga bentuk ideal yang dikenal sebagai bentuk negara kalsik-tradisional. Para penganut aliran ini adalah Plato, Aristoteles, Polybius dan

Thomas Aquino.

Plato dalam ajarannya menyatakan bahwa dalam bentuk demokrasi, kekuasaan berada di tangan rakyat, sehingga kepentingan umum (kepentingan rakyat) lebih diutamakan. Secara prinsipil, rakyat diberi kebebasan dan kemerdekaan. Akan tetapi kemudian rakyat kehilangan kendali, rakyat hanya ingin memerintah dirinya sendiri dan tidak mau lagi diatur, sehingga mengakibatkan keadaan menjadi kacau, yang disebut Anarki.

Aristoteles sendiri mendefiniskan demokrasi sebagai penyimpangan kepentingan orang-orang sebagai wakil rakyat terhadap kepentingan umum. Menurut Polybius, demokrasi dibentuk oleh perwalian kekuasaan dari rakyat.

Pada prinsipnya konsep demokrasi yang dikemukakan oleh Polybius mirip dengan konsep ajaran Plato. Sedangkan Thomas Aquino memahami demokrasi sebagai bentuk pemerintahan oleh seluruh rakyat dimana kepentingannya ditujukan untuk diri sendiri. 

Prinsip dasar demokrasi klasik adalah penduduk harus menikmati persamaan politik agar mereka bebas mengatur atau memimpin dan dipimpin secara bergiliran. Pericles, negarawan Athena yang berjasa mengembangkan demokrasi.

Prinsip-prinsip pokok demokrasi yang dikembangkannya adalah: (1) Kesetaraan warga negara; (2) Kemerdekaan; (3) Penghormatan terhadap hukum dan keadilan; (4) Kebajikan bersama.Hobbes menyatakan bahwa secara kodrati manusia itu sama satu dengan lainnya. Masing-masing mempunyai hasrat atau nafsu (appetite) dan keengganan (aversions), yang menggerakkan tindakan mereka. 

Appetite manusia adalah hasrat atau nafsu akan kekuasaan, akan kekayaan, akan pengetahuan, dan akan kehormatan. Sedangkan aversions manusia adalah keengganan untuk hidup sengsara dan mati. Hobbes menegaskan pula bahwa hasrat manusia itu tidaklah terbatas. Untuk memenuhi hasrat atau nafsu yang tidak terbatas itu, manusia mempunyai power.

Oleh karena setiap manusia berusaha untuk memenuhi hasrat dan keengganannya, dengan menggunakan power-nya masing-masing, maka yang terjadi adalah benturan power antarsesama manusia, yang meningkatkan keengganan untuk mati. 

Dengan demikian Hobbes menyatakan bahwa dalam kondisi alamiah, terdapat perjuangan untuk power dari manusia atas manusia yang lain. Dalam kondisi alamiah seperti itu manusia menjadi tidak aman dan ancaman kematian menjadi semakin mencekam. 

Karena kondisi alamiah tidak aman, maka dengan akalnya manusia berusaha menghindari kondisi perang satu dengan lainnya itu dengan menciptakan kondisi artifisial (buatan). Dengan penciptaan ini manusia tidak lagi dalam kondisi alamiah, tetapi sudah memasuki kondisi sipil. 

Gelar ’’Al-Amin’’

Satu perubahan dunia paling menakjubkan ialah ketika Islam sebagai ajaran Nabi Muhammad saw, telah melakukan sentuhan-sentuhan perubahan dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits), tentu saja tidak hanya menyampaikan firman Allah, tetapi pernyataan dan tindakan (perbuatan) sebagai pemimpin mampu menjembatani, hampir semua kepentingan rakyat.

Salah satu kecerdasan rasul Muhammad ketika mendapat gelar Al-Amin, dimana mampu menyatukan pertikaian dan kesombongan kaum Quraisy waktu itu, dengan mememangkan sayembara, lebih dahulu masuk dan berada di dekat ka’bah.

Ketika mendapat hak untuk meletakkan batu hajar aswad di ka’bah, maka teladan sebagai pemimpin umat se dunia, dengan lemah lembut menyatakann bahwa yang berhak meletakkan adalah seluruh tokoh di Makkah dengan berbagai ketokohan maupun kemasyhurannya, sehingga para tokoh dibuat takjub atas keputusan sangat bijaksana tersebut, sekaligus dalam waktu sekejab menyelesaikan pertikaian antar-suku maupun antar-tokoh, menjadi kebersamaan, meletakkan bagian terpenting dari kiblat umat Islam seluruh dunia.  

Gelar “Al-Amin” bagi Muhammad SAW disandangkan oleh penduduk Mekkah karena dikenalnya Muhammad SAW sebagai seorang laki-laki yang penuh amanat dan kejujuran. Dan karena fakta ini, amanat dan jujur, saja yang menarik hati seorang Khadijah yang kemudian berharap dapat menikahinya, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat beliau dipekerjakan di usaha dagang yang digelutinya..

Tak sedikit penduduk Mekkah yang ketika hendak meninggalkan rumahnya mereka menitipkan barang-barang berharganya pada Muhammad SAW. Banyaknya penduduk yang mengenali Muhammad SAW sebagai orang yang dapat dipercaya penuh, maka tak heran jika mereka pernah menjadikan Muhammad SAW sebagai hakim atau pemutus masalah ketika mereka bertengkar soal kelompok yang berhak meletakkan Hajar Aswad saat bangunan Ka’bah direnovasi. Muhammad SAW-lah yang akhirnya dipercaya sebagai penengah hingga batu hitam tersebut dapat dikembalikan olehnya.

Salah satu karya sangat spektakuler ketia Nabi Muhammad berhasil mewujudkan ’’Perjanjian Hudaibiyah’’ dan ’’Piagam Madinah’’. Dimana pada perjanjian Hudaibiyah sebagaimana pada tahun 628 M, sekitar 1400 Muslim berangkat ke Makkah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Mereka mempersiapkan hewan kurban untuk dipersembahkan kepada Allah SWT. Namun karena saat itu kaum Quraisy di Makkah sangat anti terhadap kaum Muslim Madinah (terkait kekalahan dalam perang Khandaq), maka Makkah tertutup untuk kaum Muslim. Quraisy, walaupun begitu, menyiagakan pasukannya untuk menahan Muslim agar tidak masuk ke Makkah. 

