Laporan Khusus

Suasana tempat thowaf sudah normal kembali.

KEISTIMEWAAN bulan Sya’ban sudah tidak diragukan lagi kemasyhurannya. Walau masih ada khilafiyah (perbedaan) mengenai amaliyah, namun bulan yang datang setelah bulan Rajab (Sahrulllah), menjadi bagian penting dalam menyongsong bulan suci Ramadan. 

Mengapa bulan Sya’ban menjadi istimewa, terutama bagi hamba Allah yang memenuhi panggilanNya sebagai Dloifullah (tamu Allah)? Yang jelas, Rasulullah SAW bersabda dalam doanya: “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta pertemukan kami di bulan Ramadan.” Subhanallah!!!.

Artinya, rangkaian bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan mempunyai kaitan erat dan saling berhubungan guna memperoleh kedudukan yang mulai di hadapan Allah Yang Maha Rahman-Rahiim. Tentu, bagi dloifullah memperoleh kemabruran adalah tujuan utama dalam beribadah haji dan umroh. 

Lebih dari itu, mengapai kesempurnaan dalam beribadah umroh dan haji perlu pengabdian dan pengorbanan saat berada di tanah air, yaitu berusaha memahami dan mengamalkan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Setidaknya, salah satu kompetensi untuk meraih gelar mabrur, yaitu orang-orang yang mampu menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang dan sempit, mampu menahan diri dalam amarah (nafsu) serta mempunyai jiwa pemaaf terhadap manusia. 

Dalam konteks bulan Sya’ban, termasuk salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam. Khususnya, pada malam Nisfu Sya'ban (15 Sya’ban), Allah SWT turun ke langit dunia dan memberi syafaat (bantuan) bagi siapa saja yang meminta pada malam itu hingga terbit Fajar.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Jika terjadi malam nisfu Sya'ban, maka shalatlah kamu sekalian pada malam harinya, dan puasalah kamu sekalian pada siang harinya. Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi turun pada malam tersebut ke langit dunia mulai dari terbenam matahari dan berfirman,

k ada orang yang meminta ampun, sehingga Aku mengampuninya? 

Apakah tidak ada orang yang meminta rezeki, sehingga Aku memberinya rezeki? 

Apakah tidak ada orang yang terkena bala, sehingga Aku dapat menyelamatkannya? 

Apakah tidak demikian, apakah tidak demikian, sehingga terbit fajar."

Tentu saja, bagi jamaah umroh yang safar (bepergian) di bulan Sya’ban mempunyai keutamaan-keutamaan. Apalagi, kondisi di Makkatul Mukaromah setelah renovasi tempat areal Mathof (tempat Thowaf) selesai di sekitar Zam-zam, diberikan kebebasan kepada jamaah untuk melaksanakan thawaf sunnah di lantai dasar tanpa harus memakain ihram bagi jamaah pria. 

“Memang sejak pertengahan Rajab, mathof di lantai dasar sudah terbuka untuk umum. Artinya, sebelumnya ada larangan, yang di lantai dasar thowaf harus memakai ihram bagi jamaah laki, sekarang sudah bebas,” kata ustadz Muhammad Mujahid, salah satu Tour Leader (TL) senior dari PT. Arofahmina di Jl. Kartini Surabaya.

Ditambahkan Ustadz Gufri, muthowwif asal Lombok, transisi dari musim dingin ke panas, juga memberikan kefaedahan bagi masyarakat Makkah-Madinah. “Tentu saja, jamaah bakal memperoleh keutamaan dan masa panen kurma yang bagus. Jadi, menjelang Ramadan dan memasuki bulan Haji (Syawal, Dzulqoddah, dan Dzulhijjah) merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji yang sangat ditunggu umat muslim sedunia,” paparnya.

Hal lain yang diperlu diketahui di bulan Sya’ban, kemenangan umat muslim dalam peperangan Bani Mustalik pada tahun 5 Hijrah. Peperangan ini lebih masyhur disebut perang yang mengambarkan kekokohan iman para sahabat, apalagi setelah terjadinya perang Badar di akhir tahun 4 Hijrah.

