Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Pebisnis Jangan Cemas Melangkah di Tahun Politik

Jan 21, 2018 Publish by 
Deputi Bank Indonesia Mirza
Deputi Bank Indonesia Mirza (kt/kh)

Jakarta (KoranTransparansi) - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ( BI) Mirza Adityaswara mengharapkan agar para pelaku usaha swasta untuk tidak takut dalam mengembangkan bisnisnya (ekspansi) pada tahun politik di 2018.

Menurutnya, dalam tahun politik tidak perlu ada kehawatiran yang berlebih dari pelaku usaha dalam negeri. "Sektor swasta apa yang ada di rencana, misalnya, untuk ekspansi 2018, laksanakan. Kalau pemilu setiap lima tahun sekali ada kok. Tidak ada yang baru," ujar Mirza.

Mirza menambahkan, ekonomi nasional saat ini telah beranjak dari titik rendah saat mendapatkan dampak dari penurunan harga komoditas di pasar global pada 2015. Sementara itu, pada tahun 2018 atau tahun politik, BI memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di rentang 5,1 sampai 5,5 persen secara year-on-year (yoy). 

Kemudian dari sisi penyaluran kredit perbankan, Mirza mengatakan, tahun 2018 pertumbuhan kredit akan berada pada posisi 10 persen sampai 12 persen yoy. Sedangkan untuk akhir tahun ini, Bank Indonesia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2017 sebesar 5,1 sampai 5,2 persen. Dan, meningkat menjadi 5,3 sampai 5,4 persen pada kuartal IV 2017.

Sementara Kamar Dagang dan Industri ( Kadin) Indonesia mengungkapkan para pengusaha akan lebih waspada dalam melaksanakan kegiatan usahanya pada tahun 2018. Hal itu dikarenakan 2018 merupakan tahun politik, di mana akan ada ratusan Pilkada serentak yang dilaksanakan sekaligus menjadi pemanasan jelang Pilpres 2019.

" Tahun politik buat pengusaha adalah tahun yang menurut saya harus waspada. Artinya, pasti ada semacam was-was, kehati-hatian siapa nanti yang akan memimpin, kalau memimpin dia akan melakukan apa," kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno.

Menurut Benny, kewaspadaan yang dilakoni pengusaha dalam arti tetap menjalankan kegiatan usahanya seperti biasa, namun dilakukan dengan lebih hati-hati. Meski mengaku tetap waspada, menurut Benny, Kadin memandang ada sektor tertentu yang akan tumbuh cukup signifikan didorong oleh kondisi tahun politik.

"Ini kesempatan juga, aktivitas politik menghela aktivitas ekonomi. Misalnya orang kampanye, butuh banner, tempat logistik, minuman pasti laku. (Jualan) nasi padang pun jalan," tutur Benny.

Dia juga menyinggung tentang prediksi pemerintah mengenai tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 mencapai 5,4 persen. Dari prediksi itu, Benny melihat pemerintah optimistis sejumlah lini indikator tingkat pertumbuhan ekonomi akan meningkat, salah satunya dalam hal konsumsi masyarakat.

Namun, dia berharap yang meningkat nanti bukan hanya dari sektor konsumsi, melainkan juga dari segi investasi serta ekspor.

Potensi kenaikan tingkat pertumbuhan investasi dan ekspor sudah nampak pada data kuartal III 2017 yang menampilkan pertumbuhan cukup tinggi, yaitu 7,1 persen untuk investasi dan ekspor di angka 17 persen.

Tahun 2018, seiring dengan pelaksanaan pilkada di 171 daerah. Selain itu tahun depan tahapan Pemilihan Presiden juga akan dimulai. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku optimistis di tahun politik tersebut perekonomian Indonesia tidak akan terganggu. Sri Mulyani pun mengimbau para pelaku usaha tetap fokus menjalankan bisnisnya. "Kita harap siklus politik jangan berpikir pesimis bahwa ekonomi terganggu," ujar Sri Mulyani.

Menurut dia, Indonesia sudah berkali-kali mengalami situasi politik yang berbeda-beda. Meski tensi politik memanas, tapi Sri Mulyani percaya hal itu tidak berdampak terhadap perekonomian. "Walaupun situasi politik tegang tapi kondisi sekarang semakin bagus," ucap Sri Mulyani..

Sri Mulyani membandingkan siklus politik di negara lain tidak membuat perekonomian lemah. Karena pertumbuhannya kata Sri Mulyani masih ditopang oleh konsumsi. "Tentu dengan dukungan faktor seperti daya beli," kata Sri Mulyani. 

Ada 171 wilayah yang akan menggelar pilkada di Indonesia..Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan, pesta demokrasi tersebut akan menyumbang pertumbuhan investasi 0,37% ke produk domestik bruto (PDB) Indonesia. 

"Dari Pilkada, kita sudah hitung ada delta pertumbuhan investasi baru 0,37%, itu baru dari Pilkada kasih sumbangsih ke investasinya ya," ujar Agus di Gedung BI, Jakarta Pusat.

Agus menjelaskan, meskipun tahun depan adalah tahun politik para investor diminta tidak perlu khawatir, karena Indonesia sudah rutin menjalani kondisi demokrasi seperti itu.

"Indonesia sudah sering hidup di suasana demokrasi seperti itu dan tidak pernah terjadi kondisi negatif ke ekonomi. Pilkada itu bisa jadi daya dorong ke perekonomian Indonesia," ujarnya.

Menurut Agus saat ini kondisi Indonesia sudah memiliki kondisi ekonomi yang menuju perbaikan dan tumbuh berkesinambungan. Dia menjelaskan tahun ini di pasar modal saja indeks harga saham gabungan (IHSG) telah memecahkan rekor baru yakni di atas 6.000.

"Pasar modal tidak mungkin berkembang jika stabilitas sistem keuangan dan makro ekonominya tidak terjaga," ujar Agus. Kemudian investasi dinilai cukup membaik, hal ini tercermin dari nilai impor yang meningkat namun untuk barang modal dan barang baku.

Menurut Agus ini adalah persiapan pelaku usaha untuk berekspansi tahun depan dan siap untuk bergerak. "Saya optimis pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa lebih baik," imbuh dia.

Pemerintah Melindungi

 Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, kepada para investor agar tidak perlu khawatir dalam menanamkan modalnya atau melakukan perluasan usahanya di Indonesia, meskipun akan menghadapi tahun politik.

Menurut politisi Partai Golkar ini, telah banyak perusahaan skala gobal dan internasional yang sudah menanamkan modalnya di Indonesia. “Banyak perusahaan luar negeri yang sudah bertahan 30 sampai 40 tahun tetap tenang menjalankan bisnisnya,” ucapnya melalui pernyataan resmi.

Airlangga menambahkan, apapun yang terjadi di dalam politik nantinya, pemerintah akan memberikan perlindungan bagi para pelaku industri agar tidak menghalangi minat mereka membangun pabrik atau menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk mendukung rantai pasok global.  "Indonesia sudah menjadi negara yang dewasa dalam berdemokrasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengharapkan agar para pelaku usaha swasta untuk tidak takut dalam mengembangkan bisnisnya (ekspansi) pada tahun politik mendatang. Menurutnya, dalam tahun politik tidak perlu ada kehawatiran yang berlebih dari pelaku usaha dalam negeri. (kh)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...