Pamekasan (KoranTransparnsi.com) - Madura United mengusung ambisi bangkit saat menjamu Borneo FC di pekan ke-23 Gojek Liga 1 bersama Bukalapak. Laga ini digelar di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan, Sabtu sore (22/9/2018).

Tim tuan rumah menelan kekalahan dengan skor 0-2 pada pekan lalu saat melawan Arema FC (17/9/2018). Pelatih Madura United, Gomes de Oliveira, ingin anak asuhnya bangkit dan melupakan kekalahan itu.

"Kami harus berupaya mengambil momentum lebih awal, status tuan rumah harus kami maksimalkan. Lupakan kekalahan, jadikan pelajaran buat menang melawan Borneo, Sabtu nanti. Kedatangan suporter ke stadion adalah senjata untuk menaikkan motivasi tanding pemain Madura United," ucap Gomes.

Klub berjulukan Laskar Sape Kerap itu juga memiliki catatan positif di kandang. Mereka menjadi satu dari empat tim Liga 1 musim ini yang masih belum terkalahkan di hadapan pendukung sendiri.

"Tidak ada kata lain selain menang, kami harus jaga kandang dan tidak boleh kehilangan poin lagi. Ini kompetisi bagus, kami harus terus main maksimal agar tetap bertahan di papan atas. Kami sudah lama di papan atas, terus berjuang biar bertahan," imbuh Gomez.

Di sisi lain, pelatih Borneo FC, Dejan Antonic, dipusingkan dengan performa tim asuhannya. Dua kali kalah di kandang dan gagal mencetak gol menjadi bekal buruk untuk melakoni laga tandang.

Dia menilai timnya sedang bermasalah dalam penyelesaian akhir. Itulah mengapa, pelatih asal Serbia itu sudah melakukan pembenahan maksimal pada problem itu agar Borneo FC bisa segera bangkit.

"Salah satu permasalahan utama kami memang penyelesaian akhir. Dari dua laga terakhir sebenarnya banyak peluang, tapi tidak ada gol. Kalau kami bisa bikin gol, hasil akhir di dua laga terakhir akan berbeda. Jadi, saya ingin semua elemen tim bangkit dan tampil lebih baik," ujarnya, dikutip dari bola.com

"Saya ingin pemain berjuang lebih keras. Sebab, hanya dengan itu apa yang ditargetkan bisa tercapai. Saya pasti memberi formasi terbaik untuk melawan Madura United," imbuh pelatih berusia 49 tahun itu.(nov)

Saturday, 22 September 2018 06:59

Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-73

Oleh : Djoko Tetuko

Ketika negara, pemerintah, rakyat jelata berjingkrak-jingkrak ria, bergembira merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-73, rasanya di antara sanjungan kepada pahlawan sudah mulai tenggelam dimakan jaman. Kisah tentang perjuangan para veteran kemerdekaan sudah berubah menjadi tayangan iklan layanan masyarakat, tidak lebih dari sekedar iklan belaka.

Kering rasanya mengikuti upacara peringatan hari kemerdekaan, hanya dihiasi dengan pakaian adat dan upacara menaikkan dan menurunkan sang saka Merah Putih. Sejarah panjang perjuangan hingga sampai pada pertolongan Allah SWT, bangsa dan negara Indonesia menyatakan kemerdekaan, dengan rentetan model penjajahan hampir 350 tahun seperti sudah tidak diminati genereasi milleneal sebagai generani jaman now.  

Tasyakuran di kampung-kampung hanya sekedar formalitas, bukan sebuah panggilan jiwa bahwa malam 17 Agustus (16 Agustus malam), merupakan detik-detik bangsa dan negara Indonesia menerima sebuah takdir dari Allah SWT dibebaskan dari belenggu penjajahan dengan berbagai model. Mungkin penjajahan paling bervariasai di antara penjahahan-penjahan di seluruh dunia.

Membaca berita di koran dan media sosial serta kabar dari radio juga televisi masih marak, proses penangkapan dan penegakkan hukum terhadap koruptor. Bahkan seakan-akan prestasi bangsa dan negara Indonesia paling menonjol di permukaan hanya dua; pertama soal koruptor dan kedua masalah narkoba. Berbagai hasil pembangunan infrastruktur termasuk sarana transportasi jalan tol di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua, juga pemeratan jaringan pembangkit listrik, seakan-akan tenggelam tanpa hiruk pikuk pemberitaan.

