Laporan Utama

DjokoTetuko (kiri) dalam suatu perjalanan bersama Yusri Ehsha Mahendra

Bertahan dengan Keyakinan dan Kepasrahan

Catatan Transparansi  : Joko Tutuko

 

’’Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS 94: Al-Inshirah 5-6)

Alhamdulillah wa syukurilah dengan penuh keyakinan bahwa sesudah kesulitan akan ada kemudahan, sebagaimana ayat 5-6 Surat Al-Inshirah di atas, keluarga besar Koran Transparansi (edisi media cetak) dan Korantransparansi.com serta Wartatransparansi.com (media online), berhasil melewati masa ujian terberat menerbitkan sebuah media cetak dan secara konsisten dengan penuh keyakinan dan kepasrahan, menyajikan berita-berita terbaru sesuai dengan kaidah jurnalistik sebagaimana menjadi kewajiban media pers melakukan kerja sebagai tanggung jawab moral.

Tentu saja dalam menjaga indepensi sebagai pemilik dan pekerja pers, menjaga demokrasi yang berkeadilan sebagai wartawan sejati, dalam menjaga hak asasi manusia secara proprosional tanpa menjual harga diri, juga menjaga profesional dalam menjalankan fungsi pers yang mengandung muatan sangat mendalam tentang keseimbangan, tanpa harus menggadaikan kontrol sosial sebagai panglima dalam menyampaikan informasi yang mengandung nilai kritik konstruktif.

Mengapa fungsi pers sangat sarat dengan muatan keseimbangan atau dalam bahasa populer pers sering disebut cover both side, sebab ada lima fungsi secara nyata memang, menjadi tanggung jawab pers untuk menyampaikan dan menysajikan secara seimbang. 

Sebab pers, wajib menyampaikan informasi dengan benar juga aktual, secara terus menerus melakukan edukasi maupun literasi sebagai fungsi pendidikan, bahkan tidak berlebihan melakukan kontrol sosial, serta menyeimbangkan dengan menyajikan berita hiburan secara umum. 

Bahkan juga berfungsi ekonomi sebagai badan usaha, dari 5 muatan ini, maka kecerdasan, kecerdikan, kecepatan, kecermatan, dan kecekatan dalam menyajikan informasi diuji secara profesional.

Menyeimbangkan 5 fungsi, selama 2 tahun menjalankan media cetak dan media online (media sosial pers), tidak mudah dan penuh dengan liku-liku. Bahkan sempat mengalami perubahan visi (pandangan) sesuai dengan nama media ini, transparansi. 

Pandangan independen sebagai pembawa pesan dan aspirasi dari masyarakat, sejak awal terbit ialah menjadi bagian dari upaya menjembatani informasi publik dari badan publik pemerintah dan non-pemerintah (organisasi pemerintah dan nonpemerintah) yang menggunakan APBN dan APBD Provinsi dan Kabupaten. Kota, serta sumbangan dari masyarakat dan bantuan luar negeri, dengan masyarakat dari berbagai kalangan untuk membiasakan berkomunikasi menyampaikan informasi publik secara aktif dan terbuka, sesuai dengan ketentuan undang-undang.

Bahkan, masyarakat setelah menerima informasi publik secara terbuka, sesuai dengan tujuan Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik, melakukan peran aktif dalam proses kebijakan publik yang secara tehnis diatur sedemikian rupa, sehingga terjadi komunikasi aktif antara badan publik (pemerintah dan nonpemerintah) dengan masyarakat, sehingga kepercayaan badan publik melalui informasi publik yang terbuka terus menerus, akan meningkat di mata rakyat, dan setidak-tidaknya, baik secara manejemen standar, juga  selamat dalam pertanggungjawaban akhirat kelak.

Sebab, dengan membuka informasi publik yang memang menjadi hak publik atau hak masyarakat untuk mengetahui, maka kewajiban pertanggungjawban secara administrasi sudah gugur. Karena sesungguhnya informasi publik dari badan publik adalah hak publik atau hak masyarakat. Dan masyarakat dalam berperan aktif, tentu saja saling memberikan masukan dan menerima informasi secara sehat dan bermanfaat. Bukan menjadi penghambat organisasi badan publik.

Tentu saja pandangan Koran Transparansi menjadi jembatan antara badan publik dan publik pemilik sah informasi itu, melalui proses jurnalistik yang sangat elegan, santun, dan beriwbawa, sehinga masing-masing pihak akan mendapat harkat dan martabat sebagaimana mestinya.

Demikian juga misi atau upaya mewujudkan dari visi itu dalam proses jurnalistik melalui kekuatan media cetak dan media online, maka akan ada komunikasi yang sehat dan kuat, ada keseimbangan penyampaian data yang  berkualitas, ada penyampaikan informasi yang sangat menyenangkan hati.

Konsep ini memang baru 3 edisi awal secara garis besar tersajikan dengan penuh kehati-hatian, tetapi karena tidak mudah ’’membudayakan’’ keterbukaan informasi publik, maka Koran Transparansi dan Korantransparansi,com juga Wartatransparansi.com dengan penuh keyakinan dan kepasrahan, tetap bertahan terbit dan terus up-date dengan informasi gado-gado.

