DAERAH

 Bupati Jember dr.Hj Faida MMR (nomor dari kiri) saat foto bersama dengan Gubernur Jatim di gedung negara Grahadi Surabaya, Kamis (9/8/2018)

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Kabupaten Jember menjadi lokasi Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XXXIX yang akan digelar pada tahun 2019.

Kepastian ini didapat dalam audiensi Gubernur Jawa Timur Soekarwo dengan Danjen Akademi TNI di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (9/8/2018). Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR. bersama tiga kepala daerah lainnya juga hadir.

Selain Kabupaten Jember, tiga daerah di Jawa Timur juga menjadi lokasi Latsitardanus ke-39. Tiga daerah tersebut yakni Kabupoaten Trenggalek, Pamekasan, dan Bojonegoro.

Usai audiensi Bupati Faida  mengungkapkan faktor yang membuat Jember menjadi lokasi Latsitadarnus.

“Diantaranya adalah faktor jarak, dukungan pemerintah daerah, dukungan masyarakat, kesiapan dan akomodasi, dan hasil penilaian tim pengendali Latsitarda Nusantara,” ungkap Bupati Faida.

Bupati Faida menjelaskan, tujuan Latsiardanus ini salah satunya adalah percepatan pembangunan melalui penyiapan SDM generasi muda di daerah sasaran. Hal ini berkaitan dengan kesadaran berbangsa dan bernegara.

“Ada beberapa kegiatan teknis yang nantinya akan dilakukan, seperti karya bakti, kajian sosial, bakti sosial kesehatan, penyuluhan, penanaman nilai juang, dan pengenalan Akademi TNI, Akpol dan IPDN,” tambahnya.

Sesuai tahapan, pada awal 2019 merupakan tahap persiapan. Sementara pelaksanaannya pada Bulan April.

Latsitardanus ke-39 ini akan melibatkan 991 orang taruna dan taruni dari Akmil, AAL, AAU, Akpol, IPDN, dan mahasiswa daerah. Latsitardanus ini merupakan bentuk pengabdian para taruna kepada masyarakat.

Para taruna akan bersama masyarakat.  Gubernur Soekarwo menegaskan kegiatan ini penting bagi para taruna tingkat akhir.

“Ini penting sebagai bagian dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya. Kegiatan ini juga bagian dari pendidikan bagi para calon pemimpin.

Sementara itu, Danjen Akademi TNI Laksamana Madya TNI Aan Kurnia, S.Sos mengatakan, melalui Latsitardanjus, para taruna bisa melakukan sosialisasi dengan masyarakat dan membantu daerah-daerah sesuai kebutuhan.

“Latsitarda ini mirip dengan Kuliah Kerja Nyata/KKN bila di kampus umum. Jadi taruna turun ke masyarakat, tinggal dengan mereka dan membantu masyarakat. Missal di daerah tertentu butuh pembangunan jalan, taruna bisa,” jelasnya.(ais)

Terbelahnya Blambangan Menjadi Enam Kabupaten

BANYUWANGI (KoranTransparansi.com) - Pada tahun 1352 Masehi, Balumbunan hanyalah sebuah desa di kaki Gunung Lumbu dan kemudian menjadi Perdikan pasca perang Nambi pada tahun 1331.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan jumlah penduduk, Balumbunan dinaikkan statusnya menjadi sebuah Kadipaten yang dipimpin oleh Sri Bima Chili Kepakisan. Dia ditunjuk sebagai pemimpin berkat jasanya kepada Kemaharajaan Nagara Jawa (Majapahit).

Dalam Babad Dalem (Bali), Bima Chili Kepakisan berkuasa di Balumbunan pada tahun 1340 dan dalam Suluk Balumbung, Bima Chili Kepakisan berkuasa pada tahun 1352.

Sedangkan pada Babad Sembar disebutkan bahwa Balambangan berdiri pada era Lembu Mirudha dan Mas Sembar di Lumajang sebagai asal-usul Balambangan. 

Manakah yang lebih tepat? 

Menurut analisa penulis, keduanya dapat dibenarkan karena "wit-perkawit tanah Lumajang seanteornipun kadadosaken Nagari Balambangan". Jadi, baik Lamajang dan Balumbunan kemudian menjadi satu dengan nama Balambangan. 

Lalu siapakah yang mempersatukannya? 

Tome Pires menyebut bahwa di masa Menak Pentor (cucu Menak Sembar), Lumajang telah ditakhlukkan oleh raja Balambangan yang perkasa itu. Artinya sebelum Menak Pentor berkuasa pada tahun 1500-1531, Lumajang dan Balumbunan sudah menjadi satu.

