Laporan Utama

Published in Laporan Utama

Target PAD 15 M di Tengah Kritik

May 18, 2017 Publish by 
Direktur Utama PT PWU, Basanto Yudoyoko
Direktur Utama PT PWU, Basanto Yudoyoko

Geliat PT PWU Jatim
--------------
PT Panca Wira Usaha (PWU) menjadi BUMD Pemprov Jatim yang hinggga saat ini masih menuai banyak sorotan. Salah satunya terkait setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinilai masih minim.
--------------

KALANGAN DPRD Jatim tak bisa diam melihat setoran PAD PT PWU yang hanya Rp 4 miliar. Angka ini dinilai terlalu kecil dibandingkan penyertaan modal Rp 250 miliar. Apalagi perusahaan ini dikaitkan dalam kasus dugaan korupsi pelepasan aset.

Namun hal itu tidak serta-merta menghalagi kinerja PT PWU. Direktur Utama PT PWU, Basanto Yudoyoko menyebut sorotan tersebut justru menjadi penyemangat untuk berbenah.

Dia tak memungkiri setoran yang masih minim. Namun seiring berjalannya waktu setoran semakin meningkat. “Memang masih di bawah Bank Jatim. Namun selama ini setoran kami terus naik. Hanya di 2015 yang turun karena kondisi yang memang sulit,” terangnya.

Karena itu, katanya, PT PWU berusaha melakukan sejumlah pengembangan usaha dan membidik sejumlah proyek besar sebagai upaya pengembangan perusahaan untuk mendapatkan revenue yang lebih baik. Karena itu pihaknya sedang membidik dan menggarap sejumlah proyek besar.

Terkait modal, perusahaan daerah ini mengandeng perbankan untuk bisa memenuhi masalah permodalan. “Kami mengandalkan perbankan. Tidak mungkin meminta anggaran dari pemerintah daerah,” terang Basanto.

Setoran PT PWU Rp 4 miliar dinilainya masih masuk akal. Untuk memenuhi kebutuhan permodalan dipenuhi dari perbankan. Bahkan untuk membayar bunga pinjaman dari bank, perusahaan ini harus mengeluarkan Rp 12 hingga 14 miliar.

“Kalau saja anggaran pengembangan ini dicukupi pemerintah daerah, saya mungkin bisa setor Rp 10-15 miliar. Buktinya bunga bank bisa membayar Rp 12 miliar per tahun,” tegasnya.

Namun dia kembali menyatakan tidak ingin merepotkan Pemprov, apalagi dalam kondisi perekonomian yang masih belum stabil seperti saat ini.

Bagaimana dengan penyertaan modal Rp 250 milar? Menurutnya, modal dasar itu memang cukup pada saat itu, namun seiring perkembangan saat ini sudah tidak cukup. Apalagi saat itu baru landing 50 persen.

“Paling tidak kebutuhan kita Rp 750 miliar. Kami tidak mungkin meminta tambahan ini ke Pemda, karena situasi yang tidak memungkinkan dan kami tidak berharap. Makanya kami izin ke Pakde (Gubernur Soekarwo) untuk memasuki bisnis yang menjanjikan revenue besar, misalnya bisnis jalan tol dan properti,” paparnya.

Strategi Bisnis
Ayah dua anak ini memaparkan strateginya untuk bisa medapatkan revenue yang sangat besar. Di antaranya dalam waktu dekat PT PWU akan membangun ballroom yang memiliki kapasitas besar. Gedung ini diperkirakan akan menjadi paling besar di Jawa Timur. Bahkan diperkirakan lebih bagus dari Jatim Expo gedung pertemuan yang juga milik Pemprov Jatim.

Gedung pertemuan ini akan diberi fasilitas yang lengkap dan lebih modern. Lahan untuk membangun gedung ini sudah disiapkan di daerah Ngagel Surabaya. Pembangunan hal ini akan bekerjasama dengan investor.

Selain itu, bisnis properti lainnya juga akan dikembangkan. Seperti pembangunan apartemen D’frontage di Jl. A Yani Surabaya. Apartemen yang dulunya sempat diserahkan pihak swasta ini, akhirnya kembali diambil alih untuk dikembangkan oleh PT PWU sendiri.

Selain itu, pihaknya juga akan membangun pertokoan khusus spare part mesin. Pertokoan yang akan di bagun di Jl Pengenal Surabaya ini akan dibangun empat lantai dan disewakan jangka panjang.
“Semuanya ini bisnis menjanjikan. D’frontage membutuhkan investasi Rp 1,3 T sekarang mungkin Rp 1,7 T,” ungkapnya. Selain itu, peningkatan fasillitas Jatim Expo juga menjadi program jangka pendek.

Pengembangan Bisnis
Langkah jangka pendek lainnya adalah mempersiapkan pengembangan kawasan industri yang saat ini disiapkan di sekitar Gresik. Selain itu, akan membangun hotel di Banyuwangi dan di beberapa daerah lainnya.

“Kami sudah punya mall di Ponorogo namanya PCC (Ponorogo City Centre) sudah jalan. Di lantai atas ada Hotel Amaris,” pamernya.

Selain program jangka pendek dirinya juga akan melakukan pengembangan bisnis yang lebih besar. Ini seperti pesan Soekarwo yang berharap PT PWU tidak menjadi jago kandang atau hanya besar di Jatim saja. Minimal BUMD ini bisa setara dengan BUMN. Untuk menuju harapan ini, pihaknya melakukan pengembangan usaha bidang properti dan infrastruktur.

Binis besar ini akan menggunakan dana perbankan, mengajak founder serta investor untuk pengembangan. Karena tidak mungkin juga berharap dari anggaran pemerintah daerah. Contonya jalan tol di Krian-Legundi yang membutuhkan investasi Rp 12 triliun. Sedangkan, jaminan yang dimiliki jika ditotal hanya sekitar Rp 1 triliun.

“Ndak mungkin ini dijaminkan,jalan satu-satunya menggandeng partner untuk kerjasama. Misalnya dengan BUMN. Dan buktinya kerjasama ini terasa sejajar. Ternyata BUMD ini tidak kalah. Saya pikir ke depan akan lebih mudah (setoran PAD) mengingat banyak proyek yang menjanjikan,” paparnya.

Untuk menjaga agar program perusahaan ini berkesinambungan, Basanto membuat perencanaan kerja hingga 25 tahun ke depan. Program ini direalisasikan bertahap per 5 tahun. Langkah ini diambil agar program yang telah direncanakan akan berjalan sesuai perencanaan meskipun pemimpin perusahaannya ganti.(zal/abn)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...