DAERAH

Foto :  Agenda tahunan larung sesaji di Festival Kelud yang selalu menjadi daya tarik
KEDIRI (KoranTransparansi.com) - Salah satu rangkaian Festival Kelud 2018, yakni tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud berjalan lancar, unik dan penuh kesakralan. Tradisi yang dilakukan warga lereng Kelud setiap tahun ini, sebagai wujud rasa syukur masyarakat lereng gunung karena telah dikaruniai hasil bumi, juga sebagai salah satu cara memohon perlindungan Tuhan.
 
Sejumlah masyarakat dan para wisatawan tampak antusias mengikuti rangkaian acara ini. Kegiatan berpusat di rest area atas kawasan wisata Gunung Kelud, menampilkan berbagai acara tari-tarian sebelum acara dimulai. Nampak Tarian Reog Ponorogo juga menampilkan performa terbaiknya yang mampu membuat decak kagum pengunjung.
 
Seperti biasanya, gunungan sesaji berisi hasil kekayaan alam atau hasil bumi dari lereng Kelud, seperti buah nanas, ubi, nangka, pisang, tomat, terong dan lain-lain, serta nasi lengkap dengan lauknya diarak menuju tempat upacara dan diperebutkan oleh masyarakat.
 
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengatakan, ritual larung sesaji adalah ritual tahunan yang digelar oleh masyarakat lereng Kelud setiap bulan Suro sesuai penanggalan Jawa.
 
“Acara ini termasuk sebagai sarana memperkenalkan budaya seni Kabupaten Kediri agar bisa dikenal dunia. Tidak hanya alamnya saja yang indah dan eksotik tetapi keanekaragaman budayanya pula,” terangnya, Rabu (19/9/2018).
 
Menurutnya, keanekaragaman budaya tersebut akan mampu pula mendukung dan menunjang pariwisata yang ada di Kabupaten Kediri.
 
"Gunung merupakan wisata andalan kita semua, tanpa adanya Gunung Kelud, wisata di Kabupaten Kediri terasa belum lengkap. Karena Gunung Kelud termasuk gunung yang sangat terkenal di dunia, kita ketahui bahwa saat meletus 13 Februari 2014 silam mampu menutup 7 bandara di Indonesia bahkan abunya sampai luar negeri,” tambahnya.
 
Adi Suwigyo juga menjabarkan, berkat kerjasama pemerintah dan masyarakat, akhirnya wisata ini kembali dibuka, pertanian di daerah ini bangkit, sekaligus mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
 
“Namun perlu kita ketahui bersama, wisata di Kabupaten Kediri itu banyak, bukan hanya Gunung Kelud. Yang di barat sungai ada Dholo, Irenggolo, Sumberpodang dan lain-lain,” pungkasnya.(kominfo/adv/bud)

Banyuwangi (KoranTransparnsi.com) - Anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, Made Suwastiko, menilai keberagaman adalah sebuah karunia yang diberikan Tuhan kepada segenap Bangsa Indonesia.

“Kebhinekaan adalah sebuah instrument yang melengkapi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sebagai ideologi bangsa berhasil menyatukan perbedaan menjadi satu kesatuan yang utuh,” ungkapnya, pada Rabu (19/9).

 

Keberagaman masyarakat Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari menjadi contoh indahnya perbedaan yang disatukan oleh rasa persaudaraan dan nasionalisme yang utuh. Oleh karena itu, lanjut Made, perbedaan dalam sebuah keyakinan, perbedaan suku dan golongan justru menjadi kekuatan untuk membangun ikatan tali silaturrahmi yang kokoh.

 

“Di Patoman ini, meski terdiri dari suku Jawa, Oseng, Bali, dan Madura tetapi masyarakatnya sangat rukun. Termasuk masyarakatnya menganut berbagai keyakinan, namun semuanya tetap saling tolong menolong,” tandasnya.

 

Dalam setiap kegiatan keagamaan, warga juga saling membantu antara satu dengan yang lain. Misalnya saat umat Hindu melaksanakan Nyepi, warga yang beragama Islam membantu melakukan penjagaan dan pengamanan.