Pada waktu ini, bangsa Arab benar benar bersiaga terhadap kekuatan militer Islam yang sedang berkembang. Nabi Muhammad mencoba agar tidak terjadi pertumpahan darah di Makkah, karena Makkah adalah tempat suci. Akhirnya kaum Muslim menyetujui langkah Nabi Muhammad, bahwa jalur diplomasi lebih baik daripada berperang. Kejadian ini diabadikan dalam Alquran sebagai berikut. 

Piagam Madinah (shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622.

Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani 'Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut ummah.

Pers dan Demokrasi

Teori kebebasan pers setelah Perang Dunia II berakhir, kemudian memeasuki perang dingin antara Barat dan Timur. Para tokoh pers mengembangkan teori Fred S Sibert, TheodorePeterson, danWilburSchrammtampil dengan4 (empat) model kajian pers, Kemudian lebih populer dikenal dengan empaty teori kemerdekaan pers.

Keempatteoritersebut antaa yaitu,teoriauthoritarian, teori  libertarian, teoriakhbartanggungjawab sosial(social responsibility), dan teoriakhbarkomunissoviet.Teori-teori pers telah dibangun oleh Siebert, el al (1986), masih menjadisumber utamadan titikrujukanbagi kerja-kerja seperti ini. Selain empat teori itu, McQuail menyebut dua teori lain, yaitu  teori media pembangunan dan teori penyertaan demokratik media.

Dalam teori Trias Politica atau teori mengenai pemisahan kekuasaan, di latar belakangi pemikiran bahwa kekuasaan-kekuasaan pada sebuah pemerintahan yang berdaulat tidak dapat diserahkan kepada orang yang sama dan harus dipisahkan menjadi dua atau lebih kesatuan kuat yang bebas untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian diharapkan hak-hak asasi warga negara dapat lebih terjamin.

Dalam bukunya yang berjudul L’esprit des Louis Montesquieu membagi kekuatan negara menjadi tiga kekuasaan agar kekuasaan dalam negara tidak terpusat pada tangan seorang raja penguasa tunggal, yaitu (1) Legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang; (2)Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang; (3) Judikatif,  yaitu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan undang-undang (mengadili).

Ide pemisahan kekuasaan tersebut, menurut Montesquieu dimaksudkan untuk memelihara kebebasan politik, yang tidak akan terwujud kecuali bila terdapat keamanan masyarakat dalam negeri. Montesquieu menekankan bahwa satu orang atau lembaga akan cenderung untuk mendominasi kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat tersebut bila kekuasaan terpusat padanya. 

Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa agar pemusatan kekuasaan tidak terjadi, haruslah ada pemisahan kekuasaan yang akan mencegah adanya dominasi satu kekuasaan terhadap kekuasaan lainnya 

Pers yang disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi, sebagai penguatan atas Teori Trias Politica, dengan berbagai teori di atas seakan-akan menjadi gerbong kekuaran baru, sekaligus dengan lokomotif baru untuk menyempurnakan praktik demokrasi.

Namun, di ketika jaman dimana demokrasi sudah menjadi kekuasaan pemodal, maka seakan-akan pers dan demokrasi hanya sebuah teori belaka. Sistem pemerintahan dan sistem organisasi seluruh dunia, termasuk di Indonesia, hanya tinggal bayang-bayang kekuasaan. Semua sistem akan berubah setiap saat tergantung dari pemimpin yang berkuasa, di semua tingkatan.

Ketidakberdayaan pers sesungguhnya sudah dapat dibaca, mengingat hampir seluruh teori pers sesungguhnya menjiplakan dari sistem atau model demokrasi yang berkembang di dunia saat itu. Dimana pers komunis lahir karena adanya Demokrasi Komunis (Marxisme-Leninisme).

Demokrasi komunis adalah demokrasi yang sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata. Demokrasi komunis muncul karena adanya komunisme.

Komunisme atau Marxisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis diseluruh dunia, sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.

Demokrasi Barat (Liberal-Kapitalis), muncul teori pers Libertarian.. Demokrasi liberal lebih menekankan pada pengakuan terhadap hak-hak warga negara, baik sebagai individu ataupun masyarakat.

Dan karenanya lebih bertujuan menjaga tingkat represetansi warga negara dan melindunginya dari tindakan kelompok atau negara lain. Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas (dari proses perwakilan atau langsung) diberlakukan pada sebagian besar bidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi.

Ciri-ciri demokrasi liberal sebagai berikut. (1) Kontrol terhadap negara, alokasi sumber daya alam dan manusia dapat terkontrol; (2) Kekuasaan eksekutif dibatasi secara konstitusional; (3) Kelompok minoritas (agama, etnis) boleh berjuang untuk memperjuangkan dirinya.

Demikian juga teori pers Authoritarian, Tanggung Jawab Sosial, dan teori lainnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, hanya sekedar teori untuk menguatkan kekuasaan ketika pemimpin atau penguasa pemerintahan ketika itu, menghendaki model demokrasi sebagaimana dikehendaki. 

Oleh karena itu, menyatakan proses memilih pemimpin merupakan sebuah proses demokrasi masih perlu pemikiran lebih jernih dan lebih cerdas lagi.

Sebab, dimana kepentingan pemodal sudah mengarahkan bidikan untuk memilih pemimpin untuk mengawal, mengamankan, dan menyamankan dunia usaha, serta dunia-dunia lain sebagai permainan mengkokohkan ‘\’’kekuasaan’’, maka demo grazy, akan dilakukan dengan segala cara, juga dengan berbagai cara, bahkan lebih santun melakukan banyak cara.

