Madura

 Rofiqi, pria asal Dusun ZAngsana Sumenep ini kahirnya harus meringkuk di kamar tahanan akibat ulahnya, pengguna sekaligus pengedar barang haram.

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Rofiqi Bin Musahwi, (44), pria asal Dusun Angsana, Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, meratapi nasipnya dibalik Jeruji Besi akibat perbuatannya jadi budak narkoba.

Satreskoba polres sumenep menangkap pria belum tamat SMA ini pada jumat, 13/4/ 2018 sekira pukul 21.00. Lantaran kedapatan mengkonsumsi narkoba jenis sabu.

Penagkapan terhadap terlapor berdasarkan Informasi dari masyarakat bahwa terlapor sering melakukan transaksi dan mengkonsumsi sabu dirumah nya.

Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Abd Mukit dalam keterangan rilisnya yang diterima korantransparansi.com mengatakan,

"Penangkapan tersebut berdasarkan laporan dari masarakat, bahwa terlapor akan bertransaksi sabu serta mengkonsumsi dirumahnya. Atas laporan tersebut maka petugas melakukan penyelidikan intensif terhadap terlapor," Sabtu,14/4/2018.

kata mukit, petugas langsung melakukan penggerebekan disertai penggeledahan dan ditemukan barang bukti narkoba jenis sabu dan seperangkat alat bisapnya, pada ruang tamu terlapor.

Setelah ditunjukkan kepada terlapor mengakui bahwa barang haram tersebut adalah miliknya.

"Selanjutny terlapor berikut barang buktinya diamankan oleh polisi guna penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut," Ungkapnya.

Andapun barang bukti yang disita oleh polisi berupa 2 (dua) poket/kantong plastik klip kecil berisi Narkotika jenis sabu masing-masing berat kotor ± 0,30 gram, 0,19 gram (berat keseluruhan ± 0,49 gram). 1 (satu) buah pipet terbuat dari kaca didalamnya terdapat sisa Narkotika jenis sabu dan Seperangkat alat hisap 

Atas perbuatannya terlapor dijerat dengan pasal 114 ayat (1) subs. Pasal 112 ayat (1) UU 35 Tahun 2009 ttg Narkotika dengan acama hukuman paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp 800 juta rupiah dan paling banyak Rp 8 miliar rupiah (fidz).

Foto : Kadis Perikanan Kabupaten Sumenep Arief Rusdi

SUMENEP (KoranTransparansi.com) - Rusaknya terumbu karang dan ekosistem keberlangsungan ikan di perairan Talango Sumenep, akibat pencari ikan luar daerah sumenep yang menggunakan alat sarka' (cakar) itu sejak beberapa tahun yang lalu hingga baru-baru ini terkesan dibiarkan oleh yang berwajib.

Hal itu memprihatinkan banyak kalangan, terutama aktivis nelayan dan tokoh masyarakat dilingkungan kecamatan Talango, kabupaten Sumenep, Madura, yang saat ini mendatangi Dinas perikanan sumenep untuk menyatakan sikap menolak keras pengguna alat sarka' (cakar) yang merusak keaneka ragaman hayati laut terutama diperairan talango, Jum'at, 13/04/2018.

Sunahmanto, perwakilan sejumlah nelayan usai audensi di kantor Dinas perikanan sumenep mengaku sangat prihatin atas insiden tersebut.

Kita datang kesini (Dinas Perikanan,red), untuk menyatakan sikap penolakan,” tegasnya.

Ia mengatakan, beberapa hari lalu, kita amati ada sekitar 50 jaring sarka’ beroperasi di perairan Talango, mereka semua berasal dari nelayan Kecamatan lain,” imbuhnya.

Diketahui, di perairan Talango ada kawasan konserfasi padang lamun yang mendapatkan atensi dari Provinsi, sehingga dikhawatirkan akan merusak kawasan tersebut.

“Itu dikhawatirkan dapat merusak konserfasi yang kami rintis, oleh karenanya kami menggalang dukungan untuk gerakan peduli laut, bahkan kami di dukung 4 kepala Desa setempat,” tandasnya.

Pihaknya berharap ada langkah tegas dari pihak terkait, dalam hal ini Dinas Perikanan dan Polairud, kita akan sampaikan surat ini (pernyataan sikap) ke mereka.

Kepala Dinas Perikanan Sumenep, Arief Rusdi mengatakan, berdasarkan UU nomor 23 tahun 2014 terkait laut 0 sampai 12 Mil sudah bukan menjadi kewenangan Kabupaten melainkan sudah menjadi tanggung jawab Provinsi.