Setelah itu, Menak Pentor mengalahkan Arya Pular, Adipati Keniten yang berkuasa atas Keniten, Panarukan, dan Pajarakan. Dengan ditaklukkannya persekutuan Keniten itu, maka tiga wilayah itu menjadi bagian dari Balambangan dan ditambah dengan wilayah Gamdha yang juga telah dikuasai oleh Menak Pentor.

Balambangan bertahan dengan wilayah seluas itu hingga era Sultan Agung (1613-1645) yang merebut perbatasan pinggir baratnya, yakni daerah Pasuruan dan Singasari.

Penduduknya diangkut ke Mataram dan disebut sebagai "Tiyang Pinggir" dan "Wong Gajah Mati". Setelah itu silih berganti kedua daerah itu dikuasai oleh Mataram dan Balambangan, dengan demikian, secara umum wilayah Balambangan kembali ke wilayah asli; "wit perkawit tanah Lumajang seanteornipun kadadosaken Nagari Balambangan.

Ternyata wilayah asli Balambangan masih dipersempit dengan serangan Amangkurat Agung (1646-1677) hingga ke daerah Kedhawung, Sentong, dan Panarukan.

Ketiga daerah itu baru dapat direbut kembali oleh Prabu Tawangalun II antara tahun 1656-1659. Bahkan raja besar Balambangan tersebut kemudian meluaskan kekuasaannya hingga ke Kediri pasca perang Trunajaya pada tahun 1679 sebagaimana ditulis oleh De Graff.  

Wilayah Balambangan seluas itu berlangsung pada tahun 1679 hingga 1691. Namun sepeninggal Prabu Tawangalun II, terjadi perebutan kekuasaan diantara anak-anaknya sehingga wilayah-wilayah Balambangan direbut kembali oleh Mataram melalui tangan Untung Surapati pada tahun 1690 an (dalam peta Belanda disebut Zonder Soerapati). 

Sejak itulah, Kediri, Blitar, Malang, Pasuruan, Banger, Lumajang, dan Puger lepas dari kekuasaan Balambangan. Saat itu, Kyai Jayalelana (1746-1756) diangkat sebagai Bupati Banger, dan Raden Kertanegara/Bagus Lumajang menjadi Bupati Lumajang. Keduanya di bawah pemerintahan Untung Surapati.

Apakah setelah itu semua daerah tersebut menjadi milik Mataram? Jawabannya adalah tidak! 

Karena Untung Surapati kemudian justru mendeklarasikan berdirinya kerajaan miliknya sendiri yang berpusat di Pasuruan. Balambangan hanya dapat menguasai kembali Puger timur dan Panarukan. Itupun setelah melalui pernikahan Pangeran Danureja dengan Mas Ayu Gadhing, puteri Untung Surapati. 

Puger, Sentong, Demong, Panarukan, dan Balambangan bersatu pada masa Prabu Danureja (1697-1736) dan bertahan hingga VOC datang dan menaklukkan Balambangan pada tahun 1767-1768 dalam Perang Wilis. 

Setelah itu, selain menyita seluruh perbendaharaan pustaka Balambangan, VOC juga memecah belah kerajaan menjadi dua bagian.

Yang pertama, Balambangan Barat dengan wilayah meliputi Panarukan, Sentong, dan Puger dengan ibukota di Panarukan disebut Kabupaten Kanoman Balambangan. Disana diangkatlah Mas Uno (Weka) pada tahun 1767-1768 sebagai Bupati. 

Sedangkan di sebelah timur Gunung Raung dan Gumitir dijuluki Kabupaten Kasepuhan dengan ibukota di Teluk Pampang (Muncar). Disana Mas Anom Kalungkung pada tahun 1767-1768 yang menjadi Bupatinya.

Selanjutnya, Sura Adiwikrama (1772-1788) ditunjuk menjadi Bupati wilayah Kanoman Balambangan Barat pada tahun 1772 yang berkedudukan di Besuki dan membawahi Panarukan, Sentong, dan Puger. 

Kabupaten Banyuwangi didirikan sebagai ganti dari Kabupaten Kasepuhan Blambangan pada tahun 1774 dengan bupati pertamanya Tumenggung Wiraguna I (1774-1782).

Tahun 1755 Tumenggung Prawiradiningrat menjadi Bupati Puger terlepas dari Panarukan (Besuki). Menyusul kemudian pada tahun 1819 Sentong dijadikan Kabupaten Bondowoso terlepas dari Besuki dipimpin oleh Mas Astratruna (Ki Ronggo) di tahun 1819-1830.