Kebenaran

Salah satu keyakinan dan kepasrahan mampu terbit dan terus up-date, mengingat kami bekerja dengan kebenaran dan kejujuran yang berkeadilan, tidak ada muatan ’’menghakimi’’ atau sajian kriminal yang jelas-jelas menodai Kode Etik Junalistik, juga tidak ada usaha-usaha kurang beretika ditunggangi atau menunggangi informasi hoax, yang tumbuh subur pada saat Koran Transparansi dan Korantransparansi,com juga Wartatransparansi.com, memulai melakukan terobosan.

Salah satu keyakinan dan kepasrahan mampu menjadi bagian dari produk media pers yang berkualitas, karena kami tidak sekedar terbit dan meng up-date berita-berita terbaru, hanya karena nafsu atau terburu-buru. Tetapi menghitung dengan 5-K  sebagai kami sebutkan di atas. (kecerdasan, kecerdikan, kecepatan, kecermatan, dan kecekatan). 28 Oktober 2016 memulai menyajikan informasi pers. 

Oleh karena itu, dengan modal kebenaran dan kejujuran, menjadi salah satu senjata bahwa media ini masih akan hidup sampai kapan pun. Dan insyaAllah pada saatnya akan menjadi media pers, khusus transparansi atau informasi publik.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ibrahim : 7 yang artinya: “Barang siapa yang bersyukur atas nikmatku kata Allah, niscaya aku akan menambah nikmat itu. Akan tetapi barang siapa yang kufur atas nikmat Ku kata Allah, maka azab ku sangatlah pedih,". Bukan berarti dengan kebenaran itu Koran Transparansi dan Korantransparansi,com juga Wartatransparansi.com, akan terbit secara ghaib atau otomatis berjalan dengan sendiri tanpa upaya maksimal melakukan perubahan-perubahan serta pembaharuan sebagaimana sebuah media pers. Kami bersyukur atas nikmat Allah SWT, kami juga pasrah setelah melakukan usaha.

Kepada seluruh mitra kerja, pembaca, pengakses, pemberi informasi dari berbagai kalangan, juga tidak kalah penting mitra dalam usaha pers dalam bentuk apa pun, terutama perpaduan produk jurnalitik dengan iklan pariwara atau iklan dalam bentuk yang lain sesuai ketentuan, kami Koran Transparansi dan Korantransparansi,com juga Wartatransparansi.com, menyampaikan terima kasih dan mohon maaf, apabila dalam melakukan hubungan secara langsung maupun tidak langsung, ada hal-hal yang kurang berkenan.

Percayalah bahwa media pers ini ingin berbuat baik, mengangkat harkat dan martabat, serta wibawa, mereka yang menjadi bagian menyuarakan suara warga negara atas nama publik.

Dan, alhamdulillah terus menerus mensyukuri di antara kesulitan kadang juga kekurangan dalam banyak hal, di antara syukur itu ada kekuatan secara ghaib bahwa media ini harus terus menerus meng up-date dan tetap terbit walaupun harus menghafapi dengan berbagai kendala, yang insyaAllah dapat teratasi dengan baik, bahkan akan mencapai kejayaan pada saat menjelma menjadi media pers transparansi sebagaimana cita-cita luhur pada saat awal pendirian.

InyaAllah Koran Transparansi dan Korantransparansi,com juga Wartatransparansi.com, percayalah akan menjadi sinar terang benderang dalam menjaga kedamaian, keluhuran budi pekerti, serta sebuah gerakan menuju negara dengan pemerintahan yang berwibawa serta berwarewah, serta warna negara (masyarakat) yang penuh suka cita karena ’’merdeka’’.

Itulah sebuah keyakinan dan kepasrahan. ’’Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (*)

Presiden Jokowi bersama Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat peresmian status jembatan Suramadu yang semula jalan ton menjadi non tol tampa bebayara alias gratis

SURABAYA (KoranTransparansi.com) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggratiskan akses jembatan Suramadu (Surabaya – Madura)  di Jawa Timur. Peresmian perubahan jalan tol menjadi jalan nontol tersebut berlangsung pada hari Sabtu (27/10/2018).  

Penggratisan tersebut disambut hangat masyarakat luas terutama mereka yang aktivitasnya banyak di kawasan Madura. Atau bahkan masyarakat Madura. Namun juga tidak sedikit yang memberikan penilaian bahwa aksi Jokowi bernuansa politis mengingat waktunya berdekatan dengan tahun politik 2019 yaitu  Pileg dan Pilpres.

Presiden Jokowi memberikan penjelasan mengenai kronologi sampai munculnya keputusan pemerintah tersebut.  Awalnya pada tahun 2015 lalu berdasarkan masukandari Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama hingga Ikatan keluarga Madura yang initinya agar tarif tol untuk kendaraan bermotor di gratiskan. Masukan tersebut, oleh pemerintah kemudian dikaji dan diputuskan bahwa untuk tarif tol bagi pengguna kendaraan bermotor di gratiskan.

