INTERNASIONAL

 Seorang polisi Malaysia mendorong sebuah troli saat penggeledahan tiga apartemen di sebuah kondominium milik keluarga mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak, di Kuala Lumpur, Kamis (17/5/2018), dalam foto yang diambil oleh Strait Times. Foto diambil tanggal 17 Mei 2018.

Kuala Lumpur (KoranTransparansi.com) - Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) menyatakan jumlah uang dari 35 di antara 72 tas yang dirampas dari kondominium Pavilion Residences di Jalan Raja Chulan Kuala Lumpur terkait perkara mantan perdana menteri Najib Razak sampai RM 114 juta atau sekitar Rp404,8 miliar.

Direktur Jabatan Siasatan Jenayah Komersil atau Kepala Divisi Kejahatan Komersial Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) Amar Singh mengemukakan hal itu dalam jumpa pers di Tingkat 36 Menara 238 Jalan Tun Razak Kuala Lumpur, Jumat, terkait skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

"Pada 21 hingga 23 Mei 2018 polisi telah melakukan pemeriksaan pada tas-tas tersebut. Saat perampasan Jumat 18 Mei 2018 kami tidak bisa menilai secara tepat jumlahnya," ucapnya.

Amar Singh mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan pihak bank untuk menilai dan di dalam tas tersebut terdapat 26 jenis mata uang dengan jumlah yang berbeda.

"Untuk pemeriksaan kami telah meminta bantuan Bank Negara dan Bank Islam Malaysia untuk mengira jumlahnya. Kami menggunakan 11 mesin untuk menghitung dan 21 pegawai bank membantu memperkirakan," tuturnya.

Amar Singh mengatakan polisi masih menunggu ahli untuk memperkirakan nilai 37 tas lain berisi perhiasan dan barang-barang berharga yang dirampas pada Jumat (18/5).

Dia juga menjelaskan bahwa foto-foto yang dipasang di media sosial dan media cetak yang konon menunjukkan barang-barang dan uang tunai yang disita dari Najib saat penyergapan di kondominium merupakan foto-foto palsu.

"Semua itu foto-foto palsu. Saya telah menginstruksikan kepada petugas polisi bahwa mereka tidak diizinkan membawa ponsel mereka selama operasi mereka. Hanya petugas resmi yang diizinkan mengambil gambar," ujarnya.

Amar Singh meminta masyarakat tidak mempercayai foto-foto yang beredar dan tidak menyebarkannya karena polisi melakukan penyelidikan secara profesional terhadap rumah mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak tersebut.

Dia mengatakan gambar barang-barang mewah yang disita seperti tas dan jam tangan akan dikirim ke para ahli di luar negeri, termasuk Paris, untuk tujuan otentifikasi. (ant/min)

 

Trump: Pekan depan kepastian pertemuan dengan Kim Jong-Un

Washington (KoranTransparansi.com) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa pekan depan baru akan mengetahui apakah pertemuan puncaknya dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un berlangsung pada 12 Juni 2018 di Singapura seperti dijadwalkan.

Pernyataan pada Rabu (23/5) tersebut menimbulkan keraguan lebih lanjut pada rencana pertemuan itu, yang memang belum pernah terjadi pembicaraan di antara pimpinan puncak kedua negara.

Petugas Gedung Putih bersiap melakukan perjalanan ke Singapura pada akhir pekan ini untuk pertemuan penting dengan pejabat Korut demi membahas acara dan perbekalan untuk pertemuan puncak itu, kata pejabat AS, yang enggan disebut jati dirinya.

Saat mengunjungi Washington, Penasihat Negara China Wang Yi mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bahwa jika AS menginginkan perdamaian dengan Korut dan ingin membuat sejarah, "sekarang adalah waktunya" bagi pemimpin kedua negara itu mengadakan pertemuan puncak pertama mereka.

Perutusan AS, yang termasuk Wakil Kepala Staf Gedung Putih Joseph Hagin dan wakil penasihat keamanan nasional Mira Ricardel, diberangkatkan setelah Trump mengatakan pada Selasa bahwa ada "kemungkinan besar" pertemuan puncak akan dibatalkan karena kekhawatiran bahwa Pyongyang tidak siap untuk menyerahkan persenjataan nuklirnya.

