Laporan Utama

Published in Laporan Utama

Menggali Potensi Sapi Sebagai Simbol Kesejahteraan Masyarakat Desa Wonoayu (Bagian 1)

Sep 12, 2018 Publish by 
Sebanyak 150 sapi milik warga Wonoayu Kecamtan Wajak mengikuti demo insiminasi buatan , pada Rabu (29/8/2018)
Sebanyak 150 sapi milik warga Wonoayu Kecamtan Wajak mengikuti demo insiminasi buatan , pada Rabu (29/8/2018) (kt/min)

 “Bahagia itu sederhana, dimana hati selalu bersyukur atas apa yang kita dapat”

Kalimat bijak diatas cocok untuk seorang laki laki bernama Usman, 30 tahun, penduduk desa Wonoayu Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, Jawa Timur. Usman adalah peternak sapi yang sukses di desanya. Ia juga  dikenal sebagai tukang batu yang mumpuni. Selain itu, Usman seorang petani yang produktif dengan sawah miliknya seluas 1 hektar.

“Untuk orang seperti saya, kalau mau hidup hemat  dan tidak neko neko, sudah cukup. Sapi menjadi simpanan. Ibaratnya emas. Baru dijual juika keadaan darurat," ungkap Usman, bapak satu anak ini kepada wartawan dirumahnya Desa Wonoayu, Rabu (29/8/2018).

Usman hidup dalam keluarga yang bahagia. Dirumahnya hanya ada  istri, satu anak, dan mertuanya. Meski usia mertuanya sudah menginjak 60 tahun, namun masih mampu ngarit (mencari rumput) untuk pakan ternak dan berkebun

Penghasilannya sebagai tukang batu Rp 525.000/minggu.Awalnya sapinya hanya satu. Setelah ikut kelompok ternak sapi di Desanya Wonoayu, berikut program insiminasi buatan (IB), kini berkembang menjadi tujuh.

Dia bercerita bahwa merawat sapi ternyata sangat mudah. Makanannya hanya rumput biasa. Diusahakan tidak dikasi makan damen  kering. Sebab bisa menjadikan sapi kelihatan tidak sehat,kurus. Seminggu dua kali ada makanan yang bergizi misalnya dari katul dan vitamin. Untuk vitamin ini ada bantuan dari pemerintah (Disnak).   

Untuk sapi yang ia miliki, tergolong sapi bagus dengan harga kisaran Rp 23 juta. Dan pedetnya, usia sampai enam bulan antara Rp 8 jutaan sampai Rp 10 juta. Untuk sapi yang baik, tandanya kepalanya besar, kaki besar, pantatnya press (montok) dan badan memanjang. Jenis ini harga pasti tinggi “Kami berharap pemerintah bisa membantu vitamin terutama saat bunting,” harap Usman.

Menyinggung soal kawin suntik, dikatakan Usman, untuk kawin Suntik biaya Rp 65.000/suntik. Kalau gagal, kawin suntik berikutnya hanya dipungut biaya Rp 30 ribu saja. Biasanya sekali langsung bunting, tapi juga ada yang sampai enam kali. Tapi biayanya tetap tidak ada tambahan. Bagi peternak sapi juga harus paham pada saat mana harus kawin suntik. “Ada tanda tandanya,” ucapnya.

Hari itu, UPT Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur di Malang sengaja melakukan demo Sapi dengan melibatkan 150 ekor, 130 diantaranya adalah sapi betina. Tujuannya,  kepada publik bahwa Wonoayu memang gudangnya sapi, pemeriksaan pembuntingan dan insiminasi buatan (IB). Pertama adalah dokter hewan. Kedua petugas insiminator yang sudah mengikuti pelatihan pembuntingan.

Hari ini ada 60 petugas insiminator. Namun yang bisa melakukan pembuntingan hanya 20 oang saja. Untuk menjadi petugas insiminator saratnya punya jam tebang sekurang kurangnya 2 tahun dan bersertifikat. Jadi 20 oang itu yang memiliki kompetensi.terang Iswahyudi Kepala UPT Dinas Peternakan Jatim di Malang.

Di Kabupaten Malang hampir semua Kecamatan memiliki sentra petenakan binaan . Hanya saja di Wonoayu, Kecamatan Wajak relatif lebih banyak ketimbang desa lainya. Kepala Desa Wonoayu Wina Ernama,S.Sos,Msi menyatakan, Wonoayu berada di ketinggian 50 meter diatas permukaan laut. Desa ini dihuni 392 KK (Kepala Keluarga), dengan jumlah sapi 886 ekor

Pada umumnya penduduk tidak hanya berternak sapi, tapi juga ada Kambing dan ayam. Jadi rata rata satu rumah minimal ada 2 sapi.

Dalam lima belas tahun terakhir ini penduduk desa Wonoayu, perkembangannya sangat pesat. Semula rumah rumah penduduk tidak sekokoh ini. Jalan utama tidak sebagus sekarang beraspal mulus. Mayoritas penduduknya sebagai petani sawah dan berternak.

Generasi mudanya,saat ini sudah mulai menyerbu Kota. Namun juga banyak yang bekerja di luar negeri (TKI) terutama wanitanya. Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Singapura menjadi tujuan utamanya. Kalau Timur Tengah hampir tidak ada.

Melihat perlompatan ekonomi yang demikian pesat, Bu Kades Ernama, mengaku  kawatir akan terjadi krisis petani ternak di desanya. Sebab generasi penerusnya cenderung memilih hidup di kota baik sebagai pekerja maupun wiraswasta.