Selanjutnya, pada tahun 2016, bedasarkan usulan dari para kiai, ulama dan tokoh masyarakat kembali mengajukan usulan agar tarif tol bagi kendaraan roda empat diberi penurunan tarif agar ekonomi masyarakat Madura meningkat. Akhirnya, usulan tersebut kembali dikaji dan diputuskan diturunkan sebesar 50 persen.

 

Namun melihat perkembangan yang ada, keberadaan tol di Suramadu belum memberikan hasil yang signifikan bagi perekonomian masyarakat Madura. Sehingga, pada tahun 2018 ini setelah melakukan pengkajian diputuskan bahwa Jembatan Tol Suramadu berubah nama menjadi jembatan non tol.

Presiden Jokowi memandang, bahwa selama ini keberadaan Jembatan Suramadu belum mampu mengurangi ketimpangan kemiskinan.

 

Berdasarkan angka yang ada, angka kemiskinan di madura cukup tinggi mencapai 4-7 persen dibandingkan dengan masyarakat Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Sementara di Jatim angka kemiskinan di Madura mencapai 16-23 persen.

 

Kedepan dengan diresmikannya Jembatan Non Tol ini, ekonomi Madura akan tumbuh baik dan maju. Khususnya, bagi investasi yang akan datang seperti properti, wisata hingga turis dari luar berkunjung ke Madura. Ini adalah keputusan atau bentuk dari rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia utamanya masyarakat Madura.

"Ya kalau kita mau urusan politik nanti saya gratiskan bulan Maret saja, tahun depan. Gitu loh. Jangan apa-apa dikaitan dengan politik, ini urusan ekonomi, investasi, kesejahteraan, keadilan," ujar Jokowi di Jembatan Suramadu, Jawa Timur.

 

Setelah Gratis , Perawatan Suraadu Masuk APBN

 

Menyangkut soal perawatan jembatan Suramadu pasca perubahan status dri tol menjadi nontol,   Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan biaya perawatan Jembatan Suramadu akan ditanggung APBN. Menurutnya, biaya perawatan sudah dimasukkan ke dalam RAPBN 2

 

"Yang pasti ada anggaran pemeliharaan, ada tambahan anggaran untuk itu. Kan sudah beberapa bulan yang lalu persiapan penggratisan jembatan itu," kata Basuki seperti dikutip dari Antara.

Basuki mengatakan secata total, biaya perawatan Jembatan Suramadu tidak besar. Prosentase biaya perawatan hanya mencapai 7-10 persen dari pendapatan jembatan tersebut. Sebagai informasi, total pendapatan yang bisa didapat dari operasional tol Suramadu pada 2015 Rp110 miliar.

Pada 2016, setelah ada diskon sekitar 50 persen, pendapatan menjadi sekitar Rp118 miliar. Dengan pendapatan tersebut berati biaya perawatan Jembatan Suramadu hanya berkisar antara Rp8 miliar- Rp11,8 miliar.

Mengenai sisa utang yang diambil untuk pembangunan jembatan, Basuki mengatakan sebesar Rp2,5 triliun. Utang dihimpun dari konsorsium Chin

"Tapi investasinya semua Rp5,4 triliun, 10 tahun itu pasti ada pendampingnya, rupiah murni, konsorsiumnya Rp2,5 triliun, sisanya rupiah APBN 2003-2008.

Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo ketika ikut mendapingi Presisen Jokowi pada momentum peresmian mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Presiden Jokowi yang secara resmi memberlakukan jembatan non tol Suramadu yang menghubungkan dua daerah di Jatim melewati Selat Madura itu.

Bedasarkan data yang ada, panjang Jembatan Suramadu membentang sejauh 5.44 km yang dapat dilalui oleh dua ruas kendaraan baik motor, mobil dan bis hingga truk yang melintas.

Sekjen PAN Eddy Soeparno berprasangka baik dan enggan mengaitkannya urusan politik. "Saya tidak mau berspekulasi ada motivasi politik di balik itu, kita ber-husnuzan saja," ujar Eddy kepada wartawan di Jakarta.

Penggratisan akses jembatan Suramadu sebelumnya disorot elite dari kubu oposisi. Namun secara pribadi, Eddy memberikan apresiasi pada Jokowi.

"Dan saya kira apa yang dilakukan oleh Bapak Presiden perlu kita apresiasi. Mungkin ada suara sumbang, ada interpretasi yang berbeda, tapi saya lihatnya ini sebagai hal yang betul-betul tulus," katanya. (amin istighfarin)

 

 

 

Foto : Rombongan peserta LKTW Pemprov Jawa Timur saat diterima Bupati Malang Rendra Kresna di Pendopo Agoeng Selasa (28/8/2018) malam.

Perlu data yang valid

Terhadap keberhasilan Gubernur Jawa Timur  Soekarwo dibidang peternakan tersebut anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur Pranaya Yudha mengakui bahwa Jawa Timur menjadi barometer peternakan secara nasional. Produksisapi dan daging sapi melimpah.

“Cukup beralasan kalau kemudian Gubernur mengeluarkan statemen penolakan terhadap daging impor. Stok sapi Jawa Timur melimpah. Itu saya sepakat,” tegas Yudha panggilan akrapnya ketika dikonfirmasi di kantornya Jalan Indrapura Surabaya.