Persoalan alat tangkap sarka’, Arief menegaskan bahwa alat tersebut bukan merupakan alat terlarang (legal), artinya sesuai aturan alat tersebut diperbolehkan digunakan nelayan dengan beberapa ketentuan.

“Sarka’ ini kan ada dua macam, ada sarka’ aktif dan sarka’ yang pasif, alat sarka’ aktif pengoperasiannya menggunakan mesin, sementara yang pasif yang menggunakan tenaga tangan itu, seperti yang kerap digunakan nelayan kita,” terangnya.

Arif melanjutkan, sesuai aturan alat sakra’ aktif yang menggunakan tenaga mesin diperbolehkan beroperasi pada lokasi 1B (2,5 Mil kedepan), sementara untuk yang pasif bebes, karena pengoperasiannya manual dengan menggunakan tenaga manusia.

“Sarka’ pasif tidak apa-apa digunakan karena menggunakan tenaga manusia, kan tidak merusak itu, ini yang perlu diberikan pemahaman untuk nelayan,” bebernya.

Namun, jika ditemukan pelanggaran dari penggunaan alat tersebut, semisal sarka’ aktif beroperasi di pinggiran, nelayan bisa melaporkan ke Polairut, termasuk ke Provinsi. Atau paling tidak ke Polsek terdekat.

“Kami tidak punya wewenang apa-apa, jika ditemukan pelanggaran langsung saja laporkan ke yang berwajib yaitu Polairut, ke provinsi atau bisa Polsek disana,” tuturnya.

Akis Jazuli angota komisi  II DPRD sumenep sangat menyayangkan Polairud dan Dinas Perikanan sumenep apa bila seolah-olah terkesan membiarkan begitu saja terkait laporan masyarakat nelayan yang dilakukan para oknum  dalam menangkap ikan menggunakan alat sarka' (cakar) di perairan talango.

"Kalau jelas - jelas ada temuan pelanggaran yang merusak terumbu karang dan ekosistem keberlangsungan ikan diperairan talango, kami lembaga DPRD Sumenep sangat mendukung tindakan yang menyatakan sikap menolak keras insiden tersebut" kata politisi muda Akis Jazuli yang bersentuhan langsung dengan masyarakat dilingkungannya saat dikonfirmasi korantransparansi.com.

Ia menbahkan seharusnya pemerintah daerah atau pemprof sekalipun itu harus proaktif melakukan pengawasan khusus langsung kelapangan.

"Laporan warga itukan laporan sangat valid, sebab nelayan itu sumber perekonomiannya dilaut" tegasnya (fidz).

Sebanyak orang tewas seketika disemuah sumur tua. Diduga Sumur tersebut mengandung racun . Sementara polisi masih melakukan penyelidikan atas kasus ini.

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Sebanyak empat orang warga Kecamatan Batuputih Sumenep ditemukan tewas seketika dalam sebuah sumur tua. Mereka ditenukan pada Kamis (12/4/2018) sekutar pukul 22.30. Belum diketahui tewasnya empat warga desa tersebut apakah karena keracunan atau ada faktor lain.

Ke empat warga yang tewas  tersebut diantaranya Tosan (45), warga Dusun Mongguk, Desa Juruan Daya dan Sugik (27), Junaidi (28), Sumahbi (47), ketiganya merupakan warga Dusun Muraas, Desa Badur, Kecamatan Batuputih, keempatnya warga tersebut dalam kondisi terbujur kaku dan saling berpelukan. Polisi masih melakukan penyelidikan.

Kasubag humas Polres Sumenep AKP Abd Mukit dalam keterangannya mengatakan, Kejadian naas tersebut bermula saat Tosan bersama anaknya Tikyono hendak menurunkan Pompa Air kedalam sumur untuk mengalirkan air ke sawahnya. Diduga mengalami keracunan.

"Tosan bertugas menurunkan pompa tersebut, setelah sampai didalam sumur tosan lalu menghidupkan mesin pompa tersebut, kemudian tosan naik lagi ke atas sumur untuk memastikan airnya sudah mengalir apa belum" kata Mukit Jumat, 13/4/2018.

 Mukit menjelaskan, setelah Tosan turun lagi ke dalam sumur dengan membawa sebatang bambu untuk digunakan penyanggah mesin pompanya agar tidak jatuh.

Tiba-tiba saat tosan berada didalam sumur dirinya merasa pusing dan sesak nafas dan mesin yang semula hidup dimatikan oleh tosan.

Anaknya (Tikyono) yang sedang berada diatas tiba-tiba mendengar suara rintihan didalam sumur, sontak dirinya memanggil bapaknya yang mengerang keskitan namun tidak ada jawaban dari bapaknya, selain itu Tukyono mendengar ada sesuatu yang jatuh kedalam air dan tiba-tiba mengeluarkan asap.