Asian Games di Jakarta dan Palembang seperti event penjajahan, di tengah-tengah konidisi bangsa dan negara Indonesia belum mampu mengembalikan pada posisi stabil dalam berbagai aktifitas berbangsa dan bernegara, sehingga cerita soal Asian Games ialah ketidakpuasan para peserta dengan venus pertandingan dan venus latihan, ketidakharmonisan antara Inasgoc dan pengelola lapangan pertandingan. Yang menampar muka dan memalukan adalah kabar mark-up sejumlah proyek Asian Games karena harus diselesaikan segera, bukan ditingkatkan kualitasnya, tetapi digembosi dengan pemanfaatan proyek untuk pribadi dan golongan. Sungguh sebuah pelajaran amat sangat berharga. INASGOC atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee adalah komite resmi yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia.

Kisah pelacur tua berlayar (berpindah-pindah) dari kompleks pelacuran satu ke lokasi pelacuran lain, menjadi inspirasi dari tulisan ini, ketika sudah tidak menikmati suasana kemerdekaan, hampir tidak ada perbedaan sudah merdeka lebih dari 70 tahun dengan dijajah Jepang, Belanda, dan Portugis, ratusan tahun silam. Ketika kegembiraan pesta olahraga se Asia, juga buka kebanggaan, seperti ketika Indonesia menjadi tuan rumah pada tahun 1962, 56 tahun silam.

Ketika berita tentang keberhasilan pembangunan dan bencana nasional gempa Lombok, kalah populer dengan berita penangkapan koruptor dan permainan tangkap menangkap pemain narkoda. Semakin nampak bahwa negara tidak hadir secara totalitas dengan program prioritas, dengan komunikasi yang efektif kepada masyarakat, dengan pertanggungjawaban yang transparan kepada publik, dengan penyampaian plus minus mengurus negara dengan berbagai ’’mafia’’ yang sudah terlanjur ikut campur dalam pelbagai pesta atas nama rakyat dan bangsa Indonesia.

Bin salabin negara Indonesia sudah berubah menjadi sebuah kebudayaan Indonesia, dengan dipoles berbagai kepentingan sebagai pemanis bahwa Indonesia masih eksis, walaupun apabila dilakukan analisa secara tajam dan mendalam, maka kondisi Indonesia dengan  politik luar negeri yang kurang jelas mengarah ke mana? Nampak sekali bahwa ada kebingungan dalam mengambil sikap harus konsentrasi program prioritas apa?

Yang pasti pembangunan infrastruktur  terus dilakukan dengan target pada tahun 5 pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo bahwa jalan tol trans Jawa sudah selesai, jalan tol trans Sumatera sudah mendekati final, dan jalan-jalan protokol di Papua, Sulawesi dan Kalimantan, diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Walaupun belum ada secara jelas dan tuntas penyampaian kepada publik, pembangunan infrasturktur itu dalam bentuk kerja sama dengan pihak swasta atau apa? Dengan biaya berapa, dengan kebijakan seperti apa?

Sekali lagi kisah pelacur tua menjadi sebuah inspirasi, dimana kehidupan pelacur (menjual diri) dari muda sampai usia 25 tahun menjadi masa keemasan dan menjadi primadona di kompleks kelas bintang, memasuki usia 25-40 tahun sudah mulai masuk wilayah lokalisasi kelas melati itu pun kadang di daerah-daerah terpencil, harus berpindah-pindah tempat untuk menghilangkan jejak dan mengelola diri supaya tetap disebut sebagai ’’barang baru’’, dan memasuki usia 40 tahun ke atas, tinggal menunggu masa-masa sulit dan sudah mulai kehilangan pelanggan. Hanya ada dua perjalanan penting, bertobat atau menjadi germo.

Dan di antara perjalanan pelacur tua, ada yang hampir sama dengan cerita di hadits di mana ada seorang pelacur masuk surga, ketika dalam keadaan kesulitan dengan sepatunya mengambil air untuk memberi minum seekor anjing yang kehausan. Keikhlasan sang pelacur ini menyebabkan masuk surga. Demikian juga pelacur tua ini memilih bertobat dengan mengisi hidup penuh ibadah.

Tetapi berbeda dengan pelacur tua yang berakhir di lokalisasi rel kereta api Wonokromo Surabaya, tetap memilih pekerjaan penjual diri, bahkan memilih pelanggan murid sekolah dasar sekali pun, guna menyambung kehidupan esok hari. Pelacur sepanjang hidupnya ini hanya mengisahkan walaupun melakukan pekerjaan buruk atau terburuk, namun dalam hidupnya tidak pernah mengambil harta benda milik orang lain, apalagi ikut melakukan korupsi berjamaah bersama koruptor, atau ikut terlibat jual beli suara pada saat Pileg, Pilpres maupun Pilkada. 