Keberpihakaan kita harus jelas. Artinya, gubernur harus  memikirkan rakyatnya. Bulan ramadhan, lebaran, tahun baru dan Idul Qurban adalah hari baik bagi peternak Jawa Timur. Saatnya mereka menikmati keuntungan.

Selain itu, program nasional Upsus Siwab harus menjadi pemicu sekaligus memperkokoh posisi Jawa Timur secara nasional."Opsus Siwab bertujuan untuk meningkatkan jumlah populasi ternak di Jawa Timur," 

Anggota DPRD paling muda ini menyatakan,  kendala yang selalu ada adalah pendataan yang kurang valid antara data jumlah populasi ternak (populasi surplus) dan data jumlah ternak siap potong. Data pemotongan di RPH sekarang ini trennya menurun sejak tahun 2012 meski dalam skala nasional masih yang tertinggi dan tebaik.

Temuan kami dilapangan banyak faktor mengapa cenderung menurun. Penyebabnya adalah jumlah populasi mayoritas milik rojokoyo, perlu adanya pengendalian pemotongan ternak betina produktif sekaligus solusinya agar peternak rojokoyo bisa hidup tanpa harus memotong ternak betina produktif.

Dan faktor ketiga, perlunya diadakan kebijakan inovatif jangka panjang seperti mengoptimalkan RPH RPH yang sudah ada untuk mengelola bisnis penggemukan sapi siap potong.

Disnak Jawa Timur, perlu serius mengkonsep dan menjalankan BUMD yang fokus masalah pembibitan ternak untuk ketersediaan jumlah ternak siap potong dan stabilitas harga daging.

Menjawab pertanyaan perlunya subsidi angkutan untuk menekan tingginya harga daging, Prana Yudha mengatakan, eksekutif dan legislatif memang perlu mendiskusikan ini.

Sepanjang itu benar benar memberikan manfaat untuk untuk masyarakat Jawa Timur, bisa dilakukan. Sebab jangan sampai angkutannya disubsidi, tapi sapinya dibawa keluar provinsi. Jadi yang disubsidi hanya yang beredar di Jawa Timur saja.

Subsidi angkutan itu bisa dilakukan kalau untuk antar Kota/Kabupaten dalam provinsi. Karena dananya bersumber dari APBD, maka peruntukannya juga untuk rakyat Jawa Timur. Namun yang paling urgen untuk saat ini adalah pendataan yang harus benar benar valid.

Pendataan dan penataan itu mulai dari jumlah sapinya, pembuntingan setiap tahunnya, dasar pembentukan BUMD,RPH. Semuanya harus ada dasar hukumnya. kata Yudha. (Amin Istighfarin)

Bupati Malang DR Rendra Kresna dan Kepala Disnak & Kesehatan Hewan Kab. Malang Nurcahyo,SH,M.Hum

20 Tahun Bergelut Dengan Sapi

Kabupaten Malang menjadi  salah satu daerah yang memiliki populasi sapi terbesar dalam skala daerah baik sapi potong dan sapi perah.

Bukan hanya sapi potong yang berkembang, tapi juga sapi perah, kambing PE, dan unggas baik berbasis daging potong dan petelur. Khusus untuk persapian  Bupati Malang Rendra Krena  mengaku sudah cukup lama bergelut dengan sapi yaitu sejak dirinya masih anggota DPRD Kabupaten Malang sampai pimpinan DPRD dan  bupati 2 periode. Hampir 20 tahun. Jadi saya paham betul," tandasnya.

Saat ini, diwilayah kerjanya tersedia 230.000 ekor sapi. Setiap tahunnya lahir anak sapi (pedet) 60.000 ekor lebih. Harga pedet antara sudah diatas Rp 8,5 juta atau diatas Rp 500 milliar.

Sedangkan untuk sapi perah tersedia  90.000 ekor lebih. Jadi untuk ketersediaan daging,  Jawa Timur plus dengan daerah lainya sangat  terpenuhi, bahkan lebih. Jadi kalau Pak Gubernur Pakde Karwo menolak daging impor, salah satunya alasanya ini. Pak Gubernur berfikir rakyatnya harus sejahtera dulu.

Dari peternakan saja, sumbangsih untuk PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Kabupaten Malang kisaran 2 sampa 3 persen atau sekitar Rp 1,5 triliun lebih. PDRB Kabupaten Malang pada tahun 2017 sekitar Rp 8,27 triliun 

Tapi PDRB itu sumbernya tidak saja pertanakan, melainkan dari industri olahan, pertanian, perdagangan, perkebunan dan lainya.

Lalu apa yang membedakan Kabupaten Malang dengan daerahnya lainnya di Jawa Timur, Rendra Kresna mengatakan, pertama karena masyarakat senang bertenak. Minatnya memang sudah ada.

Kedua eksistensi, pemerintah serius menfasilitasi peternak. Dan tidak kalah pentingnya adalah peran pejuang pejuang peternakan yang kita sebut ensiminator yang ada di desa desa. Mereka bukan pegawai negeri, bukan pegawai daerah.

Tapi mereka berkomitmen dan pemberintah memberikan fasilitas, memberikan pelatihan dan keperluan hanya mereka butuhkan. Pembekalan , ilmu  termasuk insiminasi buatan. Potensi peternakan di Kabupaten Malang tidak mengada-ada.