Berikutnya, berdasarkan hadits riwayat An Nasai dan Abu Dawud dan ditashih oleh Ibnu Huzaimah dari Usamah bin Zaid, katanya, "Aku berkata, Wahai Rasulullah, aku tidak melihat tuan berpuasa dari satu bulan dari beberapa bulan seperti puasa tuan di Bulan Sya'ban."

Beliau menjawab, "Itu adalah bulan yang dilupakan oleh manusia antara bulan Rajab dan Ramadan. Bulan Sya'ban itu bulan amal-amal diangkat ke hadapan Tuhan semesta alam. Oleh karena itu, aku senang apabila amalku diangkat, sedangkan aku berpuasa."

“Sya’ban juga disebut bulan membaca Al-Quran, sesuai hadits riwayat Anas RA, "Adalah orang-orang muslim apabila masuk bulan Sya'ban, mereka membuka mushaf-mushaf Al Qur'an dan membacanya, mengeluarkan zakat dari harta mereka untuk memberi kekuatan kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin untuk melakukan puasa Ramadan.

" Berkata Salamah bin Suhail, "Telah dikatakan bahwa bulan Sya'ban itu merupakan bulannya para qurra' (pembaca Al Qur'an)." Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya'ban dia berkata,

"Inilah bulannya para qurra'."

“Jadi, bukan hanya pecinta AlQuran, pada niaga (pedagang) juga menyempatkan diri untuk menghormat bulan Sya’ban. Dari 'Amr bin Qais Al-Mula'i apabila masuk bulan Sya'ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur'an. Sangat istimewa sekali, bulan Sya’ban," ulas Gus Rofiq, sapaan Romo Kiai Rofiq Siraj.

Sebagian besar ulama salaf menyakini, bahwa Sya’ban merupakan bulannya Baginda Rasulullah SAW. Hal ini berdasarkan sabda baliau yang berbunyi, "Bulan Rajab itu adalah bulan Allah, bulan Sya'ban adalah bulanku dan bulan Ramadan adalah bulannya umatku.

"Bahkan, salah satu riwayat menyebut, Rasulullah SAW pada setiap setiap malam tanggal 15 Sya'ban selalu melakukan shalat malam dengan sangat lama, menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah SWT, sehingga Al-Hafidh Al-Baihaqi dalam kitab Musnadnya meriwayatkan hadits dari A'isyah ra katanya "Rasulullah SAW pada suatu malam bangun, lalu melakukan shalat. Beliau memperlama sujud, sehingga aku mengira beliau telah wafat. Setelah aku melihat yang demikian itu, aku bangun sehingga menggerakkan ibu jari beliau, dan ibu jari beliau bergerak."

Yang istimewa, ternyata pada setiap malam Nisfu Sya’ban Rasulullah SAW selalu mendoakan umatnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dalam hal ini, Sayyidina Ali ra menceritakan sebagai berikut, 

"Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada malam ini (malam nisfu sya'ban) ke Baqi' (kuburan dekat masjid Nabawi) dan aku mendapatkan beliau dalam keadaan memintaan ampun bagi orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan para syuhada."

Intinya, banyak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnad beliau, Imam At-Tirmidzi At-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Al Baihaqi dan An Nasai, yang menetapkan bahwa Rasulullah SAW adalah memuliakan malam Nisfu Sya'ban dengan memperbanyak shalat, doa dan istighfar. 

Jadi, bukanlah perbuatan bid'ah dan bukan pula perbuatan aneh jika malam nisfu Sya'ban dijadikan malam untuk banyak berzikir, berdoa dan istighfar dan melakukan shalat bagi kaum muslimin.

Maka tak heran, kalau Imam Al-Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya'ban sebagai malam yang penuh syafaat (pertolongan). Menurut Al Ghazali, pada malam ke 13 di bulan Sya'ban, Allah SWT memberikan tiga syafaat kepada hamba-hambanya. 