Kisah pelacur tua hanya sekedar mengingatkan bahwa pekerjaan sangat buruk di mata masyarakat, sebagai seorang pelacur, ternyata masih membanggakan  karena tidak pernah mencuri, merampok, apalagi koorupsi, juga terlibat mengatur skor hasil akhir Pemilu. Juga tidak pernah berkhianat kepada negeri Indonesia tercinta, termasuk tidak pernah menjual aset negara, menyelewengkan hak rakyat dan masyarakat, tidak pernah atas nama rakyat miskin meraup keuangan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi dan kelompok serta partainya.

Sebuah refleksi kemerdekaan Indonesia ke-73, suara sumbang bahwa kekayaan di bumi Indonesia hanya dikuasai segelintir orang, bahkan sebagian besar bukan pribumi. Sementara posisi pribumi terus diminggirkan tanpa mampu menikmati pembangunan di kota-kota besar atau jalan tol sekalipun, karena mahal dan tidak mampu menjangkau ekonomi kelas bintang itu.  Adakah sebuah perubahan untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (*) 

 

 

 

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Timur pasangan Capres Jokowi-KH Ma'ruf Amin  perlu kerja extra keras. Pasalnya, ada kecenderungan pamor petahana tersebut menurun. 

Dosen ilmu hukum Universitas Surabaya (Ubaya) H Martono mengatakan, khusus Jawa Timur, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin menurun 12 persen dari 73  menjadi 61 persen.  "Pemilih melenial lebih melihat pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno," tandasnya kepada media ini di Surabaya, Kamis (20/9/2018).

Martono adalah ketua tim pemenangan pasangan Karsa jilid 1 dan  2. Pada Pilgub 2018, Martono berada di dikubu Khofifah-Emil Dardak yang diusung  Partai Golkar, Demokrat,PAN dan partai politik lainya. 

Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi mengapa elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin menurun. Pertama soal ekonomi nasional terutama melemahnya rupiah atas dollar AS . Ini berpengaruh pada harga barang. Kedua, faktor cawapres yang belum tersosialisasi ketingkat arus bawah.

Jika melihat prosentase penurunannya, maka kerja tim harus maksimal. Diperlukan terobosan dan lompatan agar mencapai angka diatas 70 persen. "Pilpres April  2019 adalah pemilu paling heboh didunia," tandasnya. 

Senada dengan Martono, pakar komunikasi politik UNAIR Suko Widodo menyatakan Pemilu 2019 sangat tidak menarik. Sisa pemilu pilgub/pemilukada didaerah menimbulkan anomali politik.

Suko Widodo lalu memberikan contoh. Di Pemilu lokal yang baru selesai yaitu Pilgub Jawa Timur maupun Pemilu Kab/Kota. Di Pilgub Gubernur Soekarwo mendukung Khofifah Indar Parawansa-Emil. Di pilpres Khofifah mendukung Jokowi. Namun partainya Gubernur yaitu Demokrat mendukung Prabowo-Sandiaga.

Ini juga terjadi di Gus Ipul (Wagub Syaifullah Yusuf). Di Pilgub Gus Ipul didukung Gerindra dan PKS. Namun di Pilpres Gerindra punya calon sendiri. Secara kelembagaan Gus Ipul wakil Ketua PBNU. Namun di Pilpres, Gus Ipul belum menentukan pilihan.

Disatu sisi agen agen komunikasi sekaligus mereka yang melek politik sibuk dengan kegiatan partai masing masing. Bagi parpol, para kader partai lebih fokus pada pencalegannya. Mereka mengutamakan partai agar lolos di Senayan.

Masyarakat kita belum melek informasi. Mereka yang melek politik sibuk ngurus nasip partainya.  Sementara partai politik sendiri tidak maksimal dalam melakukan pendidikan politik 

Lalu betulkah elektabislitas Jokowi-Ma'ruf Amin menururun, Suko Widodo hanya menyatakan, harusnya incumbent diatas 65 persen. Tapi angka itu bukan ukuran tergantung dari kekuatan lawan. Pilpres itu dilaksnakan April 2019.(min)

Jakarta (KoranTransparansi.com) - KPU telah melakukan tahapan pilpres. Jumat malam KPU sbagai penyelenggara pemilu melaksanakan pengundian nomor urut capres-cawapres peserta Pilpres 2019. Pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin mendapat nomor urut 1, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat nomor urut 2.

Adalah Ketua KPU Pusat Arief Budiman yang membuka resmi undian sekaligus memimpin jalanya undian tersebut bersama komisioner lainya. Pengundian dilakukan di ruang sidang utama gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018) malam.