Tak terkecuali, adalah keberadaan BPIB Singosari yang merupakan hasil sumbangan dari Pemprov Jatim.

Kala itu Gubernur Jatim, Imam Utomo mendatangkan sapi pejantan dari Australia, kini terus dikelola di BPIB sehingga menghasilkan semen beku yang bisa dipesan oleh siapapun, baik untuk semen beku bibit jantan, betina sampai kembar dengan harga murah.

“Setiap tahunnya kita bertemu dengan mereka, peterna maupun insiminatoruntuk diberikan pelatihan. Peserta luar negeri banyak mengikuti pelatihan di BPIB. Kita memiliki 67 petugas inseminator. Mereka memiliki semangat tinggi turun langsung ke para peternak di desa-desa.

Rata-rata anak sapi atau pedet 60 ribu per tahun dari inseminasi BPIB. Jumlah itu belum termasuk yang alami dan baru jenis sapi potong. Jumlah populasi sapi kurang lebih 230 ribu ekor sapi potong dan 90 ribu sapi perah. Itu diluar sapi pabrikan.

Didampingi Kepala Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan Pemkab Malang Nurcahyo,SH,M.Hum, Rendra Kresna menyatakan, dalam perkembangannya petani ternak di Malang sudah terbagi dalam klaster klaster.

Ada spesialisasi pedet. Mereka ini hanya bermain kusus pedet usia 0 bulan sampai 6 bulan. Lalu adalagi yang spesialisasinya usia satu sampai dua tahun.

Bagi mereka yang spesialis pedet cenderung membeli yang betina, lalu diikutkan program penggemukan. Jadi keuntungannya berpindah pindah sesuai profesinya. “Mereka itu sudah punya ilmunya,”

Dinas Pertenakan tidak bermain disitu melainkan pada tataran  budidaya dari memelihara indukan, membuntingkan, menjaga sehatan, menjadikan bibit bagus. Kalau harga itu yang menentukan adalah pasar.

Kalau harga pedet atau sapi lagi bagus, ya silahkan saja pembeli nego dengan pemilik ternak. Tugas pemerintah adalah melindungi ternaknya, dagingnya, dan aman untuk di kunsumsi.

Menyingung soal harga daging sapi yang cenderung variatif, Kadis Peternakan Kabupaten Malang Nurcahyo mengatakan, yang membuat mahal bukan harga sapinya melainkan darimana sapi itu didatangkan atau transportasinya.

Untuk orang Malang, harga daging kisaran Rp 100ribu. Tapi sampai di Surabaya, perlu ada tambahan biaya angkutannya. Biaya transportasinya itu menjadikan daging mahal.

Menurutnya, harga daging di Malang kisaran Rp 100ribu. Tapi kedepan daging di Surabaya tidak setinggi sekarang. Kemudahan akses jalan tol akan memperlancar distribusi ternak dari Malang ke Surabaya.

Nurcahyo menjelaskan, meski Malang termasuk penopang sapi di Jatim namun untuk memenuhi kebutuhan susu warga Malang ternyata masih kurang. Penyebabnya karena dari peternak langsung menjual ke Nestle. Dan pasokan dari peternak untuk kebutuhan Nestle masih sangat kurang.

Untuk mengakselerasi percepatan target pemenuhan populasi sapi potong dalam negeri, Jawa Timu telah melakukan program Upsus Siwab (Usaha Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting).

Ini adalah program nasional Kementerian Pertanian dalam rangka melakukan percepatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (UPSUS SIWAB).

Upaya ini dilakukan sebagai wujud komitmen pemerintah dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan tercapai pada tahun 2026 mendatang.

Diharapkan melalui Upaya Khusus ini terwujud Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan, dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Kepala Disnak Jatim, Drh. Wemmi Niamawati, MMA mengatakan, bila tahun sebelumnya, UPSUS SIWAB dilaksanakan pada sapi potong, tahun ini akan dilaksanakan pada sapi perah. Belum lama ini, Disnak Jawa Timur juga melakukan Rakor (Rapat Koordinasi) Upsus Siwab Sapi Perah.

Koordinasi dilaksanakan dengan pengurus KUD sapi perah, perusahaan sapi perah, GKSI serta perwakilan dinas kabupaten/kota yang memiliki potensi sapi perah.

Populasi sapi perah dan produksi susu sapi di Jawa Timur adalah sebanyak 54% dari nasional.

“Meskipun kontribusi Jawa Timur terhadap nasional cukup tinggi, namun masih perlu dikembangkan lagi karena kebutuhan Industri Pengolah Susu untuk nasional masih kurang sekitar 800 ton per hari”,

Ditambahkannya, biogas perlu terus digalakkan bagi anggota KUD. Kadisnak mengharapkan ternak yang keluar dan masuk ke Jatim, dilaporkan dan atas rekomendasi dinas kabupaten/kota serta mendapatkan izin dari dinas provinsi. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga wilayah Jatim dari penyakit hewan menular.

