Sunday, 18 November 2018 06:59

Sontoloyo dan Gendruwo

All animals are equal, but some animals are more equal than others (Animal Farm, George Orwell)

Oleh : H. Dhimam Abror Djuraid

 SALAH satu ikon kota Surabaya adalah Kebun Binatang Surabaya (KBS). Ada yang menyebutnya Bonbin (“kebon” binatang), atau, dulu di masa saya kanak-kanak, kami menyebutnya “Drenten”.

Sekarang KBS sudah redup karena salah urus, atau bahkan sebentar lagi akan tutup. Tapi, “legacy” KBS akan tetap dikenang oleh masyarakat Surabaya.

KBS menjadi ikon tak terpisahkan bagi Surabaya, dan bahkan sudah menjadi bagian dari leksikon budaya Surabaya.

Orang yang kesal akan menuangkan kekesalannya dengan menyebut “semua anggota kebun binatang” mulai dari babi, monyet, anjing, dan kawan-kawannya.

Lalu, jika ada seorang pemimpin sebuah organisasi dimana di dalamnya berbagai jenis manusia campur baur– mulai ustad sampai preman– maka sang ketua disebut ibarat memimpin kebun binatang. Di dalamnya lengkap ada berbagai karakter, mulai dari karakter monyet, buaya, biawak, babi, celeng, kerbau, ular, keledai, dan seterusnya.

Seorang pemimpin yang baik harus mampu mengelola semua karakter yang ada di kebun binatang itu, sehingga bisa memaksimalkan potensi mereka dan mengeliminasi, atau paling tidak meminimalisasi, potensi destruktifnya.

Kalau ditarik ke skala yang lebih besar maka tamsil ini berlaku bagi pemimpin di negeri kita ini dalam kondisi sekarang. Pemimpin nasional sekarang ibarat memimpin kebun binatang, harus pintar memainkan irama kapan si monyet harus tampil dan kapan monyet harus minggir. Begitu juga dengan binatang-binatang lainnya, mereka harus ditampilkan pada momentum yang tepat sehingga potensi mereka bisa dimaksimalkan.

Orkestrasi harmonis seperti ini membutuhkan seorang dirijen yang andal, memahami musik orkestra, dan paham karakter-karakter masing-masing binatang.

Bukan sebuah kebetulan bahwa sekarang ini lanskap politik Indonesia diwarnai dengan terminologi kebun binatang, mulai dari dikotomi kampret dan cebong sampai yang paling mutakhir soal “asu”.

Ini mengingatkan kita pada sastrawan George Orwell yang memperkenalkan novel alegoris “Animal Farm” (secara harfiah artinya kebun binatang) yang menceritakan duet penguasa babi bernama Napoleon dan Snowball (bola salju) yang berhasil menguasai republik kebun binatang dengan menyingkirkan pasangan pemilik Tuan dan Nyonya Jones.

Duet penguasa babi itu kemudian membuat sejumlah kebijakan yang dimaksudkan untuk menyejahterakan warga kebun binatang. Yang pertama dilakukan adalah mengumumkan program nasional “Sapta Cita” berisi tujuh program untuk menyejahterakan warga kebun binatang.

Program nomor satu yang menjadi inti dari duet rezim babi itu adalah kesetaraan bagi seluruh warga kebun binatang.

Pasal satu dari Sapta Cita berbunyi “All animals are equal” (semua warga kebun binatang adalah setara). Semua warga kebun binatang punya hak dan kewajiban yang setara, keadilan yang setara, dan kesejahteraan yang setara.

Setelah kesetaraan, program unggulan duet babi ini adalah pembangunan infrastruktur salah satunya adalah pembangunan kincir angin yang menjadi proyek mercusuar duet babi Napoleon dan Si Bola Salju.

Kincir angin berhasil dibangun dan masyarakat kebun binatang berangsur makmur. Tapi, sayangnya, yang terjadi kemudian adalah munculnya kelompok baru yang jauh lebih makmur dibanding kelompok lainnya.