Itulah sesungguh, ketika jaman sudah berubah, maka demokrasi tidak bedanya hanya seperti menyaksikan demo crazy. (*)

 

 

 

 

 

Pemeimpin Redaksi Transparansin Djoko Retuko Abdullatif

Oleh : Djoko Tetuko

Pemimpin Redaksi Transparansi

PADA tanggal 9 Desember nanti, seluruh umat manusia se dunia, akan memperingati Hari Anti Korupsi, sangat menarik diperingati seluruh dunia karena korupsi memang menghancurkan tatanan kehidupan di masyarakat, bahkan tidak berlebihan menjadikan para koruptor dari kalangan pejabat negara maupun komunitas lain, bahkan tokoh masyarakat maupun tokoh agama, bisa menjadi ’’Tuhan Baru’’ gara-gara terpeleset gelimang harta benda.

Mereka (para koruptor) dengan kekuasaan dan kewenangan, tidak menjalankan amanat sebagaimana mestinya, dengan rendah diri dan rendah hati, memperjuangkan masyarakat menuju tatanan kehidupan yang sejahtera dan makmur. Namun sudah mengatur semua perilakunya untuk berkhianat serta jauh dari pengabdian.

Mengapa koruptor sebagai ’’Tuhan Baru’’? Tidak berlebihan menyatakan bahwa koruptor adalah sebagai ’’Tuhan Baru’’, mengingat dengan kekuasaan dan kewenangan yang mereka milik, mengatur sesuatu yang ditugaskan dan diamanatkan, guna menjaga keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran umat manusia, justru diselewengkan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Menumpuk kekayaan, dan memperbudak diri dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta benda. Hanya untuk menguatkan kekuasaan dan jati diri sebagai pengatur segala urusan.

Padahal, hidup dan kehidupan manusia di muka bumi ini, sesungguhnya adalah amanat dari Allah SWT, untuk menjalankan dengan sungguh-sungguh, dan penuh dengan  amanat. Merasa dan menyatakan dapat mengatur segala urusan dunia dengan menumpuk harta kekayaan, apalagi dari hasil korupsi, menyelewengkan uang negara dan memakan hak rakyat, maka itu sudah merupakan jelmaan diri sang koruptor seakan-akan sebagai ’’Tuhan Baru’’.

Sebab merasa dengan kekayaannya itu dapat mengatur semua urusan duniawi. Padahal, Allah SWT berfirman, ’’Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan’’ (Surat Ali Imran, ayat 109).

Oleh karena itu, ketika koruptor sudah tutup mata, tutup telinga, tutup hati, tutup keilmuan tentang kebenaran dan kesalahan, yang hak dan yang batil, maka secara tidak langsung sudah menyatakan bahwa semua urusan dunia, semua keberhasilan, semua kesuksesan, terutama dalam hal penyimpangan sampai melakukan korupsi, maka ketika semua itulah seakan-akan karena dirinya, ketika itu pulalh sudah terpeleset syirik terhadap berbagai urusan yang diakui sebagai kesuksesan atas kemampuan dirinya. Inilah sebuah penguatan bahwa koruptor adalah penjelmaan ’’Tuhan Baru’’. Karena syirik dengan kekuasaannya, syirik dengan harta benda atau kekayaan, apalagi melalui hasil korupsi (yang sudah menumpuk-numpuk dosa), juga syirik dengan kewenangan mengatur berbagai urusan. 

Allah Ta’ala berfirman, ’’Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’’ (Al-Kahfi : 110).

Peringatan Allah SWT dalam surat Al Kahfi di atas mempertegas bahwa bekerja adalah ibadah, hidup dan kehiduapan sebagai apa saja adalah pengabdian, maka mempersekutukan seorangpun dalam beribadah atau dalam mengabdi dilarang, apalagi para koruptor dengan menghalalkan segala cara, dengan uang hasil korupsi, seakan-akan mengatur semua kehidupan melalui kekuassan dirinya. Perbuatan itu, sama saja dengan menjadikan dirinya, ’’Tuhan Baru’’, sesembahan baru untuk dirinya, Padahal, Allah SWT dalam surat Adz Dzariyat 56 jelas mengingatkan, ’’Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” 

Kembali Jalankan Amanat

Ketika menyaksikan dialog antartokoh umat beragama di salah satu stasiun televisi di Surabaya, dengan membahas masalah merayakan perbedaan beragama, secara garis besar mereka menyindir kondsi riil di Indonesia, bahwa sebagai negara dengan umat beragama, bahkan umat Islam terbanyak. Tetapi masih belum mampu menjalankan perintah agama, dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam kehidupan bernegara.

Refleksi dalam memperingati Hari Anti Korupsi se dunia, bahwa di Indonesia dalam catatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada tahun 2018 telah menciptakan rekor Kepala Daerah (Gububernur, Bupati, Walikota) dan anggota DPR dan DPRD, tertangkap melakukan tindak pidana korupsi, maka semakin menguatkan bahwa para pejabat dan penguasa di daerah-daerah, rela menanggalkan baju kebesaran sebagai pemimpin untuk membela dan memperjuangkan kebenaran serta keadilan, menjadi pemimpin yang berkuasa dan berwenang walau harus melanggar aturan, walau harus melakukan penyelewengan, walau harus melakukan penyimpangan.

Para pemimpin yang tertangkap maupun yang tidak tertangkap KPK, dalam melakukan korupsi karena kekuasaan dan kewenangannya, merupakan upaya untuk menjadikan dirinya ’’Tuhan Baru’’. Sekaligus mengingatkan bahwa perbuatan yang sudah melakukan sikap dan perilaku bisa mengatur dan memutusakan semuanya. Juga mengakui bahwa tindakan itu karena kekuasaannya dan kewenangannya, bukan menjalankan kekuasaan dan kewenangan atas amanat dari Allah SWT, sebagaimana diatur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maupun amanat melalui kepercayaan dari umat, merupakan jalan yang bengkok, jalan ke arah syirik. 

