Laporan Utama

Published in Laporan Utama

Kebijakan Kerajaan Saudi Bikin Jamaah Umroh Bingung

Jan 18, 2018 Publish by 
Makin Rahmat dari Arab Saudi
Makin Rahmat dari Arab Saudi

Larangan Singgah di Laut Merah & Jabal Magnet

Laporan Wartawan Koran Transparasi Makin Rahmat dari Arab Saudi 

SELAMA mendampingi jamaah umroh bulan Rabiul Awal (Nopember) dan Rabiul Akhir (Desember) ke Haromain (dua tanah suci Mekah-Madinah) ada beberapa tempat yang saat ini belum bisa disinggahi. Padahal, bumbu dari perjalanan ritual di Madinah al Munawaroh dan umroh di masjidil Haram Makkatul Mukaromah, adalah tempat-tempat yang sangat bersejarah dalam perkembangan Islam. 

Guna mengurai lebih mendalam, Makin Rahmat, wartawan senior korantransparansi.com wartatransparansi.com dan media cetak Koran Transparansi berusaha mengurai di balik larangan dan tindakan apa yang semestinya menjadi perhatian para dlofiullah (tamu Allah SWT) dan tamu Rasulullah SAW. Hal tersebut penting, sehingga travel yang mengantarkan para jamaah harus mencari pilihan alternatif dalam rangkaian padatnya ibadah di tanah suci.

Ustadz Muhammad Mujahid, Tour Leader (TL) senior PT. Arofahmina, travel umroh dan haji plus di Jl. Kartini 84 Surabaya, menandaskan, niat tulus dan pemahaman secara utuh sebagai dloifullah dan mempersiapkan bekal taqwa saat menjalankan ibadah umroh, menjadi prioritas utama dengan tetap memberikan pelayanan yang aman, nyaman, menyenangkan dan memberikan kenikmatan. 

“Pengalaman sebagai TL umroh memang banyak lika-likunya, karena fakta di lapangan sering terjadi hal-hal yang diluar prediksi dan jadwal yang kita rancang. Mulai dari masalah transportasi, akomodasi, penginapan (hotel) hingga teknis saat beribadah di Madinah dan Mekah. Contoh sederhana, kamar hotel yang berpencar atau tersebar di beberapa lantai, tentu bakal menambah ekstra pengawasan. Belum lagi ketika jamaah kesasar. Jadi, semua harus dihadapi dengan telaten, sabar, dan bisa ngemong jamaah,” paparnya.

Ustadz yang juga Ketua Kordinator para Hafidz (penghafal Alquran) di Surabaya ini, tetap yakin kalau situasi jamaah saat di Haromain diperlukan kordinasi yang intens, terutama peran di muthowif (guide) yang mendampingi secara teknis kepada jamaah. Pemahaman ini perlu, karena karakter jamaah menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menjaga keutuhan, kekompakan, dan kebersamaan jamaah dalam pelaksanaan program.

“Selama ini, buku panduan yang dibagian kepada jamaah jarang yang membaca, apalagi merasa ikut aktif. Jadi, TL dan muthowif harus terus mengingatkan dan mengumunkan kembali kepada jamaah, baik secara door to door, lisan atau melalui group WA yang telah dibentuk. Intinya, komunikasi interaktif harus terus terjalin. Soal, larangan jamaah tidak boleh ke Jabal magnet saat di Madinah, kita harus update (mencari informasi terkini), mengapa dilarang,” kata Ustadz Mujahid.

Dari informasi para partner travel yang ada di Haromain, dan pengumuman langsung dari pengelola dua tempat suci Mekah-Madinah, pendamping jamaah harus bisa mencari solusi terbaik dan mengatur kondisi tetap kondusif dan tentram. Maksudnya, kalau di Madinah belum bisa mengunjungi kawasan Mantiqo baidlo’ (daerah putih) yang dikenal sebagai gunung (jabal) magnet harus disampaikan kondisi yang sebenarnya kepada jamaah. “Ternyata, sopir resmi dari perusahaan (muasasah) yang dilarang singgah, sehingga jamaah yang memang ngebet ingin ziarah ke jabal magnet bisa menyewa kendaraan setiap saat yang ada di sekitar masjid Nabawi. Per orang bisa kena 30-40 real. Kalau tarif jamaah atau rombongan, mobil Hiace bisa meminta 300 real pulang pergi. Untuk bus, bisa 1.000-1.200 real. Jadi, harus fleksibel. Sopir resmi dari muasasah sendiri, seperti Rawahel kalau melanggar kena denda dan ancaman ijin kerja (Ighomah) bisa dicabut,” paparnya.

Sebenarnya, selama di Madinah, tempat yang saat ini menjadi idola, selain kenikmatan ziarah ke makam Rasaulullah SAW, Raudlo (tempat mustajabah), ziarah ke masjid Quba, ke Suhada Uhud (pejuang perang Uhud), adalah museum Asmaul Husna dan Museum Al-Quran. Dua tempat yang berdempetan dengan pintu nomor 5 dan 13 ini menjadi jujugan di waktu pagi maupun sore hari. Karena berjubelnya pengunjung, penanggung jawab  dua museum akhirnya memberlakukan jadwal kunjung melalui WA, sehingga tidak menumpuk dari travel mana. 

Tempat idola lain yang sebelumnya nyaris tidak pernah terlewatkan oleh jamaah, adalah ziarah ke percetakan alquran. Percetakan terbesar di dunia dan menghasilkan produk mushaf Alquran terbaik tersebut selalu memberikan souvenir kepada pengunjung pria da nada kesempatan membeli di dept store percetakan dengan harga lebih murah. “Sayang, tempatnya masih direnovasi. Era raja Salman ini, memang kota Madinah dan Mekah terus berbenah.”

