Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Sebelas Tahun Tanpa Pengobatan : Adies Kadir Jenguk Bocah Kelainan Usus Keluar

Jan 21, 2018 Publish by 
Foto  : Anggota Komisi 3 DPR-RI Adies Kadir (baju hitam) menjenguk Dava Andhika Putra yakni bocah kelainan usus keluar dari perut yang tinggal di Desa Masangan, Sidoarjo, Jawa Timur
Foto : Anggota Komisi 3 DPR-RI Adies Kadir (baju hitam) menjenguk Dava Andhika Putra yakni bocah kelainan usus keluar dari perut yang tinggal di Desa Masangan, Sidoarjo, Jawa Timur (kt/min)

Sidoarjo - Doktor Adies Kadir tergopoh gopoh meninggalkan ruang seminar nasional anti korupsi di Sunscity Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (19/1/2018). Padahal disitu sederet narasumber seperti Kapoles, Kajari, Ketua DPRD Sidoarjo dan Ahmad Fiyadh UB sang penggagas seminar belum mendapat kesempatan menyampaikan pandangannya tentang korupsi kecuali Bupati Sidoarjo Saiful Illah.

Sedang Adies mendapat kesempatan bicara pertama dengan menekankan agar generasi muda menjauhi Korupsi dan pejabat maupun anggota DPR untuk tidak bermain main dengan Korupsi.

“KPK bisa mendeteksi dengan radius 10 km. Semua pembicaraaan pasti terekam,”

Anggota Komisi 3 DPR RI itu juga tidak mengumumkan ke audien kecuali moderator Makin Rahmat yang mengijinkan Pak Adies meninggalkan tempat dulu karena ada kegiatan diluar.

Lalu, Adies  juga minta agar mobil pengawal (Patwal)  jalan cepat mengingat waktunya sudah mepet.

"Saya punya janji menjenguk Dava, nanti kalau terlambat gak enak dikira bohong,” . ungkap Adies pada koran ini bisik bisik yang mengikutinya.

Dava Andhika Putra, adalah bocah penderita kelainan usus keluar dari perut yang tinggal di Desa Masangan, Sidoarjo, Jawa Timur. "Astagfirullah, perut Dava luka sekitar 15 cm, lukanya menganga dan terus mengeluarkan cairan,".

Dava menderita Omphalocele, yakni kelainan sejak lahir. Ia sempat menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Surabaya saat berusia 1 tahun. Ketika itu, ukuran usus yang menonjol sudah sebesar genggaman tangan orang dewasa.

Andi, orang tua Dava kepada Adies Kadir menceritakan bahwa setelah dioperasi tahun 2007 kondisi Dava tidak membaik karena lubang di bagian perutnya tidak tertutup dengan sempurna. Bahkan 5 bulan kemudian, ususnya kembali terlihat dan keluar lagi dari perut.

Karena keterbatasan biaya, Dava tidak kembali  ke rumah sakit. Sehingga kondisi mengenaskan harus dialami hingga Dava berumur 12 tahun.

Apalagi dokter mengatakan biaya operasinya besar dan kalaupun dioperasi taruhannya adalah nyawa. Dokter menvonis pasca operasi besar usia Dava tidak berumur panjang. "Saya lemes pak Adies," terang Andi.

Dan selama 11 tahun, akhirnya diputuskan oleh Andi dan Mike untuk merawat Dava sendiri tanpa campur tangan medis. Bahkan pengobatan alternatif di berbagai daerah pun ditempuhnya. Saat ini Dava berusia 12 tahun, kelas 6 SD.

Andi tidak punya pekerjaan tetap. Sehari hari hanya naksi online dengan penghasilan antara Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per hari.

Masih cerita Andi kepada Adies Kadir, ia berterima kasih atas perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang sudah membantu untuk pengurusan administratif termasuk layanan BPJS (masih dalam proses). Andi punya dua anak. Dava nomor satu, dan adheknya masih kecil.

Melihat penderitaan anaknya, Dava, Andi kini hanya melakukan pengobatan non medis. Saya memang diuji kesabaran.

Sementara itu  Adies mengatakan , kedatangan saya ke sini untuk melihat adik Dava yang sedang sakit. Saya sendiri baru tahu setelah di hubungi salah seorang teman.

Ia mengemukakan, saat ini Dava masih melakukan perawatan alternatif dan sudah trauma dengan pengobatan di dokter dan rumah sakit.

"Karena menurut pengakuan orang tuanya,  anaknya usai dioperasi kondisinya kurang baik hingga akhirnya usus yang ada di perutnya tersebut kelihatan dan hanya ditutup dengan menggunakan kain kasa," katanya.

Oleh karena itu, dirinya meminta kepada pemerintah supaya masyarakat tidak merasakan trauma lagi saat berobat ke dokter atau juga ke rumah sakit.

"Ini masih di Sidoarjo saja, belum di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia sekalipun. Oleh karena itu, permasalah ini harus segera dicari jalan tengah dan solusinya supaya bisa menjadi lebih baik," ucapnya.

Ia menjelaskan, bagaiman dengan pemerintah dan juga paramedis yan ada kalau terjadi peristiwa seperti ini, jangan sampai masyarakat menjadi paranoid dengan tim medis yang ada sehingga mereka memilih untuk melakukan pengobatan alternatif, terutama untuk masyarakat dari kalangan menengah bawah.

Adies Kadir menjenguk Dava selama hampir 45 menit. Setelah itu Adies berkunjung ke Desa Cangkringsari Kecamatan Wonoayu untuk membantu dua Masjid yang kini masih dalam pembangunan. (min)

 

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...