Jakarta (Koran Transparansi) - Gubernur Sumbar Prof. Irwan Prayitno didampingi Kepala Biro Humas Setda Provinsi Sumbar Jasman dan Kepala Balitbang Reti Wafda bersama Ketua PWI Pusat Margiono beserta Panitia Pusat HPN 2018 melakukan pertemuan dengan Menteri Sekretaris Negara Pramono Anung membicarakan lebih rinci terkait kedatangan Presiden dan beberapa Menteri Kabinet Kerja ke acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Padang, Sumatera Barat.

Dalam pertemuan tersebut Gubernur kembali memastikan kesiapan Sumbar sebagai tuan rumah penyelenggaraan HPN 2018.  Disamping itu, ada beberapa agenda tambahan, yakni usulan peresmian Pasar Raya Padang.

"Saat kita kemarin di Setneg, peresmian pasar raya Padang belum kita usulkan, namun hari ini surat usulan peresmian pasar raya Padang oleh Presiden langsung kita serahkan ke pak Seskab Pramono Anung. Insyaa Allah Pak Pramono akan koordinasi lagi dengan Pak Pratikno Menteri Sekretaris Negara dan meminta persetujuan Presiden. Mudah-mudahan pak Presiden setuju. Sama-sama berdoa kita, moga pak Presiden berkenan," ujar Irwan Prayitno, Kamis, (18/1).

Lebih lanjut Gubernur juga menyampaikan harapannya agar Presiden berkenan hadir dan bermalam di Sumbar mulai tanggal 7 Februari hingga 9 Februari.

Senada dengan uraian Gubernur Sumbar, Ketua PWI Pusat Margiono sangat berharap Menteri-Menteri banyak yang hadir. Karena konfirmasi terakhir baru 11 Menteri yang telah menyatakan akan datang ke Sumbar. 

Menjawab harapan Gubernur dan Ketua PWI Pusat, Pramono Anung menyampaikan bahwa sebenarnya Presiden berkenan hadir di Sumbar selama dua malam dan akan disiapkan dan dimatangkan. 


"Mudah-mudahan Presiden tidak ada halangan sehingga dapat hadir mulai tanggal 7 Februari 2018 dan pulang tanggal 9 Februari usai upacara puncak" ujar Pramono.

Ditegaskannya, kegiatan Presiden yang telah dimatangkan antara lain Kuliah umum di UNP, peresmian Indarung VI Semen Padang, peresmian jalan by pass, penyerahan massal sertifikat tanah dan agenda agenda lainnya.

Sementara itu Hendri CH Bangun, Sekjen PWI pusat menambahkan bahwa ada hal yang baru, dimana nanti akan dideklarasikan Forum Jurnalis Perempuan di Sumbar. 

"Saat ini kita lagi mematangkan segala sesuatunya tentang acara dimaksud. Jadi di sumbarlah pertama kali muncul Forum Jurnalis Perempuan ini," kata Hendri. (min)

Thursday, 18 January 2018 13:38

Sumenep Siapkan Lahan Baru Landas Pacu Pesawat

Sumenep (Koran Transparansi) - Pemerintah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berencana menyiapkan lahan baru bagi pembangunan landas pacu pesawat di Bandara Trunojoyo.

"Ada empat opsi untuk memperpanjang landas pacu di Bandara Trunojoyo. Kami memilih opsi ketiga, yakni membangun landas pacu baru di lahan yang baru. Posisi lahan baru tersebut di sebelah selatan landas pacu saat ini," kata Bupati Sumenep, A Busyro Karim di Sumenep, Kamis.

Sejak beberapa waktu lalu, Pemkab Sumenep dan otoritas Bandara Trunojoyo menginginkan panjang landas pacu pesawat yang ada saat ini, yakni 1.600 meter, diperpanjang.

Saat ini, landas pacu di Bandara Trunojoyo sepanjang 1.600 meter dengan lebar 30 meter dan rencananya akan diperpanjang menjadi 2.000 meter hingga 2.250 meter supaya bisa didarati pesawat berbadan besar.

Busyro beralasan lebih baik membangun di lahan baru supaya perpanjangan landas pacu tersebut tidak mengganggu bangunan yang berdiri di sisi barat maupun timur landas pacu saat ini.

"Pembebasan lahan baru tersebut tentunya bertahap dan tidak bisa dilakukan satu hingga dua tahun ke depan. Dalam hitungan kami, butuh waktu empat tahun," kata Busyro, menerangkan.

Ia juga mengemukakan, pemilihan opsi membangun landas pacu sepanjang 2.000 meter hingga 2.250 meter di lahan baru itu sudah melalui pembahasan di tim bersama

Sementara Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep, Wahyu Siswoyo menjelaskan, perpanjangan landas pacu tersebut membutuhkan lahan.

