INTERNASIONAL

Presiden China Xi Jinping.

Beijing (Korantransparansi.com) - China sedang memperkuat peraturan pada film, berita dan penerbitan di bawah Departemen Publisitas Partai Komunis, dan memperkuat penguasaan media atas konten oleh pemerintah, demikian laporan Reuters dan melibatkan seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Pergeseran itu terjadi saat China terlihat menggabungkan beberapa kementerian dan menciptakan regulasi baru yang mengawasi hal-hal mulai dari perbankan hingga keamanan pangan.

China, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, telah menindak tegas berita, konten dalam jaringan dan film yang bertentangan dengan nilai-nilai Partai Komunis China.

Pengorganisasian kembali tersebut dapat membuat Departemen Publisitas akan memainkan "peran khusus dan penting dalam ideologi propaganda dan hiburan budaya", demikian dokumen pemberitahuan dari Komite Sentral Partai, yang berkuasa, tertanggal 19 Maret 2018.

Departemen Publisitas tidak segera membalas permintaan Reuters untuk memberikan komentar melalui faksimili dan tidak dapat dihubungi melalui telepon.

Lembaga tersebut akan mengambil alih kekuasaan atas film, berita dan penerbitan, yang sebelumnya dipegang oleh Administrasi Negara untuk Pers, Publikasi, Radio, Film dan Televisi, yang dibubarkan awal bulan ini sebagai bagian dari perombakan yang lebih luas.

Selain itu, dokumen terbaru tersebut mencantumkan bahwa Pemerintah China juga menyetujui pembentukan siaran baru yang disebut Voice of China (VOC), yang akan memperkuat penguasaan pada beberapa stasiun televisi dan radio negara yang ada.

Siaran yang baru dibuat tersebut akan diarahkan oleh Departemen Publisitas.(ant)

China dan Kamboja pada Sabtu memulai pelatihan militer, yang berpusat pada kegiatan kontra-terorisme dan penyelamatan.

Phnompenh (Korantransparnsi.com) - China dan Kamboja pada Sabtu memulai pelatihan militer, yang berpusat pada kegiatan kontra-terorisme dan penyelamatan.

Mayor Jenderal Zhang Jian, komandan Tentara Pembebasan Rakyat China Bagian Selatan, dan Pol Saroeun, panglima tertinggi militer Kamboja, membuka pelatihan militer "Dragon Gold 2018" di wilayah barat ibu kota Kamboja, Phnompenh.

Pol Saroeun mengatakan, pelatihan melibatkan 280 tentara Kamboja dan 216 tentara China tersebut bertujuan merayakan ulang tahun ke-60 hubungan diplomatik dan memperkuat "hubungan lama dan kepercayaan politik di antara kedua negara itu".

China adalah pemodal asing terbesar Kamboja dan memberi miliaran dolar pada pembangunan prasarana di negara tersebut.

Pol Saroeun mengatakan bahwa Kamboja mendapat keuntungan dari China yang berada di puncak investasi asing dan kedatangan turis asing di negara tersebut.

"Dukungan dalam semangat, peralatan dan keuangan dari teman hebat China dalam jumlah besar membuat Kamboja berkembang dengan cepat," katanya seperti dilaporkan Reuters.

China mengadakan latihan angkatan laut gabungan pertama bersama Kamboja pada 2016 dan Phnom Penh menghentikan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat tanpa batas waktu setahun kemudian, mengatakan bahwa pihaknya terlalu sibuk mengadakan pemilihan umum.

Pelatihan tersebut diadakan menjelang pemilihan umum Juli, di mana Perdana Menteri Hun Sen, dengan dukungan dari China, tampaknya akan menang mudah setelah oposisi utama Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) dibubarkan oleh Mahkamah Agung November lalu atas permintaan pemerintahnya.

Pelarangan oposisi tersebut mendorong Amerika Serikat, Uni Eropa dan negara-negara lain untuk mengutuk tindakan keras oleh Partai Rakyat Kamboja yang dipimpin Hun Sen (CPP) pada kritik, termasuk anggota parlemen oposisi dan beberapa media independen.

Hun Sen menuduh Amerika Serikat mendukung CNRP untuk mengadakan "revolusi warna" demi menggulingkan pemerintahannya.

Washington menolak tuduhan dukungan Amerika atas dugaan rencana oleh pemimpin oposisi Kem Sokha, yang menghadapi tuduhan pengkhianatan yang dia katakan dimaksudkan untuk menghentikannya bersaing dalam pemilihan umum.

Hun Sen sering mengingatkan orang-orang Kamboja tentang pemboman hebat Amerika Serikat yang dimulai pada akhir 1960-an dan kudeta oleh seorang jenderal yang didukung Amerika Serikat pada 1970. Tak lama kemudian, tentara Amerika Serikat menyerang dari Vietnam dan perang melanda negara tersebut, yang menyebabkan pengambilalihan kekuasaan oleh genosida Khmer Merah pada 1975.