Saat ditanya apakah pertemuan puncak akan berlangsung, Trump mengatakan kepada wartawan, "Ini bisa terjadi dengan sangat baik. Apa pun itu, kita akan tahu minggu depan tentang Singapura. Dan, jika kita bisa, saya pikir itu akan menjadi hal yang hebat untuk Korut."

Namun, dia menambahkan, "Kita lihat saja."

Meski begitu, Trump tidak mengatakan apakah pembicaraan persiapan antara AS dan pejabat Korut dalam beberapa hari mendatang diharapkan untuk memperjelas situasi.

Pompeo mengatakan bahwa AS siap untuk meninggalkan perundingan nuklir dengan Korut, jika pertemuan puncak itu menuju ke arah yang salah.

Menlu AS, yang mantan Direktur Pusat Agen Intelijen AS (CIA) dan pernah bertemu Kim Jong-Un, mengatakan sangat berharap pertemuan puncak akan berlangsung.

Tetapi, ia mengatakan, keputusan itu akhirnya tergantung pada Kim, yang pernah ditemui dua kali dalam waktu kurang dari dua bulan ini.

Trump memunculkan keraguan tentang pertemuan puncak dalam pembicaraan pada Selasa dengan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang datang ke Washington DC untuk mendesak Trump agar tidak membiarkan kesempatan langka dengan Korut pergi begitu saja.

Tidak jelas apakah Trump benar-benar mundur dari pertemuan puncak atau apakah dia secara strategis membujuk Korut menuju perundingan setelah puluhan tahun ketegangan di Semenanjung Korea dan antagonisme dengan Washington atas program senjata nuklirnya.

Gedung Putih tampak lengah ketika, dalam perubahan dramatis, Korut mengecam latihan tempur udara AS-Korsel pada pekan lalu, menangguhkan pembicaraan Korut-Korsel, dan mengancam akan membatalkan pertemuan puncak jika Pyongyang didorong ke arah "pengabaian nuklir sepihak".

Wakil Menteri Luar Negeri Korut Choe Son-hui mengatakan, masa depan pertemuan puncak antara Pyongyang dan Washington sepenuhnya tergantung pada AS.

"Kami tidak akan meminta AS untuk berunding atau mengambil risiko untuk membujuk mereka jika mereka tidak ingin duduk bersama kami," kata Choe Son-hui, menurut laporan kantor berita Korut (KCNA, Kamis.

Choe mengatakan bisa menyarankan kepada pemimpin Kim bahwa Korut mempertimbangkan kembali pertemuan puncak, jika AS menyinggung niat baik Korut.

Jika pertemuan puncak tersebut dibatalkan atau gagal, maka Trum akan mendapat pukulan besar guna mencapai dukungan yang diharapkan sebagai capaian diplomatik terbesar dari kepresidenannya.(ant/kh)

Arsip Foto. Seorang anak lelaki berjalan di sepanjang jalan rusak di kota Douma di Damaskus, Suriah

Damaskus, Suriah - Untuk pertama kali dalam tujuh tahun, Damaskus dinyatakan aman dan tanpakehadiran pemberontak pada Senin (21/5), setelah kekalahan IS di kubu terakhir mereka di sebelah selatan Damaskus, satu pencapaian yang menutup bab terakhir perang di ibu kota Suriah.

Pertempuran melawan ISIS kembali berkecamuk sebulan lalu, saat pasukan pemerintah berusaha keras merangsek untuk membasmi kelompok teroris tersebut dari Hajar Al-Aswad dan Kamp Yarmouk di dekatnya, keduanya adalah daerah terakhir yang dikuasai ISIS di ibu kota Suriah.

Suara serangan udara dan ledakan bom artileri yang ditujukan ke posisi ISIS di area itu dan daerah kantung di dekatnya mewarnai pertempuran yang berlangsung satu bulan di Hajar Al-Aswad dan Kamp Yarmouk, yang bangunan-bangunannya sangat saling berdekatan, dan hampir mencekik permukiman di sana.

