Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Keistimewaan Umroh di Bulan Sya’ban : Mengapai Rejeki, Ampunan dan Tolak Bencana

Apr 15, 2018 Publish by 
Suasana tempat thowaf sudah normal kembali.
Suasana tempat thowaf sudah normal kembali. (kt/makin rahmat)

KEISTIMEWAAN bulan Sya’ban sudah tidak diragukan lagi kemasyhurannya. Walau masih ada khilafiyah (perbedaan) mengenai amaliyah, namun bulan yang datang setelah bulan Rajab (Sahrulllah), menjadi bagian penting dalam menyongsong bulan suci Ramadan. 

Mengapa bulan Sya’ban menjadi istimewa, terutama bagi hamba Allah yang memenuhi panggilanNya sebagai Dloifullah (tamu Allah)? Yang jelas, Rasulullah SAW bersabda dalam doanya: “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukan kami di bulan Ramadan.” Subhanallah!!!.

Artinya, rangkaian bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan mempunyai kaitan erat dan saling berhubungan guna memperoleh kedudukan yang mulai di hadapan Allah Yang Maha Rahman-Rahiim. Tentu, bagi dloifullah memperoleh kemabruran adalah tujuan utama dalam beribadah haji dan umroh. 

Lebih dari itu, mengapai kesempurnaan dalam beribadah umroh dan haji perlu pengabdian dan pengorbanan saat berada di tanah air, yaitu berusaha memahami dan mengamalkan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Setidaknya, salah satu kompetensi untuk meraih gelar mabrur, yaitu orang-orang yang mampu menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang dan sempit, mampu menahan diri dalam amarah (nafsu) serta mempunyai jiwa pemaaf terhadap manusia. 

Dalam konteks bulan Sya’ban, termasuk salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam. Khususnya, pada malam Nisfu Sya'ban (15 Sya’ban), Allah SWT turun ke langit dunia dan memberi syafaat (bantuan) bagi siapa saja yang meminta pada malam itu hingga terbit Fajar.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Jika terjadi malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah kamu sekalian pada malam harinya, dan puasalah kamu sekalian pada siang harinya. Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun pada malam tersebut ke langit dunia mulai dari terbenam matahari dan berfirman,

k ada orang yang meminta ampun, sehingga Aku mengampuninya? 

Apakah tidak ada orang yang meminta rezeki, sehingga Aku memberinya rezeki? 

Apakah tidak ada orang yang terkena bala, sehingga Aku dapat menyelamatkannya? 

Apakah tidak demikian, apakah tidak demikian, sehingga terbit fajar."

Tentu saja, bagi jamaah umroh yang safar (bepergian) di bulan Sya’ban mempunyai keutamaan-keutamaan. Apalagi, kondisi di Makkatul Mukaromah setelah renovasi tempat areal Mathof (tempat Thowaf) selesai di sekitar Zam-zam, diberikan kebebasan kepada jamaah untuk melaksanakan thawaf sunnah di lantai dasar tanpa harus memakain ihram bagi jamaah pria. 

“Memang sejak pertengahan Rajab, mathof di lantai dasar sudah terbuka untuk umum. Artinya, sebelumnya ada larangan, yang di lantai dasar thowaf harus memakai ihram bagi jamaah laki, sekarang sudah bebas,” kata ustadz Muhammad Mujahid, salah satu Tour Leader (TL) senior dari PT. Arofahmina di Jl. Kartini Surabaya.

Ditambahkan Ustadz Gufri, muthowwif asal Lombok, transisi dari musim dingin ke panas, juga memberikan kefaedahan bagi masyarakat Makkah-Madinah. “Tentu saja, jamaah bakal memperoleh keutamaan dan masa panen kurma yang bagus. Jadi, menjelang Ramadan dan memasuki bulan Haji (Syawal, Dzulqoddah, dan Dzulhijjah) merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji yang sangat ditunggu umat muslim sedunia,” paparnya.

