DAERAH

Foto : Bukan hanya nelayan saja yang melakukan aksi demo, namun masyarakat umum membaur memprotes praturan Menteri Kelautan dan Perikanan yang dinilai angat merugikan..
Lamongan (Koran Tranparansi) - Ribuan masyarakat Pantura Lamongan hari ini (08/01) menggelar aksi demo. Bukan hanya nelayan, masyarakat non nelayan ikut melakukan aksi. Mereka menuntut untuk pencabutan peraturan menteri kelautan dan perikanan (permen) KP no.71 tahun 2016.
 
Sebagaimana yang kita ketahui Permen KP yang merupakan turunan dari permen sebelumnya, yaitu permen KP no.2 tahun 2015 melarang menggunakan alat tangkap pukat tarik payang /cantrang untuk di gunakan oleh nelayan dengan alasan tidak ramah lingkungan.
 
Sedangkan masyarakat lamongan Pantura sebagian besar adalah pengguna alat tangkap itu, mereka mengatakan bahwa tuduhan menteri adalah sangat tidak berkajian, ini dapat di logikakan ketika pukat tarik payang di tuduh merusak terumbu karang, sedang terumbu karang dalam perairan 12 mil ke bawah atau di dangkal karena terumbu juga membutuhkan fotosintesis sinar matahari untuk kehidupannya.
 
Padahal nelayan yang menggunakan alat tangkap payang mengoperasikan alat tangkap payang itu di dalam 12 mil ke atas, secara logika adalah tidak berdasar, tapi kengototan menteri perikanan dan kelautan Susi Pudjiastuti karena sudah kalah kajian yang membuat nelayan kembali memperjuangkan legalitas payang yang memanfaatkan awalnya sudah legal.
 
" Bagaimana nasib kita kalau payang di larang, apalagi tuduhan ini sangat tidak berdasar, hanya sekedar menuduh saja tanpa memberi solusi yang tepat guna bagi nelayan," ujar Surofik salah satu nelayan payang asal Grenjeng Blimbing Lamongan.
 
Sejak pukul 07.00 WIB massa Nayan terlihat sudah berkumpul di halaman kantor rukun nelayan Blimbing, ada yang mulai mempersiapkan atribut serta properti alat peraga yang di pakai dalam aksi , ada pula yang menyiapkan tanda berupa janur kuning sebagai pertanda peserta resmi sebagai upaya agar tidak di tunggangi dan di susupi oleh orang yang tidak di kenal.
 
Sekitar pukul 09.00 WIB yang di pimpin oleh ketua aliansi nelayan Indonesia (ANNI) Lamongan Agus Mulyono berangkat aksi long march menuju PPDI Brondong, namun sebelum peserta memulai aksi dengan serempak menyanyikan Indonesia raya, Kapolres Lamongan AKBP Feby, D.P Hutagalung S.I.K sedikit meminta agar semua bisa menjaga ketertiban dan keamanan bersama, sebelum berangkat Kapolairud lamongan pun memimpin doa bersama.
 
Sekitar 9.000 massa memulai long march dengan barisan depan adalah pasukan ibu-ibu pemilah atau ngorek yang jumlahnya mencapai ribuan, di susul mobil orasi yang memegang kendali acara secara di belakangnya, ada barisan nelayan penjual dan pembeli ikan, pemborong kuli angkut atau manol, tukang bersih perahu dan masyarakat yang peduli dan terdampak dari permen itu.
 
Di dalam orasinya Agus Mulyono menyampaikan bahwa kebijakan menteri Susi melarang payang atau cantrang adalah sangat menyengsarakan rakyat, benar-benar mematikan mata pencaharian masyarakat Pantura, " kebijakan Menteri Susi adalah kebijakan tidak berdasar, di satu sisi negara meningkatkan produksi perikanan, tapi di sisi lain nelayan di matikan usahanya, apakah ini suatu keadilan, " seru Agus Mulyono dalam orasinya.
 
Saat tiba di lokasi di pusat perdagangan distribusi ikan (PPDI) Lamongan atau di pelabuhan baru, sejumlah perwakilan pun mulai menyuarakan keluh kesahnya di mimbar, mulai dari ibu2 pemilah ikan yang menyuarakan sejak awal Januari sampai sekarang mereka tidak bisa bekerja, betapa penderitaan yang sudah luar biasa, sampai anak-anak sekolah mereka tidak dapat uang saku.
 
Selain itu dari perwakilan pikul atau buruh angkut tak ketinggalan angkat bicara tentang keresahannya, setelah semua yang telah menjadi keresahan dan ketidak adilan yang mereka rasakan massa pun akhirnya membubarkan diri dengan tertib.
 