Sedangkan pada malan ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Sehingga pada malam ke-15, umat Islam mempunyai kesempatan menebar kebaikan dan amalan sholiha sebagai penutup amalnya selama satu tahun. Subhanallah. Wallahu a’lam bish-showab. (makin rahmat)

Dari depan Dr Nik Adzreiman, Djoko Tetuko, Hadi Ismanto, dan Yoyon.  Dr Nik adalah sahabat Djoko dari Malaysia saat menikmati indahnya Bromo, Selasa (3/4/2018)

Laporan Khusus Wartawan Transparansi Djoko Tetuko

Laporan khusus pada penerbitan ini memang sengaja menyajikan salah satu obyek wisata bertaraf internasional, Taman Nasional Bromo Tengger, setelah sekian lama banyak menulis tentang politik dan geliat sosial di negeri ini dengan berbagai pernik kritik konstruktif. 

Menulis laporan wisata dan kuliner sekedar untuk mengendorkan saraf menghadapi Pilkada 2018 kemudian Pilpres 2019 dengan tensi cukup tinggi, sehingga menurunkan suhu politik dengan tulisan ringan yang berbobot serasa menghibur. 

Taman Nasional Bromo Tengger sudah tidak bisa disangsikan lagi keindahan panorama dan keelokan bukit pembentang mengelilingi lautan pasir Gunung Bromo dan Gunung Batok, sebuah pemandangan menakjubkan. Bahkan tidak berlebihan menyebut sebagai keajaiban Ilahi yang nampak dalam mimpi sekejab. Potret kenikmatan dari Allah SWT dalam bentuk alam membentuk begitu mempesona dalam pandangan mata siapa saja.

Taman Nasional Bromo Tengger merupakan bentangan lautan pasir dan savana dengan cincin bukit cukup indah mempesona dan dua gunung berpadu dalam irama syahdu Gunung Bromo yang masih aktif dan Gunung Batok yang sudah tidak aktif berdampingan seperti pasangan pengantin nan berpadu kasih. 

Satu lagi sebuah keindahan nan hijau, satu lagi dengan keindahan lukisan batu dan tanah coklat agak putih dihiasi kebulan asap dari kawah yang nampak bersahaja bersama rona rona fatamorgana lekuk bibir gunung.

Taman dengan bentangan barat-timur 20-30 km dan selatan-utara 40 km, ditetapkan sejak tahun 1982 dengan luas wilayah sekitar 50 hektar. Di kawasan ini terdapat kaldera lautan pasir dengan luas 6290 hektar. 

Batas lautan pasir berupa ukiran dinding terjal (baca, bukit ) dengan ketinggian 200-700 meter, dengan wilayah Gunung Bromo di Desa Cemorolawang Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo dan Gunung Batok di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan dan sebagian masuk wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang.

Salah satu keajaiban bisa menyaksikan matahari tenggelam ( antara pukul 17:0-17:20) dan matahari terbit antara pukul 05:00-05:30, dari beberapa  ketinggian yang sudah diberi akses dapat melihat dari dibangun sebuah bangunan view di beberapa tempat, di Bromo Hill, Kingkong Hill, atau bibir Cemorolawang sebelum turun ke lautan pasir, yang sebagian seperti makhluk selalu berbisik, sehingga dinamakan kawasan “Pasir Berbisik”. 

Dua bulan yang lalu bersama Camat Sukapura, Yulius, bersama Tim Koran Transparasni sengaja melihat sunset (matahari tenggelam) dari bibir Cemorolawang, alhamdulillah berhasil mengabadikan beberapa foto cukup apik dan sangat menakjubkan, pada waktu itu sunset pada pukul 16:50-17:10, sebuah keindahan Taman Nasional Bromo Tengger, sekejab memberikan mimpi indah dengan sinar matahari kuning ke merah merahan menyapa dan senyum ramah bersama awan awan yang setia berterbangan menghiasi.

Selasa (3 April 2018) kenbali ke Taman Nasional Bromo Tengger bersama beberapa teman dari Univeristas Muhammadiyah Sidoarjo dan Universitas Utara Malaysia, tetapi hanya sekejab menyaksikan sunset karena datang tepat pukul 17:00, tetapi keajaiban Bromo terasa selalu hadir dengan keindahan di langit langit tersisa, matahari “pamit” menyinari bumi Indonesia dan sekitarnya dengan warna kuning berbalut merah agak hitam, kadang berubah putih kebiru-biruan.