"Tikyono panik lalu berteriak dan meminta pertolongan kepada warga sekitar" terangnya.

Selang beberapa menit datanglah Masrono yang kala itu sedang mengendarai motor, karena mendengar ada orang yang meminta pertolongan.

"Marsono berusaha menolong dangan masuk kedalam sumur namun dirinya merasa pusing lalu dirinya naik lagi dikarenakan tidak kuat menahan pusing" lanjutnya.

Saat itu datanglah Sugik dan Junaidi untuk ikut membantu, dan keduanya berbarengan turun kedalam sumur.

"Ditunggu beberapa lama keduanya tidak kunjung keluar dari dalam sumur", imbuhnya.

Kemudian datang lagi sumahbi ikut  membantu dan dirinya juga masuk kedalam sumur, dirinya juga tak kunjung kembali setalah ditunggu selama sepuluh menit.

Kemudian sekira pukul 20.30 Wib, keluarga korban meminta tolong kepada Sapran (44), warga Susun Parebeab, Desa Nyabakan Timur, untuk mengeluarkan jenazah korban dari dalam sumur.

“Lalu pada 22.00 Wib, seluruh jenazah korban akhrinya bisa dikeluarkan dari dalam sumur dan bisa dibawa ke rumah masing-masing. Dari pihak keluarga juga menolak untuk di visum,” tuturnya

Saat ini Polisi tengah melakukann penyelidikan dan mengamankan sumur tua tersebut apakah betul sunur itu mengndung racun atau ada faktor lain. Sejauh ini juga sudah meminta keterangan keluarga korban. (fidz)

Gadis belia berusia tujuh tahu  bernama Bunga (samaran) menjadi korban nafsi bejat seorang duda beusia 58 tahun setelah skian lama ditinggal istrinya meninggal. KIni Musak, pelaku asusila itu ditahan polisi.

 

SUMENEP (KoranTransparansi.com) - Para orang tua yang merasa punya anak perempuan dibawah usia remaja harus lebih waspada. Pasalnya, kasus pencabulan di kota yang taat beribada di Sumenep  makin sering terjadi. Terakhir menimpa pada bocah berusia 7 tahun. Sebut saja namanya Bunga (samaran).

Bunga menjadi korban nafsu bejat seorang kakeh berusia 58 tahun. Namanya Musaka. Ironisnya, Musaka adalah orang sehari hari sudah dikenal oleh korban. Ini terjadi di  Desa Tambak Agung Ares, Kecamatan Ambunten, sumenep, Kamis 12/04/2018 tersangka melampiaskan nafsu libidonya sebanyak 10 kali.

Akibat dari kejadian itu, kakek tersebut ditangkap polisi. Pelaku pun terancam dipenjara 15 tahun atas kasus pencabulan anak di bawah umur.

Wakapolres Sumenep, Kompol Sutarno mengatakan, tersangka merasa kesepian setelah istrinya meninggal dunia setahun lalu. Kemudian tersangka melampiaskan nafsu libidonya kepada anak-anak.

“Iya mungkin dikarenanakan anak-anak tidak akan melawan dan juga gampang diajak untuk memenuhi keinginan tersangka,” ujar Sutarno, saat konferensi pers di Mapolres Sumenep, Kamis 12/04/2018 siang.

Sutarno menjelaskan kronologis pencabulan itu saat korban bersama ibunya datang ke rumah tersangka untuk nonton TV. Kemudian korban mengeluh lapar. Lalu, tersangka mengajak korban ke dapur untuk makan.

Sesampainya di dapur tersangka mengajak korban ke tempat tidur di dekat dapur. Di tempat tidur tersebut tersangka menyingkap rok dan melepas celana dalam korban.

Setelah terlepas, kemudian tersangka menyingkap sarungnya dan juga menempelkan alat vitalnya yang sudah tegang ke paha, dan kemaluan bocah bau kencur itu.

Tak puas, tersangka lalu menggesek-gesek kemaluannya pada paha dan organ vital korban. Namun, perbuatan tersangka tersebut di ketahui oleh ibu korban, sehingga tersangka tidak sampai memasukkan kemaluannya ke dalam organ vital bocah tersebut.

"tersangka merasa kesepian setelah istrinya meninggal dunia setahun lalu. Kemudian tersangka melampiaskan nafsu birahinya kepada anak-anak" jelasny kepada media.

Dati kasus tersebut akhirnya polisi menyita barang bukti (BB) berupa sprei warna orange milik tersangka, baju warna hijau motif batik lengan pendek milik korban dan baju lengan panjang.

Karena kebejatannya, kakek yang bekerja sebagai petani ini terancam hukuman 15 tahun penjara (fidz).