Sebelum mengambil nomor urut, cawapres dari kedua kubu mengambil undian 'tahap pertama' untuk menentukan siapa yang lebih dulu untuk mengambil nomor urut capres/cawapres. Cawapres yang mendapat angka terkecil dipersilakan lebih dulu mengambil undian nomor urut peserta Pilpres 2019.

Sandiaga Uno mendapat angka 1, sementara Ma'ruf Amin memperoleh angka 10. Alhasil, Prabowo dipersilakan lebih dulu mengambil nomor urut. 

Saat giliran Jokowi mengambil undian, Ma'ruf Amin terlebih dahulu memimpin doa. Prabowo-Sandiaga juga ikut berdoa bersama.

Usai nomor urut dibacakan, para pendukung lalu mengangkat atribut pasangan calon yang mereka siapkan. Sudah ada angka pada atribut tersebut.

Pada Pilpres 2014, Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa, mendapat nomor urut 1. Sedangkan Jokowi, yang berpasangan dengan Jusuf Kalla, mendapat nomor urut 2. (sam)

 

SURABAYA (KoranTransparansi.com) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jatim kembali menggelar program Uji Kompetensi Wartawan (UKW) selama dua hari, Sabtu (22/9/2018) dan Minggu (23/9/2018), di kantor PWI Jatim, Jalan Taman Apsari Surabaya. 


UKW kali ini adalah pelaksanaan UKW ke-24 yang digelar oleh PWI Jatim dan terlaksana berkat hasil kerjasama antara PWI Jatim dengan Bank Mayapada.

Tema yang diusung, "Menjadikan wartawan lebih profesional, kompeten, dan berintegritas".

Ketua PWI Jatim, Akhmad Munir mengatakan, kegiatan UKW yang terus menerus digelar oleh PWI Jatim merupakan wujud nyata dari komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk meningkatkan kompetensi, kapasitas, profesionalitas, serta moralitas wartawan.

Modal tersebut, kata Munir dinilai sangat penting, seiring dengan makin beratnya tugas dan tantangan wartawan saat ini. Ketika melakukan tugas-tugas jurnalistik di era keterbukaan, perkembangan teknologi, dan bombardir informasi terutama informasi hoaks lewat sosial.

"Tanpa ada kompetensi, kapasitas, profesionalitas serta moralitas yang tangguh, akan sulit bagi wartawan bisa terus menjaga marwah profesi yang luhur dan mulia ini," ujarnya, Jumat (21/9/2018).

Hal itu, lanjut Munir, sangat penting, agar media massa dan wartawan bisa tetap menjadi sosial kontrol dan pilar keempat demokrasi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Menurut Munir, UKW angkatan ke-24 yang digelar PWI Jatim ini terselenggara berkat kerjasama dengan Bank Mayapada. "Dan ini merupakan yang keempat kalinya, kita menggelar UKW kerjasama dengan Bank Mayapada. Setelah sebelumnya UKW angkatan ke-19, angkata ke-21 dan angkatan ke-23," tegasnya.

Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Jatim Ainur Rohim menambahkan, UKW angkatan ke-24 yang digelar PWI Jatim diikuti oleh 48 orang peserta, yang berasal dari perwakilan berbagai media massa nasional, regional, dan lokal yang ada di Provinsi Jatim. Baik media cetak, elektronik, maupun online, serta peserta dari perwakilan PWI Jatim yang ada di kabupaten/kota yang anggotanya belum banyak mengikuti UKW.

"Asas pemerataan dan keterwakilan benar-benar sangat kita pertimbangkan dalam kepesertaan UKW ini," ucapnya.

Dikatakan, dari 48 orang peserta UKW PWI Jatim angkatan ke-24, akan dibagi menjadi delapan kelas. Yakni, lima kelas untuk UKW kelas muda, dua untuk kelas madya, dan satu untuk UKW kelas utama. Tiap kelas berisi enam  wartawan atau peserta.

"Jumlah peserta tiap kelas berkurang satu, dari tujuh menjadi enam orang. Tujuannya agar uji kompetensi wartawan bisa lebih optimal dan mendalam untuk mengeksplore kemampuan para wartawan," terang Air, panggilan Ainur Rohim.

Untuk peserta yang mengikuti UKW angkatan ke-24 yang digelar PWI Jatim 22 dan 23 September 2018, Air berpesan agar semua peserta benar-benar mempersiapkan diri dan membawa peralatan yang dibutuhkan, seperti laptop, flashdisk, dan perangkat lain.

