Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Taman Nasional Bromo Tengger Keajaiban Ilahi dalam Sekejab Mimpi

Apr 05, 2018 Publish by 
Dari depan Dr Nik Adzreiman, Djoko Tetuko, Hadi Ismanto, dan Yoyon.  Dr Nik adalah sahabat Djoko dari Malaysia saat menikmati indahnya Bromo, Selasa (3/4/2018)
Dari depan Dr Nik Adzreiman, Djoko Tetuko, Hadi Ismanto, dan Yoyon. Dr Nik adalah sahabat Djoko dari Malaysia saat menikmati indahnya Bromo, Selasa (3/4/2018) (kt/jt)

Laporan Khusus Wartawan Transparansi Djoko Tetuko

Laporan khusus pada penerbitan ini memang sengaja menyajikan salah satu obyek wisata bertaraf internasional, Taman Nasional Bromo Tengger, setelah sekian lama banyak menulis tentang politik dan geliat sosial di negeri ini dengan berbagai pernik kritik konstruktif. 

Menulis laporan wisata dan kuliner sekedar untuk mengendorkan saraf menghadapi Pilkada 2018 kemudian Pilpres 2019 dengan tensi cukup tinggi, sehingga menurunkan suhu politik dengan tulisan ringan yang berbobot serasa menghibur. 

Taman Nasional Bromo Tengger sudah tidak bisa disangsikan lagi keindahan panorama dan keelokan bukit pembentang mengelilingi lautan pasir Gunung Bromo dan Gunung Batok, sebuah pemandangan menakjubkan. Bahkan tidak berlebihan menyebut sebagai keajaiban Ilahi yang nampak dalam mimpi sekejab. Potret kenikmatan dari Allah SWT dalam bentuk alam membentuk begitu mempesona dalam pandangan mata siapa saja.

Taman Nasional Bromo Tengger merupakan bentangan lautan pasir dan savana dengan cincin bukit cukup indah mempesona dan dua gunung berpadu dalam irama syahdu Gunung Bromo yang masih aktif dan Gunung Batok yang sudah tidak aktif berdampingan seperti pasangan pengantin nan berpadu kasih. 

Satu lagi sebuah keindahan nan hijau, satu lagi dengan keindahan lukisan batu dan tanah coklat agak putih dihiasi kebulan asap dari kawah yang nampak bersahaja bersama rona rona fatamorgana lekuk bibir gunung.

Taman dengan bentangan barat-timur 20-30 km dan selatan-utara 40 km, ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayah sekitar 50 hektar. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir dengan luas 6290 hektar. 

Batas lautan pasir berupa ukiran dinding terjal (baca, bukit ) dengan ketinggian 200-700 meter, dengan wilayah Gunung Bromo di Desa Cemorolawang Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan Gunung Batok di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan dan sebagian masuk wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang.

Salah satu keajaiban bisa menyaksikan matahari tenggelam ( antara pukul 17:0-17:20) dan matahari terbit antara pukul 05:00-05:30, dari beberapa  ketinggian yang sudah diberi akses dapat melihat dari dibangun sebuah bangunan view di beberapa tempat, di Bromo Hill, Kingkong Hill, atau bibir Cemorolawang sebelum turun ke lautan pasir, yang sebagian seperti makhluk selalu berbisik, sehingga dinamakan kawasan “Pasir Berbisik”. 

Dua bulan yang lalu bersama Camat Sukapura, Yulius, bersama Tim Koran Transparasni sengaja melihat sunset (matahari tenggelam) dari bibir Cemorolawang, alhamdulillah berhasil mengabadikan beberapa foto cukup apik dan sangat menakjubkan, pada waktu itu sunset pada pukul 16:50-17:10, sebuah keindahan Taman Nasional Bromo Tengger, sekejab memberikan mimpi indah dengan sinar matahari kuning ke merah merahan menyapa dan senyum ramah bersama awan awan yang setia berterbangan menghiasi.

Selasa (3 April 2018) kenbali ke Taman Nasional Bromo Tengger bersama beberapa teman dari Univeristas Muhammadiyah Sidoarjo dan Universitas Utara Malaysia, tetapi hanya sekejab menyaksikan sunset karena datang tepat pukul 17:00, tetapi keajaiban Bromo terasa selalu hadir dengan keindahan di langit langit tersisa, matahari “pamit” menyinari bumi Indonesia dan sekitarnya dengan warna kuning berbalut merah agak hitam, kadang berubah putih kebiru-biruan.

Empat Destinasi 

Sebuah pemandangan nan ajaib dengan keabadian alam sangat memukau mata memandang, ketika remang remang dini hari pukul 03:00 Trubus, jasa sopir mobil jepp mengetuk pintu kamar S 12 di hotel Lava View, maka bersama rombongan siap-siap berangkat untuk menyaksikan sunrise (matahari terbit), alhamdulillah pukul 04:00 sampai di Bromo Hill, dengan menikmati pisang goreng dan teh manis hangat terasa seperti minum di surga.