Larangan ke Laut Merah

Hampir semua jamaah umroh ketika ditanya suasana beribadah di Mekah dan Madinah, menyatakan, ibadah di Madinah lebih tertib, dan suasana lebih hikmah. Mulai masuk masjid Nabawi, sudah terkondisikan antara jamaah pria dan perempuan, sehingga konsentrasi petugas untuk mengatur atau mengawasi jamaah lebih fleksibel. Baik di sektor kanan-kiri masjid semua sudah teratur, mulai dari areal khusus perempuan di halaman masjid sampai di dalam masjid.

Pengakuan senada disampaikan H. Edy, jamaah asal Mojokerto. Pengusaha sayur-mayur ini rutin mengajak keluarganya umroh. Kebetulan di bulan Nopember 2017, ada 12 orang yang ikut. “Nggak tahu bagaimana menceritakannya, pokoknya kalau di Madinah, rasanya kok lebih nikmat. Apalagi, saat di Roudlo, pinginnya berlama-lama. Sedang di Mekah, kesannya semrawut karena jamaah pria dan wanita masih bisa membaur, baru saat menjelang shalat ada penertiban. Belum lagi, jamaah yang melakukan thowaf. Jadi, sering bikin bingung jamaah, terutama yang baru pertama umroh. Untungnya, ikut travel Arofahmina, TL-nya oke dan lebih perhatian dalam pendampingan jamaah,” katanya.

Dibenarkan H. Nurtanio, saudara Abah Edy, bahwa usai melaksanakan rangkaian ibadah umroh di Mekah, saat kepulangan ke tanah air, jamaah biasanya mampir ke kawasan bisnis Ballad dan Chornice di Jeddah dan singgah di masjid terapung Rahmah atau laut merah. Sayangnya, mulai musim umroh ini ada larangan untuk singgah dan melewati jalur Laut Merah. Anehnya, sopir yang biasa mampir pun enggan untuk menuruti jamaah karena ancaman denda bigitu besar. 

“Kemarin ada teman sopir nekad lewat ke jalur Laut Merah, kebetulan ada patrol langsung nopol busnya difoto dan dikirim ke kepolisian setempat, tidak berselang lama sudah ada laporan kalau sopir tersebut kena denda 2.000 real. Bahkan, kalau sampai melanggar lagi, surat izin kerja (ighomah) akan dicabut dan dipulangkan paksa ke Negara asal. Ya, akhirnya para sopir pilih cara aman, walau ada tambahan tip dari jamaah,” kata Lalu, coordinator sopir dari perusahaan Rawahel.

Sebagai pengganti, kalangan TL, muthowif dan pengelola jamaah umroh mulai melirik destinasi lain yang tidak jauh dari rute kepulangan. Salah satu tempat yang mulai disinggahi jamaah, adalah museum Alamoedi, Mekah. Sebetulnya, ada beberapa lokasi pilihan seperti pabrik parfum, museum al-Syareef dan ziarah ke Thaif.

Tapi, museum Alamoedi berlokasi di kawasan Shumaysi, Kubri, Mekah, Saudi Arabia ini banyak memberikan tambahan pengetahuan dan hiburan bagi jamaah. Selain, bangunan antik dari tanah liar dan ornament kuno. Pemiliknya memang punya selera seni luar biasa, karena mampu mengumpulkan beberapa benda bersejarah seperti duplikat pedang Umar bin Khattab, cara memanah, senjata buruan, pakaian ala Arabia, dan benda-benda bersejarah. 

Hijran, muthowif asal Lombok menganggap museum Alamoedi lebih pantas dikunjungi. “Bisa dilihat sendiri, begitu lengkapnya sarana yang ada. Saya yakin, jamaah pasti senang. Jadi, ada pengganti bagi jamaah ketika tidak boleh singgah di Laut Merah,” katanya.

Mengapa, jamaah dilarang singgah di Laut Merah? Informasi yang digali menyebutkan, kawasan yang ditata sebagai areal wisata dan tempat pelepas lelah ini menjadi destinasi bagi masyarakat Jeddah dan sekitarnya. Jadi, khusus hari Jumat, Sabtu dan Ahad (Minggu), lokasi Laut Merah padat dikunjungi jamaah umroh yang transit sebelum menuju ke bandara Jeddah. 

Konon, karena ada jamaah yang usil dan membuat perayaan ulang tahun dengan menyalakan lilin dan kue ultah, selain menganggu warga Jeddah yang ingin menikmati Laut Merah. Perayaan berbau nasrani dan yahudi ini tentu membuat masyarakat terusik dan terekam sehingga dilaporkan pejabat pemerintahan setempat sampai akhirnya terbit larangan bagi kendaraan jamaah umroh melewati kawasan Laut Merah.

Dari peristiwa di atas, sebetulnya menjadi ibrah (pelajaran) bagi jamaah umroh yang telah menjalani gemblengan sebagai tamu Allah dan Rasulullah. Sebagai dloifullah, tentu juga mengikuti etika dan tata cara yang tidak bersinggungan dengan tuan rumah. Begitu pula, ketika jamaah ada di tempat yang diminta masyarakat setempat. Lebih penting, ada peran pemerintah menjadi penyeimbang dan mensosialisasikan efek dari prilaku yang tidak sejalan atau berseberangan dengan kerajaan Saudi Arabia. Semoga membawa manfaat. Aamiin. (*/mat)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...