Empat Destinasi 

Sebuah pemandangan nan ajaib dengan keabadian alam sangat memukau mata memandang, ketika remang remang dini hari pukul 03:00 Trubus, jasa sopir mobil jepp mengetuk pintu kamar S 12 di hotel Lava View, maka bersama rombongan siap-siap berangkat untuk menyaksikan sunrise (matahari terbit), alhamdulillah pukul 04:00 sampai di Bromo Hill, dengan menikmati pisang goreng dan teh manis hangat terasa seperti minum di surga.

Begitu nikmat dan nyaman dalam kondisi udara dingin mencapai 2 derajat, ditemani teh dan pisang goreng sebagai pengantar menyesuaikan situasi dan kondisi, juga dingin sepoi poi pagi menjelang subuh. Pukul 04:17 waktu subuh dengan adzan di sebuah tempat ibadah yang disediakan terdapat sekitar 12 sajadah, sebuah bangunan tripleks tetap sangat sederhana dan cukup untuk sholat berjamaah. 

Selepas sholat subuh bersama rombongan akan melanjutkan naik tangga ke Bromo Hill, karena dari ketinggian itu, kata Trubus (35) asli suku Tengger yang sudah dikarunia 2 putra, bisa menyaksikan sunrise. 

Tetapi baru melangkah ke arah tangga sudah ditawari tukang ojek pak Aru (40) dan Darma (33) untuk ke view yang lebih tinggi di puncak Kingkong. Pada saat tamu dari Malaysia Dr Bahatiar Minahad  dan Dr Nik Adzreiman ditawari dan mengiyahkan, rombongan langsung menempuh perjalanan dengan ojek menuju puncak Kingkong. 

Sampai dibatas paling akhir kemudian jalan sekitar 200 meter sudah ada sekitar 500 wisatawan lokal dan mancanegara menunggu sunrise juga. Tempat yang disediakan sudah hampir penuh dengan wisatawan yang sabar dengan handsphone dan kamera menunggu sunrise, sebuah pemandangan mengasyikkan dan terasa penat di Surabaya tiba tiba lenyap terselimuti udara dingin dan angin kencang yang “bernyanyi” merdu. MasyaAllah..., subhanallah .., ciptakan Allah SWT yang Maha Hebat, alhamdulillah pula rombongan berhasil meyaksikan sunrise dari ketinggian puncak Kingkong dengan menyaksikan pula tiga gunung (Bromo, Batok, dan Semeru) seakan akan di depan mata. Juga karena awan terang benderang, maka matahari menyapa dengan senyum indah di pagi buta dengan warna dan wajah amat Ayu menawan bak menikmati secawan air tape ketan hitam yang mulai berasa agak panas dan memanaskan tubuh. 

Alhamdulillah rombongan melanjutkan ke satu lagi Kingkong Hill di bawah puncak Kingkong yang paling tinggi, juga dapat menyaksikan keajaiban lautan pasir berangkulan akrab bersahabat dengan Gunung Batok dan Gunung Bromo yang terus “merokok” dengan asap mengepul ke udara menyatu dengan awan tebal dan tipis yang berlompatan seperti main layang layang. 

Di Bromo Hill rombongan melanjutkan foto-foto dan menyaksikan keindahan sekitar yang juga tidak kalah takjubnya dibanding di dua tempat sebelumnya. Apalagi sinar mentari sudah mulai menyinari dengan terang benderang menjadikan keabadian warna sangat indah, dihiasi pelangi tiba tiba muncul melambaikan tangan di atas Gunung Bromo. Subhanallah. 

Bersama rombongan yang memang sengaja ingin menikmati keajaiban dan keindahan 4 destinasi, maka perjalanan bersama jepp hardtop berlanjut ke Padang pasir dekat lautan pasir lereng kaki menapak ke puncak Gunung Bromo, dan baru turun dari mobil sudah ditawari naik kuda ke tengah tengah gunung dekat tangga menuju puncak, maka rombongan sepakat naik kuda pulang pergi.

Aris (33) warga Asli Tenger, jasa joki kuda menceritakan bahwa ada sekitar 3000 kuda milik warga sekitar Bromo, disiapkan untuk menjamu wisatawan dengan harga sekitar.125 ribu. Dan kami menikmati bersama kuda naik ke ketinggian sekitar 2/3 menuju puncak Gunung Bromo.