Koruptor sebagai ’’Tuhan Baru’’, dengan memperkuat kekuasaan dan kewenangan, dengan menumpuk-numpuk harta kekayaan, merupakan perbuatan syirik atas dirinya, dan itu sangatlah merugikan untuk kehidupan di akherat kelak, kehidupan setelah wafat, yang pasti jauh lebih nyata daripada sekedar kehidupan di dunia yang hanya mampir sementara. Allah menggambarkan dalam surat Al-Imran sebagai contoh bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin dan juga wajib diikuti pemimpin di komunitas apa pun, apalagi memimpin negara atau pemerintahan.

’’Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya’’. ( Ali-‘Imran : 161).

Bahkan mempertegas larangan pemimpin melakukan penyelewengan dan penyimpangan karena memggunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk mengambil hak orang lain, mengambil hak negara dan bangsa, dalam hal melakukan korupsi. Rasulullah SAW pernah bersabda: ’’Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara dhalim, maka Allah akan mengalungkan di lehernya pada Hari Kiamat nanti dengan setebal tujuh lapis bumi’’. (HR Al-Bukhari dan Muslim) Pada hadits lain, ’

’Barangsiapa di antaramu kami minta mengerjakan sesuatu untuk kami, kemudian ia menyembunyikan satu alat jahit (jarum) atau lebih dari itu, maka perbuatan itu ghulul (korupsi) harus dipertanggung jawabkan nanti pada Hari Kiamat’’. (HR. Muslim).

Ancaman neraka dengan berbagai model siksaan terhadap seseorang apalagi pemimpin, yang dengan berani melakukan korupsi dan menghalalkan segala cara, sekaligus hanya karena ingin memguatkan kekuasaannya dan kewenangan, seakan-akan berkuasa dan berwenang seperti seorang Tuhan, maka semua jabatan sang pemimpin, sesungguhnya hanya kerugian semata, sehingga semua persoalan keduniaan justru menjebloskan pemimpin sengsara di dunia dan terancam sengsara di akherat. Maka jauh lebih elok jika kembali ke jalan Allah SWT, kembali menjalankan amanat sesuai dengan harapan umat dan harapan jagad raya.

Parabadan Baru Keterbukaan Informasi 

Dalam berbagai kesempatan dan berbagai tulisan, selalu menyampaikan bahwa ketika pemerintah menerbitkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, maka ketika itu pulalah, sebuah peradabatan baru sesungguhnya dimulai. Sebuah upaya menyelamatkan memimpin bangsa sampai pemimpin rumah tangga serta pemimpin dirinya sendiri atau pemimpin atas jiwa dan jasadnya sendiri, telah datang. Perubahan sekaligus peradaban baru itu bernama Keterbukaan Informasi Publik.

Dalam  pasal 3 UU KIP ditegaskan bahwa undang-undang ini bertujuan untuk: a) Menjamin hak warga negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan kebijakan publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik; b) Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan publik; c) Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik; d) Mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik yaitu, yang transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; e) Mengetahui alasan kebijakan publik yang memengaruhi hajat hidup orang banyak; f) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan hajat hidup orang banyak; g) Meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan Publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas. 

Intisari dari tujuan UU KIP dalam Keterbukaan Informsi Publik sudah jelas bahwa menjamin sekurang-kurang 3 (tiga) hal pokok; Pertama, semua kebijakan publik menjadi hak masyarakat untuk mengetahui, kemudian mempunyai hak berpartisipasi aktif dalam proses penmgambilkan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik.

Kedua, semua penyelenggara negara atau penyelanggara organisasi nonpemerintah, yang menggunakan uang publik, wajib menyanpaikan secara transparan, efektif dan efisien, akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; Ketiga, ada kewajiban yang mempunyai program dan anggaran itu mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberi pelayanan informasi yang baik dan berkualitas, terutama terkait hajat hidup orang banyak harus disampaikan secara terang benderang.

Mengapa Keterbukaan Informasi Publik sebuah peradaban baru di dunia modern, apalagi memasuki jaman now, jaman 4.0? Mengingat pada saat perkembangan teknologi dengan menyajikan berbagai media sangat spektakuler, memanjakan siapa saja untuk menuangkan berbagai karya tulis maupun karya-karya yang lain, melalui media berbasis teknologi dengan jaringan internet, justru para pemimpin, para pemegang amanat rakyat dan umat, para penguasa, lebih memilih menyelewengkan jabatan dan menyimpang dalam menggunakan kekuasaan dan kewenangannya. Mareka memilih tidak mempublikasikan informasi publik sebagai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Sikap dan perilaku yang bertentangan dengan UU KIP inilah, menjadi sebab musabab banyak pemimpin keblinger masuk jurang kenistaan, terpeleset sebagai koruptor, disebab iming-iming menjadi ’’Tuhan Baru’’,  yang seakan-akan dengan harta kekayaan hasil korupsi, akan mengekalkan kekuasaan itu, bahkan akan menjadi kekuatan atas kewenangan dalam banyak hal.

Padahal, menentang atau berlawanan dengan menutup informasi, itulah awal menjadikan kuburan dan neraka baru. Oleh karena itu, menyampaikan publikasi kepada masyarakat luas, semua program dan pengeluaran keuangan, merupakan jalan terbaik untuk menjauhkan diri dari perbuatan penyimpangan yang memudahkan melakukan penyelewengan.

Sekedar mengingatkan, pencegahan dan pemberantasan korupsi dengan berbagai slogan, sepanjang seorang atau pemimpin masih mimpi menjadi ’’Tuhan Baru’’, maka akan mendapatkan perlawnan dengan sikap maupun perilaku lebih konyol dan sangat tidak beradab.  Refleksi dari Hari Anti Koruosi se dunia, sekedar mencontoh negara-negara maju atau berkembang, yang sudah menganggap bahwa tanggung jawab keberhasihan, tanggung jawab keuangan, tanggung jawab hidup dan mati, tanggung jawab menjaga negara dan bangsa, juga tanggung jawab mensejahterakan sesama manusia, adalah sudah membudaya dan melekat patut menjadi contoh dan teladan.

