Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Gelombang Jamaah Umroh Mulai Menyerbu Haromain (1)

Nov 16, 2017 Publish by 
Laporan Makin Rahmat -Wartawan KoranTransparansi dari perjalanan Umroh
Laporan Makin Rahmat -Wartawan KoranTransparansi dari perjalanan Umroh

Laporan H Makin Rahmat-Wartawan KoranTransparansi dari perjalanan Umroh pasca musim haji 2017 (1)

Menyatukan Persaudaraan Karena Allah 

HAJAT Akbar pelaksanaan ibadah haji telah usai, seiring dengan datangnya bulan Muharram (tahun baru Islam) 1439 Hijriyah dan bergulirnya Safar. Gelombang jamaah seantero dunia mulai menyerbu Haromain – dua tempat suci Mekah-Madinah. Bagi umat muslim yang berhasrat untuk berziarah ke Haromain, tentu kerinduan kepada Baitullah (rumah Allah SWT) dan Rasulullah terus bergelora. Sesuatu yang wajar sebagai bukti hub (cinta) kepada Sang Khaliq dan insan pilihan akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW.

Perkembangan terkini, pengelola dua tempat suci Mekah-Madinah, Kerajaan Saudi Arabia tiada henti melakukan pembangunan, termasuk melakukan renovasi di Mathof (areal tempat tempat), khususnya pembenahan di kawasan air Zam-zam. Begitu pula di Madinah, selain mempersolek kawasan di seputar Masjid Nabawi al-Munawaroh. Hasrat jamaah umroh ke tanah suci, tidak terpengaruh dengan geliat Raja Salman bil Abdul Aziz Al-Saud memberangus korupsi yang mulai menyisir keluarga kerajaan. Terakhir, 11 pangeran diamankan, dan terjadi pergeseran calon putra Mahkota, dari pangeran Mohamed bin Nayef kepada putra Salman sendiri, Mohamed bin Salman bin Abdul Aziz Al-Saud.

Lantas bagaimana situasi terkini dan kesiapan bagi jamaah umroh untuk memenuhi panggilan sebagai dloifullah (tamu Allah), HS. Makin Rahmat, wartawan senior Koran Transparansi dan korantransparansi.com kembali menggali keberkahan Haromain dan memberikan resep sebelum menunaikan Safar (bepergian) ritual di Mekah-Madinah membutuhkan bekal, selain finansial, fisik, adalah keteguhan menata niat sehingga merasakan nikmat yang luar biasa. Kepercayaan sebagai Tour Leader di PT. Arofahmina, travel Umrah dan Haji Plus tentu tidak disia-siakan begitu saja.

Bagaimana gejolak hati terpendam, ketika raga, jiwa, dan ruh kita bisa menghadap langsung ke baitullah (bukan mustakbilal kiblati, tapi mustakbilal ka’bati) saat shalat di masjidil Harom atau terbawa suasana emosi ketika diberi kesempatan bersimbuh dalam kelembutan doa saat berada di Roudlo. Subhanallah. Itulah, bagian dari tugas seorang Tour Leader untuk mengejawantakan dalam prilaku bagi jamaah untuk mencicipi percik-percik kenikmatan di balik ujian dan pengalaman batin yang begitu dahsyat merupakan kado bagi setiap dloifullah.

Lantunan talbiyah usai mengikrarkan diri dalam niat umroh dengan pakaian ihram menyatuh dengan raga, adalah bagian dari puncak ibadah umroh, sebelum dilanjutkan dengan Thowaf (menggelilingi Kabah tujuh kali, dengan arah berlawanan jarum jam), melakukan Sai (jalan cepat dari bukit Shofa ke Marwa tujuh kali) dan dipungkasi tahallul sebagai penutup. Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laasarikalakalabbaik. Innalhamda menikmata lakawalmuluk… Laasarikalak. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu).