 

“Pada saat umat muslim pengajian atau salat Idul Fitri, Anggota Pecalang umat Hindu turut membantu menjaga parkir dan menjadi petugas keamanan,” pungkasnya. (def) 

Dosen FISIP Umsida Ahmad Riyadh, Ph.D  (ujung kiri) bersama  narasumber dalam talkshow tantangan media penyiaran di tahun politik, di kampus 2 Umsida, Candi, Sidoarjo, Selasa (18/9).

Sidoarjo (KoranTransparansi.com) - Ahmad Riyadh, Ph.D dosen Fisip Umsida mengatakan bahwa, menghadapi tantangan di tahun politik, media penyiaran wajib duduk bersama dengan pemerintah atau KPU dan masyarakat bisa diwakili wakil rakyat untuk membicarakan kesepahaman bersama program siaran yang adil untuk semua partai politik.

“Terutama Lembaga Penyiaran Publik seperti RRI Surabaya, bagaimana menjaga independensinya dengan melakukan kerja sama dengan KPU dan parpol beserta Calegnya mendapat kesempatan yang sama bisa menyampaikan kampanye dari radio,” kata Riyadh usai menjadi narasumber Talkshow Tantangan Media Penyiaran di Tahun Politik, di Kampus 2 Umsida, Candi, Sidoarjo, Selasa (18/9). 

Ketua DPRD Sidoarjo, H Sukamul Hadi Himawan (Wawan), sangat mendukung ide itu karena PKPU ( Peraturan Komisi Pemilihan Umum ) sangat ketat, dalam hal caleg melakukan kampanye melalui media, baik media sosial maupun media elektronik seperti RRI, kita berharap RRI menjadi media penyambung lidah caleg,” ujar Wawan. 

Sekretaris KNPI Jatim, Sholihul Hadi. M.Pil menyatakan, sebagai wadah organisasi pemuda pada jaman 4.0 atau millenial, siap bersama  RRI untuk melaksanakan program kepemudaan. 

Sementara itu, Kepala LPP RRI Surabaya, Dra Retno DS M.Si, sangat mendukung harapan narasumber agar RRI menjadi Lembaga Penyiaran untuk program Caleg maupun program anak muda. “Yang pasti RRI sudah maju berkembangan sesuai dengan tuntutan kemajuan jaman modern dengan titel ‘Tonton yang anda dengar’ ini salah satu terobosan itu,” katanya.

Ahmad Afif, Ketua KPID Jatim menyatakan bahwa selama ini KPID maupun KPI sudah melaksanakan tugas sebagaimana PKPI maupun UU Penyiaran, namun rekomendasi dari KPI masih belum ada yang sampai mencabut ijin Lembaga Penyiaran.

Tetapi, sudah beberapa kali melakukan peringatan dan setingkat lebih tingggi untuk menjaga independensi Lembaga Penyiaran Swasta, terutama menjaga keseimbangan antar partai politik di media penyiaran pada tahun politik ini.

“Pihak Umsida sangat respon dan siap terus menerus melakukan kerja sama dengan semua pihak, guna meningkatkan mutu siaran dan kualitas lembaga penyiaran secara nasional,” kata Dr. Totok Wahyu, Dekan Fisip Umsida.

Umsida, kata Totok, selalu mengadakan penelitian untuk kemajuan dunia penyiaran yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Djoko Tetuko yang diminta memberi pendapat melengkapi 5 narasumber menyatakan bahwa perjuangan masyarakat pers dan masyarakat penyiaran 16 tahun yang lalu melalui demo dan dialog dengan Komisi 1 DPR RI perlu direvisi untuk disempurnakan. 

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jatim membacakan puisi dan berharap Lembaga Penyiaran tetap menjalankan siaran dengan jaminan “Kemerdekaan Pers yang Bebas dan Berbudi Luhur”. (ria)

18 Finalis Unjuk Gelar Pada Lomba Teknologi Tepat Guna Gresik 2018

Gresik (KoranTransparansi.com) - Sebanyak 18  kelompok peserta melakukan unjuk kebolehan pada gelar Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik.