Pada tahun 2018, di Jatim disediakan 245 ribu straw bibit sapi perah Fresien Holstein (FH) bagi peternak. Bagi ternak sapi perah yang bukan anggota KUD dan GKSI, masih bisa diikutkan UPSUS SIWAB seperti pada sapi potong.

Melalui UPSUS SIWAB, petugas KUD diwajibkan melaporkan hasil IB, PKB dan kelahiran melalui ISIKNAS. Pelatihan pelaporan iSIKHNAS bagi petugas KUD dilakukan oleh dinas kabupaten/kota 

Selain sosialisasi UPSUS SIWAB, juga dilaksanakan sosialisasi asuransi ternak, Nomor Kontrol Veteriner (NKV) serta pembebasan brucellosis. Untuk tahun 2018 ini disediakan 20 ribu Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) bagi peternak sapi di Jatim.

Pada tahun 2017, KUD Setia Kawan – Nongko Jajar mendaftarkan 5.000 ekor sapi perah untuk ikut asuransi. Dengan adanya asuransi tersebut, sangat membantu peternak, karena pada tahun tersebut peternak memperoleh biaya asuransi sebanyak 960 juta dari 96 ekor sapi yang mati.

Untuk menuju sukses 2026 , Disnak Jawa Timur telah menetapkan UPSUS SIWAB secara bertahap dan tahun 2018 ini memiliki target : target IB 1.295.600 akseptor, target kebuntingan 1.005.629 ekor, target kelahiran 939.136, penanaman HPT 30 hektar (300.000 stek), dan pngndalian pemotongan produktif 6 lokasi

Sebaliknya kontribusi Upsus Siwak  Jawa Timur untuk nasional tahun 2018 targetnya: insiminasi buatan 1.295.600 (nasional 3.000.000) atau 43,20 persen, kebuntingan 1.005.629 (nasional 2.307.794) atau 43,58 persen dan kelahiran 933.136 dari target nasional 2.148.048 atau 43,72 persen.  (Amin Istighfarin)

Sebanyak 150 sapi milik warga Wonoayu Kecamtan Wajak mengikuti demo insiminasi buatan , pada Rabu (29/8/2018)

 “Bahagia itu sederhana, dimana hati selalu bersyukur atas apa yang kita dapat”

Kalimat bijak diatas cocok untuk seorang laki laki bernama Usman, 30 tahun, penduduk desa Wonoayu Kecamatan Wajak Kabupaten Malang, Jawa Timur. Usman adalah peternak sapi yang sukses di desanya. Ia juga  dikenal sebagai tukang batu yang mumpuni. Selain itu, Usman seorang petani yang produktif dengan sawah miliknya seluas 1 hektar.

“Untuk orang seperti saya, kalau mau hidup hemat  dan tidak neko neko, sudah cukup. Sapi menjadi simpanan. Ibaratnya emas. Baru dijual juika keadaan darurat," ungkap Usman, bapak satu anak ini kepada wartawan dirumahnya Desa Wonoayu, Rabu (29/8/2018).

Usman hidup dalam keluarga yang bahagia. Dirumahnya hanya ada  istri, satu anak, dan mertuanya. Meski usia mertuanya sudah menginjak 60 tahun, namun masih mampu ngarit (mencari rumput) untuk pakan ternak dan berkebun

Penghasilannya sebagai tukang batu Rp 525.000/minggu.Awalnya sapinya hanya satu. Setelah ikut kelompok ternak sapi di Desanya Wonoayu, berikut program insiminasi buatan (IB), kini berkembang menjadi tujuh.

Dia bercerita bahwa merawat sapi ternyata sangat mudah. Makanannya hanya rumput biasa. Diusahakan tidak dikasi makan damen  kering. Sebab bisa menjadikan sapi kelihatan tidak sehat,kurus. Seminggu dua kali ada makanan yang bergizi misalnya dari katul dan vitamin. Untuk vitamin ini ada bantuan dari pemerintah (Disnak).   

Untuk sapi yang ia miliki, tergolong sapi bagus dengan harga kisaran Rp 23 juta. Dan pedetnya, usia sampai enam bulan antara Rp 8 jutaan sampai Rp 10 juta. Untuk sapi yang baik, tandanya kepalanya besar, kaki besar, pantatnya press (montok) dan badan memanjang. Jenis ini harga pasti tinggi “Kami berharap pemerintah bisa membantu vitamin terutama saat bunting,” harap Usman.

Menyinggung soal kawin suntik, dikatakan Usman, untuk kawin Suntik biaya Rp 65.000/suntik. Kalau gagal, kawin suntik berikutnya hanya dipungut biaya Rp 30 ribu saja. Biasanya sekali langsung bunting, tapi juga ada yang sampai enam kali. Tapi biayanya tetap tidak ada tambahan. Bagi peternak sapi juga harus paham pada saat mana harus kawin suntik. “Ada tanda tandanya,” ucapnya.

Hari itu, UPT Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur di Malang sengaja melakukan demo Sapi dengan melibatkan 150 ekor, 130 diantaranya adalah sapi betina. Tujuannya,  kepada publik bahwa Wonoayu memang gudangnya sapi, pemeriksaan pembuntingan dan insiminasi buatan (IB). Pertama adalah dokter hewan. Kedua petugas insiminator yang sudah mengikuti pelatihan pembuntingan.