“Berbagi kebahagiaan dan kenikmatan itulah yang sekarang terus menjadi angan saya. Alhamdulillah, musim umroh tahun ini, inshaAllah, kami bersama kerabat yang lain diberikan kesempatan dan kelapangan bisa kembali menjadi tamu Allah. Jadi, tidak hanya cerita, banyak saudara yang ingin didampingi untuk berumroh. Belum berangkat saja, sering air mata ini menetes sendiri, ya tetesan nikmat kebahagiaan. Bersyukur,” kata Abdul Hadi, jamaah asal Gresik yang rutin empat tahun terakhir ini, berangkat umroh mendampingi kerabatnya secara bergiliran.

Tabir Silaturahmi 

Aura positif yang tidak pernah terpikirkan adalah bersatunya para jamaah dalam satu rombongan. Tanpa kita rencanakan atau harus memilih bakal berangkat dengan si fulan atau sebaliknya, ternyata dalam rombongan tersebut menyatu dalam satu keluarga. Lantas siapa yang mengatur dan menyatukan satu per satu jamaah? Wallahu a’lam bish-showab. 

Secara pribadi, saya menyakini bahwa semua atas kehendak Allah SWT. Allah lah yang mengatur segalanya. Nikmat agung, adalah nikmat islam, iman, sehat, dan kesempatan yang membawa keberkahan termasuk menjadi dloifullah. Pertanyaan sederhana, mengapa jamaah menjadi bagian saat proses keberangkatan, selama di dua tempat suci, hingga nanti kembali ke tanah air. Yakinlah, semua tidak ada yang serba kebetulan. Bisa jadi, kebersamaan dalam rombongan jamaah umroh merupakan tabir silaturahmi yang ditunjukkan Allah. Bisa jadi, semua itu terwujud karena doa-doa dari orang-orang tercinta, orangtua, guru kita, saudara kita, sahabat dan kerabat persaudaraan karena Allah.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan nabi, dan bukan pula syuhada, tapi para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat disebabkan kedudukan yang diberikan Allah SWT. “Ya Rasulullah beritahukan kepada kami, siapa mereka?” ujar sahabat bertanya kepada Rasulullah. “Agar kami bisa turut mencintai mereka,” sahut sahabat yang lain.

Lalu Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab diantara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu (kiamat) bersinar bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih.” (HR. Abu Dawud). Hadits lain menyebut: “Mereka adalah orang-orang yang mencintai karena Allah, dan saling berkunjung (silaturahmi) karena Allah”. Luar biasa!

Jika dalam pergaulan kehidupan umat Rasulullah sudah diberikan keistimewaan hingga di akhirat kelak, bagaimana dengan para tamu Allah yang tidak hanya bertemu, silaturahmi, dan menjadi dloifullah. Apalagi, kepasrahan dan ikhtiar  menomorsatukan Allah SWT. Tentu saja, menjadi pregratif Allah, tapi setidaknya kesempatan menikmati sebagai hamba Allah bisa menuntun kita di akhir hajat menjadi khusnul khotimah. Yang nanti dikumpulkan di surga di dunia-akhirat.  Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Bagaimana dengan ibadah jamaah umroh agar memperoleh kenikmatan dalam beribadah? Tentu tidak lepas dari ikhtiar lahir-batin. Setelah usaha finansial, jamaah harus belajar dan berkumpul dengan jamaah yang mempunyai niat sama, yaitu mengikuti manasik dan memahami kondisi di Haromain sehingga ada keseimbangan. 

“Inilah rahasia Allah, banyak saya mengenal sesame jamaah haji atau umroh, setela di tanah air, tetap terjalin silaturahim melebihi saudara sendiri. Bahkan, ada kegiatan mengaji, kumpul bareng dan kegiatan positif, berkunjung ke panti asuhan. Sepertinya, deket mati,” kata Junaidi Abdillah, jamaah asal Malang. (mat/ bersambung)

 

 

 

banner