Napoleon dan Bola Salju dikritik keras karena kesenjangan ini tidak sesuai dengan pasal pertama Sapta Cita. Napoleon dan Bola Salju tak kehilangan akal. Alih-alih mengatasi kesenjangan dia malah menambahi pasal pertama Sapta Cita menjadi “All animals are equal, but some animals are more equal than others” (semua binatang setara, tapi sebagian lebih tinggi kesetaraannya dibanding lainnya). Akal-akalan seperti ini menimbulkan pemberontakan internal sampai akhirnya Napoleon dan Bola Salju terdepak dari kekuasaannya.

Novel ini menjadi salah satu dari 30 novel terbaik dunia sepanjang masa. Orwell menulisnya sebagai kritik atas kemunculan pemerintah otoriter di bawah diktator komunis Stalin di Rusia. Orwell melihat gejala-gejala Stalinisme dan komunisme Rusia akan menjadi diktator baru dunia yang menghancurkan harkat kemanusiaan.

Sungguh sebuah kebetulan sejarah yang unik bahwa novel Animal Farm terbit pertama persis bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tujuh puluh tahun lebih setelah itu, peringatan Orwell akan bahaya otoritarianisme komunisme rasanya masih tetap relevan sampai sekarang.

* * * *

Lanskap politik kita sekarang ini mengingatkan kita pada kebun binatang Orwell. Dikotomi kampret dan cebong sampai sebutan “asu” mewarnai lanskap politik kita.

Secara aleoris bisa disebutkan bahwa pemimpin nasional kita sekarang ini sedang memimpin republik kebun binatang karena beragamnya karakter manusia yang ada di dalamnya.

Memimpin republik kebun binatang membutuhkan kearifan, ketenangan, sekaligus ketegasan, sehingga tahu persis bagaimana memperlakukan para warga kebun binatang itu.

Karena kurang tenang menghadapi kritik muncullah ucapan sontoloyo. Karena kurang tenang menghadapi kritik maka muncul sebutan politisi gendruwo.

Andai saluran kritik melalui media konvensional tidak disumbat maka media akan bisa memainkan fungsi kontrol sosial dengan baik. Media konvensional akan menjadi “early warning system” sistem peringatan dini untuk mengingatkan pemimpin bahwa kebijakan yang diambilnya salah. Tapi, karena media konvensional tidak kritis lagi maka pemimpin nasional kaget ketika oposisi mengritik keras kebijakannya. Maka keluarlah umpatan sontoloyo.

Setelah itu muncul gendruwo. Kadang orang tak sadar akan fenomena freudian dalam dirinya. Apa yang diucapkan adalah endapan alam bawah sadarnya. Ketika Anda menyebut gendruwo maka itu adalah ungkapan dari alam bawah sadar Anda bahwa sedang ada gendruwo di sekitar kita.

Siapa yang mengingatkan kita akan fenomena gendruwo dalam politik? Betul. Karl Marx. Ia membuka kalimat dalam Manifesto Komunis dengan menyebut gendruwo sedang menghantui Eropa “a spectre is haunting Europe, specter of communism” (gendruwo sedang mengintai Eropa, gendruwo komunisme”. (Penulis adalah wartawan senior, doktor ilmu komunikasi)

Surabaya (KoranTransparansi.com) – Kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Golkar ke 54/2018  belum berakhir. Nanti malam (Sabtu/17/11/2018), akan digelar wayang kulit  semalam suntuk menampilkan dalang kader partai DR Ki Soenarjo,Msi, wakil Ketua DPRD Jawa Timur, di halaman Gedung DPRD Jawa Timur Jalan Indrapura, Surabaya.

Mantan Wakil Gubernur di era Gubernur Imam Utomo ini akan menyuguhkan lakon Seng Setya lan seng Cidra Ing Janji (Yang setia dan yang mngingkari janji).

Seperti biasa, Ki Soenarjo tampil bersama paguyuban seni Gito Maron dengan lawakan Kirun & Marwoto CS . Sebelum wayangan itu digelar akan didahului Dangdutan dengan penyanyi Saraswati “Kirun akan mengocok perut undangan dengan lelucon yang menyegarkan.  Ada 15 pesinden berparas cantik bakal tampil bareng.

