Malang

Published in Malang

Sidang Kedua Dugaan Penipuan, Kuasa Hukum: Jaksa Tidak Membantah Eksepsi Kami

Oct 30, 2017 Publish by 
Sumardhan,SH kuasa hukum terdakwa TimotiusTonny Hendrawan saat memberikan keterangan kepada wartawan usai persidangan.
Sumardhan,SH kuasa hukum terdakwa TimotiusTonny Hendrawan saat memberikan keterangan kepada wartawan usai persidangan. KT/yat

MALANG (KT) - Sidang lanjutan kasus dugaan penipuan dan penggelapan terdakwa Tony Hendrawan Tanjung alias Timotius Tonny HR alias Apeng, (52), warga Pondok Blimbing Indah, dan Jl. Puri Palma, RT 007 / RW 11, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, kembali digelar di Pengadilan Negeri Malang, Senin (30/10/2017).

Usai dibuka ketua majelis hakim rightmen situmorang sekitar pukul 14.00 WIB, jaksa penuntut Umum (JPU), Trisno Wulan langsung membacakan tanggapan atas eksepsi yang diajukan pihak terdakwa, pada sidang sebelumnya.

"Tadi jaksa menggunakan keberatan yang tidak masuk pada pokok perkara. Yang dimaksud yuris prudensi, adalah perkara yang tidak diatur dalam UU, jadi secara umum tidak keberatan dengan eksepsi yang kami sampaikan pada sidang sebelumnya," ujar Sumardan, kuasa hukum terdakwa, usai persidangan.

Sumardhan melanjutkan, JPU juga tidak membantah adanya tersangka 2 dan 3. Selain itu, jaksa tidak membantah surat dakwaan kabur dan mempertanyakan kenapa hanya 1 orang saja, yakbi Apeng yng ditetapkan sebagai tersangka.

"Ini membuktikan bahwa dia (tersangka 2 dan 3) tidak bisa berkelit dari fakta yang sudah ada," imbuhnya.

Sementara mengenai Yurisprudensi, Sumardhan menjelaskan: "Yurisprodensi  itu sesuatu yang baru dan tidak diatur UU (Undang-Undang) sedangkan yang kita persoalkan Pasal 81 Hukum Pidana yang jelas diatur oleh UU. Yakni apabila terjadi konflik perdata maka pidana dihentikan.  Ini adalah masalah perdata,"tegasnya.

"Bahkan kami sudah menggugat kelebihan uang Rp 11,1 miliar yang menjadi hak klien kami,” paparnya.

Terkait sertifikat 102  yang didakwakan oleh JPU, menurut Sumardhan masih merupakan hak milik Apeng. “Sampai sekarang milik klien saya dan  sudah dikembalikan oleh Chandra. Bahkan saat ini masih ada sisa uang milik klien saya  sebesar Rp 11,1 miliar. Ini bukanlah pidana melainkan perdata karena hutang piutang,” tandasnya. (Yat).

banner