Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Gelombang Jamaah Umroh Mulai Menyerbu Haromain (2)

Dec 07, 2017 Publish by 
Gelombang  Jamaah Umroh Mulai Menyerbu Haromain (2)

Tetap Semangat, Sabar, Tidak Boleh Takabbur

Laporan Wartawan Koran Transparansi.Com

H Makin Rahmat

PERJALANAN (safar) ritual ibadah umroh ke Mekah-Madinah, bagi setiap  jamaah calon dolifullah, bukan sekedar bisa melunasi pembayaran dan ingin mendapat fasilitas. Bagaimana pun, jamaah harus mempersiapkan segala bekal. Tentu saja, pengertian mampu bagi yang bepergian ke Makkatul Mukaromah dan Madinatul Munawaroh bukan hanya fulus (uang), kesiapan fisik, mental dan jiwa untuk menyatuh dalam rangkaian ibadah mengagungkan asma Allah dan berziarah ke Baginda Rasulullah SAW menjadi begitu istimewa.

Pilihan paket umroh memang bagian dari ikhtiar agar bisa beribadah dengan nikmat dan maksimal. Sekali lagi, untuk lebih menanamkan kekuatan lahir-batin bagi jamaah adalah kesinambungan hidup untuk memburu ridlo Allah dan menjemput ajal dengan khusnul khotimah. Jamaah harus bisa menjaga diri, dari perbuatan yang dilarang, berkata kotor, berdebat, berbantah-bantahan, dan bisa menahan amarah. Intinya, jamaah tetap semangat, melatih sabar, dan tidak boleh over ackting alias takabbur. Faedah umroh memang istimewa.

Dalam hadits riwayat Muslim menyebut: “Antara umroh ke umroh berikutnya menghapus doa diantara keduanya.” Hadits lain, riwayat Bukhari-Muslim yang menyebut tentang keistimewaan mengunjungi tiga masjid, yaitu masjidil Harom, masjid Rasulullah (masjid Nabawi) dan masjidil Aqso. Atau hadits riwayat Ahamd dan Thobrani, Baginda Rasulullah SAW bersabda: bahwa shalat di masjidku (masjid Madinah An-Nabawi) lebih afdlol 1.000 kali dari shalat di masjid lain, kecuali masjidil Harom lebih afdlol 100.000 kali keistimewaannya.

Berjimbun dalil dan hujjah mengenai keberkahan orang melaksanakan umroh. Yang jelas, tidak semua orang mampu mempunyai kesempatan untuk bisa berziarah dan berumroh ke Haromain. Nikmat sehat dan kesempatan ikut menjadi penentu, bagaimana dloifullah lebih tawakkal dan pasrah saat menjalankan ibadah di tanah suci.

Pengalaman selama mendampingi para tamu Allah, saat manasik umroh merupakan pintu pembuka keseriusan dloifullah merajut diri sebagai persiapan batin. Bukan soal berapa kali sudah berumroh, sebab saat manasik umroh terjadi interaksi antar jamaah untuk saling mengenal. Inilah, proses bagian takdir dimulai. Allah telah memberikan pilihan awal adanya persahabatan satu keluarga besar dari latar belakang berbeda. Tanpa sadar, ikatan ukhuwah telah terbentuk dalam rombongan tergabung dalam travel umroh atau haji.

Walau begitu, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh jamaah tentang kondisi saat berada di Madinah dan Mekah. Ada cacatan penting, diantaranya jamaah perempuan jika ingin ke raudlo bisa melalui gate (pintu) 25, waktu yang longgar pada saat waktu Dluha dan usai shalat Isya. “Alhamdulillah, di Arofahmina, kami selalu dibimbing oleh muthowifah atau ustadza yang berpengalaman, seperti ustzadza Yuli, Rokhmah yang telah disiapkan tim di Madinah. Kami diarahkan semua berada di karpet hijau,” kata bu Endang, jamaah rutin Arofahmina, asal Surabaya.

Selain ziarah ke makam Baqi, dan ziarah rutin seputar Madinah sekarang  jamaah mengunjungi museum Asmaul Husna di depan gate 13 dan museum Al Quran di areal gate 4. “Biasa jamaah penasaran, kapan atap masjid Nabawi terbuka. Kalau bagian halaman usai Subuhm sedang di bagian dalam terbuka setelah shalat Ashar,” tutur Ustadz Hamzah.

Begitu pula di Mekah. Kondisi saat ini, kawasan thowaf (mathof) sedang direnovasi. Banyak yang belum tahu, bagaimana kalau ingin thowaf di lantau dasar atau harus di lantai 2 dan 3. Ternyata, bila ingin thawaf di lantai dasar, jamaah harus lewat gate 74, 79 dan 93 yang ada tanda tulisa “to mataf” kemudian turun memakai escalator. “Karena ada renovasi perbaikan sumur Zam-zam sekitar 7 bulan, maka thawaf di lantai dasar mengantri, menggunakan system buka tutup, sekitar 1 jam. Kalau ingin thawaf di lantai atas bisa lewat gate 91 atau gate lain dengan tanda ‘to roof’,” lanjut ustadz Gupri, asal Lombok.