Struktur daerah itu membuat satuan infantri sulit menyerbu, menjelaskan alasan pengeboman artileri dan serangan udara sengit terhadap posisi-posisi ISIS di sana.

Militer Suriah pada Senin mengumumkan seluruh Kota Damaskus dan pinggirannya aman, dengan kekalahan ISIS di kubu terakhir mereka di sebelah selatan Damaskus.

Dalam satu pernyataan, militer Suriah menyatakan pentingnya pencapaian itu berpangkal dari kekalahan "kelompok paling kejam" tersebut dan membuktikan militer Suriah telah menjadi lebih tangguh serta bertekad untuk membasmi kelompok ekstremis itu di daerah lain Suriah.

Setelah deklarasi kemenangan itu, pewarta Xinhua mengunjungi Hajar al Aswad, dan area itu terlihat seperti medan tempur segar.

Asap putih dan hitam masih membubung ke udara di daerah tersebut, dan aroma asap yang menyengat masuk hidung dengan keras. Asap itu tebal dan rasanya seperti kabut telah menyelimuti daerah tersebut, membuat mata sulit melihat jelas.

Kebakaran juga terlihat melahap beberapa rumah dan jalanan, sementara puing berserakan di mana-mana, bangunan-bangunan yang rata dengan tanah, atap yang roboh hingga mencium tanah.

Pemandangan itu adalah bencana total di daerah tersebut, dan kelihatan seperti hasil normal keberadaan kelompok semacam ISIS di area-area penting hanya beberapa kilometer dari Damaskus.

Meskipun tentara Suriah secara resmi membantah itu, para pegiat seperti Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan petempur ISIS akhirnya telah menyerah dan mengungsi ke gurun Suriah. Klaim itu dibantah oleh media negara, yang mengatakan hanya perempuan, anak kecil dan orang tua diungsikan dari Hajar Al-Aswad.

Di Hajar Al-Aswad, seorang kolonel mengatakan kepada Xinhua bahwa kemenangan militer di Hajar Al-Aswad dan Kamp Yarmouk sangat penting bagi keamanan ibu kota Suriah.

"Pencapaian keberhasilan membebaskan Hajar Al-Aswad dan Kamp Yarmouk dipandang sangat besar sebab itu memulihkan kedamaian dan keamanan di Damaskus serta pinggirnya," kata perwira tersebut.

Sementara itu, Maher Ihsan, seorang ahli politik Suriah, mengatakan kepada Xinhua bahwa pengumuman ibu kota Suriah aman memiliki kepentingan politik sebab ibu kota Suriah tersebut, yang menjadi inti kekuasaan pemerintah Presiden Bashar al-Assad, sekarang aman dan jauh dari ancaman apa pun, bertolak-belakang dengan beberapa tahun sebelumnya, ketika ancaman pemberontak mencapai jantung ibu kota Suriah dengan bom mortir.

"Ini berarti pemerintah berada dalam posisi kuat sekarang sebab ibu kota seluruhnya dikuasai dan ancaman gerilyawan terhadap ibu kota telah dihapus sepenuhnya," katanya.

Kamp Yarmouk, yang berdampingan dengan Hajar Al-Aswad, kebanyakan dihuni oleh pengunsi Palestina di Damaskus. Itu adalah alasan mengapa tempat tersebut disebut "kamp"; kenyataannya ialah daerah itu mengalami "booming" menjelang krisis sebab tempat tersebut meliputi beberapa permukiman dan pasar yang dipenuhi orang.

Militer Suriah mengubah pusat perhatian pada Hajar Al-Aswad dan Kamp Yarmouk setelah merebut seluruh Ghouta Timur di pinggir timur Damaskus, serta bagian timur Wilayah Qalamoun di sebelah utara Damaskus, setelah gerilyawan mundur ke daerah Suriah Utara pada Mei.

ISIS telah kehilangan kubu utamanya pada penghujung tahun lalu, setelah militer Suriah merebut Kota Deir Az-Zour di Suriah Timur serta banyak wilayah gurun Suriah di dekat perbatasan Irak. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Suku Kurdi juga melucuti ibu kota de fakto ISIS, Ar-Raqqa, di Suriah Utara.