"Terpentig, jangan lupa Hari Sabtu besok (22 September) pukul 07.00 WIB, peserta sudah harus datang ke tempat ujian di Kantor PWI Jatim," tandas Air, mengingatkan. (fir)

Friday, 21 September 2018 21:20

Jurus Sukses Writerpreneur & Fashionpreneur

Ada di Umrah Haji & Lifestyle 2018

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Writerpreneur sebenarnya bukan lagi merupakan istilah yang asing dalam dunia tulis menulis. Namun, belum semua paham bagaimana cara memanfaatkan kemampuan menulis untuk mendongkrak bisnis bahkan sebagai tambang uang.

Dalam acara Umrah Haji & Muslim Lifestyle 2018 yang berlangsung di Cito Mall, jurus jitu menjadi writerpreneur pun akan hadir dalam sebuah talkshow pada Minggu (23/9) nanti.

Bersama Ust. H. Makin Rahmat, seorang writerpreneur sekaligus wartawan senior dan Ir. Okky Tri Hutomo, M.IT, sosok tecnopreneur dan founder ustadsiana.com. Seluk beluk writerpreneur akan dikupas tuntas di acara tersebut.

Sebelumnya juga telah dilaksanakan festival banjari yang diikuti sekitar 50 group banjari dari Surabaya dan sekitarnya. Ada juga lomba hafalan surat pendek, hafalan Al Quran dan berbagai talkshow kecantikan.

Tak hanya itu, pada Sabtu (22/9) juga akan ada talkshow fashion serta fashion show busana muslim dengan tajuk ‘Passion Before Fashion’ . Menghadirkan seorang fashionpreneur Arinda Nurma, S.I.P, M.M yang juga merupakan pemilik brand fashion ARINZ.

Hadir pula Dosen Fakultas Industri Kreatif Ubaya, Ninik Juniati S.Pd, M.Pd. Untuk diketahui, acara ini diikuti oleh 50 stand yang terdiri dari travel umrah, fashion muslim, operator selular, hotel, jasa transportasi, industri permadani hingga jasa catering.

Penyelenggara memang berusaha menghadirkan pameran yang berkonsep one stop shoping, artinya masyarakat bisa mencari travel umrah, perlengkapan di tanah suci bahkan hingga oleh-olehnya di lokasi. Dan bagi peserta juga bisa saling melakukan kontak business to business. Acara pameran ini digelar mulai 19-23 September 2018. (mat)

 

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan meminta agar program Pembangunan Non Investasi Anggaran (PINA) dapat tersosialisasikan dengan baik, terutama kepada pemerintah daerah (pemda). Ia berpendapat saat ini rata-rata anggaran APBD sekitar 60-70 persen sudah habis untuk pembiayaan rutin. Hanya tersisa 20-30 persen siap untuk digunakan untuk pembangunan.

“PINA ini menurut saya sebuah solusi, karena selama ini pemda tidak mengetahui bahwa ada APBN murni yang merupakan kontribusi pihak swasta dalam aspek pembangunan. Menurut saya ini harus segera disosialisasikan,” desak Marwan usai pertemuan dengan dengan Kementerian Perencanaan Pembangungan Nasional PPN/ Badan Perencanaan Pembangungan Nasional (Bappenas) dan PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI) di Medan, Provinsi Sumatera Utara, Kamis (20/9/2018).

Politisi Partai Demokrat itu turut mengapresiasi program PINA yang menurutnya sebagai sebuah solusi dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan infrastruktur. Untuk itu kehadirannya juga diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat baik saat ini maupun di waktu yang mendatang.

“Untuk itu kita juga harus pastikan bahwa pelaksanaan dari pembangunan yang sudah terbiayai tersebut masyarakat benar-benar dapat merasakan manfaatnya. Jangan sampai nantinya jika sudah dibangun tapi tidak bermanfaat,” ungkap legislator dapil Lampung itu

Senada dengan Marwan, Anggota Komisi XI DPR RI Anarulita Muchtar turut mendorong agar program PINA sesegera mungkin dapat tersosialisasi. Bahkan dirinya  mengaku selama ini belum pernah mendengar program PINA dari Kementerian Keuangan.

“Menurut saya ini prospek yang sangat bagus sekali, akan lebih bagus lagi jika program ini dapat tersosialisasi dengan baik terutama di Kabupaten-Kabupaten Kota atau Provinsi di pelosok yang belum merasakan manfaatnya,” ungkap Anarulita.

Untuk itu, politisi Partai NasDem itu meminta PT. SMI sebagai pihak yang berperan dalam pembangunan infrastruktur dalam program PINA untuk melakukan sosialisasi ke daerah-daerah. Dari sosialiasi tersebut nantinya akan ada peraturan daerah yang harus dibuat menyangkut mekanisme pembayaran

“Jadi harus benar-benar proaktif dan terus mengembangkan program ini ke pelosok-pelosok daerah. Jangan hanya terfokus pada satu tempat arau satu pulau saja. Karena kita harus mendukung pemerataan sesuai dengan misi yang tadi sudah disampaikan pihak SMI yakni mempercepat pembangunan di seluruh Indonesia,” imbuh politisi dapil Bengkulu itu.