Sekedar sebagai sebuah refleksi di Hari Anti Korupsi se dunia, melakukan sikap dan perilaku berbuat baik dan baik (dalam bahasa Al-Quran amal sholeh), adalah hakiki atau intisari dari ibadah sesungguhnya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. InsyaAllah dengan penguatan ibadah akan menjadikan hidup dan kehidupan sebagaimana mestinya, semua akan memperoleh hak sesuai dengan kebutuhannya, dan akan mampu berbuat sabar karena sudah menjadi penganut agama yang mampu menjaga ibadah dengan berbuat nyata secara sah atau benar.  ’’Siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki” (Surah Al-Mulk, ayat 21).

’’Dan kepunyaan Allah kepemilikan segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan’’. (Surat Ali Imran, ayat 109).

 

H. Dhimam Abror Djuraid

All animals are equal, but some animals are more equal than others (Animal Farm, George Orwell)

Oleh : H. Dhimam Abror Djuraid

 SALAH satu ikon kota Surabaya adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Ada yang menyebutnya Bonbin (“kebon” binatang), atau, dulu di masa saya kanak-kanak, kami menyebutnya “Drenten”.

Sekarang KBS sudah redup karena salah urus, atau bahkan sebentar lagi akan tutup. Tapi, “legacy” KBS akan tetap dikenang oleh masyarakat Surabaya.

KBS menjadi ikon tak terpisahkan bagi Surabaya, dan bahkan sudah menjadi bagian dari leksikon budaya Surabaya.

Orang yang kesal akan menuangkan kekesalannya dengan menyebut “semua anggota kebun binatang” mulai dari babi, monyet, anjing, dan kawan-kawannya.

Lalu, jika ada seorang pemimpin sebuah organisasi dimana di dalamnya berbagai jenis manusia campur baur– mulai ustad sampai preman– maka sang ketua disebut ibarat memimpin kebun binatang. Di dalamnya lengkap ada berbagai karakter, mulai dari karakter monyet, buaya, biawak, babi, celeng, kerbau, ular, keledai, dan seterusnya.

Seorang pemimpin yang baik harus mampu mengelola semua karakter yang ada di kebun binatang itu, sehingga bisa memaksimalkan potensi mereka dan mengeliminasi, atau paling tidak meminimalisasi, potensi destruktifnya.

Kalau ditarik ke skala yang lebih besar maka tamsil ini berlaku bagi pemimpin di negeri kita ini dalam kondisi sekarang. Pemimpin nasional sekarang ibarat memimpin kebun binatang, harus pintar memainkan irama kapan si monyet harus tampil dan kapan monyet harus minggir. Begitu juga dengan binatang-binatang lainnya, mereka harus ditampilkan pada momentum yang tepat sehingga potensi mereka bisa dimaksimalkan.

Orkestrasi harmonis seperti ini membutuhkan seorang dirijen yang andal, memahami musik orkestra, dan paham karakter-karakter masing-masing binatang.

Bukan sebuah kebetulan bahwa sekarang ini lanskap politik Indonesia diwarnai dengan terminologi kebun binatang, mulai dari dikotomi kampret dan cebong sampai yang paling mutakhir soal “asu”.

Ini mengingatkan kita pada sastrawan George Orwell yang memperkenalkan novel alegoris “Animal Farm” (secara harfiah artinya kebun binatang) yang menceritakan duet penguasa babi bernama Napoleon dan Snowball (bola salju) yang berhasil menguasai republik kebun binatang dengan menyingkirkan pasangan pemilik Tuan dan Nyonya Jones.

Duet penguasa babi itu kemudian membuat sejumlah kebijakan yang dimaksudkan untuk menyejahterakan warga kebun binatang. Yang pertama dilakukan adalah mengumumkan program nasional “Sapta Cita” berisi tujuh program untuk menyejahterakan warga kebun binatang.

Program nomor satu yang menjadi inti dari duet rezim babi itu adalah kesetaraan bagi seluruh warga kebun binatang.

Pasal satu dari Sapta Cita berbunyi “All animals are equal” (semua warga kebun binatang adalah setara). Semua warga kebun binatang punya hak dan kewajiban yang setara, keadilan yang setara, dan kesejahteraan yang setara.

Setelah kesetaraan, program unggulan duet babi ini adalah pembangunan infrastruktur salah satunya adalah pembangunan kincir angin yang menjadi proyek mercusuar duet babi Napoleon dan Si Bola Salju.

Kincir angin berhasil dibangun dan masyarakat kebun binatang berangsur makmur. Tapi, sayangnya, yang terjadi kemudian adalah munculnya kelompok baru yang jauh lebih makmur dibanding kelompok lainnya.

Napoleon dan Bola Salju dikritik keras karena kesenjangan ini tidak sesuai dengan pasal pertama Sapta Cita. Napoleon dan Bola Salju tak kehilangan akal. Alih-alih mengatasi kesenjangan dia malah menambahi pasal pertama Sapta Cita menjadi “All animals are equal, but some animals are more equal than others” (semua binatang setara, tapi sebagian lebih tinggi kesetaraannya dibanding lainnya). Akal-akalan seperti ini menimbulkan pemberontakan internal sampai akhirnya Napoleon dan Bola Salju terdepak dari kekuasaannya.

Novel ini menjadi salah satu dari 30 novel terbaik dunia sepanjang masa. Orwell menulisnya sebagai kritik atas kemunculan pemerintah otoriter di bawah diktator komunis Stalin di Rusia. Orwell melihat gejala-gejala Stalinisme dan komunisme Rusia akan menjadi diktator baru dunia yang menghancurkan harkat kemanusiaan.

Sungguh sebuah kebetulan sejarah yang unik bahwa novel Animal Farm terbit pertama persis bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tujuh puluh tahun lebih setelah itu, peringatan Orwell akan bahaya otoritarianisme komunisme rasanya masih tetap relevan sampai sekarang.

* * * *

Lanskap politik kita sekarang ini mengingatkan kita pada kebun binatang Orwell. Dikotomi kampret dan cebong sampai sebutan “asu” mewarnai lanskap politik kita.

Secara aleoris bisa disebutkan bahwa pemimpin nasional kita sekarang ini sedang memimpin republik kebun binatang karena beragamnya karakter manusia yang ada di dalamnya.

