Berita Kota

Published in Berita Kota

LKP3 UB : Masyarakat Lebih Pahami Program Kerja Gus Ipul

May 13, 2018 Publish by 
Andy Kurniawan, (dua dari kiri) menegaskan bahwa LKP3 Universitas Brawijaya (UB) Malang bukan partisan Parpol dan bukan oendkung salah satu Paslon.
Andy Kurniawan, (dua dari kiri) menegaskan bahwa LKP3 Universitas Brawijaya (UB) Malang bukan partisan Parpol dan bukan oendkung salah satu Paslon. (kt/min)

SURABAYA  (KoranTransparansi.com) – Dua calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak sama sama mimiliki program unggulan, jumlah itemnya juga sama 9, latar belakangnya sama dari nahdliyin.

Namun program Saifullah Yusuf (Gus Ipul) lebih bisa diterima masyarakat. Angkanya mencapai 45 persen.Sedangkan Khofifah 43 persen. Selisihnya sangat tipis Hasil penelitian kami menunjukan bahwa program Gus Ipul lebih bisa diterima, gamang dicerna dan mudah dijalankan. 

"Program Gus Ipul mudah dipahami dan gampang dibaca,". tegas Sekretaris Lembaga Kebijakan Publik Perencanaan Pembangunan (LKP3) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Andy Kurniawan kepada wartawan usai diskusi “Membedah hasil survei Pilgub Jatim 2018” di rumah makan Agis, Surabaya, Minggu (13/5/2018).

Andy Kurniawan, seorang peneliti dan dosen ini mengatakan, hasil peneletian ini pernah dirilis pada 8 Mei lalu. Kami banyak menerima telepon dari masyarakat bahwa dikiranya penelitian ini berafiliasi kepada salah satu calon tertentu. Padahal ini sangat berbeda. Bahwa kemudian ada pihak pihak yang merasa kurang nyaman, ya itu terserah mereka. 

Namun pihaknya meyakinkan bahwa ini adalah hasil karya kampus yang mengedepankan etika sebuah perguruan tinggi negeri. Jadi kesimpulannya positif. Unair diharapkan juga isa melakukan hal yang sama . Termasuk kampus yang lain bisa mengikuti. 

Dijelaskan bahwa penelitian ini adalah murni sebuah gagasan akademisi yang melihat ditengah masyarakat ada isu menarik yaitu pilkada. Kami punya ilmunya, punya metodologinya. Lalu kita sajikan kepada masyarakat. "Saya yakinkan bahwa ini tidak ada pesanan manapun," kata Andy.

Lalu apa bedanya dengan survei survei lainya. Andy mejelaskan bahwa kalau survey yang dilakukan oleh lembaga lembaga survei yang selama ini kita baca lebih mengedepankan soal populartas maupun elektabiltas Namun LKP3 lebih mengutamakan pada proram calon gubernur yang dawarkan kepada masarakat. 

Hasil survei kami menunjukan bahwa  berdasarkan fakta di lapangan. Faktanya, ada gap antara elektabilitas tokoh dan program. Yang lebih ekstrim berdasarkan hasil survei tersebut, lebih memilih program.

“Antara elektabilitas tokoh dengan program tipis sekali. Namun, program yang lebih dominan. Dominasi program Gus Ipul ternyata lebih kuat, karena mudah dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.

Dia memberi contoh program Dik Dilan (Pendidikan Digratiskan Berkelanjutan) dan Pak Kardiman (Peluang Kerja di Mana-Mana) yang dimiliki Gus Ipul-Puti. Masyarakat ramai membicarakannya, karena banyak yang tidak tahu. Demikian pula dengan program lain, seperti pertanian, wisata dan tenaga kerja.

“Paling tidak orang ingin tahu Dik Dilan dan Pak Kardiman itu apa. Jadi, Gus ipul unggul di program yang dipersepsikan masyarakat. Perilaku pemilih dilihat dari jumlah masyarakat yang membaca menarik atau bukan terhadap program itu,” paparnya.

Meski unggul di program itu, bukan berarti Khofifah-Emil kalah di program lain. Berdasarkan surveinya, program infrastruktur dan ekspor Khofifah-Emil mengungguli Gus Ipul-Puti. Khofifah-Emil unggul 44 persen. Sedangkan Gus Ipul-Puti 42 persen.

“Yang imbang kesehatan, sama-sama 44,7 persen. Demikian pula bidang sosial dan pengentasan kemiskinan, karena programnya sama kuat dan menarik,” ungkapnya.

Dari program yang dipahami masyarakat itu, Andy menyebut Gus Ipul unggul di wilayah Tapal Kuda, Arek dan Mataraman. Sementara Khofifah menang di Madura da Mataraman pesisir.

“Kami melakukan survei dengan jumlah responden 835 orang di 38 Kabupaten/Kota. Jumlah sampel yang sama dengan BPS. Margin erornya 3,46 persen. Kami mengambil batas minimal sampel, sehingga hasilnya cukup akurat,” jelasnya.

Hal senada dikatakan Dosen Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Putu Aditya Ferdian Ariawantara. Menurutnya, etertarikan masyarakat terhadap program Gus Ipul-Puti, karena mudah dipahami. Salah satunya adalah Dik Dilan.

“Siapa sih yang tak kenal Dilan. Lha yang menarik bagaimana Gus Ipul-Puti memberikan pendidikan gratis SMA/SMK lewat program Dik Dilan. Sebagai pemilih tentunya akan melihat keunggulan dari Dik Dilan. Secara angka mungkin bisa berubah, tapi persepsi akan sulit berubah,” katanya.(min)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...