" Kami bersyukur aksi ini berjalan dengan tertib tanpa ada satu insiden sedikitpun, terima kasih kepada teman2 yang telah kompak dan tertib, semoga ini dapat menjadi awal yang baik bagi kita semua, " ucap Edy salah satu koordinator lapangan dalam aksi tersebut. (ard)     
Ombudsman Jawa Timur mengecam PLN Lamongan yang dinilai sangat tertutup alam memberikan layanan kepada para pelanggan. Padahal mestinya PLN lebih terbuka agar pelanggan tidak dirugikan

LAMONGAN (Koran Transparansi)  - Ombudsman Jawa timur mengecam keras terhadap PLN Lamongan yang di nilai sangat tertutup dalam memberikan informasi kepada konsumen atau pelanggan yang merasa di rugikan atas tindakan petugas atau pimpinan PLN Lamongan. 

Kapolres Donny Didampingi Kasatreskrim Menunjukkan Upal

BANYUWANGI (Koran Tranasparnsi)- Ingat pelajaran 3 D, dilihat, diraba, diterawang, saat melakukan transaksi keuangan. Pasalnya, aparat Kepolisian Resor Banyuwangi baru saja menangkap pelaku pengedar uang palsu. Tersangka bernama Siti Mariam (53), warga Dusun Krajan, Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore.

Sebanyak 64 lembar uang pecahan palsu Rp 50.000 berhasil disita selaku bukti. Aparat juga mengamankan uang asli Rp 115 ribu dari tangan pelaku hasil pengembalian saat transaksi  menggunakan uang palsu. Mobil Toyota Kijang Avanza warna putih dengan plat nomer P 801 VQ yang dikendarai pelaku turut pula dijadikan alat bukti.

Kapolres Banyuwangi AKBP Donny Adityawarman menjelaskan, upal yang disita didapat Mariam dari seorang pria yang mengaku ustad yang tinggal di kawasan Probolinggo. Transaksi penukaran uang yang mirip aslinya tersebut digelar di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Gending, Kabupaten Probolinggo, pada 31 Desember 2017 lalu.

“Satu juta uang asli ditukar dengan tiga juta uang palsu. Upal yang didapat berbentuk pecahan lima puluh ribu,” ungkap Kapolres saat memimpin jumpa pers di Mapolres Banyuwangi, Senin (8/1).

Kedok pelaku terungkap usai melakukan transaksi menggunakan upal di Kecamatan Songgon, Sabtu (6/1), sekitar pukul 08.00 WIB. Pagi itu Mariam membelanjakan upalnya mengendarai mobil Toyota Avanza yang kini telah disita sebagai bukti bersama salah satu putranya. Toko yang didatangi pertama kali milik Muhammad Nurhasan (39), di Dusun Jajangan, Desa Sumber Bulu, Kecamatan Songgon. “Di toko ini tersangka membeli satu liter minyak goreng. Setelah mendapat pengembalian, dia beranjak ke toko yang lain,” ungkap AKBP Donny.

Kali ini toko yang disasar milik Istikharoh (41), warga Dusun Pertapan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon.  Barang yang dibeli berupa sebungkus rokok. Setelah itu, tersangka berpindah ke toko yang dikelola Paini (41), masih di lokasi dusun yang sama. Gula pasir menjadi barang yang dibeli oleh wanita yang mengaku pernah membuka usaha warung tak jauh dari sebuah pondok pesantren di daerah Krikilan, Glenmore.

“Orang yang pertama curiga adalah Muhammad Nurhasan. Pedagang ini sempat membuntuti pelaku sampai di toko Istikharoh dan Paini. Sempat dicegat namun berhasil kabur. Tapi warga ada yang menghafali nomer plat mobil yang dikendarai tersangka, lalu dilaporkan kepada petugas,” terang Kapolres, lagi.

Dua jam berselang, aparat kepolisian yang melakukan pengejaran usai menerima aduan korban berhasil menemukan rumah tinggal Mariam. Wanita ini akhirnya dibawa ke Mapolres Banyuwangi beserta sejumlah barang bukti berupa uang palsu, uang asli hasil pengembalian para korban dan sembako yang dibeli menggunakan upal.

Mariam tak menyangka aksinya bakal terlacak sehingga berbuntut pada penangkapan. Padahal pola transaksinya berusaha dijalankan secara rapi. Ia bahkan menyembunyikan rahasia upal itu dari sang anak yang sempat mengantarnya berbelanja. “Niatnya untuk mengumpulkan uang guna melunasi sewa mobil rental yang tersisa Rp 10 juta. Beban ini buntut dari bisnis katering makanan bersama majikan,” dalihnya.

