Probolinggo

Published in Probolinggo

Khofifah : Masyarakat Jangan Terpancing Bom Terminal Kampung Melayu

May 25, 2017 Publish by 
Mensos RI Khofifah indar parawansa Minta masyarakat tidak terpancing ledakan bom terminal kampung melayu yang bisa memperkeruh suasana
Mensos RI Khofifah indar parawansa Minta masyarakat tidak terpancing ledakan bom terminal kampung melayu yang bisa memperkeruh suasana

Probolinggo (KT) - Ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur menjadi perhatian sejumlah kalangan.  Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa, berharap agar semua pihak tidak terpancing secara berlebihan atas kejadian tersebut.

"Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing," katanya saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

Mensos menjelaskan, saat ini masyarakat begitu mudah terpancing menanggapi sesuatu hal sehingga membuat suasana semakin keruh. Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. "Makanya jangan terpancing," pintanya.

Selain itu, peristiwa ini semakin menguatkan peran penting ulama maupun tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat dan generasi kita agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

"Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini. Misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?" tanya Khofifah yang dijawab "Tidak!" secara serentak oleh para santri dan hadirin.

Mensos menjelaskan,  ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

"Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku 'trahnya' NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita," tegas Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. "Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya Ponpes ini," katanya.

Begitu juga saat pertemuan terbatas antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Khofifah menjelaskan bagaimana keikhlasan para Kyai yang ikut berjuang demi kemerdekaan Repubik Indonesia.

"Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Bahkan banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa," papar Khofifah. (Zal/Abn)

banner

> BERITA TERKINI lainnya ...