Hal lain yang diperlu diketahui di bulan Sya’ban, kemenangan umat muslim dalam peperangan Bani Mustalik pada tahun 5 Hijrah. Peperangan ini lebih masyhur disebut perang yang mengambarkan kekokohan iman para sahabat, apalagi setelah terjadinya perang Badar di akhir tahun 4 Hijrah.

Berikutnya, berdasarkan hadits riwayat An Nasai dan Abu Dawud dan ditashih oleh Ibnu Huzaimah dari Usamah bin Zaid, katanya, "Aku berkata, Wahai Rasulullah, aku tidak melihat tuan berpuasa dari satu bulan dari beberapa bulan seperti puasa tuan di Bulan Sya'ban."

Beliau menjawab, "Itu adalah bulan yang dilupakan oleh manusia antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan Sya'ban itu bulan amal-amal diangkat ke hadapan Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, aku senang apabila amalku diangkat, sedangkan aku berpuasa."

“Sya’ban juga disebut bulan membaca Al-Quran, sesuai hadits riwayat Anas RA, "Adalah orang-orang muslim apabila masuk bulan Sya'ban, mereka membuka mushaf-mushaf Al Qur'an dan membacanya, mengeluarkan zakat dari harta mereka untuk memberi kekuatan kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin untuk melakukan puasa Ramadan.

" Berkata Salamah bin Suhail, "Telah dikatakan bahwa bulan Sya'ban itu merupakan bulannya para qurra' (pembaca Al Qur'an)." Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya'ban dia berkata,

"Inilah bulannya para qurra'."

“Jadi, bukan hanya pecinta AlQuran, pada niaga (pedagang) juga menyempatkan diri untuk menghormat bulan Sya’ban. Dari 'Amr bin Qais Al-Mula'i apabila masuk bulan Sya'ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur'an. Sangat istimewa sekali, bulan Sya’ban," ulas Gus Rofiq, sapaan Romo Kiai Rofiq Siraj.

Sebagian besar ulama salaf menyakini, bahwa Sya’ban merupakan bulannya Baginda Rasulullah SAW. Hal ini berdasarkan sabda baliau yang berbunyi, "Bulan Rajab itu adalah bulan Allah, bulan Sya'ban adalah bulanku dan bulan Ramadan adalah bulannya umatku.

"Bahkan, salah satu riwayat menyebut, Rasulullah SAW pada setiap setiap malam tanggal 15 Sya'ban selalu melakukan shalat malam dengan sangat lama, menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, sehingga Al-Hafidh Al-Baihaqi dalam kitab Musnadnya meriwayatkan hadits dari A'isyah ra katanya "Rasulullah SAW pada suatu malam bangun, lalu melakukan shalat. Beliau memperlama sujud, sehingga aku mengira beliau telah wafat. Setelah aku melihat yang demikian itu, aku bangun sehingga menggerakkan ibu jari beliau, dan ibu jari beliau bergerak."

Yang istimewa, ternyata pada setiap malam Nisfu Sya’ban Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra menceritakan sebagai berikut, 

"Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada malam ini (malam nisfu sya'ban) ke Baqi' (kuburan dekat masjid Nabawi) dan aku mendapatkan beliau dalam keadaan memintaan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan para syuhada."

Intinya, banyak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnad beliau, Imam At-Tirmidzi At-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Al Baihaqi dan An Nasai, yang menetapkan bahwa Rasulullah SAW adalah memuliakan malam Nisfu Sya'ban dengan memperbanyak shalat, doa dan istighfar. 

Jadi, bukanlah perbuatan bid'ah dan bukan pula perbuatan aneh jika malam nisfu Sya'ban dijadikan malam untuk banyak berzikir, berdoa dan istighfar dan melakukan shalat bagi kaum muslimin.

Maka tak heran, kalau Imam Al-Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh syafaat (pertolongan). Menurut Al Ghazali, pada malam ke 13 di bulan Sya'ban, Allah SWT memberikan tiga syafaat kepada hamba-hambanya. 

Sedangkan pada malan ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Sehingga pada malam ke-15, umat Islam mempunyai kesempatan menebar kebaikan dan amalan sholiha sebagai penutup amalnya selama satu tahun. Subhanallah. Wallahu a’lam bish-showab. (makin rahmat)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...