Versi Mariam, imbas dari usaha katering itu dirinya harus menanggung hutang Rp 30 juta. Uang itu merupakan ulah nakal sang bos yang menyuruhnya mencarikan sewaan mobil. Nahasnya, setelah sepekan kendaraan yang katanya hendak dipergunakan mengurus usaha makanan di Bali justru tak kembali. Mobil yang disewa ternyata digadaikan oleh sang majikan kepada orang lain. “Uang gadai itu dibebankan kepada saya. Soalnya sang pemilik kendaraan tahunya roda empat itu saya yang sewa,” kelitnya. (ari)

 

 

 Foto   : Bupati Bnyuwangi Abdullah Azwar Anas panen Buah Naga yang kini menjadi andalan Banyuwangi sekaligus mulai Export.
BANYUWANGI (Koran Transparnsi) - Pemkab Banyuwangi mendorong pengembangan buah naga organik karena permintaan produk-produk organik yang terus meningkat. 
 
Saat ini kian banyak masyarakat yang ingin mengonsumsi produk sehat dan bebas residu berbahaya. Jumlah makin hari kian meningkat.Bahkan nantinya bisa menyalip permintaan komoditas biasa yang non-organik. 
 
“ Kami juga menyiapkan outlet khusus produk organik di Bandara Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwa Anas saat panen raya Kelompok Tani Pucangsari di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu Banyuwangi.
 
 Pemerintah Banyuwangi memfasilitasi sekolah lapang kepada para petani buah untuk menjalankan praktik agrikultur yang baik atau good agricultural practices (SL-GAP) dan good handling practices (SL-GHP). Dengan penanganan yang baik, buah naga organik bisa terjaga kualitasnya dengan rasa buah lebih manis dan tekstur lebih renyah.
 
“Nilai ekonomisnya pastinya lebih tinggi dari yang tidak organik. Selisihnya bisa Rp4.000-5.000 di tiap kilogramnya, tentu lebih mahal yang non-organik,” kata Anas yang mencicipi langsung buah naga yang baru saja dipanen.
 
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, luas panen buah naga di Banyuwangi 2.283 hektare dengan produksi 117.709 ton. “Banyuwangi adalah sentra buah naga nasional,” kata dia.
 
Arief menambahkan, untuk pengembangan buah naga organik, saat ini Kelompok Tani Pucangsari telah mendapatkan sertifikat organik PRIMA yang menjamin mutu dan kemanan pangan. “Banyuwangi juga mempunyai sejumlah komoditas organik yang telah tersertifikasi, terutama beras merah organik yang bahkan juga telah diekspor,” paparnya.
 
Ketua Kelompok Tani Pucangsari yang menggarap buah naga organik, Rukiyan, mengatakan, sejak awal penanaman pihaknya menerapkan cara yang memenuhi standar organik. “Dengan cara ini buah yang dihasilkan lebih tahan lama sampai 25 hari, sedangkan kalau non organik 7-10 hari sudah rusak,” ujar Rukiyan.
 
Rukiyan mengatakan, dalam satu musim, dengan luas lahan 40 hektar, hasil panen buah naga organik kelompoknya sebanyak 1.600 ton dengan nlai ekonomis yang lebih tinggi. “Dengan modal Rp 40 juta juta, kami bisa memperoleh Rp 560 juta setiap musimnya sekitar sembilan bulan,” ujarnya.
 
Rukiyan mengaku perminta nbuah naga organik cukup tinggi, bahkan dia belum bisa memenuhi semuanya.
 
“Kami mengirim buah naga organik ke berbagai kota dan luar negeri. Di antaranya ke Jakarta 40 ton per bulan, Malang 16 ton per bulan, Bali dan Bogor masing-masing 8 ton per bulan, ekspor ke Singapura 4 ton per bulan. Kami juga pasok jeruk dan jambu kristal organik,” tutur Rukiyan. (ifr)
 Foto   : Bacagub Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bacawagub Emil Elestianto Dardak saat sarapan di rumah As'ad, salah satu timsesnya di Wonosobo, Rogojampi Banyuwngi, sebelum melakukan rangkaian kegiatan Kementerian Sosial,  Minggu (7/1/2018)
BANYUWANGI (Koran Transparansi) - Bakal calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sedikit menyinggung nama Abdullah Azwar Anas  kala berbicara di hadapan ribuan warga di Pondok Pesantren Mansyaul Huda Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Minggu, 7 Januari 2018. Anas kini jadi sorotan karena mundur dari pencalonan Pilgub Jatim.
 
Mulanya, Khofifah menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat oleh warga Banyuwangi, termasuk sambutan dari para pimpinan dan kader salah satu partai pengusung, Demokrat, dan para relawan pemenangan. "Tadi di bandara juga saya lihat ada staf dari pemerintah kabupaten, salam ya ke Mas Anas," ujarnya.
 