Hari ini ada 60 petugas insiminator. Namun yang bisa melakukan pembuntingan hanya 20 oang saja. Untuk menjadi petugas insiminator saratnya punya jam tebang sekurang kurangnya 2 tahun dan bersertifikat. Jadi 20 oang itu yang memiliki kompetensi.terang Iswahyudi Kepala UPT Dinas Peternakan Jatim di Malang.

Di Kabupaten Malang hampir semua Kecamatan memiliki sentra petenakan binaan . Hanya saja di Wonoayu, Kecamatan Wajak relatif lebih banyak ketimbang desa lainya. Kepala Desa Wonoayu Wina Ernama,S.Sos,Msi menyatakan, Wonoayu berada di ketinggian 50 meter diatas permukaan laut. Desa ini dihuni 392 KK (Kepala Keluarga), dengan jumlah sapi 886 ekor

Pada umumnya penduduk tidak hanya berternak sapi, tapi juga ada Kambing dan ayam. Jadi rata rata satu rumah minimal ada 2 sapi.

Dalam lima belas tahun terakhir ini penduduk desa Wonoayu, perkembangannya sangat pesat. Semula rumah rumah penduduk tidak sekokoh ini. Jalan utama tidak sebagus sekarang beraspal mulus. Mayoritas penduduknya sebagai petani sawah dan berternak.

Generasi mudanya,saat ini sudah mulai menyerbu Kota. Namun juga banyak yang bekerja di luar negeri (TKI) terutama wanitanya. Malaysia, Hongkong, Taiwan dan Singapura menjadi tujuan utamanya. Kalau Timur Tengah hampir tidak ada.

Melihat perlompatan ekonomi yang demikian pesat, Bu Kades Ernama, mengaku  kawatir akan terjadi krisis petani ternak di desanya. Sebab generasi penerusnya cenderung memilih hidup di kota baik sebagai pekerja maupun wiraswasta.

Kami selalu mendorong untuk mencari pengalaman baru. Namun kalau arus urbanisasi ini tidak bisa dibendung, kedepan lalu siapa yang meneruskan . Padahal desa Wonoayu sangat dikenal sebagai gudangnya ternak sapi.

Dulu rumah rumah disini berdiri seadanya. Tapi sekarang sudah bata merah. Bagus bagus. Setiap rumah sudah ada sepeda motor dan bahkan mobil,termasuk peralatan elekronik lainya seperti teevisi.

Jalan juga sudah beraspal mulus. Sebagian dibangun oleh Pemkab Malang melalui APBD, anggaran dana desa (ADD) dan  swadaya masyarakat.

Kami selalu membangun komunikasi dengan Pak Miskat , anggota DPRD Kab Malang yang kebetulan penduduk asli Wonoayu. Beliau ini sangat perhatian dengan desanya. tegas Bu Kades sambil melirik Miskat yang ada di disebelahnya. 

“Sapi, kambing dan ayam ini menjadi simbol kesejahteraan  masyarakat Wonoayu,” ucapnya.

Peternakan Sapi ini mulai ada sejak 1990. Mulanya hanya sekitar lima orang. Itupun ada keengganan menerima bantuan dari Pemkab. Saat itu pola asuhnya masih sangat tradisional.  Kemudian tahun 2003 mulai ada  program yang lebih modern yaitu IB (insiminasi buatan/kawin buatan).

Ernama,S.Sos,MSi yang akan mengakhiri jabatanya kali kedua pada tahun 2019 menjelaskan, kegiatan warganya selain bertani, beternak sapi, kambing dan ayam, ada pekerjaan lain yaitu tanaman hias yang setiap minggunya bisa mengirim 2 sampai 3 truk ke Jawa Tengah. Juga produksi kripik tempe.

Hari ini desa Wonoayu punya Icon yang sangat ektrem yaitu olahraga bermotor kusus tril 1500cc, Pacuan Kuda dan Kolam renang. Sekolah sepakbola (SSB) juga mulai kita bina.

Belum lama ini kita adakan lomba motor piala Menpora dengan melibatkan pembalap pembalap se Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Areal balap motor sangat menantang karena medanya  berbukit. Arena pacu motor dan lapangan sepakbola terus kita benahi. tandas Ernama setengah promosi keberhasilannya itu.

Pertumbuhan populasi Sapi di Jawa Timur selama kurun waktu empat tahun terakhir sejak 2015 sampai 2017 mengalami kenaikan sampai 3,77 persen.

Pada tahun 2015 misalnya ketersediaan sapi potong mencapai 4.267.325 ekor, lalu 2016 meningkat menjadi 4.407.807 ekor dan tahun 2017 menjadi 4.573.893 ekor.

Sedangkan untuk sapi perahan juga dari tahun ke tahun menglamani kenaikan. Tahun 2015 sampai 2017 terjadi kenaikan 4,03 persen. Pada tahun 2015 tercatat 256.947 ekor, tahun 2016 265.002 dan tahun 2017 menjdi 275 675 ekor sapi.

Lalu bagaimana dengan kontribusi Jawa Timur dalam pengadaan pangan  nasional. Data di Dinas Peternakan Jawa Timur menunjukan nilai positif dengan menyumbang 28 persen.