Karena Besuki kalah bersaing dengan Panarukan, maka ibukota pun dipindah ke Panarukan dan menjadi Kabupaten Panarukan. Nama itu kemudian diubah lagi pada masa Pemerintahan Bupati Achmad Tahir (sekitar tahun 1972) menjadi Kabupaten Situbondo dengan ibukota di Situbondo berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor. 28 / 1972.

Kabupaten Lumajang yang terlepas dari Probolinggo didirikan pada tahun 1920 dengan bupati pertamanya KRT Kertodirejo (1920-1928). 

Sedangkan Kabupaten Jember didirikan terlepas dari Kabupaten Bondowoso pada tahun 1929 dengan R. Notohadinegoro (1929-1942) sebagai Bupatinya.

Dengan memahami kronologi ini saya berharap masyarakat di enam kabupaten/kota agar membuka hati bahwa kita pernah bersatu dan menjadi bagian dari Balambangan. 

Sebagaimana kerajaan Melayu yang meliputi beberapa kabupaten dan provinsi di Sumatera, demikian pula kerajaan Balambangan pernah meliputi beberapa kabupaten di Jawa Timur.

Termasuk juga kepada masyarakat Banyuwangi agar membuka wawasan bahwa Balambangan bukan hanya Banyuwangi. Tidak ada monopoli bahwa Balambangan hanya Banyuwangi karena fakta sejarahnya memang tidak demikian.

Yang tidak kalah pentingnya adalah tidak perlu berebut klaim dan tidak perlu ada fanatisme kedaerahan yang berlebihan karena kita semua adalah saudara sebangsa, Indonesia. ( penulis: Bagus Putera Hanafi, pemerhati sejarah  Banyuwangi)

 Bupati Abdullah Azwar Anas usai melantik pejabat baru, Kamis (9/8/2018).(Foto : Humas Pemkab Banyuwangi)

 

Caption : Bupati Abdullah Azwar Anas usai melantik pejabat baru, Kamis (9/8/2018).(Foto : Humas Pemkab Banyuwangi)

 

 

BANYUWANGI (KoaranTransparansi.com) –  Seiring tumbuhnya pariwisata daerah, Banyuwangi terus memperkuat daya ekonomi masyarakatnya. Salah satunya adalah dengan melakukan penataan dan optimalisasi pengelolaan pasar tradisional untuk menjadi sentra ekonomi baru.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, pasar merupakan tempat transaksi tradisional yang tak lekang oleh zaman. Tidak hanya menjadi tempat transaksi tapi juga menjadi tempat bertemunya orang dan tumbuhnya budaya. Pasar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sentra ekonomi yang potensial

“Perkembangan pariwisata Banyuwangi terus maju, kami ingin warga mendapatkan dampak sebesar-besarnya dari perkembangan pariwisata tersebut. Kami memilih tidak mendirikan mal atau pusat perbelanjaan baru tapi memperkuat pasar tradisional untuk memberi ruang pada rakyat lebih berdaya,” kata Bupati Anas saat menyampaikan arahan kepada para pejabat struktural yang baru dilantik pada Rabu (8/8/2018) kemarin di Aula Rempeg Jogopati, Kamis (9/8/2018).

Pasar tradisional, kata Anas akan ditata dan dikelola secara optimal baik yang ada di kota dan khususnya di desa-desa yang menjadi tujuan wisata. Yakni menata kerapian dan kebersihan, juga fungsi pasar akan ditambah sehingga tidak sekadar untuk berjualan secara konvensional. Pasar juga akan dikembangkan menjadi sentra oleh-oleh, kuliner, dan minuman khas lokal.

“Selama ini pasar kan hanya buka pada pagi hari. Tapi malam harinya tutup padahal lokasi pasar selalu di tempat-tempat strategis. Ini yang akan kita optimalkan. Misalnya nanti di malam hari disewakan pada anak-anak muda supaya bisa buka kafe tapi tidak perlu mengeluarkan biaya sewa yang mahal,” kata Bupati Anas.

"Jadi bisa berfungsi ganda seperti pasar-pasar tradisional di Thailand. Selain untuk berbelanja warga, pasar di Thailand juga didesain menjadi tempat yang menarik untuk didatangi turis," imbuh Anas.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Anas meminta kepada jajarannya, untuk saling bersinergi. Tidak hanya menjadi tugas dari Kepala Disperindag yang baru saja dilantik, namun juga perangkat daerah lain yang berkaitan seperti Dinas Pariwisata, Satpol PP, Badan Pendapatan Umum dan lainnya.