Sebelumnya, Otoritas Bandara Trunojoyo mengusulkan empat opsi, yakni memperpanjang di sisi barat landas pacu saat ini, di sisi timur, di lahan baru, dan di kedua sisi (barat dan timur).

"Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Pemkab Smenep untuk menentukan atau memilih opsi, karena lahan untuk perpanjangan landas pacu itu harus disiapkan oleh pemerintah daerah," ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti opsi yang akan dipilihnya untuk memperpanjang landas pacu di Bandara Trunojoyo. 

Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo adalah instansi kepanjangan tangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang berada di Sumenep. (ant/fid)

 

 
Sebuah pabrik Narkoba di Kecamatan Wonoayu Sidoarjo berhasil dibongkar jajaran Polres Sidoarjo. Barang bukti berupa ratusan pil PCC  dan seorang pelau diamankan di Mapolres. 
 
Sidoarjo (Koran Transparansi) - Jajaran Polres Sidoarjo behasil mengungkap pabrik Narkoba 
jenis PCC di Desa Sawocangkring Kecamatan Wonoayu. Salah seoang pelaku berhasil diringkus petugas dan kini digelandang di Mapolres Sidoarjo.  
 
Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Himawan Bayu Aji yang di dampingi Kasat Narkoba Kompol Sugeng beserta jajarannya saat melakukan sidak langsung ke TKP ( Tempat Kejadian perkara) mengatakan penggerebekan  Home industri Narkoba berkat laporan dari masyarakat yang curiga dengan keberadaan aktivitas tersebut. 
 
"Semua ini berkat laporan masyarakat, setelah dilakukan penyidikan akhirnya kami menggelar operasi gabungan antara Satnarkoba polresta sidoarjo dengan polsek wonoayu" katanya".
 
Dalam penggerebekan yang di lakukan pada hari Rabu dinihari ( 17-01-2018 )  berhasil mengamankan barang bukti sebagai berikut : 106 Dos yg sdh di kemas,45 botol pil pcc,dlm hal ini 1 botol isi nya 1000 butir pil pcc,NDP,timbangan,calculator jg mesin pengemas serta pil Somadril. Selain mengamankan barang bukti juga mengamankan seorang tersangka berinisial M ( 52 th)warga wonoayu.
 
Kombes Pol Himawan Bayu Aji menjelaskan hasil penangkapan kali ini akan di kembangkan dengan kasus penangkapan di perum Citra land surabaya, " akan kami pertemukan pelaku dengan pelaku yang di amankan di Surabaya, masih kamu dalami ada tidaknya keterkaitan antara pelaku". Imbuhnya".
 
Sementara untuk pelaku masih kami lakukan penyidikan dan status nya juga sudah jadi tersangka, "  pelaku kami jerat dengan UU kesehatan no 36 th 1996 serta pasal 196,197 KUHP dengan ancaman hukuman 10 th keatas", "tegas kapolresta sidoarjo". (eka/med)

Larangan Singgah di Laut Merah & Jabal Magnet

Laporan Wartawan Koran Transparasi Makin Rahmat dari Arab Saudi 

SELAMA mendampingi jamaah umroh bulan Rabiul Awal (Nopember) dan Rabiul Akhir (Desember) ke Haromain (dua tanah suci Mekah-Madinah) ada beberapa tempat yang saat ini belum bisa disinggahi. Padahal, bumbu dari perjalanan ritual di Madinah al Munawaroh dan umroh di masjidil Haram Makkatul Mukaromah, adalah tempat-tempat yang sangat bersejarah dalam perkembangan Islam. 

Guna mengurai lebih mendalam, Makin Rahmat, wartawan senior korantransparansi.com wartatransparansi.com dan media cetak Koran Transparansi berusaha mengurai di balik larangan dan tindakan apa yang semestinya menjadi perhatian para dlofiullah (tamu Allah SWT) dan tamu Rasulullah SAW. Hal tersebut penting, sehingga travel yang mengantarkan para jamaah harus mencari pilihan alternatif dalam rangkaian padatnya ibadah di tanah suci.

Ustadz Muhammad Mujahid, Tour Leader (TL) senior PT. Arofahmina, travel umroh dan haji plus di Jl. Kartini 84 Surabaya, menandaskan, niat tulus dan pemahaman secara utuh sebagai dloifullah dan mempersiapkan bekal taqwa saat menjalankan ibadah umroh, menjadi prioritas utama dengan tetap memberikan pelayanan yang aman, nyaman, menyenangkan dan memberikan kenikmatan. 