Rombongan menyempatkan minum kopi tepat ada warung di sekitar 100 meter dari anak tangga menuju Gunung Bromo, bu Min, pemilik warung warga Cemorolawang mengaku buka mulai pukul 06:00 sampai siang atau sore, dan rombongan melanjutkan sampai ke puncak.

Alhamdulillah sampai di puncak yang jauh berbeda di banding ke Bromo jaman tahun 80-88, faktor usia dan kenyamanan dengan kuda dan jepp hardtop rasanya kenikmatan atas keajaiban yang ada sangat terasa. Tentu saja dengan penuh cita rasa campur syukur atas nikmat Allah SWT, mengabadikan moment indah dan bersahabat ini dengan berbagai pose kayak anak muda.

Dua sudah kenikmatan atas keajaiban kami lalui dengan suka cita, kemudian melanjutkan perjalanan ke “Pasir Berbisik” dan Padang Savana, sebuah pemandangan tidak kalah takjub. Lagi-lagi menambah menberikan keindahan saat pasukan TNI dengan mengendarai motor membawa bendera merah putih menghiasi lautan pasir berbisik dan Padang Savana yang penuh makna. 

Empat destinasi alhamdulillah sudah berhasil kami nikmati seperti terasa sebentar saja di surga dunia, apalagi cerita keajaiban Bromo dan Tengger, juga kisah-kisah nyata tentang sejarah dan flora fauna yang selalu memanggil-manggil menyapa untuk menikmati nikmat dari alam Bromo yang penuh barokah.(JT)

 Presiden Joko Widodo menghadiri acara resepsi pernikahan mantan ajudannya sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta, Pradista Machdala Putra di Gedung Serbaguna I Asrama Haji, Jakarta, Minggu. Foto oleh Biro Pers Setpres.

Jakarta (Korantransparansi.com) - Presiden Joko Widodo menyempatkan diri hadir pada acara resepsi pernikahan mantan ajudannya semasa menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pradista Machdala Putra, di Gedung Serbaguna I Asrama Haji, Jakarta, Minggu.

Deputi Bidang Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menyebutkan Presiden datang bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo sekira pukul 11.20 WIB.

"Alhamdulillah senang. Gak nyangka. Soalnya Pak Presiden kan mau ke Kalsel. Kirain gak akan sempat datang," kata Pradista.

Pria yang akrab disapa Dista itu selama kurang lebih dua tahun mengawal Jokowi.

"Bertemu Pak Presiden awalnya waktu seleksi untuk ajudan gubernur. Alhamdulillah kepilih dan kerja sama beliau selama dua tahun," lanjutnya.

 

Pria yang kini menjadi staf di Biro Protokol Sekretariat Presiden mengatakan bahwa Presiden Jokowi adalah orang yang punya spontanitas tinggi. Hal tersebut paling ia rasakan ketika Jokowi melakukan blusukan.

"Orangnya yang pasti baik. Kedua, gak bisa ditebak karena sewaktu-waktu bisa blusukan ke mana saja. Jadi harus selalu siap untuk melaksanakan tugas meskipun dadakan," ujarnya.

Saat bersalaman, Dista menuturkan bahwa Presiden Jokowi mendoakan agar rumah tangganya bersama Titi Hayyu Rabbani bisa langgeng. Presiden juga berpesan agar dirinya bisa menjaga istrinya dengan baik.

"Pesannyasupaya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah," katanya.

Presiden tampak mengenakan setelan jas berwarna biru, kemeja putih, dan dasi merah. Sementara Ibu Iriana tampak berbusana kebaya warna hijau yang dipadu dengan kain bermotif batik.

Selain Presiden dan Ibu Iriana, tampak hadir juga Kahiyang Ayu beserta suaminya, Bobby Nasution. Keduanya datang setelah Presiden dan Ibu Iriana meninggalkan tempat resepsi

Setelah menghadiri resepsi itu, Presiden Jokowi beserta Ibu Iriana pun langsung menuju Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Presiden diagendakan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Selatan.(sam)

 Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat menerima tim kemitraan Indonesia - Australia yang dipimpin Konjen Australia Jawa Timur Chris Barnes di Surabaya Selasa (27/2/2018).