Populasi Jawa Timur untuk sapi potong 4.573.893 ekor, sedangkan angka nasional hanya 16.599.247. Sapi perah populasinya 275.675 ekor.

Sebaliknya untuk produksi daging dan susu sapi di Jawa Timur  pada tahun 2017 mencapai 102.932 ton, sedang tahun yang sama produksi nasional hanya 531.757 ton atau sekitar 19 persen.

Untuk produksi susu pada tahun 2017 mencapai 513.715 ton, sedang produksi nasional hanya 928.893 ton atau menyumbang 55 persen untuk nasional.

Melihat produksi yang sedemikian besar baik sapi potong, sapi perah, daging sapi dan susu menempatkan Jawa Timur diperingkat 1 nasional sekaligus menjuluki Jawa Timur sebagai lumbungnya peternakan.

Untuk mendukung ketahanan Jawa Timur sebagai sentra peternakan, Dinas Peternakan memiliki 7 UPT (Unit Pelaksana Tekinis). Sentra petenakan itu ada di Jombang, Madura, Lamongan, Madiun, Tuban dan Kabupaten Malang yang terbesar. Didukung 20 Laboratorium, tiga diantaranya milik Pemprov yaitu di Tuban, Madura dan Malang,serta 17 Lab milik Pemkab/Kota.

Jawa Timur juga memiliki rumah potong hewan terbanyak diantaranya yaitu 134 RPH (131milik pemerintah) dan 3 RPH milih swasta, 202 pasar hewan, 19 pabrik pengolahan pakan ternak, 35 pos IB (Insiminasi Buatan), 8.500 kelompok Ternak,  dan 67 Koperasi Ternak, serta 1 balai besar inseminasi buatan (BBIB) di Singosari Malang dan UPT IB Disnak Jawa Timur.

Sementara itu memperceat peningkatan populasi ternak Disnak Jawa Timur juga terus melakukan pelatihan pelatihan terhadap SDM (Sumber Daya Manusia).

Sampai tahun 2017 tercatat ada 364 petugas medik (dokter hewan), petugas paramedik veteriner 636 orang, petugas insiminator (IB) 1.436 orang, petugas pemeriksa kebuntingan (PKB) 1.129 orang. (Amin Istighfarin)

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Sebanyak 2/3 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menyumbangkan kaum intelektual di Jawa Timur. Kaum intelektual tersebut berasal para mahasiswa maupun lulusan mahasiswa dari universitas sehingga melahirkan masyarakat Jatim yang cerdas dan berakhlak mulia

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo saat memberikan sambutan dihadapan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo pada acara Kuliah Umum Wawasan Kebangsaan dan Pembukaan Rakernas Lembaga Pendidikan PGRI  di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Kamis (6/9). 

Dikatakannya, kaum intelektual di Jatim telah memberikan warna positif bagi pembangunan di Jatim. Saat ini jumlah, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jatim sebanyak 10 universitas sedangkan jumlah PTS sebanyak 326 universitas.

Dari jumlah itu, lanjut Pakde Karwo jumlah mahasiswa di Jatim sebanyak 721.682 orang terdiri dari mahasiswa PTN sebanyak 209.463 orang dan PTS sebanyak 512.219. "Kehadiran Bapak Presiden di Jatim sangatlah tepat untuk memberikan motivasi kepada generasi muda, karena sebanyak 2/3 kaum intelektual berasal dari PTS di Jatim," ujarnya.

Tingkatkan Kualitas dengan IT

Sementara itu, dihadapan ribuan mahasiswa yang hadir, Presiden Jokowi mengingatkan untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan memanfaatkan informasi teknologi (IT). Terlebih, saat ini telah terjadi Revolusi Industri 4.0.

Revolusi industri 4.0, tambahnya merupakan perpaduan antara teknologi, ilmu pengetahuan yang mengedepankan akses dan kecepatan. Maka, generasi muda harus segera untuk menyesuaikan diri. "Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menghadapi Revolusi Industri ke 4.0. Apakah kita ditinggal ataukah melompat jauh seiring dengan perkembangan itu," terangnya.

Diakhir arahannya, Kepala Negara menegaskan, bahwa meskipun teknologi tumbuh secara cepat namun generasi muda tidak boleh melupakan jati diri sebagai bangsa yang besar. "Sebagai kaum intelektual mahasiswa harus senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa seiring dengan era teknologi.  Kita harus sadar bahwa Indonesia adalah negara besar yang mempunyai potensi maupun kekuatan yang luar biasa," tegasnya. 

Terkait PGRI, Presiden menyatakan, bahwa PGRI lahir dari perjuangan Bangsa Indonesia. Peranan PGRI sangatlah strategis dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Presiden berharap, PGRI terus mampu menjadi organisasi yang dapat mencetak kaum intelektual.  Terutama, mencetak generasi muda kader anak didik bangsa.  "Terima Kaaih PGRI teruslah berjuang dan isi kemerdekaan melalui pendidikan nasional," tutupnya.

Hadir dalam kesempatan itu, Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifudin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Gubernur Jawa Timur. (min)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...