Sekarang ISIS masih menguasai beberapa daerah di Provinsi Deir Az-Zour di Suriah Timur, terutama di desa dan tepi timur Sungai Eufrat, tempat anggota SDF kini memerangi kelompok teror tersebut.

Mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak tiba untuk memberikan pernyataan kepada Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) di Putrajaya, Malaysia, Selasa (22/5/2018).

Putrajaya (KoranTransparansi.com) - Mantan perdana menteri Malaysia, Najib Razak diperiksa oleh Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC) selama lebih kurang lima jam, Selasa (22/5), terkait dengan SRC International Sdn Bhd dan dana RM42 juta yang masuk ke rekening pribadinya.

Ketika memberikan keterangan kepada wartawan yang telah menunggunya, Najib mengatakan pernyataannya tentang SRC International Sdn Bhd lebih rinci dibandingkan yang dia sampaikan tiga tahun lalu.

"Saya telah memberikan pernyataan tentang masalah SRC ke MACC pada 2015. Pernyataan saya hari ini adalah tindak lanjut dari tahun sebelumnya," kata Najib kepada sejumlah wartawan lokal dan internasional.

Najib mengatakan dia diinterogasi sekitar lima jam mulai dari jam 10.00 pagi hingga sekitar 02.15 sore dan diberikan waktu istirahat selama dua kali.

Sebelumnya Ketua Komisi MACC, Mohd Shukri Abdull dalam jumpa pers kepada media membantah spekulasi kuat bahwa mantan pemimpin Malaysia tersebut akan ditangkap oleh MACC.

Najib Razak juga mengucapkan terima kasih kepada tim MACC yang telah bertugas secara profesional.

Mantan Ketua Barisan Nasional tersebut mengatakan penyelidikan yang melibatkannya akan berlanjut pada hari Kamis, tetapi sebagian besar telah diselesaikan pada Selasa ini.(ant/min)

 Keluarga korban Boeing 737 yang jatuh setelah lepas landas di Havana, Kuba, bereaksi setelah keluarga mereka menjadi korban tragedi itu, 19 Mei 2018.

 

 

 

 

Keluarga korban Boeing 737 yang jatuh setelah lepas landas di Havana, Kuba, bereaksi setelah keluarga mereka menjadi korban tragedi itu, 19 Mei 2018. 

 

Havana (KoranTransparnsi.com) - Pemerintah Kuba memastikan bahwa pesawat Boeing tua yang jatuh Jumat lalu beberapa saat setelah tinggal landas dari Havana telah menewaskan 110 dari total 113 orang yang berada di pesawat itu sehingga menjadi kecelakaan udara paling buruk menimpa negara itu dalam hampir 30 tahun.

Bendera setengah tiang dikibarkan di Kuba mulai Sabtu waktu setempat dalam dua hari berkabung menyusul tragedi ini, sedangkan berwenang terus berusaha mencari bukti dari tempat kejadian perkara dan mengidentifikasi para korban.

Baru 15 orang yang berhasil diidentifikasi dan sebuah kotak hitam ditemukan.

Dalam jumpa pers Sabtu waktu setempat di bandara Havana, pihak berwenang mengungkapkan bahwa 99 orang korban tewas adalah warga Kuba, sedangkan tiga lainnya adalah turis masing-masing dua turis Argentina dan seorang Meksiko. Dua lainnya adalah penduduk Sahrawi (Sahara) yang berada di Kuba.

Enam awak pesawat yang Boeing 737 sudah berusia 40 tahun yang disewa maskapai Kuba dari perusahaan Meksiko tak terkenal Damojh, juga tewas.

Sepuluh di antara para korban tewas adalah pastor-pastor Nazarene yang tengah pulang, kata Gereja Nazarene Kuba.

Tiga wanita Kuba selama dari kecelakaan itu namun berada dalam kondisi kritis. (reuters/ant)

 

Ilustrasi Irak (Reuters)

Bagdad/Kirkuk, Irak (KoranTransparansi.com) - Irak mulai memilih dalam pemilihan parlemen pertama pada Sabtu sejak mengalahkan ISIS, tetapi hanya sedikit orang yang mengharapkan para pemimpin baru untuk memberikan stabilitas dan kemakmuran ekonomi yang telah lama dijanjikan.