Memimpin republik kebun binatang membutuhkan kearifan, ketenangan, sekaligus ketegasan, sehingga tahu persis bagaimana memperlakukan para warga kebun binatang itu.

Karena kurang tenang menghadapi kritik muncullah ucapan sontoloyo. Karena kurang tenang menghadapi kritik maka muncul sebutan politisi gendruwo.

Andai saluran kritik melalui media konvensional tidak disumbat maka media akan bisa memainkan fungsi kontrol sosial dengan baik. Media konvensional akan menjadi “early warning system” sistem peringatan dini untuk mengingatkan pemimpin bahwa kebijakan yang diambilnya salah. Tapi, karena media konvensional tidak kritis lagi maka pemimpin nasional kaget ketika oposisi mengritik keras kebijakannya. Maka keluarlah umpatan sontoloyo.

Setelah itu muncul gendruwo. Kadang orang tak sadar akan fenomena freudian dalam dirinya. Apa yang diucapkan adalah endapan alam bawah sadarnya. Ketika Anda menyebut gendruwo maka itu adalah ungkapan dari alam bawah sadar Anda bahwa sedang ada gendruwo di sekitar kita.

Siapa yang mengingatkan kita akan fenomena gendruwo dalam politik? Betul. Karl Marx. Ia membuka kalimat dalam Manifesto Komunis dengan menyebut gendruwo sedang menghantui Eropa “a spectre is haunting Europe, specter of communism” (gendruwo sedang mengintai Eropa, gendruwo komunisme”. (Penulis adalah wartawan senior, doktor ilmu komunikasi)

 Lailatul Amanah, Dra, M.Si, Ak, CA

Oleh : Lailatul Amanah, Dra, M.Si, Ak, CA

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIESIA) Surabaya

Altruisme adalah tindakan yang dilakukan untuk orang lain tanpa memandang keuntungan untuk dirinya sediri. Myers, 1996 mengatakan bahwa altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. 

Perilaku altruistik didorong adanya kondisi lingkungan yang mendorong seseorang melakukan tindakan untuk orang lain tanpa pamrih. 

Menurut Auguste Comte sebagaimana disitir Mustofa menyatakan bahwa setiap individu memiliki kehendak moral untuk melayani kepentingan orang lain atau melakukan kebaikan kemanusiaan tertinggi Greater good of humanity). 

Dalam islam sikap altruis ini telah diajarkan Nabi Muhammad S.A.W dimana Nabi Muhammad mempersaudarakan sahabat Muhajirin (Orang-orang yang berhijrah) dan sahabat Anshor (orang-orang yang menolong), pada saat peristiwa hijrah. 

Penduduk Madinah yang merupakan sahabat Anshor dengan sukarela memberikan hartanya kepada sahabat muhajirin bahkan sampai ada yang menawarkan istrinya untuk decereikan dan diberikan kepada saudaranya kaum Muhajirin. 

Begitu indahnya persahabatan kedua kaum itu sebagaimana Allah S.W.T  menggambarkan dalam Surat Al Hasyir, 9 yang artinya “Dan orang-orang (Anshor) yang menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin mereka mencintai orang-orang yang hijrah ke tempat mereka. 

Dan dia tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin), dan mereka mengutamakan saudaranya (kaum Muhajirin) atas dirinya sendiri meskipun mereka juga membutuhkan. Dan siapa yang dijaga Allah dari kekikiran maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Suatu cerita yang menarik yang menggambarkan bagaimana sifat altruisme yang dimiliki para sahabat Nabi, sebagaimana ditulis oleh Ibnu Jarir dalam tafsir At-Thabary “Suatu ketika Rosululllah kedatangan seorang tamu dan di rumah Rosulullah sedang tidak tersedia makanan untuk menjamu, lalu Rosul bertanya kepada para sahabat “Siapakah kiranya yang sudi menjamu tamuku ini?, kemudian ada sahabat dari kalangan Anshor yaitu Abi Thalhah menyatakan kesediaannya, lalu Abi Thalhah mengajak tamu Rosulullah ke rumahnya padahal waktu itu juga tidak memiliki persediaan makanan yang cukup, yang ada hanya persediaan makan untuk anak-anaknya. 

Untuk mensisiatinya , Thalhah memerintahkan kepada istrinya untuk mengajak anaknya untuk bermain-main dan ketika mereka minta makan malam, maka mereka diajak tidur. 

Ketika tamu tadi  masuk ruang  makan, Thalhah memerintahkan isterinya untuk mematikan lampunya agar sang tamu tidak melihat kalau sebenarnya makanan yag tersedia hanya untuk sang tamu tadi, Thalhah dan isterinya menyertainya diruang tamu, seolah-olah sedang ikut makan. Mereka  duduk bersama, sementara tamu sedang makan. 

Setelah itu mereka tidur  dalam keadaan menahan lapar. 

Ketika pagi datang Thalhah dan isterinya menemui Rasulullah, kemudian Beliau memberitahukan pujian Allah SWT, kepada mereka.” Sungguh Allah kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian)” (HR. Muttafaq alaih). Kisah diatas merupakan sikap altruis yang dicontohkan oleh sebagian sahabat Rusulullah.  

Profesi dan Altruisme

Profesi adalah suatu aktifitas kerja yang dibingkai dalam oleh tiga 3 hal, yaitu kompetensi, altruime, dan otonomi. 

Seorang profesional harus memiliki kompetensi yang tinggi di bidangnya, dan senantiasa mengasah kompetensinya terus menerus. Seorang profesional juga harus memiliki sikap otonomi, artinya tindakan dan keputusannya bukan hasil intervensi pihak lain melainkan berasal dari niat dirinya sendiri, dan yang tidak kalah pentingnya seorang profesional harus memiliki sifat altruime, alangkah mengerikan jika seorang dokter tidak memiliki sifat altruisme, ada orang miskin dengan sakit parah ingin mendapatkan pertolongannya harus ditolak karena dia tidak membawa uang yang cukup untuk berobat. 