Menurut Sekretaris Partai Golkar Jawa Timur Sahat Simanjuntak, SH, partai saat ini sedang gencar turba. Selain menkampanyekan Capres-Cawapres yang diusung Partai Golkar, nomor urut 1 Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Golkar terus melakukan konsolidasi yaitu mengukuhkan Bappilu (Badan Pengendali Pemenangan Pemilu) DPD ll se Jawa Timur. “Komitmen partai sukses Pileg dan sukses Pilpres 2019, “ ungkap Sahat.

Untuk agenda wayangan nanti malam, kata Ketua Frakasi Patrtai Golkar DPRD Provinsi Jawa Timur, ya ini hiburan warga kota Surabaya.

Sengaja kita tempatkan di halaman Gedung DPRD, selain lokasinya mudah di jangkau oleh semua lapisan masyarakat , gedung DPRD itu milik rakyat. “Saya undang warga Kota Surabaya dan sekitarnya yang memang sudah “kangen” dengan Pak Narjo. Ini terbuka untuk umum,” jelasnya.

Menyinggung soal kedatangan Ketua Umum Partai Golkar H Airlangga Hartarto, Sahat mengungkapkan, Ketua umum dan jajaranya tetap kita undang. Soal kehadiran beliau, panitia sedang menunggu konfirmasi. Sedangkan para Ketua Golkar Kabupaten/Kota, Ketua ketua Hasta karya, organisasi pendiri dan yang didirikan wajib datang. 

Yang pasti ini rangkaian hari ulang tahun partai Golkar sekaligus  hiburan untuk rakyat. Bukan acara HUT Nasional yang dipusatkan di Surabaya. (min)

 

Surabaya (KoranTransparansi.com) - Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyambut baik pelaksanaan Seminar Nasional dengan tema "Otoritas Pusat di Kejaksaan sebagai Suatu Kebutuhan pada Sistem Peradilan Pidana dalam Menghadapi Kejahatan Transnasional" di Surabaya, Jum'at (16/11).

Menurut gubernur adanya seminar ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah central authority atau otoritas pusat di Indonesia. Central authority adalah otoritas pusat yang berfungsi ketika ada hubungan timbal balik dalam penegakan hukum antara Indonesia dengan negara lain.

Institusi yang mewakili kewenangan central authority akan mewakili negara dalam penegakan hukum antar negara.

Menurutnya, otoritas pusat dalam sistem peradilan pidana memegang peranan penting terkait upaya mencegah terjadinya kejahatan transnasional  sekaligus menanggulangi dampak negatif apabila kejahatan lintas negara terjadi.

Oleh karena itu, melalui seminar yang digagas oleh Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri Kejaksaan RI bekerjasama dengan Persatuan Jaksa Indonesia dan Kejaksaan Tinggi Jatim ini diharapkan dapat terbangunnya penyelesaian hukum bilateral antara negara yang satu dengan lainnya.

“Jadi selain seminar, juga harus ada usul yang konkret untuk melakukan langkah perubahan disitu. Jadi hukum yang memfasilitasi proses dalam kepastian dan keadilan,” katanya.

Terkait dengan persoalan hukum agar mampu memberikan rasa kepastian dan keadilan, Pakde Karwo berharap agar terdapat restrukturisasi kelembagaan. Ia mengusulkan pada dekan Fakultas Hukum untuk merefleksi hukum mau dibawa kemana.

“Masihkah kita mau membangun hukum yang tidak memfasilitasi proses ini dengan cepat. Diskusi ini penting agar proses pelayanan pada masyarakat lebih cepat tidak muter-muter (berputar-putar),” katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Jaksa Agung bidang Pembinaan, Ferry Wibisono, SH, MH.CN mengatakan, sejak tiga dasawarsa yang lalu kejahatan tidak lagi dibatasi oleh teritorial. Banyak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku secara bersama sama dalam wilayah berbeda. Beberapa kasus yang ditangani tidak terselesaikan karena kadaluwarsa dan kesulitan mengumpulkan bukti.