 

Acara dilaksanakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa di Halaman Gedung Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP) Jalan Jaksa Agus Suprapto Gresik, Selasa (18/9/2018). Tak hanya diikuti oleh kelompok pelajar. Banyak inovasi yang dikembangkan para generasi muda desa Kabupaten Gresik yang diikutkan untuk mendapat apresiasi dari Pemkab Gresik.

Sebelum penilaian oleh juri, beberapa pengunjung tampak berinteraksi dengan para pemilik karya. Pengunjung bertanya manfaat karya-karya peserta tersebut serta inovasi apa yang ada pada karya tersebut.

Ada beberapa karya TTG yang mendapat perhatian pengunjung diantaranya kursi roda listrik tenaga surya. Karya milik SMK Negeri Driyorejo ini banyak dicoba oleh pengunjung untuk dinaiki. Sebuah kursi roda yang dibelakangnya terdapat solar cell. Kemudian kursi roda tersebut dikendalikan oleh sebuah aplikasi di Handphone untuk bisa menggerakkan maju mundur serta berputar.

Karya lain yang juga dicoba pengunjung yaitu OTIK atau ontel matic. Karya ini sederhanya yaitu modifikasi sepeda dengan menempel mesin rumput kecil. Konon menurut Syahrul Ramadhan dan Afrianki Purwanto (SMK Muhammadiyah I Gresik) penciptanya, sepeda ini sudah di ujicoba dari Kecamatan Bungah sampai WEP Gresik hanya menghabiskan bahan bakar 500 ml.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat Desa, Suharsi melalui Kepala Bagian Humas dan Protokol Sutrisno mengatakan, maksud diselenggarakan kegiatan ini upaya optimalisasi sumber daya alam desa, memajukan ekonomi desa dan penguatan kapabilitas masyarakat desa.

“Kegiatan ini sebagai salah satu upaya kami untuk peningkatan partisipasi masyarakat dengan mendorong pembentukan, pengembangan  dan penguatan Pos Pelayanan Teknologi yang tersebar di setiap kecamatan” ujarnya.

Peserta yang ikut gelaran pada lomba kali ini adalah mereka yang telah diseleksi dari ratusan proporsal yang telah dikirim.

Pada kesempatan ini mereka harus mendemontrasikan dihadapan dewan juri. Mereka juga harus menjawab pertanyaan yang diajukan dewan juri terkait karya mereka tersebut. Para juri ini terdiri dari Dinas Pendidikan Gresik, Universitas Muhammadiyah Gresik, Praktisi Teknologi Tepat Guna.

Selain karya diatas beberapa karya para peserta yaitu alat pengupas sabut kelapa sisitim putar karya SMK Hidayatul Ummah Balongpanggang. Wadah pemanas air tenaga surya otomatis menggunakan timer digital milik SMK Al Azhar Menganti. Mengendalikan peralatan elektronik jarak jauh SMK PGRI Gresik, Pembuatan Pupuk Organik oleh Lisa Umami Sirnoboyo Benjeng, Pemberi makan ikan otomatis via SMS.

Control PH Air tambak via smartphone oleh SMK Muhammadiyah I Gresik, Pemanfaatan Rapsberry PI sebagai server IPTV multicast untuk daerah tak terjangkau sinyal tv oleh STT Qomaruddin Gresik, Bio Sin (Pupuk Pertanian) oleh SMK Al Karimi, mesin usaha jamur oleh Susilo warga desa Sumput Driyorejo, alat komunikasi pelayaran MA Masyhudiyah Giri Kebomas.

Diversifikasi tawa bagong SMKN I Sidayu, Sensor Ultrasonik tandon air SMKN I Sidayu. Pengembangan ekonomi berbasis digital Aizzatur Rohmah Randuboto, Sidayu. Drassion Zahrotul Firdausi Ujungpangkah, pemanfaatan limbah ternak kelinci untuk pupuk sayuran SMK Al Karimi Dukun dan Fish Co pemberdayaan nelayan oleh zahrotul Firdausi Randuboto Sidayu. (med)

Foto  : Ratusan massa yang tergabung dalam FHK2I saat melakukan aksi

KEDIRI (KoranTransparansi.com) - Ratusan Guru yang tergabung dalam Forum Honorer Kategori Dua Indonesia (FHK2I) melakukan aksi penolakan seleksi Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS ) tahun 2018 melalui jalur umum di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Kediri dan Kantor DPRD Kabupaten Kediri, Selasa (18/9/2018)