Sebuah jajak pendapat pada 2016 menunjukkan bahwa 85 persen orang Kamboja memiliki pandangan positif terhadap dampak Amerika Serikat di wilayah tersebut.(reuters/kh)

China dan Kamboja pada Sabtu memulai pelatihan militer, yang berpusat pada kegiatan kontra-terorisme dan penyelamatan.

 

Phnompenh (Korantransparnsi.com) - China dan Kamboja pada Sabtu memulai pelatihan militer, yang berpusat pada kegiatan kontra-terorisme dan penyelamatan.

Sergei Skripal, mantan agen dinas rahasia Rusia yang membelot ke Inggris, dan baru-baru ini mendadak sakit keras karena terpapar zat berbahaya (Reuters)

Astana (Koran Transparansi.com) – Moskow akan mengusir diplomat Inggris guna menanggapi langkah London yang mengusir 23 pejabat Rusia karena kasus peracunan mantan agen ganda Sergei Skripal, ungkap Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

“Tentu kami akan melakukannya,” ujar Lavrov kepada jurnalis ketika ditanya apakah Moskow akan merespons pengusiran diplomat Rusia yang diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May.

Lavrov berbicara di ibu kota Kazakhstan, Astana, menyusul perundingan tentang Suriah dengan menteri luar negeri Iran dan Turki.

Menteri luar negeri Rusia tersebut mengatakan bahwa Moskow akan menanggapinya dengan mengusir diplomat Inggris “segera.”

Dia mengatakan negaranya tidak memiliki motif untuk menargetkan Skripal, tetapi menyatakan bahwa pihak lain bisa saja menggunakan insiden peracunan itu untuk memperumit Piala Dunia yang akan digelar di Inggris.

Baca juga: Rusia bantah miliki program pengembangan racun saraf novichok

Juru bicara kepresidenan Dmitry Peskov sebelumnya mengatakan bahwa Vladimir Putin pada akhirnya akan memilih opsi yang paling sesuai dengan kepentingan Moskow.

Dalam pernyataan gabungan langka, pemimpin Inggris, Prancis, Jerman dan AS mengecam serangan terhadap Skripal dan putrinya Yulia sebagai serangan terhadap kedaulatan Inggris.

Baca juga: Mengenal Novichok, gas saraf yang racuni eks agen ganda Rusia

Skandal internasional meningkat saat Skripal dan putrinya tetap dalam kondisi kritis setelah terpapar bahan kimia Novichok, yang dirancang Soviet, pada 4 Maret di kota Salisbury di Inggris. Demikian dilansir Kantor Berita AFP. 

 Pengungsi Rohingya yang datang dari Myanmar menjemput anak-anak mereka dan barang-barang mereka menuju pusat bantuan di Teknaf, dekat Cox's Bazar di Bangladesh, Selasa

Jenewa (Korantransparansi.com) - Tim pakar hak asasi manusia PBB, yang kini tengah menyelidiki kemungkinan terjadinya genosida di Myanmar, pada Senin mengatakan bahwa media sosial Facebook telah berkontribusi buruk dengan menyebarkan ujaran kebencian di negara tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (12/3), Facebook hingga kini belum membalas kritik tersebut, meski sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya sudah berupaya menghapus ujaran kebencian di Myanmar dan memblokir akun dari orang yang membagi konten serupa secara rutin.

Lebih dari 650.000 warga Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, terpaksa mengungsi ke Bangladesh sejak pemerintah menggelar operasi militer di sana pada Agustus tahun lalu. Banyak di antara para pengungsi itu yang mengaku menyaksikan pembunuhan dan pemerkosaan oleh pasukan keamanan Myanmar.

Pada pekan lalu, kepala HAM PBB mengatakan bahwa dia menduga kuat terjadinya genosida. Komentar itu kemudian dibalas oleh Myanmar yang menuntut "bukti yang jelas."

Marzuki Darusman, kepala tim Misi Pencari Fakta Independen PBB untuk Myanmar, mengatakan kepada sejumlah wartawan bahwa media sosial telah memainkan peranan besar di Myanmar.

"Media sosial telah berkontribusi besar pada level kebencian dan permusuhan serta konflik dalam masyarakat," kata Marzuki.

"Ujaran kebencian tentu saja adalah bagian dari itu. Dan sejauh situasi yang ada di Myanmar, media sosial itu adalah Facebook, Facebook adalah sosial media," kata Marzuki.

Penyidik PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan bahwa Facebook adalah bagian penting dari kehidupan publik dan pribadi masyarakat, dan pemerintah menggunakannya untuk menyebarkan informasi kepada publik.