Untuk diketahui, PT. SMI memiliki mandat untuk mendukung percepatan pengembangan infrastruktur, dengan fokus Program Kerja Sama Pemerintah Swasta (KPS) yang mengikutsertakan berbagai institusi keuangan, baik swasta maupun multilateral.

Sejalan dengan rencana Pemerintah RI untuk mentransformasi PT. SMI menjadi Lembaga Pembiayaan Pembangunan Indonesia (LPPI), PT. SMI mendapat perluasan sektor yang dapat dibiayai, yaitu bukan hanya infrastruktur publik, tetapi juga infrastruktur sosial.

Sektor-sektor yang dapat dibiayai oleh PT SMI diantaranya adalah jalan tol dan jembatan, transportasi, minyak dan gas, telekomunikasi, pengolahan limbah, kelistrikan, irigasi, air minum, infrastruktur sosial, efisiensi energi dan rolling stock kereta api. (rom)

Jakarta (KoranTransparansi.com) - Anggota Komisi II DPR RI Evert Erenst Mangindaan mendukung sikap Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulut tegas terkait polemik data pemilih di Kota Bitung, Sulut, yang notabene merupakan warga negara asing (WNA). 

Ia pun mendukung sikap Gubernur Sulut Olly Dondokambey yang menyatakan bahwa KPU Sulut harus tegas menjalankan UU Pemilu untuk mengatasi permasalahan itu.

“Pemilih yang berhak mengikuti Pileg dan Pilpres merupakan warga Indonesia. Sementara stateless atau yang bukan WNI tidak berhak mengikuti Pileg dan Pilpres, walaupun mereka sudah tinggal di wilayah Indonesia cukup lama. Kami sangat mendukung ketegasan dari Gubernur Sulut itu,” papar Mangindaan usai pertemuan Tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi II DPR RI dengan KPUD, Bawaslu dan Gubernur Sulut beserta jajarannya di Kantor Gubernur Sulut, Manado, Kamis (20/9/2018).

Sebelumnya, Ketua KPU Provinsi Sulut mengungkapkan kekhawatirannya akan terjadinya kisruh menjelang Pileg dan Pilpres di Kota Bitung yang notabene merupakan salah satu kota yang banyak dihuni oleh WNA, khususnya dari Filipina. Bertahun-tahun mereka tinggal di kota itu yang merupakan wilayah Indonesia dan berbaur dengan WNI. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang sudah merasa bagian dari Indonesia.
 
Meski demikian, Mangindaan menilai KPU harus tunduk pada undang-undang yang berlaku. Jika orang tersebut bukan WNI, harus dibuktikan dengan adanya KTP-elektronik ataupun dokumen pendukung lainnya yang tercatat dalam Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), maka orang tersebut tidak berhak mengikuti pesta demokrasi di Indonesia, atau tidak berhak menjadi pemilih.

Hal tersebut pun diamini oleh Ketua Komisi II DPR RI Zainuddin Amali yang memimpin Tim Kunspek ke Sulut tersebut, dan diikuti Anggota Komisi II DPR Azikin Solthan, Komarudin Watabun, Dwi Ria Latif, Eddy Kusuma Wijaya, Tabrani Maamun, Soetriyono, Rohani Vanath dan Andi Mariatang.(sam)

Oleh : Prof. Ir. Hening Widi Oetomo, MM, PhD.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Perubahan pola kehidupan dan kebutuhan masyarakat dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat untuk keperluan hidup sehari-hari memunculkan berbagai fasilitas perbelanjaan. Pasar sebagai salah satu fasilitas perbelanjaan selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat, pasar bukan sekedar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Pasar juga wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional.Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung.Bangunan biasanya terdiri dari kios-kios yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar tradisional merupakan ciri pada negara berkembang. Tingkat pendapatan dan perekonomian masyaratakat kurang begitu tinggi. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional.Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, budaya masyarakat Indonesia sudah mulai bergeser. Kegiatan-kegiatan besar dan lebih modern telah memasuki banyak perkotaan di Indonesia.

Banyak investor yang masuk ke Indonesia untuk membangun pasar-pasar modern yang menampung kegiatan-kegiatan besar. Era globalisasi ini banyak bermunculan pasar-pasar modern. Dibangun dengan segala kelebihan dan fasilitasnya serta kelengkapannya dalam memperjualbelikan barang-barang kebutuhan masyarakat. Kehadiran pasar modern, terutama supermarket dan hypermart dianggap oleh berbagai kalangan telah menyudutkan keberadaan pasar tradisional.