Fasilitas lain di seputar masjidil Haram, yaitu adanya pembagian buku agama gratis dari berbagai bahasa di gate 93, jamaah bisa menonton video tutorial umroh di gate 74, perpustakaan masjid di gate 79, dan jika ingin mendengarkan khutbah shalat Jumat, jamaah bisa bawa headseat dengan frekwensi FM 90.500 Mhz. “Selama ini jamaah sering bertanya, bagaimana cara mengambil uang, selain money changer, ada ATM berlogo vsa, master card disamping hotel Dar At-Tauhid. Makanan juga sudah menyebar baik di Hilton atau di Zam-zam Tower. Tapi, yang paling diburu jamaah Al-Baik ada di Jabal Omar Hilton lantai 4,” papar Hamzah.

Menabur Keberkahan

Persyaratan normal yang harus dipenuhi jamaah, sebelum umroh adalah lunas pembayaran, mempunyai paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan, sudah melaksanakan vaksin influenza dan manginitis, bekal selama perjalanan dan memahami kondisi cuaca di dua tanah suci. Jarang sekali, jamaah mencari tahu mengapa dirinya dapat panggilan sebagai dloifullah.

Mengapa demikian? Untuk itulah, tugas kita bersama untuk menyamakan persepsi, menyatukan niat suci agar tidak salah dalam bertindak dan mewujudkan tujuan mulia. Masih sering ditemui, ada jamaah berangkat umroh karena penasaran dengan cerita dan kisah orang sepulang dari haji atau umroh. Ada pula, karena tuntutan gengsi sehingga perjalanan ritual ke tanah suci hanya dianggap formalitas di lingkungan masyarakat, atau menjadi ajang membanggakan diri. Naudzubillah mindalik.

Maka, perlu ada pelurusan dari beragam niat bengkok sehingga para dloifullah tidak salah dalam melangkah. Bukankah, dalam bacaan talbiyah sudah gamblang, bahwa manusia hadir ke Haromain karena memenuhi panggilan Allah dan tidak mensekutukan. Artinya, hal paling mendasar adalah mendahulukan Allah SWT di atas segala-galanya. Bergesernya niat, bisa membawa implikasi yang kurang baik dalam beribadah.

Bila, jamaah memahami niat mulia tidak mensekutukan Allah, taat Allah dan Rasulullah serta berbakti kepada kedua orangtua sebagai pijakan menapak di Haromain, yakinlah tanpa sadar telah menabur keberkahan. Saat berdoa di tempat-tempat mustajabah (tempat yang mendapat keistimewaan) terkabulnya doa, maka bukan hanya sekedar mengetuk pintu langit dan memancarkan cahaya Ilahi, ada kepuasan batin untuk merengkuh ridlo-Nya.

Disertai bekal ilmu dan takwa, hampir dipastikan menghantarkan setiap dloifullah selalu rindu Baitullah di Makkatul Mukaromah dan rindu Rasulullah di Madinatul Munawaroh tidak pernah padam. Otomatis, saat kembali ke tanah air, ada keberkahan. Tanda-tanda yang perlu diperhatikan, kepedulian seorang hamba baik dalam keadaan lapang atau sempit untuk memberikan sebagian rejekinya. Mampu mengendalikan amarah dan menjadi pemaaf terhadap manusia.

Jujur, tanpa terasa ada tangisan kedamaian saat jamaah memanjatkan doa di Roudlo atau pancaran cahaya terus menyelusup ke relung hati, ketika raga masih diberi kesempatan bisa memandang Baitullah, thowaf, shalat di Maqom Ibrahim, di Khijir Ismail dan menumpahkan segala permohonan maaf atas gelimang doa seorang hamba yang dloif. “Bukan hanya seorang muslim mengakui kelebihan Baitullah. Kami saat memandang Kabah tidak mampu membendung air mata,” ujar Mohammad Ali, asal Krian, Sidoarjo.

Allahumma zidhadaalbaita tasyrifaan wata’dlimaan watakriiman wamahaabathaan wazidman syarrofahu wa’adlomahu wakarromahu miman hajjahu awi’tamarohu tasyrifaan wata’dlimaan watakrimaan wabirro. (Ya Allah, tambahkan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada bait (Kabah) ini. Dan tambahkan pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormati diantara mereka yang berhaji atau umroh dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan.

Begitu pula senandung doa dalam setiap putaran thowaf yang berlawanan dengan arah jam, bukan sekedar menaburkan kemulian, keagungan, kehormatan dan kebaikan, ada getaran hebat sehingga yang diluar nalar bisa berbalik seizin Sang Tuan Rumah, yaitu Allah Azza wajalla. Kita harus tetap fokus, bagaimana setelah pulang umroh, kita bisa menjalankan thowaf dan sai di tanah air. Insha-Allah umroh kita mabrur. Aamiin ya rabbal ‘alamiin. (mat)

banner