“Pengalaman sebagai TL umroh memang banyak lika-likunya, karena fakta di lapangan sering terjadi hal-hal yang diluar prediksi dan jadwal yang kita rancang. Mulai dari masalah transportasi, akomodasi, penginapan (hotel) hingga teknis saat beribadah di Madinah dan Mekah. Contoh sederhana, kamar hotel yang berpencar atau tersebar di beberapa lantai, tentu bakal menambah ekstra pengawasan. Belum lagi ketika jamaah kesasar. Jadi, semua harus dihadapi dengan telaten, sabar, dan bisa ngemong jamaah,” paparnya.

Ustadz yang juga Ketua Kordinator para Hafidz (penghafal Alquran) di Surabaya ini, tetap yakin kalau situasi jamaah saat di Haromain diperlukan kordinasi yang intens, terutama peran di muthowif (guide) yang mendampingi secara teknis kepada jamaah. Pemahaman ini perlu, karena karakter jamaah menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk menjaga keutuhan, kekompakan, dan kebersamaan jamaah dalam pelaksanaan program.

“Selama ini, buku panduan yang dibagian kepada jamaah jarang yang membaca, apalagi merasa ikut aktif. Jadi, TL dan muthowif harus terus mengingatkan dan mengumunkan kembali kepada jamaah, baik secara door to door, lisan atau melalui group WA yang telah dibentuk. Intinya, komunikasi interaktif harus terus terjalin. Soal, larangan jamaah tidak boleh ke Jabal magnet saat di Madinah, kita harus update (mencari informasi terkini), mengapa dilarang,” kata Ustadz Mujahid.

Dari informasi para partner travel yang ada di Haromain, dan pengumuman langsung dari pengelola dua tempat suci Mekah-Madinah, pendamping jamaah harus bisa mencari solusi terbaik dan mengatur kondisi tetap kondusif dan tentram. Maksudnya, kalau di Madinah belum bisa mengunjungi kawasan Mantiqo baidlo’ (daerah putih) yang dikenal sebagai gunung (jabal) magnet harus disampaikan kondisi yang sebenarnya kepada jamaah. “Ternyata, sopir resmi dari perusahaan (muasasah) yang dilarang singgah, sehingga jamaah yang memang ngebet ingin ziarah ke jabal magnet bisa menyewa kendaraan setiap saat yang ada di sekitar masjid Nabawi. Per orang bisa kena 30-40 real. Kalau tarif jamaah atau rombongan, mobil Hiace bisa meminta 300 real pulang pergi. Untuk bus, bisa 1.000-1.200 real. Jadi, harus fleksibel. Sopir resmi dari muasasah sendiri, seperti Rawahel kalau melanggar kena denda dan ancaman ijin kerja (Ighomah) bisa dicabut,” paparnya.

Sebenarnya, selama di Madinah, tempat yang saat ini menjadi idola, selain kenikmatan ziarah ke makam Rasaulullah SAW, Raudlo (tempat mustajabah), ziarah ke masjid Quba, ke Suhada Uhud (pejuang perang Uhud), adalah museum Asmaul Husna dan Museum Al-Quran. Dua tempat yang berdempetan dengan pintu nomor 5 dan 13 ini menjadi jujugan di waktu pagi maupun sore hari. Karena berjubelnya pengunjung, penanggung jawab  dua museum akhirnya memberlakukan jadwal kunjung melalui WA, sehingga tidak menumpuk dari travel mana. 

Tempat idola lain yang sebelumnya nyaris tidak pernah terlewatkan oleh jamaah, adalah ziarah ke percetakan alquran. Percetakan terbesar di dunia dan menghasilkan produk mushaf Alquran terbaik tersebut selalu memberikan souvenir kepada pengunjung pria da nada kesempatan membeli di dept store percetakan dengan harga lebih murah. “Sayang, tempatnya masih direnovasi. Era raja Salman ini, memang kota Madinah dan Mekah terus berbenah.”

Larangan ke Laut Merah

Hampir semua jamaah umroh ketika ditanya suasana beribadah di Mekah dan Madinah, menyatakan, ibadah di Madinah lebih tertib, dan suasana lebih hikmah. Mulai masuk masjid Nabawi, sudah terkondisikan antara jamaah pria dan perempuan, sehingga konsentrasi petugas untuk mengatur atau mengawasi jamaah lebih fleksibel. Baik di sektor kanan-kiri masjid semua sudah teratur, mulai dari areal khusus perempuan di halaman masjid sampai di dalam masjid.