“Kerja kita adalah kerja tim, semuanya saling mendukung untuk keberhasilan program,” pinta Anas.

Sementara itu kepada segenap pejabat struktural yang baru saja dilantik, Anas berpesan agar terus melakukan inovasi di tengah kekurangan personel Aparatur Sipil Daerah (ASN). 

“Tidak ada organisasi perangkat daerah yang tidak penting. Semuanya memiliki peran yang sama dalam mewujudkan kemajuan di Banyuwangi. Jangan lupa untuk terus meningkatkan kinerja dan melakukan monitoring untuk semua program yang dijalankan,” pungkas Bupati Anas. (def)

Foto : Bhabinkamtibmas Manisrenggo saat melakukan Binluh dan Bintipmas

KEDIRI (KoranTransparansi) - Dalam rangka memberikan pelayanan maksimal terhadap masyarakat, Polresta Kediri galakan peran Bhabinkamtibmas guna  melaksanakan kegiatan door to door system (DDS). Seperti halnya, Aiptu Rido Bhabinkamtibmas Kelurahan Manisrenggo, yang mengawali program dengan mengunjungi SDN Manisrenggo, Kamis (9/8/2108). 

Untuk penerapannya, Bhabinkamtibmas menyampaikan kegiatan Bintipmas dan Binluh ke Siswa dan Siswi SDN Manisrenggo. Hal yang disampaikan, agar sepulang sekolah hati-hati dijalan dan segera pulang ke rumahnya masing-masing.

“Dihimbau tidak bermain tanpa memberitahukan kepada orang taunnya. Dihimbau tidak terpengaruh pada hal-hal negatif yang merusak masa depan,” kata kasie Humas Polsek Kota, Polresta Kediri, Aiptu Tjatur Satrio Utomo.

Disamping itu, himbauan juga ditekankan harus bersungguh-sungguh belajar.Karena, jika tanpa bekal belajar yang sungguh maka di kemudian hari akan tergesar dengan perkembangan globalisasi.(bud)

Foto : Sosialisasi Kinerja PSM saat berlangsung di gedung Bagawantha Bhari

KEDIRI (KoranTransparansi.com) - Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Sosial menggelar sosialisasi kinerja Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Acara tersebut, digelar di Gedung Bhagawanta Bhari, Kamis (9/8/2018).

Tujuan kegiatan ini, agar PSM bisa bermanfaat dan mendorong, menggerakkan serta mengembangkan kegiatan kesejahteraan sosial, bahwa PSM sebagai pendamping sosial bagi warga masyarakat khususnya warga Kabupaten Kediri. 

Selain itu, dalam acara ini juga dilaksanakan prosesi penyematan jas PSM sebagai simbolis dikukuhkanya para kader PSM menjadi relawan sosial masyarakat Kabupaten Kediri.

Turut hadir dalam acara ini Kepala Dinas Sosial Sugeng Waluyo, SP. MM, Ketua LK3, perwakilan satker, Camat dan Kepala Desa se-Kabupaten Kediri, dan 340 PSM se-Kabupaten Kediri.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Sugeng Waluyo, SP. MM menyampaikan, PSM ini sendiri mempunyai fungsi untuk mendukung PMKS seperti anak terlantar sampai orang miskin. 

“Jadi, PSM ini mempunyai manfaat yang multi fungsional. Jadi, apabila terdapat masalah yang ada di desa bisa segera disampaikan kepada kami. Dengan cepatnya informasi yang disampaikan, kami bisa dengan cepat turun tangan untuk menyelesaikannya,” jelas Sugeng Waluyo.

Dia menambahkan, harapan kedepanya keberadaan PSM bisa bermanfaat dan membantu semua pihak, yang utamanya fokus dalam program penurunan kemiskinan.

“Harapan kami PSM ini bisa bermanfaat membantu seluruh pihak yang terkait dengan program penurunan kemiskinan, baik membantu kaum disabilitas maupun permasalahan sosial khususnya di Kab. Kediri. Dengan adanya PSM ini kami yakin bisa melengkapi, membantu serta menanggulangi terkait dengan PMKS,” tandasnya.

Ditempat yang sama, salah satu anggota PSM, Yolanda, asal Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, menyampaikan, keikutsertaannya menjadi anggota PSM ini atas dasar hati nurani serta keikhlasan. 