Kami selalu mendorong untuk mencari pengalaman baru. Namun kalau arus urbanisasi ini tidak bisa dibendung, kedepan lalu siapa yang meneruskan . Padahal desa Wonoayu sangat dikenal sebagai gudangnya ternak sapi.

Dulu rumah rumah disini berdiri seadanya. Tapi sekarang sudah bata merah. Bagus bagus. Setiap rumah sudah ada sepeda motor dan bahkan mobil,termasuk peralatan elekronik lainya seperti teevisi.

Jalan juga sudah beraspal mulus. Sebagian dibangun oleh Pemkab Malang melalui APBD, anggaran dana desa (ADD) dan  swadaya masyarakat.

Kami selalu membangun komunikasi dengan Pak Miskat , anggota DPRD Kab Malang yang kebetulan penduduk asli Wonoayu. Beliau ini sangat perhatian dengan desanya. tegas Bu Kades sambil melirik Miskat yang ada di disebelahnya. 

“Sapi, kambing dan ayam ini menjadi simbol kesejahteraan  masyarakat Wonoayu,” ucapnya.

Peternakan Sapi ini mulai ada sejak 1990. Mulanya hanya sekitar lima orang. Itupun ada keengganan menerima bantuan dari Pemkab. Saat itu pola asuhnya masih sangat tradisional.  Kemudian tahun 2003 mulai ada  program yang lebih modern yaitu IB (insiminasi buatan/kawin buatan).

Ernama,S.Sos,MSi yang akan mengakhiri jabatanya kali kedua pada tahun 2019 menjelaskan, kegiatan warganya selain bertani, beternak sapi, kambing dan ayam, ada pekerjaan lain yaitu tanaman hias yang setiap minggunya bisa mengirim 2 sampai 3 truk ke Jawa Tengah. Juga produksi kripik tempe.

Hari ini desa Wonoayu punya Icon yang sangat ektrem yaitu olahraga bermotor kusus tril 1500cc, Pacuan Kuda dan Kolam renang. Sekolah sepakbola (SSB) juga mulai kita bina.

Belum lama ini kita adakan lomba motor piala Menpora dengan melibatkan pembalap pembalap se Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Areal balap motor sangat menantang karena medanya  berbukit. Arena pacu motor dan lapangan sepakbola terus kita benahi. tandas Ernama setengah promosi keberhasilannya itu.

Pertumbuhan populasi Sapi di Jawa Timur selama kurun waktu empat tahun terakhir sejak 2015 sampai 2017 mengalami kenaikan sampai 3,77 persen.

Pada tahun 2015 misalnya ketersediaan sapi potong mencapai 4.267.325 ekor, lalu 2016 meningkat menjadi 4.407.807 ekor dan tahun 2017 menjadi 4.573.893 ekor.

Sedangkan untuk sapi perahan juga dari tahun ke tahun menglamani kenaikan. Tahun 2015 sampai 2017 terjadi kenaikan 4,03 persen. Pada tahun 2015 tercatat 256.947 ekor, tahun 2016 265.002 dan tahun 2017 menjdi 275 675 ekor sapi.

Lalu bagaimana dengan kontribusi Jawa Timur dalam pengadaan pangan  nasional. Data di Dinas Peternakan Jawa Timur menunjukan nilai positif dengan menyumbang 28 persen.

Populasi Jawa Timur untuk sapi potong 4.573.893 ekor, sedangkan angka nasional hanya 16.599.247. Sapi perah populasinya 275.675 ekor.

Sebaliknya untuk produksi daging dan susu sapi di Jawa Timur  pada tahun 2017 mencapai 102.932 ton, sedang tahun yang sama produksi nasional hanya 531.757 ton atau sekitar 19 persen.

Untuk produksi susu pada tahun 2017 mencapai 513.715 ton, sedang produksi nasional hanya 928.893 ton atau menyumbang 55 persen untuk nasional.

Melihat produksi yang sedemikian besar baik sapi potong, sapi perah, daging sapi dan susu menempatkan Jawa Timur diperingkat 1 nasional sekaligus menjuluki Jawa Timur sebagai lumbungnya peternakan.

Untuk mendukung ketahanan Jawa Timur sebagai sentra peternakan, Dinas Peternakan memiliki 7 UPT (Unit Pelaksana Tekinis). Sentra petenakan itu ada di Jombang, Madura, Lamongan, Madiun, Tuban dan Kabupaten Malang yang terbesar. Didukung 20 Laboratorium, tiga diantaranya milik Pemprov yaitu di Tuban, Madura dan Malang,serta 17 Lab milik Pemkab/Kota.

Jawa Timur juga memiliki rumah potong hewan terbanyak diantaranya yaitu 134 RPH (131milik pemerintah) dan 3 RPH milih swasta, 202 pasar hewan, 19 pabrik pengolahan pakan ternak, 35 pos IB (Insiminasi Buatan), 8.500 kelompok Ternak,  dan 67 Koperasi Ternak, serta 1 balai besar inseminasi buatan (BBIB) di Singosari Malang dan UPT IB Disnak Jawa Timur.

Sementara itu memperceat peningkatan populasi ternak Disnak Jawa Timur juga terus melakukan pelatihan pelatihan terhadap SDM (Sumber Daya Manusia).

Sampai tahun 2017 tercatat ada 364 petugas medik (dokter hewan), petugas paramedik veteriner 636 orang, petugas insiminator (IB) 1.436 orang, petugas pemeriksa kebuntingan (PKB) 1.129 orang. (Amin Istighfarin)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...