Pengakuan senada disampaikan H. Edy, jamaah asal Mojokerto. Pengusaha sayur-mayur ini rutin mengajak keluarganya umroh. Kebetulan di bulan Nopember 2017, ada 12 orang yang ikut. “Nggak tahu bagaimana menceritakannya, pokoknya kalau di Madinah, rasanya kok lebih nikmat. Apalagi, saat di Roudlo, pinginnya berlama-lama. Sedang di Mekah, kesannya semrawut karena jamaah pria dan wanita masih bisa membaur, baru saat menjelang shalat ada penertiban. Belum lagi, jamaah yang melakukan thowaf. Jadi, sering bikin bingung jamaah, terutama yang baru pertama umroh. Untungnya, ikut travel Arofahmina, TL-nya oke dan lebih perhatian dalam pendampingan jamaah,” katanya.

Dibenarkan H. Nurtanio, saudara Abah Edy, bahwa usai melaksanakan rangkaian ibadah umroh di Mekah, saat kepulangan ke tanah air, jamaah biasanya mampir ke kawasan bisnis Ballad dan Chornice di Jeddah dan singgah di masjid terapung Rahmah atau laut merah. Sayangnya, mulai musim umroh ini ada larangan untuk singgah dan melewati jalur Laut Merah. Anehnya, sopir yang biasa mampir pun enggan untuk menuruti jamaah karena ancaman denda bigitu besar. 

“Kemarin ada teman sopir nekad lewat ke jalur Laut Merah, kebetulan ada patrol langsung nopol busnya difoto dan dikirim ke kepolisian setempat, tidak berselang lama sudah ada laporan kalau sopir tersebut kena denda 2.000 real. Bahkan, kalau sampai melanggar lagi, surat izin kerja (ighomah) akan dicabut dan dipulangkan paksa ke Negara asal. Ya, akhirnya para sopir pilih cara aman, walau ada tambahan tip dari jamaah,” kata Lalu, coordinator sopir dari perusahaan Rawahel.

Sebagai pengganti, kalangan TL, muthowif dan pengelola jamaah umroh mulai melirik destinasi lain yang tidak jauh dari rute kepulangan. Salah satu tempat yang mulai disinggahi jamaah, adalah museum Alamoedi, Mekah. Sebetulnya, ada beberapa lokasi pilihan seperti pabrik parfum, museum al-Syareef dan ziarah ke Thaif.

Tapi, museum Alamoedi berlokasi di kawasan Shumaysi, Kubri, Mekah, Saudi Arabia ini banyak memberikan tambahan pengetahuan dan hiburan bagi jamaah. Selain, bangunan antik dari tanah liar dan ornament kuno. Pemiliknya memang punya selera seni luar biasa, karena mampu mengumpulkan beberapa benda bersejarah seperti duplikat pedang Umar bin Khattab, cara memanah, senjata buruan, pakaian ala Arabia, dan benda-benda bersejarah. 

Hijran, muthowif asal Lombok menganggap museum Alamoedi lebih pantas dikunjungi. “Bisa dilihat sendiri, begitu lengkapnya sarana yang ada. Saya yakin, jamaah pasti senang. Jadi, ada pengganti bagi jamaah ketika tidak boleh singgah di Laut Merah,” katanya.

Mengapa, jamaah dilarang singgah di Laut Merah? Informasi yang digali menyebutkan, kawasan yang ditata sebagai areal wisata dan tempat pelepas lelah ini menjadi destinasi bagi masyarakat Jeddah dan sekitarnya. Jadi, khusus hari Jumat, Sabtu dan Ahad (Minggu), lokasi Laut Merah padat dikunjungi jamaah umroh yang transit sebelum menuju ke bandara Jeddah. 

Konon, karena ada jamaah yang usil dan membuat perayaan ulang tahun dengan menyalakan lilin dan kue ultah, selain menganggu warga Jeddah yang ingin menikmati Laut Merah. Perayaan berbau nasrani dan yahudi ini tentu membuat masyarakat terusik dan terekam sehingga dilaporkan pejabat pemerintahan setempat sampai akhirnya terbit larangan bagi kendaraan jamaah umroh melewati kawasan Laut Merah.

Dari peristiwa di atas, sebetulnya menjadi ibrah (pelajaran) bagi jamaah umroh yang telah menjalani gemblengan sebagai tamu Allah dan Rasulullah. Sebagai dloifullah, tentu juga mengikuti etika dan tata cara yang tidak bersinggungan dengan tuan rumah. Begitu pula, ketika jamaah ada di tempat yang diminta masyarakat setempat. Lebih penting, ada peran pemerintah menjadi penyeimbang dan mensosialisasikan efek dari prilaku yang tidak sejalan atau berseberangan dengan kerajaan Saudi Arabia. Semoga membawa manfaat. Aamiin. (*/mat)

 

Page 1 of 1299
banner