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Gubernur Jawa Timur menegaskan pengembangan kualitas pendidikan harus didukung dengan kesehatan, sebab literasi akan terserap dengan baik apabila kesehatan siswa baik.  

Oleh karena itu, kesehatan anak, layanan pendidikan anak usia dini (PAUD), parenting education-yang memberikan pengetahuan para ibu dan anak tentang gizi menjadi salah satu prioritas program Jawa Timur.

Hal tsb disampaikan Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo saat menerima audiensi Tim INOVASI Untuk Anak Sekolah, Kemitraan Indonesia-Australia yang dipimpin Konjen Australia di Jawa Timur, Chris Barnes, di  Surabaya, Selasa (27/2). 

Tim INOVASI antara lain terdiri dari Prof. Fasli Jalal tenaga ahli, Mark Heyward direktur program, dan Michelle Lowe, Konselor Kerjasama Pembangunan Kedubes Australia di Jakarta.

Untuk layanan pos yandu yang memberikan parenting education, lanjut Pakde Karwo-sapaan akrab Gubernur Jatim ini, tercatat sampai dengan saat ini sebanyak 12 ribu dari 8.251 desa/kelurahan di Jatim. 

Dengan parenting education tersebut diharapkan orangtua semakin paham akan asupan gizi. Sebab, dari data yang ada, hanya 22% kondisi gizi buruk yang terjadi karena miskin. 

Selebihnya, karena salah asupan yang disebabkan kurangnya pengetahuan orangtua tentang gizi anak. "Pendekatan budaya juga harus menjadi stategi utama dalam pencapaian," ujarnya.

Dalan kesempatan yang sama, Pakde Karwo juga menjelaskan dilakukannya moratorium SMU sejak 2015 dan diubahnya komposisi SMK:SMU menjadi 70%:30% guna memberikan para siswa ketrampilan sehingga dapat diterima di dunia kerja. 

Saat ini, dari jumlah SMK sebanyak 1.771 buah, 40% telah terakreditasi dengan 291 buah diantaranya berstandard internasional. Fakultas-fakultas teknik juga diposisikan sebagai  pengampu. Selain itu, berbagai SMU, termasuk sekolah keagamaan diberikan pendidikan ketrampilan.

165 Inovasi di Jatim

Sementara iu, dalam  penjelasannya, Prof. Fasli Jalal mengatakan penelitian INOVASI mendapati kualitas siswa Indonesia pada beberapa tes internasional di usia yang berbeda  menunjukkan kurang menggembirakan. 

Walaupun sarana, pembiayaan, dan SDM bagus, tetapi standar kompetensi dan lulusannya kurang bagus, yang hal tersebut sangat ditentukan guru, khususnya pada proses pembelajaran.

Penelitian INOVASI di Jawa Timur, lanjutnya, mendapati sebanyak 165 inovasi proses pembelajaran masih berjalan dengan baik di provinsi ini. Inovasi-inovasi tersebut diharapkannya dapat disebarkan bukan hanya antar kab/kota di Jawa Timur, tetapi juga pada tingkat nasional. 

Inovasi tsb ditemukan di wilayah budaya "mataraman" 83 buah, "arek" sebanyak 41 buah, "pendalungan" sebanyak 32 buah, dan Madura sebanyak 9 buah. 

Beberapa motivasi yang diperoleh diantaranya ide belajar numerasi SDN Mojokarang Kab Mojokerto, gerakan literasi SDN Kebon Dalem Kab Mojokerto, dan kepemimpinan di SDN Sumber Gondo 2 Bumiaji Kota Batu. 

Di SDN Kebon Dalem Mojosari Mojokerto, misalnya, para siswa diwajibkan membaca buku bacaan sebelum masuk kelas dan menyampaikan masing2 hasil bacaannya kepada teman lainnya dengan pendampingan guru. 

Para guru juga diharuskan menyusun buku ajar, termasuk menyertakan  foto-foto muridnya,  dan sekolah secara aktif menawarkan buku-buku kepada para siswa yang tertarik untuk pinjam buku. Konsepnya, siswa dibuat betah belajar di sekolah. (min)

Foto Dirut RRI Rohanudin. Wawancara khusus wartawan Koran Transparansi dengan Dirut RII HM Rohanudin

Wawancara khusus wartawan Koran Transparansi dengan Dirut RII HM Rohanudin  

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Radio Republik Indonesia, secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota.

Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman, Jalan Menteng Dalam Jakarta, menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.

 

Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan Tri Prasetya RRI. Butir Tri Prasetya yang ketiga merefleksikan komitmen RRI untuk bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran/keyakinan partai atau golongan.

 

Hal ini memberikan dorongan serta semangat kepada penyiar RRI pada era Reformasi untuk menjadikan RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan mandiri serta senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Dengan slogan RRI adalah "Sekali di Udara, Tetap di Udara".

 

Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI terdiri dari Dewan Pengawas dan Dewan Direksi.

 

Dewan Pengawas yang berjumlah 5 orang terdiri dari unsur publik, pemerintah dan RRI. Dewan Pengawas yang merupakan wujud representasi dan supervisi publik memilih Dewan Direksi yang berjumlah 5 orang yang bertugas melaksanakan kebijakan penyiaran dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan penyiaran.

 

Status sebagai Lembaga Penyiaran Publik juga ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 11 dan 12 tahun 2005 yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang-Undang Nomor 32/2002.

 

Sebelum menjadi Lembaga Penyiaran Publik selama hampir 5 tahun sejak tahun 2000, RRI berstatus sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) yaitu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak mencari untung.

 

Dalam status Perusahaan Jawatan, RRI telah menjalankan prinsip-prinsip radio publik yang independen.Perusahaan Jawatan dapat dikatakan sebagai status transisi dari Lembaga Penyiaran Pemerintah menujuLembaga Penyiaran Publik pada masa reformasi.

 

Likuidasi Departemen Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman Wahid dijadikan momentum dari sebuah proses perubahan Government Owned Radio ke arah Public Service Broadcasting dengan didasariPeraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000.

 

Pembenahan organisasi dan manajemen dilakukan seiring dengan upaya penyamaan visi (shared vision) di kalangan pegawai RRI yang berjumlah sekitar 8500 orang yang semula berorientasi sebagai pemerintah yang melaksanakan tugas-tugas yang cenderung birokratis.

 

 Arsip Foto. Pekerja menutupi dengan terpal garam impor yang telah dimuat truk untuk diangkut ke tempat penampungan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/8/2017). Sebanyak 27.500 ton garam impor dari Australia tersebut rencananya didistribusikan ke sejumlah Industri Kecil Menengah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat.

Jakarta (Koran Transparansi) - Kementerian Perdagangan telah menerbitkan izin impor 2,37 juta ton garam untuk keperluan bahan baku industri kepada 21 perusahaan, kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan, Rabu.

Penerbitan izin impor tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, yang menetapkan alokasi impor garam industri pada 2018 kurang lebih 3,7 juta ton.

Garam industri impor tersebut diperuntukkan bagi industri seperti farmasi dan kosmetik, Chlor Alkali Plant (CAP), dan pengasinan ikan. Garam impor untuk industri tersebut tidak boleh diperjualbelikan atau dipindahtangankan ke pasar konsumsi menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam.

Tujuh belas industri lain, termasuk aneka pangan, juga telah mengajukan izin importasi garam industri. Izin impor yang diajukan mencakup sekitar 663 ribu ton garam.

Garam industri merupakan garam dengan kandungan NaCl paling sedikit 97 persen. Sementara kandungan NaCl garam konsumsi paling sedikit 94 persen.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan pemerintah pada 2015 memberikan izin impor garam 2,07 juta ton dan realisasinya 1,92 juta ton. Pada 2016, alokasi impornya 2,26 juta ton dengan realisasi 2,01 juta ton garam. Dan tahun 2017 pemerintah memberikan izin impor 2,88 juta ton garam dengan realisasi 2,43 juta ton garam, termasuk 149.100 ton garam konsumsi.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan alokasi impor sebanyak 3,7 juta ton garam industri pada 2018 telah sesuai kebutuhan dan ditetapkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pengambilan keputusannya juga melibatkan Kementerian Kelautan Perikanan, Kementerian Perindustrian dan BPS.

Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan alokasi impor garam 3,7 juta ton tersebut melebihi rekomendasi kementerian sebanyak 2,2 juta ton. (sam)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...