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Kelebihan dari pasar ini adalah harga barangnya yang terjangkau, area penjualan yang biasanya luas, dan merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah kebawah. 

Penelitian tentang pola persebaran pasar tradisional dan pasar modern di Kota Surakarta telah dilakukan oleh Aditya Sigid Nugraha (2013) menggunakan analisis tetangga terdekat (Nearest Neighbour Analysis) dengan mencari skala t. Proses perhitungannya memanfaatkan aplikasi sistem informasi geografis. Hasil yang diperoleh dari analisis tetangga terdekat (nearest neighbour analysis) secara otomasi menggunakan arcview bahwa baik pasar tradisional dan pasar  modern  memiliki  pola  persebaran  mengelompok.  Hal  ini  dimungkinkan karena  sebagian  pasar  tradisional,   dan  pasar  modern  letaknya  tidak  saling berjauhan.

Persebaran pasar tradisional dan pasar modern terhadap titik pusat kota dimana pusat pemerintahan Balai Kota Surakarta sebagai acuan dengan membuat ring lingkaran setiap satu kilometer hingga titik terjauh sampai dengan sepuluh kilometer untuk mengetahui persebaran pasarnya terhadap pusat kota. Hasilnya adalah perkembangan ataupun persebarannya  tidak  bergantung  pada  kawasan  central  business  district  (CBD) karena  beberapa  pasar  tradisional  telah  ada  sebelum  terbentuknya   kawasan tersebut, sedangkan untuk pasar modern perkembangannya lebih dipengaruhi atau berada pada jalur utama menuju kawasan central business district (CBD). Aksesibiltas berdasarkan fungsi jalannya tidak berpengaruh pada pasar tradisional namun pertumbuhan  pasar modern  akan sangat memperhatikan  konektifitasnya terhadap klas fungsi jalannya. 

Penelitian ini juga tentang pasar tradisional namun sedikit berbeda dengan penelitian Aditya Sigid Nugraha (2013). Penelitian ini di fokuskan pada permintaan dan penawaran sekitar lokasi pada radius 1 km terhadap 2 buah pasar tradisional yaitu Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya.  Pertanyaan yang ada pada penelitian ini adalah bagaimana Indeks penawaran dan permintaan pada Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut Surabaya. Lokasi Pasar Paing dan Pasar Soponyono Kecamatan Rungkut ditunjukkan pada gambar berikut. 

Data yang dikumpulkan untuk menunjukkan permintaan dan penawaran merupakan data ruangan dan data bukan ruangan di Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut. Data ruangan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Geografi menggunakan alat Global Positioning System (GPS) sedangkan data bukan ruangan dikumpulkan melalui observasi lapangan. Setelah data ditabulasi maka akan dihitung tingkat permintaan dan tingkat penawaran pasar dengan menggunakan Model Index. Model adalah representasi sederhana dari sebuah fenomena atau sistem.

Model Index akan menghitung nilai index dari setiap unit kawasan yang melibatkan banyak kriteria dan pembobotan (Kang Tsu Chang, 2008).  Secara umum ada 3 langkah dalam menghitung nilai Index sebagai berikut, Pertama, Mengevaluasi tingkat kepentingan relatif masing-masing kriteria terhadap kriteria yang lain atau pembobotan. Kedua,  Standarisasi data untuk masing-masing criteria dan ketiga,  menghitung nilai Index dengan jalan menjumlahkan hasil perkalian antara pembobotan dengan nilai standar masing-masing kriteria. 

Penawaran dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah pasar dalam radius 1 km, Jumlah Mini market dalam radius 1 km, Jumlah Restoran dalam radius 1 km dan Jumlah Toko Kelontong dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index pemasaran paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi.

Permintaan dari Pasar Pasar Soponyono dan Pasar Paing Kecamatan Rungkut dilakukan dengan pendekatan aktifitas disekitar pasar dalam radius 1 kilometer. Dengan pendekatan tersebut maka terdapat 4 kriteria untuk penawaran yaitu Jumlah perkantoran dalam radius 1 km, Jumlah Sekolah dalam radius 1 km, Jumlah Lembaga Keuangan dalam radus 1 km, Jumlah Tempat Ibadah dalam radius 1 km. Nilai index penawaran minimal adalah 1 dan maksimal adalah 5. Nilai index permintaan paling kecil adalah 1 atau sangat rendah sampai yang terbesar adalah 5 atau sangat tinggi. Hasil perhitungan untuk pasar Soponyono adalah Indeks Penawaran mempunyai nilai 3,27 sedangkan Indeks Permintaan mempunyai nilai 3,77 sedangkan Indeks Penawaran pasar Paing adalah 3,12 sedangkan Indeks Permintaan pasar Paing adalah 4,04.