“Saya ingin berkontribusi nyata. Dengan menjadi anggota PSM, saya bisa turut serta menekan angka masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Kediri,” ujarnya.(adv/kominfo/bud)

Foto : Bantuan PT  GG yang diberangkatkan dari Lanud Iswahyudi, Madiun

KEDIRI (KoranTransparansi) - Musibah bencana gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok menggugah kepedulian PT Gudang Garam Tbk (GG). Hingga, Rabu (8/8/2018), perusahaan rokok terbesar di tanah air ini, menyiapkan ribuan paket dan puluhan unit kontainer multi fungsi guna didistribusikan ke lokasi bencana.

Data yang dihimpun menyebutkan, bukan hanya kantor Pusat PT GG di Kediri saja, melainkan juga dari kantor pabrik Gempol, Pasuruan dan kantor di Jakarta. 

“Kami saling berkoordinasi untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan para korban gempa di Lombok,” terang Kabid Humas PT Gudang Garam Tbk Iwhan Tri Cahyono.

Menurutnya,bantuan yang diberikan melalui program “GG Peduli Lombok” itu, diperkirakan akan sampai di lokasi dalam satu sampai dua hari. 

“Khusus yang dari kantor Kediri, kami kirimkan melalui Lanud (Pangkalan Udara) Iswahyudi, Madiun dan bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara,” imbuh Iwhan, usai memberangkatkan bantuan dari kantor GG Kediri menuju Lanud Iswahyudi.

Diuraikan Iwhan, bantuan yang diberikan berupa 1.990 lembar selimut yang dikemas dalam 82 dus, 3.000 ribu bungkus abon seberat 750 kilogram, 4.320 cup mi instan yang dikemas dalam 180 dus, paket telur asin, obat-obatan, pembalut wanita, dan popok bayi sejumlah 18 dus.

Adapun bantuan tersebut dikirim menggunakan truk kontainer GG, yang diterima Kepala Dinas Operasi (Kadis Ops) Lanud Iswahyudi, Kolonel Pnb Onesmus Gede Rai Aryadi. Selanjutnya, bantuan dikirim ke lokasi bencana di Lombok dengan menggunakan pesawat angkut milik TNI AU.

" Kalau dari kantor GG di Gempol, bantuan berupa sepuluh ton beras dan 25 unit kontainer multifungsi yang bisa didimanfaatkan sebagai rumah singgah sementara, posko tanggap darurat, atau posko kesehatan" ucap Iwhan

Bukan hanya itu, kantor GG di Gempol juga mengirim aneka kebutuhan lainya bagi warga yang tinggal di pengungsian. Mulai, dari peralatan mandi,peralatan dapur,kebutuhan bayi dan wanita, serta rang tua, hingga aneka kebutuhan lainya selama di pengungsian yang jumlahnya mencapai ribuan.

" Pastinya, kebutuhan makan, istirahat, serta mandi, cuci, dan kakus (MCK) menjadi perhatian.Ada kasur lantai, bantal, kipas angin, panci, piring, termos, kompor elpiji lengkap regulatornya, air mineral galon, ember, gayung, pampers bayi dan lansia, botol dan dot bayi, susu, bedak bayi, hingga pembalut wanita,”  ujar Iwhan.

Iwhan juga menjabarkan, untuk bantuan dari Jakarta, pengirimannya dikoordinasikan oleh tim marketing GG. 

“Teman-teman dari Jakarta untuk sementara mengirim bantuan berupa pakaian, seperti kemeja, kaus, dan celana,” katanya. Dia juga menambahkan, dalam memberikan bantuan PT Gudang Garam Tbk berkoordinasi dengan banyak pihak untuk menjangkau daerah-daerah yang terkena dampak paling parah. 

" Mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan SAR Nasional (Basarnas), hingga pemerintah daerah setempat lewat badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Termasuk, dengan aparat kepolisian dan TNI. “Di internal, kami juga berkoordinasi dengan RO (regional office) PT. Surya Madistrindo di Bali dan AO (area office) di Mataram,” paparnya.

Diharapkan, dengan koordinasi yang baik itulah, fungsi bantuan bisa dimaksimalkan dan tepat sasaran serta benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Hal ini sesuai pula dengan butir pertama catur darma perusahaan, yakni,kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas merupakan suatu kebahagiaan. 

“Kami ingin selalu hadir dalam setiap peristiwa kemanusiaan, meringankan beban, dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Di Perusahaan Kami, hal ini sudah menjadi nilai yang ditanamkan oleh pendiri,”  pungkas Iwhan.(bud)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...