Laporan Khusus

Published in Laporan Khusus

Perdagngan Jatim ke Sulut tumbuh subur capai Rp 118 T

Nov 16, 2017 Publish by 
 Kepala Kantor Perwakilan Dagang (KPD) JawaTimur di Provinsi Sulawesi Utara ketika menerima rombongan Wartawan dan Biro Humas Pemprov Jawa Timu di Manado, Senin (13/11/2017).
Kepala Kantor Perwakilan Dagang (KPD) JawaTimur di Provinsi Sulawesi Utara ketika menerima rombongan Wartawan dan Biro Humas Pemprov Jawa Timu di Manado, Senin (13/11/2017). (kt/min)

TIDAK hanya sekedar mampu memenuhi kebutuhan lokal saja, namun Provinsi Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir benar benar menjadi lumbung pangan nasional. Sebab itu arus expor dan perdagangan antar provinsi harus dilakukan percepatan percepatan.

Sejak dibukanya KPD Sulawesi Utara di Manado pada tahun 2012 lalu, arus perdagangan  dari JawaTimur menuju provinsi Sulut terus merambah naik. Tidak hanya kebutuhan pangan seperti beras, pakaian (pakaian sekolah, pakaian Muslimah),  ayam potong, daging, bahan bangunan seperti semen dan besi, makanan olahan juga meningkat tajam. Saat ini Jumlah itemnya sudah diatas 100. 

 “Tapi ini harus ditingkatkan lagi seiring dengan makin tingginya kebutuhan masarakat  Mandado yang konsumtif. Kita menargetkan harus diatas 200 item. kata Daniel S Pesik, Kepala Kantor Perwakilan Dagang (KPD) JawaTimur di Provinsi Sulawesi Utara ketika menerima rombongan Wartawan dan Biro Humas Pemprov Jawa Timu di Manado, Senin (13/11/2017). Data di BPS tahun 2015 lalu ,nilai barang dari Jawa Timur ke Sulsel mencapai Rp 118 trilliun. Sebaliknya nilai barang dari Sulut ke Jawa Timur hanya Rp 105 trilliun. 

Bedanya barang dari Jatim puluhan  item, sedang kalau dari Sulut ke Jawa Timur jumlahnya jauh lebih sedikit seperti  Cengkeh, Kopra maupun Jagong. Jagung bisa dimaklumi karena lahan pertanian di Jawa makin sempit.

Daniel S Pesik mengatakan, sejak dibentuk KPD arus perdagangan pasang surut. Saat itu arus barang dari Jawa Timur tidak seramai sekarang. Kedepan, Dinas Perindag Jawa Timur harus mulai memikirkan Manado Sulsel harus menjadi titik sentral expor barang ke Luar negeri. Mengapa, itu karena posisi Manado sangat strategis, dekat dengan Philipina, Jepang,  Singapura maupun China. Tiap minggu ada 400 orang asing datang kesini dengan tujuan dagang dan wisata. 

Keuntungan saat ini, Sulut sudah punya demaga yang langsung akses ke banyak negara.Pengiriman barang melalui kapal tidak harus putar putar lagi melainkan Sulut langsung menuju negara tujuan. Transportasi udara juga makin mudah. Dari Juanda Surabaya bisa langsung ke Bandra Sam Ratulangi, Manado.  Negara negara itu belanjanya ke sini.  “Ini bisa dilihat setiap Sabtu dan mInggu , ratusan touris memadati Manado, ujar Daniel kembali menegaskan.

 Beberapa komidite Jawa Timur yang masuk Manado Sulut seperti ayam potong (rata rata diatas 24 kontiner/bulan), daging (Iga) Sapi , sayur mayor, alat perlengkapan sekolah, pakaian Muslimah, bahan bangunan seperti Semen, besi. Malahan tenaga (tukang)nya semua dari Jawa Timur. Provinsi Sulut dengan wilayah administratif 15 Kabupaten/Kota produk Jawa Timur belum menjangkau keseluruih Kabupaten/Kota. 

“ Saat ini baru masuk di 5 Kabupaten/Kota sebagai cabang dari KPD Sulsel. Kendala utamanya soal SDM. Kami hanya memiliki 4 orang termasuk saya. Semuanya berfungsi sebagai marketingnya,” ungkap Daniel S Pesik.    

Umumnya tukang dari Jawa Timur jauh lebih sempurna ketimbang yang lainya. Ini isa dibuktikan, semua bangunan yang ada di sini tenaganya dari Jawa. Selain itu juga produk makanan olahan seperti Keripik. Itu adalah hasil kerjasama dengan UKM UKM di Jawa Timur. Disini masarakatnya suka makan.

Kantor KPD Jawa Timur menempati sebuah Ruko Mega Smart 6 No. 12 A Kawasan Mega Mas Manado, Sulsel dan berlantai dua. Kantor KPD itu hanya memiliki 4 orang karyawan termasuk Kepala KPD Daniel S Pesik. Mereka mendapat gaji paling tinggi Rp 2juta untuk kepala KPD. Di kaca dekat pintu utama betuliskan disini jual produk produk UKM Jawa Timur. 

Gaji karyawan KPD Jawa Timur itu masih dibawah UMR Manado yaitu Rp 2,5 juta. Lalu bagaimana anggaran operasionalnya, Daniel S Pesik mengatakan, bagi saya oriantasi kita kan profit . Jadi ya, kami harus kerja keras agar mendapat keuntungan. Tapi produk kita kan tidak bisa dijual diatas harga pasar. Ya kalau untung dua sampai tiga ribu kan sudah bagus, yang penting produk kita jalan.

Dia menjelaskan, saat ini setidaknya sudah ada 30 perusahaan yang menjalin hubungan kerjasama. Pada Januari nanti, akan masuk lagi beberapa pesuahaan asal Jawa Timur bergabung KPD Sulut. Untuk memaarkan produk produk UKM Jawa Timur Daniel S Pesik menggandeng beberapa pemilik toko di Mall Mall. “Kita punya 3 sampai 6 tokok di MTC lantai 1 blok D-20, yang menjual pakaian Muslimah.

Saat ini kami juga menjalin kerjasama dengan menejement Jendela Indonesia, sebuah Mall milik  Lion group. Jendela Indonesia itu menyata dengan tenpat wisata kuliner, tepi laut dan tempat berkumpulnya para touris. Renananya satu blok ini akan diisi dengan ratusan produk UKM Jawa Timur termasuk Batik Jawa Timur. 

Menurut dia, yang diperlukan saat ini adalah dibukanya Bank Jatim di Sulut sebagai penjaminan. Penguha Jatim mintaya uang kontan , sedangkan penjualan disini dengan sistem naruh barang, baru bayar. Sebab itu Bank Jatim harus hadir di Sulut. Lagi pula warga Jawa Timur yang ada di Sulut sangat banyak. Bisnisnya juga beragam.

Daniel tidak menjelaskan berapa milliar sewa stand di situ. Namun Maluku, Papua sudah membuka galerinya. Provinsi Jawa Timur harus punya. Ketika koran ini berkesempatan keliling di Jendela Indonesia, sudah ada beberapa Provinsi yang membuka standnya. Malahan ada Keripik Tempe merk Ammatri, asal  Widodaren Ngawi sudah di pajang disitu. Harganya di banrol Rp 20.000.- (amin istighfarin)

 

banner