Khofifah juga mendoakan agar Bupati Banyuwangi itu tegar menghadapi apa yang kini tengah dialami, yang kemudian diduga menjadi latar pengunduran dirinya mundur sebagai bakal calon Wakil Gubernur Jatim mendampingi Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. "Semoga Mas Anas kuat menghadapi apa yang kini beliau alami," tandas Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama itu.
 
Ditanya ulang soal Anas usai acara, Khofifah enggan berkomentar banyak. Dia mengaku bukan pihak yang berhak untuk mengomentari itu. Ketika ditanya apakah akan menemui Anas atau berkomunikasi melalui sambungan telepon genggam setelah Anas resmi mundur, Khofifah menjawab, "Sampaikan salam saja, ya."
 
Mendampingi Gus Ipul, Anas mulanya bakal calon wakil gubernur yang diusung PKB-PDI Perjuangan. Pesaing kuat keduanya ialah pasangan calon Khofifah-Emil Dardak, sementara ini diusung Demokrat, Golkar, Hanura, Nasdem, dan PPP. Adapun Gerindra, PAN dan PKS berencana membuat poros baru..
 
Tetapi peta politik Jatim mendadak berubah. Anas tiba-tiba mengembalikan mandat pencalonan kepada DPP PDIP, kemarin. PDIP beringsut dan hingga kini masih mencari pengganti. Sejumlah pihak menilai, dinamika itu juga berpotensi pada retaknya koalisi PDIP-PKB. (ifr)

 

Anas dan istri saat di Pasar Rogojampi

 

BANYUWANGI (Koran Transparansi) - Calon Wakil Gubernur Jatim, Abdullah Azwar Anas beberapa hari ini sulit dicari. Bahkan, subuh tadi,  Anas sempat menulis surat pengembalian  mandat kepada partai. Namun tadi siang, Anas muncul di Pasar Rogojampi. Biasanya, ketika Anas melakukan kunjungan kerja, wartawan selalu diajak. 

Tapi, kali ini Anas tidak mengajak wartawan. Justru, Anas mengirim rilis melalui email beberapa wartawan sekaligus poto Anas dan istri bersama pedagang pasar Rogojampi. Dalam kunjunganya di Pasar Rogojampi, Anas bertemu dan berdialog dengan para pedagang serta pengunjung, Sabtu (6/1), seusai menyerahkan kembali mandat pencalonan sebagai calon wakil gubernur (cawagub) Jatim ke PDI Perjuangan. Di Pasar Rogojampi, Anas yang didampingi istrinya Ipuk Fiestiandani dan jajaran Pemkab Banyuwangi mendapat sambutan hangat dari para pedagang dan pengunjung pasar.

Salah satunya dari seorang penjual sapu lidi. Saat melihat Anas, penjual tersebut langsung menawarkan dagangannya. "Pak, beli sapu saya, biar berkah semuanya. Pak bupati diberikan kesehatan, Banyuwangi berkah, semuanya lancar," ucap Ibu Juwari, pedagang tersebut, dengan semangat. Anas pun lalu membeli sejumlah sapu lidi dagangannya.

Baru melangkah beberapa meter, Anas ditarik seorang pedagang dan diberi jagung goreng cuma-cuma. "Buat Bapak sama Ibu ya untuk camilan," ujar pedagang tersebut.

Semua pedagang dan pengunjung pasar tampak menyemangati Anas. Seperti yang diucapkan Darmiyah, seorang pengunjung pasar. “Pak Anas, semoga sehat selalu, ayo tambah semangat biar Banyuwangi tambah bagus pak," ucapnya dengan semangat. Pedagang dan pengunjung lain pun yang mengerumuni langsung mengamini dengan semangat  harapan yang dilontarkan Darmiyah.

Sejumlah pedagang dan pengunjung senang Anas memilih konsentrasi bekerja di Banyuwangi. Seperti yang diungkapkan Harno, pemilik warung nasi. "Alhamdulillah Bapak kembali di Banyuwangi. Saya seneng banget, Bapak di sini saja, di Banyuwangi bareng kami ya pak," ujar Harno.

Anas pun menanggapinya dengan senyum. “Terima kasih, bareng-bareng ya kita kembangkan Banyuwangi,” kata Anas.

Kesempatan itu juga dimanfaatkan sejumlah penjual untuk memberi masukan tentang sejumlah atap di pasar yang mulai berlubang, sehingga bocor saat hujan. "Yang bocor mana saja titiknya, biar segera diurusi dinas yang menangani. Nanti ajukan rehabilitasinya ya," jelas Anas sambil menginstruksikan ke jajarannya untuk memasukkan program tersebut ke alokasi anggaran. (ari)

 

banner