Hasil perhitungan untuk Pasar Soponyono menunjukkan bahwa Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Soponyono masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Demikian juga untuk Pasar Paing mempunyai Nilai Indeks Permintaan lebih tinggi dibanding dengan Indeks Pernawarannya sehingga pada kawasan pasar Paing masih dimungkinkan untuk pendirian pasar baru. Untuk lokasi pasar baru diperlukan  survey oleh pihak eksternal yang netral dan tidak berpihak. Penelitian ini menyumbangkan metode untuk penilaian permintaan dan penawaran dengan metode Index Model namun untuk kecukupan data dan akurasi diperlukan penelitian lebih lanjut.

Simpulan dari penelitian  telah menjawab pertanyaan tentang bagaimana permintaan dan penawaran pasar tradisional di Pasar Soponyono dan Pasar Paing. Teknik yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah mengintegrasikan teknik statistik dan sistem informasi geografi. Teknik statistik digunakan untuk merencanakan bobot dan nilai standarisasi setiap indikator penawaran dan permintaan. Adapaun Sistem Informasi Geografi digunakan untuk mengumpulkan data koordinat objek, analisis overlay, untuk menghitung jumlah objek dalam  radius tertentu. Hasilnya adalah nilai indeks permintaan lebih tinggi dibanding indeks penawaran pasar baik di pasar Soponyono maupun di pasar Paing.

Untuk pendirian pasar baru diperlukan  kajian secara hukum, kenyamanan publik dan lain lain sehingga pasar baru benar-benar layak dari semua aspek yang terkait. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kecukupan data yang masih rendah namun penelitian ini telah menyumbangkan metode Index Model sebagai salah satu metode untuk menghitung indeks permintaan dan penawaran yang bisa diterapkan untuk berbagai objek penelitian. Bagaimana pendapat Anda ?

 

 

Surabaya (KoanTransparansi.com)Laga Persebaya menjamu Mitra Kukar dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu nanti (22/9), selain menjadi laga sangat penting buat mendongrak klasemen Persebaya, juga menjaid ajang adu hebat bomber kedua tim. David Aparecido da Silva di kubu Bajul Ijo—jlukan Persebaya—an tamunya Fernando Rodríguez 

Da Silva dan Rodriguez adalah dua pemain paling tajam di Liga sepak bola tertinggi di tanah air ini. Rodriguez paling produktif dengan 15 gol. Da Silva tertajam kedua dengan 13 gol. Da Silva berasal dari Brazil. Rodriguez Spanyol. Kiblat sepak bola dunia. “Pabrik” penyerang-penyerang terhebat di

Meski menjadi yang terbaik musim ini, pada awalnya dua pemain itu diragukan. Namun, secara perlahan keduanya bisa membuktikan diri mampu menjadi tulang punggung tim.  “Saya memang belum lama menangani Da Silva, tapi dari yang saya lihat dia punya kecerdasan. Ia juga tipikal striker pekerja keras yang suka bermain kolektif. Tidak selalu menunggu umpan matang dari rekannya dan mampu menciptakan ruang atau mencari bola,” puji Djadjang Nurdjaman, pelatih

Tipikal permainan Da Silva nyaris sama dengan Rodríguez. Mantan pemain junior Sevilla ini amat kuat di bola udara dan juga mampu melindungi bola dengan baik. Saat ini Naga Mekes – julukan Mitra Kukar – mencetak 32 gol dari 22 laga. Dimana 46,8 persen sumbangsih pemain berusia 31 tahun dengan 15 gol dan satu assist. Rinciannya kaki kanan 6 kali, kaki kiri 4 dan sundulan

Kendati demikian, Da Silva lebih komplit dengan memiliki kecepatan dan kemampuan membuka ruang bagi rekan-rekannya. Dari 34 gol Persebaya, sebanyak  38,2 persen disumbangkan penyerang berusia 28 tahun ini. Tepatnya 13 gol yang berasal dari kaki kanan 8 kali, kaki kiri 4 kali dan dua kali melalui sundulan. Bahkan, dia sudah menyumbangkan dua

Dia striker yang komplet baik duel udara, maupun akurasi tendangan dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Saya optimis di laga nanti Da Silva akan tampil jauh lebih bagus saat turun ke lapangan untuk membawa Persebaya mengejar kemenangan di hadapan pendukung Persebaya,” jelas Djanur. (nov)

Page 10 of 601
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...