Apalah jadinya jika seorang pengacara tidak memiliki sifat altruisme, ada orang miskin yang minta tolong kepadanya atas kedholiman yang dirasakan tapi ditolak hanya karena mereka tidak memiliki uang untuk imbalan jasanya. 

Alangkah mengerikan jika seorang perawat memberikan perlakuan yang berbeda antara yang kaya dan yang miskin. Yang kaya diberikan perlakuan dengan menunjukkan segala rasa hormat dan empatinya, sedangkan mereka yang miskin diperlakukan dengan tidak hormat dan kasar.

 Sikap altruisme bagi profesi mutlak harus dimiliki, sikap empati kepada pihak lain, rela berkorban, perlakuan yang sama kepada setiap orang yang membutuhkan jasanya yang tidak memandang suku, agama, ras, dan warna kulit. 

Dengan sifat altruis seorang profesional siap memberi pelayanan nilai-nilai kemanusiaan, yaitu nilai-nilai yang melekat pada seorang indvidu sebagai mahluk Tuhan, yaitu hak hidup, hak untuk dijauhkan dari rasa takut, dijauhkan dari kekerasan, dan perlakuan yang merendahkan harkat dan 

Sifat altruisme muncul pada diri seseorang jika dia memiliki pemahaman terhadap agamnya yang cukup, karena agama senantiasa mendorong seseorang untuk selalu empati, menolong orang lain yang membutuhkan, dan berkorban untuk kepentingan orang lain dengan ihlas tanpa berharap balasan apapun, berharap balasan hanya dari Allah S.W.T. 

Al Qur’an senantiasa meganjurkan ummat islam memiliki sifat altruisme seperti di termuat dalam surat Al Baqarah: 265,267 yang artinya: 

“Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridla Allah dan memperteguh jiwa mereka seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat, jika hujan tidak menyiraminya, maka embunpun memadai,  dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Al Baqarah, 265). “Wahai orang-orang yang beriman infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian apa yang kamu keluarkan dari bumi untukmu, janganlah kamu memilih yang buruk-buruk untuk kamu infakkan sedangkan kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan), dan ketahuilah bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji.

Altruime Pada Profesi Akuntan

Ciri Altruisme adalah mendahulukan kepentingan orang di atas kepentingan pribadi. Seorang akuntan memberikan jasa profesionalnya dengan mendapatkan fee audit dari manajer, tidak berarti dia bekerja untuk kepentingan manajemen, tetapi dia harus menyadari bahwa dia bekerja untuk kepentingan publik, masyarakat yang membutuhkan informasi laporan keuangan yang jujur dan andal.

Bekerja dengan sikap profesionalisme yang tinggi, menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam setiap kegiatannya. Seorang akuntan tidak akan mengejar keuntungan (Fee Audit) dengan cara bekerja di bawah standar. 

Bekerja dengan mengedapankan moral judgment lebih diutamakan, karena betapa banyak kasus yang terjadi dalam profesi akuntan bukan karena mereka tidak memiliki skill yang cukup untuk melakukan audit, tetapi karena mereka melakukan pelanggaran terhadap kode etik, lihatlah kasus yang terjadi pada Enron, dimana perusahaan harus dinyatakan bangkrut karena perusahaan dikelola dengan tata kelola yang buruk dan siapa akuntan yang dibalik Enron yaitu Arthur Andeson, seorang Akuntan besar yang tergabung dalam The Big Five (5 KAP Besar di US). 

Arthur Anderson memiliki pengalaman yang sangat lama sebagai seorang akuntan, dia sebagai co-founder KAP mulai tahun 1913, perusahaan ini juga menginvestasikan dalam jumlah yang cukup tinggi untuk program training dan juga fasilitasnya, namu kenyataannya Arthur Anderson harus kesandung dalam kasus kecurangan laporan keuangan di perusanaan Enron.

Dengan mengambil pelajaran pada kasus yang menimpa KAP Arthur Anderson kita bisa mengambil hikmah bahwa bekerja dengan mengedepankan nilai-nilai moral yang tinggi lebih penting dari pada hanya peningkatan kompetensi (skill audit), memberikan kesadaran bahwa auditor bekerja untuk kepentingan publik dan opini auditor yang didasarkan pada nilai-nilai obyektivitas dan intergritas sangat ditunggu oleh publik untuk pembuatan keputusan. 

Seorang akuntan tidak akan melakuan tindakan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan (fee audit) dengan mengorbakan kepentingan publik, itulah makna altruisme bagi profesi akuntan publik.

 

H Djoko Tetuko

Oleh : Djoko Tetuko

Ketika negara, pemerintah, rakyat jelata berjingkrak-jingkrak ria, bergembira merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-73, rasanya di antara sanjungan kepada pahlawan sudah mulai tenggelam dimakan jaman. Kisah tentang perjuangan para veteran kemerdekaan sudah berubah menjadi tayangan iklan layanan masyarakat, tidak lebih dari sekedar iklan belaka.

Kering rasanya mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan, hanya dihiasi dengan pakaian adat dan upacara menaikkan dan menurunkan sang saka Merah Putih. Sejarah panjang perjuangan hingga sampai pada pertolongan Allah SWT, bangsa dan negara Indonesia menyatakan kemerdekaan, dengan rentetan model penjajahan hampir 350 tahun seperti sudah tidak diminati genereasi milleneal sebagai generani jaman now.  

Tasyakuran di kampung-kampung hanya sekedar formalitas, bukan sebuah panggilan jiwa bahwa malam 17 Agustus (16 Agustus malam), merupakan detik-detik bangsa dan negara Indonesia menerima sebuah takdir dari Allah SWT dibebaskan dari belenggu penjajahan dengan berbagai model. Mungkin penjajahan paling bervariasai di antara penjahahan-penjahan di seluruh dunia.

Membaca berita di koran dan media sosial serta kabar dari radio juga televisi masih marak, proses penangkapan dan penegakkan hukum terhadap koruptor. Bahkan seakan-akan prestasi bangsa dan negara Indonesia paling menonjol di permukaan hanya dua; pertama soal koruptor dan kedua masalah narkoba. Berbagai hasil pembangunan infrastruktur termasuk sarana transportasi jalan tol di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua, juga pemeratan jaringan pembangkit listrik, seakan-akan tenggelam tanpa hiruk pikuk pemberitaan.