Aksi tersebut, disisipi doa bersama serta melakukan istiqosah agar pemerintah membatalkan rekrutmen CPNS yang akan diselenggarakan dan segera mengangkat Honorer K 2 sebagai Aparatur Sipil Negar (ASN)

Susilo Setianto selaku Kordinator Lapangan (Korlap) mengatakan, aksi ini diikuti seluruh tenaga Pengajar (Guru) Honorer K2 di Wilayah Kabupaten Kediri untuk meminta kejelasan nasib serta masa depan mereka karena suda lama mengabdi

“Yang jelas Kami meminta disini agar segera di angkat menjadi CPNS ,” ujar Susilo kepada Awak Media.

Menurutnya, dengan diterapkanya Peraturan Menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 36 dan 37 Tahun 2018 Tentang CPNS Jalur Umum dengan membatasi usia di bawah 35 Tahun adalah bentuk kedzoliman

" Para Honorer K2 disini rata-rata usia mereka di atas 35 tahun untuk itu dengan tegas menolak rekrutmen CPNS jalur Umum tahun 2018 yang akan di selenggarakan oleh Pemerintah" pungkasnya

Menanggapi hal itu, Wasis anggota Komisi A DPRD Kabupaten Kediri, mengatakan bahwa terkait persoalan ini pihaknya akan menjembatani pertemuan Honorer K2 dengan pihak Badan Kepegawaian Daeran BKD Kabupaten Kediri dan Bupati Kediri

“Tapi yang jelas kalau sesuai aturan baru seleksi CPNS harus melalui Tes dan syarat usia maksimal 35 tahun sedangkan untuk K2 yang tidak lolos seleksi dimungkinkan akan diangkat untuk masuk menjadi pegawai pemerintah,” terangnya. (bud)

Foto : Bupati Kediri saat meninjau lokasi bazar UMKM di Festival Kelud 2018

KEDIRI (KoranTransparansi.com)Festival Kelud 2018 yang digelar 15 September- 7 Oktober 2018 di area wisata Gunung Kelud, dimeriahkan bazar UMKM yang menghadirkan produk-produk lokal Kabupaten Kediri. Hal ini, mendapat apresiasi Bupati Kediri, dr. Hj. Haryanti Sudiritrisno

Plt. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, drh. Munfarid, MM, sebanyak 134 pelaku UKM mengikuti kegiatan ini. Produk yang ditampilkan, mulai dari produk UKM Kecamatan Ngancar hingga beberapa produk unggulan asli Kabupaten Kediri.

“Beragam produk unggulan tampil di pameran ini. Mulai olahan makanan, kerajinan seperti batik, kayu, tas, dan karya produk UMKM dari rekan-rekan Perkumpulan Disabilitas Kabupaten Kediri,jelas Munfarid,Senin (17/9/2018).

Menurutnya, melalui kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi wahana promosi bagi produk UMKM Kabupaten Kediri, agar semakin dikenal dan laku dibeli pengunjung wisata Gunung Kelud.

“Pengunjung Gunung Kelud sebagian besar adalah pengunjung dari luar kota. Kami harap melalui kegiatan ini produk UMKM kami dapat dibeli sebagai oleh-oleh kembali ke kota masing-masing,tambahnya.

Pantauan di lokasi, Bupati Kediri Hj Haryanti Sutrisno juga sempat berkunjung ke masing-masing stand pameran dan berdialog dengan pelaku UMKM. Bupati Haryanti berdiskusi mengenai sejauh mana proses bisnis, pelatihan dan kendala yang selama ini dilalui.

“Bupati terus memberikan optimisme dan pesan-pesan agar UMKM saya lebih berkembang kedepan. Terus jaga kualitas dan perbaiki terus kemasan. Jangan mudah puas, terus belajar, terus berinovasi dan kreatif, serta gunakan medsos sebagai pemasaran,” terang Mahmud, salah satu pelaku UMKM, yang berkesempatan berdiskusi dengan Bupati Kediri.(kominfo/adv/bud)

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...