"Sema hal diselesaikan melalui Facebook di Myanmar," kata dia kepada para wartawan sambil menambahkan bahwa Facebook telah banyak membantu negara miskin tersebut, namun pada saat bersamaan juga digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian.

"Facebook digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kepada publik, namun kita tahu bahwa kelompok Buddhis ultra-nasionalis juga mempunyai akun Facebook dan mereka memprovokasi banyak aksi kekerasan dan kebencian terhadap warga Rohingya dan minoritas etnis lainnya," kata Yanghee.

"Saya khawatir Facebook sudah berubah menjadi monster, dan tidak menjadi media yang diniatkan sebelumnya," kata dia.

Tokoh utama pendeta garis keras di Myanar yang pada Sabtu lalu mengakhiri larangan mengajar selama satu tahun, Wirathu, mengatakan bahwa retorika anti-Muslim yang dia sampaikan tidak punya hubungan apapun dengan kekerasan di negara bagian Rakhine.

Facebook memblokir sejumlah akun yang "secara rutin menyebar pesan ujaran kebencian," kata perusahaan itu pada bulan lalu sebagai jawaban atas pertanyaan terkait akun milik Wirathu.

"Jika seseorang secara konsisten membagi konten yang berisi kebencian, kami akan mengambil sejumlah tindakan termasuk memblokir akun mereka untuk sementara waktu, atau bahkan menghapus akun mereka," kata Facebook.(*/kh)

Ilustrasi pemakaian botol oksigen untuk mengantisipasi serangan gas beracun. (Reuters)

London (Korantransparansi.com) - Perdana Menteri Inggris, Theresa May, Selasa, menyatakan, Moskow "sangat patut" bertanggung jawab atas keracunan mantan mata-mata ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Inggris, dengan menggunakan racun saraf kelas militer.

May mengatakan kepada Parlemen Inggris, Rusia secara langsung bertanggung jawab baik karena meracuni atau mengizinkan racun saraf tersebut berpindah tangan ke orang lain. London memberi Rusia hingga Selasa malam untuk menjelaskan penggunaan racun tersebut.

Pejabat Inggris mengenali senyawa itu sebagai bagian dari kelompok racun saraf Novichok, yang dikembangkan militer Soviet selama 1970-an dan 1980-an, kata May.

Skripal, 66, dan putrinya, yang berusia 33 tahun, Yulia, berada di rumah sakit dalam keadaan gawat sejak ditemukan tidak sadar di bangku di luar pusat perbelanjaan di kota Salisbury pada 4 Maret.

"Jika tidak ada tanggapan memadai, kami akan menyimpulkan bahwa tindakan ini sesuai dengan penggunaan kekuatan melanggar hukum oleh negara Rusia terhadap Inggris Raya," katanya, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan "sembrono dan tercela".

Kementerian Luar Negeri Rusia membalas dengan segera, dengan mengatakan bahwa pernyataan May adalah "pertunjukan sirkus" dan merupakan bagian dari kampanye informasi politik melawan Rusia.

Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki "kepercayaan penuh" dalam penilaian Inggris bahwa Rusia patut untuk bertanggung jawab.

"Kami setuju bahwa mereka bertanggung jawab - baik yang melakukan kejahatan dan mereka yang memerintahkannya - harus menghadapi konsekuensi serius," demikian pernyataan Tillerson.

Sebelumnya, juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengatakan, Amerika Serikat mendukung "sekutu terdekat Amerika", namun dia mendadak menyalahkan Rusia atas serangan tersebut.

Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, mengatakan penggunaan racun saraf apapun adalah hal yang "mengerikan dan sama sekali tidak dapat diterima" dan "insiden tersebut menjadi perhatian besar NATO."

Adapun hubungan antara Inggris dan Rusia telah menegang sejak pembunuhan mantan mata-mata Rusia KGB, Alexander Litvinenko, di London, yang meninggal pada 2006 setelah meminum teh hijau yang dicampur dengan radioaktif polonium-210.

Pada Senin, May mengatakan, keracunan terakhir terjadi "dengan latar belakang pola mapan agresi negara Rusia" dan bahwa Inggris siap untuk mengambil "tindakan yang lebih jauh" terhadap Rusia ketimbang di masa lampau.

Duta Besar Rusia untuk Inggris telah dipanggil untuk menjelaskan kepada Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, bagaimana racun saraf tersebut sampai bisa digunakan. "Pada Rabu kami akan mempertimbangkan secara rinci tanggapan dari negara Rusia," kata May.

Racun Novichok diyakini lima hingga 10 kali lebih mematikan daripada gas VX dan Sarin, yang lebih umum. Racun tersebut memperlambat kerja jantung dan membatasi saluran udara, yang menyebabkan kematian akibat sesak napas, kata mahaguru farmakologi Universitas Reading. (ant/kh)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...