Begitu nikmat dan nyaman dalam kondisi udara dingin mencapai 2 derajat, ditemani teh dan pisang goreng sebagai pengantar menyesuaikan situasi dan kondisi, juga dingin sepoi poi pagi menjelang subuh. Pukul 04:17 waktu subuh dengan adzan di sebuah tempat ibadah yang disediakan terdapat sekitar 12 sajadah, sebuah bangunan tripleks tetap sangat sederhana dan cukup untuk sholat berjamaah. 

Selepas sholat subuh bersama rombongan akan melanjutkan naik tangga ke Bromo Hill, karena dari ketinggian itu, kata Trubus (35) asli suku Tengger yang sudah dikarunia 2 putra, bisa menyaksikan sunrise. 

Tetapi baru melangkah ke arah tangga sudah ditawari tukang ojek pak Aru (40) dan Darma (33) untuk ke view yang lebih tinggi di puncak Kingkong. Pada saat tamu dari Malaysia Dr Bahatiar Minahad  dan Dr Nik Adzreiman ditawari dan mengiyahkan, rombongan langsung menempuh perjalanan dengan ojek menuju puncak Kingkong. 

Sampai dibatas paling akhir kemudian jalan sekitar 200 meter sudah ada sekitar 500 wisatawan lokal dan mancanegara menunggu sunrise juga. Tempat yang disediakan sudah hampir penuh dengan wisatawan yang sabar dengan handsphone dan kamera menunggu sunrise, sebuah pemandangan mengasyikkan dan terasa penat di Surabaya tiba tiba lenyap terselimuti udara dingin dan angin kencang yang “bernyanyi” merdu. MasyaAllah..., subhanallah .., ciptakan Allah SWT yang Maha Hebat, alhamdulillah pula rombongan berhasil meyaksikan sunrise dari ketinggian puncak Kingkong dengan menyaksikan pula tiga gunung (Bromo, Batok, dan Semeru) seakan akan di depan mata. Juga karena awan terang benderang, maka matahari menyapa dengan senyum indah di pagi buta dengan warna dan wajah amat Ayu menawan bak menikmati secawan air tape ketan hitam yang mulai berasa agak panas dan memanaskan tubuh. 

Alhamdulillah rombongan melanjutkan ke satu lagi Kingkong Hill di bawah puncak Kingkong yang paling tinggi, juga dapat menyaksikan keajaiban lautan pasir berangkulan akrab bersahabat dengan Gunung Batok dan Gunung Bromo yang terus “merokok” dengan asap mengepul ke udara menyatu dengan awan tebal dan tipis yang berlompatan seperti main layang layang. 

Di Bromo Hill rombongan melanjutkan foto-foto dan menyaksikan keindahan sekitar yang juga tidak kalah takjubnya dibanding di dua tempat sebelumnya. Apalagi sinar mentari sudah mulai menyinari dengan terang benderang menjadikan keabadian warna sangat indah, dihiasi pelangi tiba tiba muncul melambaikan tangan di atas Gunung Bromo. Subhanallah. 

Bersama rombongan yang memang sengaja ingin menikmati keajaiban dan keindahan 4 destinasi, maka perjalanan bersama jepp hardtop berlanjut ke Padang pasir dekat lautan pasir lereng kaki menapak ke puncak Gunung Bromo, dan baru turun dari mobil sudah ditawari naik kuda ke tengah tengah gunung dekat tangga menuju puncak, maka rombongan sepakat naik kuda pulang pergi.

Aris (33) warga Asli Tenger, jasa joki kuda menceritakan bahwa ada sekitar 3000 kuda milik warga sekitar Bromo, disiapkan untuk menjamu wisatawan dengan harga sekitar.125 ribu. Dan kami menikmati bersama kuda naik ke ketinggian sekitar 2/3 menuju puncak Gunung Bromo.

Rombongan menyempatkan minum kopi tepat ada warung di sekitar 100 meter dari anak tangga menuju Gunung Bromo, bu Min, pemilik warung warga Cemorolawang mengaku buka mulai pukul 06:00 sampai siang atau sore, dan rombongan melanjutkan sampai ke puncak.

Alhamdulillah sampai di puncak yang jauh berbeda di banding ke Bromo jaman tahun 80-88, faktor usia dan kenyamanan dengan kuda dan jepp hardtop rasanya kenikmatan atas keajaiban yang ada sangat terasa. Tentu saja dengan penuh cita rasa campur syukur atas nikmat Allah SWT, mengabadikan moment indah dan bersahabat ini dengan berbagai pose kayak anak muda.

Dua sudah kenikmatan atas keajaiban kami lalui dengan suka cita, kemudian melanjutkan perjalanan ke “Pasir Berbisik” dan Padang Savana, sebuah pemandangan tidak kalah takjub. Lagi-lagi menambah menberikan keindahan saat pasukan TNI dengan mengendarai motor membawa bendera merah putih menghiasi lautan pasir berbisik dan Padang Savana yang penuh makna. 

Empat destinasi alhamdulillah sudah berhasil kami nikmati seperti terasa sebentar saja di surga dunia, apalagi cerita keajaiban Bromo dan Tengger, juga kisah-kisah nyata tentang sejarah dan flora fauna yang selalu memanggil-manggil menyapa untuk menikmati nikmat dari alam Bromo yang penuh barokah.(JT)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...