Menurutnya, kompleksitas transnasional dalam tindak pidana memerlukan kepentingan pembuktian yang harus dicari. Dokumen yang dibutuhkan biasanya perlu me-locating orang atau saksi kemudian barang bukti, proceed of crime yg dialihkan di beberapa negara, sehingga letter of rogatory seperti dokuman pengadilan yang disidangkan disana untuk penanganan perkara disini.

Permasalahannya adalah setiap negara memiliki aturan yang berbeda-beda

“Ada beberapa negara bisa pakai diplomatic channel ada pula yang melalui persetujuan pengadilan sana melalui gugatan. Sehingga sebagian besar negara yang jadi central authority adalah kejaksaan.,” katanya. (min)

Saturday, 17 November 2018 05:49

Tuan Ruma Persela Hempaskan Arema 4-0

LAMONGAN (KORANTRANSPARANSI.COM) - Persela Lamongan membungkam tamunya Arema FC dengan skor 4-0  pada lanjutan Liga 1 yang berlangsung di Stadion Surajaya, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Jumat.

Empat gol tim berjuluk "Laskar Joko Tingkir" tersebut dilesakkan masing-masing oleh Dendy Sulistyawan pada menit 7, Diego Assis (56) dan dua gol oleh Loris Arnaud (66 dan 90+1).

Pada pertandingan derby Jatim itu, kedua tim sama-sama menampilkan permainan apik, terutama di babak pertama. Meski sempat alot, Persela mampu unggul lebih dulu 1-0 melalui Dendy Sulistyawan di menit 7.

Tertinggal satu gol di menit awal membuat tim berjuluk "Singo Edan" Arema FC sempat bermain mengepung pertahanan Persela, dan beberapa peluang tercipta, salah satunya sundulan Nur Hargianto, namun masih membentur mistar gawang.

Hingga babak pertama usai, skor 1-0 masih bertahan untuk keunggulan tim kebanggaan warga Kabupaten Lamongan.

Memasuki babak kedua, diluar dugaan Persela yang sudah unggul satu gol bermain lebih agresif dan melakukan serangan melalui umpan-umpan langsung ke jantung pertahanan Arema.

Tim asuhan Aji Santoso ini semakin percaya diri setelah Diego Asiss mampu menambah angka untuk timnya menjadi 2-0 di menit ke-56 melalui serangkaian serangan dengan meliuk-liuk melewati pemain belakang Arema FC. Kedudukan pun berubah menjadi 2-0.

Langkah Persela semakin agresif, setelah umpan silang Dendy Sulistyawan disambut Loris Arnauld di menit ke-65 dan gol yang menambah pundi angka Persela menjadi 3-0.

Arema bukannya tanpa peluang, melalui kaki Hamka Hamzah sempat mendapat kesempatan, namun tendangan setengah volinya masih bisa diantisipasi kiper Persela Dwi Kuswanto.

Arema FC juga sempat mendapatkan gol melalui Alfin Tuasalamony di menit ke-85, namun dianulir wasit arena sudah terjebak offside.

Persela mengakhiri laga ini dengan manis, setelah Loris Arnauld mampu kembali mencetak gol di menit ke 90+1 atau injury time babak kedua, dan menutup laga dengan kemenangan 4-0.

"Kemenangan telak ini tidak lepas karena kami mematikan langkah pemain tengah Arema FC Makan Konate," kata Aji Santoso, usai laga di Lamongan.

a mengapresiasi permainan anak asuhnya, sebab pertandingan diakuinya cukup seru dan menegangkan karena sama-sama menyerang.

Aji mengaku senang, sebab dengan poin 42 posisi Persela aman di papan tengah.

Pelatih Arema FC, Milan Petrovic mengaku kekalahan ini karena pemain terlambat bermain cepat, sehingga kecolongan gol lebih dulu oleh tuan rumah. "Kami memang tidak beruntung malam ini saat melawan Persela," katanya. (bis/nov)

Page 1 of 1814
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...