Produsen minyak tersebut telah berjuang menemukan formula untuk stabilitas negaranya sejak invasi pimpinan Amerika Serikat menggulingkan diktator Saddam Hussein pada 2003, dan banyak warga Irak telah kehilangan kepercayaan pada politisi mereka.

Siapa pun yang dipilih parlemen baru sebagai perdana menteri akan menghadapi berbagai tantangan setelah perang tiga tahun melawan ISIS yang merugikan negara itu sekitar 100 miliar dolar AS.

Sebagian besar kota Mosul di bagian utara Irak telah menjadi puing-puing dalam pertempuran untuk menggulingkan ISIS, dan negara akan membutuhkan miliaran dolar untuk membangun kembali. Perekonomian pun sedang stagnan.

Ketegangan sektarian, yang meletus dalam perang sipil pada 2006-2007, masih merupakan ancaman keamanan utama. Dan dua pendukung utama Irak, Washington dan Teheran, berselisih.

Tiga kelompok etnis dan agama utama - mayoritas orang Arab Syiah dan Arab Sunni serta Kurdi - telah berselisih selama beberapa dekade, dan perpecahan sektarian tetap sedalam yang pernah ada.

Wartawan Reuters melihat tempat pemungutan suara dibuka di Baghdad dan kota-kota lain.

"Saya akan berpartisipasi, tetapi saya akan menandai `X` pada surat suara saya. Tidak ada keamanan, tidak ada pekerjaan, tidak ada layanan. Para kandidat hanya menginginkan uang, bukan untuk membantu orang," kata Jamal Mowasawi, seorang tukang daging berusia 61 tahun.

Tiga kandidat utama untuk perdana menteri, petahana Haider al-Abadi, pendahulunya Nuri al-Maliki dan komandan milisi Syiah Hadi al-Amiri semua membutuhkan dukungan dari Iran.

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari kesepakatan nuklir akan mendorong Iran untuk mempertahankan pengaruh politik dan militernya yang luas di Irak, negara Arab yang paling penting bagi Teheran.

Abadi dianggap para analis sedikit memimpin, tetapi kemenangan jauh dari pasti untuk pira yang membangkitkan harapan bahwa ia dapat menempa kesatuan ketika ia menduduki jabatan.

Tetapi, ketika dia mengulurkan tangan kepada kaum Sunni minoritas, dia mengasingkan kaum Kurdi setelah menghancurkan usaha mereka untuk kemerdekaan.

Dia memperbaiki posisinya dengan kemenangan melawan ISIS, yang telah menduduki sepertiga dari Irak.

Tapi, Abadi tidak memiliki karisma dan gagal memperbaiki ekonomi serta mengatasi korupsi. Dia juga tidak bisa hanya mengandalkan suara dari komunitasnya saat basis pemilih Syiah tidak biasanya terpecah tahun ini. Sebaliknya, dia berusaha untuk menarik dukungan dari kelompok lain.

Bahkan, jika Aliansi Kemenangan Abadi memenangkan kursi terbanyak, ia masih harus merundingkan pembentukan pemerintahan koalisi, yang harus diselesaikan dalam waktu 90 hari dari pemilihan umum.

"Ini wajah yang sama dan program yang sama. Abadi adalah yang terbaik dari yang terburuk; setidaknya di bawah pemerintahannya kami memiliki pembebasan (dari ISIS)," kata Hazem al-Hassan, penjual ikan berusia 50 tahun di Baghdad.

Amiri menghabiskan lebih dari dua dekade melawan Saddam dari pengasingan di Iran. Pria berusia 63 tahun itu memimpin Organisasi Badr, yang merupakan tulang punggung pasukan sukarelawan yang memerangi ISIS.

Dia berharap dapat memanfaatkan keberhasilan di medan perangnya. Kemenangan untuk Amiri akan menjadi kemenangan bagi Iran, yang terkunci dalam perang proksi untuk pengaruh di Timur Tengah, demikian Reuters.(ant/kh)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...