Asian Games di Jakarta dan Palembang seperti event penjajahan, di tengah-tengah konidisi bangsa dan negara Indonesia belum mampu mengembalikan pada posisi stabil dalam berbagai aktifitas berbangsa dan bernegara, sehingga cerita soal Asian Games ialah ketidakpuasan para peserta dengan venus pertandingan dan venus latihan, ketidakharmonisan antara Inasgoc dan pengelola lapangan pertandingan. Yang menampar muka dan memalukan adalah kabar mark-up sejumlah proyek Asian Games karena harus diselesaikan segera, bukan ditingkatkan kualitasnya, tetapi digembosi dengan pemanfaatan proyek untuk pribadi dan golongan. Sungguh sebuah pelajaran amat sangat berharga. INASGOC atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee adalah komite resmi yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia.

Kisah pelacur tua berlayar (berpindah-pindah) dari kompleks pelacuran satu ke lokasi pelacuran lain, menjadi inspirasi dari tulisan ini, ketika sudah tidak menikmati suasana kemerdekaan, hampir tidak ada perbedaan sudah merdeka lebih dari 70 tahun dengan dijajah Jepang, Belanda, dan Portugis, ratusan tahun silam. Ketika kegembiraan pesta olahraga se Asia, juga buka kebanggaan, seperti ketika Indonesia menjadi tuan rumah pada tahun 1962, 56 tahun silam.

Ketika berita tentang keberhasilan pembangunan dan bencana nasional gempa Lombok, kalah populer dengan berita penangkapan koruptor dan permainan tangkap menangkap pemain narkoda. Semakin nampak bahwa negara tidak hadir secara totalitas dengan program prioritas, dengan komunikasi yang efektif kepada masyarakat, dengan pertanggungjawaban yang transparan kepada publik, dengan penyampaian plus minus mengurus negara dengan berbagai ’’mafia’’ yang sudah terlanjur ikut campur dalam pelbagai pesta atas nama rakyat dan bangsa Indonesia.

Bin salabin negara Indonesia sudah berubah menjadi sebuah kebudayaan Indonesia, dengan dipoles berbagai kepentingan sebagai pemanis bahwa Indonesia masih eksis, walaupun apabila dilakukan analisa secara tajam dan mendalam, maka kondisi Indonesia dengan  politik luar negeri yang kurang jelas mengarah ke mana? Nampak sekali bahwa ada kebingungan dalam mengambil sikap harus konsentrasi program prioritas apa?

Yang pasti pembangunan infrastruktur  terus dilakukan dengan target pada tahun 5 pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo bahwa jalan tol trans Jawa sudah selesai, jalan tol trans Sumatera sudah mendekati final, dan jalan-jalan protokol di Papua, Sulawesi dan Kalimantan, diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Walaupun belum ada secara jelas dan tuntas penyampaian kepada publik, pembangunan infrasturktur itu dalam bentuk kerja sama dengan pihak swasta atau apa? Dengan biaya berapa, dengan kebijakan seperti apa?

Sekali lagi kisah pelacur tua menjadi sebuah inspirasi, dimana kehidupan pelacur (menjual diri) dari muda sampai usia 25 tahun menjadi masa keemasan dan menjadi primadona di kompleks kelas bintang, memasuki usia 25-40 tahun sudah mulai masuk wilayah lokalisasi kelas melati itu pun kadang di daerah-daerah terpencil, harus berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejak dan mengelola diri supaya tetap disebut sebagai ’’barang baru’’, dan memasuki usia 40 tahun ke atas, tinggal menunggu masa-masa sulit dan sudah mulai kehilangan pelanggan. Hanya ada dua perjalanan penting, bertobat atau menjadi germo.

Dan di antara perjalanan pelacur tua, ada yang hampir sama dengan cerita di hadits di mana ada seorang pelacur masuk surga, ketika dalam keadaan kesulitan dengan sepatunya mengambil air untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan. Keikhlasan sang pelacur ini menyebabkan masuk surga. Demikian juga pelacur tua ini memilih bertobat dengan mengisi hidup penuh ibadah.

Tetapi berbeda dengan pelacur tua yang berakhir di lokalisasi rel kereta api Wonokromo Surabaya, tetap memilih pekerjaan penjual diri, bahkan memilih pelanggan murid sekolah dasar sekali pun, guna menyambung kehidupan esok hari. Pelacur sepanjang hidupnya ini hanya mengisahkan walaupun melakukan pekerjaan buruk atau terburuk, namun dalam hidupnya tidak pernah mengambil harta benda milik orang lain, apalagi ikut melakukan korupsi berjamaah bersama koruptor, atau ikut terlibat jual beli suara pada saat Pileg, Pilpres maupun Pilkada. 

Kisah pelacur tua hanya sekedar mengingatkan bahwa pekerjaan sangat buruk di mata masyarakat, sebagai seorang pelacur, ternyata masih membanggakan  karena tidak pernah mencuri, merampok, apalagi koorupsi, juga terlibat mengatur skor hasil akhir Pemilu. Juga tidak pernah berkhianat kepada negeri Indonesia tercinta, termasuk tidak pernah menjual aset negara, menyelewengkan hak rakyat dan masyarakat, tidak pernah atas nama rakyat miskin meraup keuangan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi dan kelompok serta partainya.

Sebuah refleksi kemerdekaan Indonesia ke-73, suara sumbang bahwa kekayaan di bumi Indonesia hanya dikuasai segelintir orang, bahkan sebagian besar bukan pribumi. Sementara posisi pribumi terus diminggirkan tanpa mampu menikmati pembangunan di kota-kota besar atau jalan tol sekalipun, karena mahal dan tidak mampu menjangkau ekonomi kelas bintang itu.  Adakah sebuah perubahan untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*) 

 

 

 

  •  Start 
  •  1 
  •  End 
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...