Dinasnakertrans Provinsi Jatim melakukan prlatihan wirausaha yang diikuti 50 orang yang di pusatkan di Sumenep

Sumenep (KoranTransparansi.com) – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur melakukan pelatihan kepada 50 wirausaha mandiri di Sumenep, Madura, jawa timur, sejak Rabu 11-13/04/2018 di Aula Hotel Utami Sumekar Sumenep. 

Pelatihan peningkatan penguatan keunggulan lokal bagi penduduk potensial melalui wirausaha mandiri di jawa timur angkatan II. UPT. Pelatihan ketransmigrasian dan kemasyarakatan dinas tenaga kerja dan transmigrasi provinsi jawa timur, yang ditempatkan di sumenep itu diikuti ibu dan bapak rumah tangga dan para pemuda yang berminat menggeluti dunia kewirausahaan. 

Kepala Disnakertrans Sumenep Mohammad Fadillah saat memberikan sambutan mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak terutama kepada Disnakertrans provinsi jawa timur yang telah dipercaya menjadi tuan rumah di kabupaten sumenep dalam kegiatan tersebut. 

“dari 50 peserta yang hadir  saat ini adalah bentuk keseriusan disnakertrans provinsi jatim  untuk membangkitkan perekonomian daerah dan mengurangi angka pengangguran" tuturnya saat memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan keunggulan lokal wira usaha mandiri angkatan II.

Fadillah menambahkan bahwa kegiatan yang  dilakukan Disnakertrans sumenep dan provinsi jatim guna meningkatkan SDM dan adanya bekal, baik itu secara tehnis dalam pelatihan yang berlangsung. 

Kepala Disnakertrans provinsi Jatim melalui Syaiful, Plt. Kepala Upt. Pelatihan transmigrasi dan masyarakat disnaker jawa timur mengatakan ini adalah salah satu bagian untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di jawa timur.

"ini untuk meningkatkan kompetensi lokal wira usaha mandiri. Sebab angka pengangguran di jawa timur saat ini mencapai sekitar 800.000 angka penganggurannya" terangnya.

Syaiful melanjutkan semuga adanya pelatihan ini bisa bermanfaat bagi semua peserta bapak ibu dan pemuda yang jadi peserta pelatihan ini.

"Mengingat banyaknya tenaga migran di jatim itu sekitar tiga ribu enampuluh sembilan, sedangkan kuota atau alokasi yang diberikan pusat hanya sekitar enam puluh lima kk" katanya saat diminta keterangan korantransparansi.com.

Sehingga menurut keterangan Syaiful, masih banyak para pendaftar yang belom masuk tenaga migran, untuk itulah kami memberikan solusi sambil menunggu peluang yang lainnya.

Ia berharap dengan adanya pelatihan ini para peserta bisa memanfaatkannya dan supaya ada gairah wira usaha mandiri yang terus dikembangkan.

Subiyani, S. Sos. MM. Sebagai Ketua pelaksana menerangkan dalam pelatihan ini  Turut hadir kepala Disnakertran migrasi provinsi jatim yang diwakili bapak Syaiful, Plt. Kepala Upt. Pelatihan transmigrasi dan masyarakat disnaker jawa timur, Kadisnakertrans Sumenep, dan Suhardi ketua Upt. BLK Disnakertrans sumenep  (fidz).

Rektor Unija Dr Alwiyah

SUMENEP (KoranTransaransi.com) – Rektor Universitas Arya Wiraraja (Unija) sumenep, Dr. Alwiyah, S.E. MM. mengundurkan diri dari jabatannya, Senin, 9/4/2018.

Pantauan korantransparansi.com mencuatnya informasi itu ada dua surat pengunduran diri yang dilayangkan Alwiyah kepada Yayasan Arya Wiraraja.

Pertama tertanggal 6/4/2018. Dalam surat tersebut disampaikan, ada ketidak harmonisan antara Rektor dan Ketua Yayasan Arya Wiraraja.

Salah satu indikasinya, dibentuk Tim Penyusunan Rancangan Perubahan Statuta tanpa melibatkan Pimpinan Universitas, Lembaga, dan Biro sebagai pelaksana akademik.

"Dengan pertimbangan tersebut di atas, Alwiyah menegaskan saya tetap menyatakan mengundurkan diri sebagai Rektor Universitas wiraraja sejak tanggal 9/4/2018" isi suratnya.

Untuk surat pengunduran diri kedua Alwiyah, yang tetap menegaskan bahwa dirinya bersikukuh untuk mundur dari jabatan rektor.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Yayasan Arya Wiraraja, Kurniadi Wijaya membenarkan bahwa pihaknya telah menerima surat pengunduran diri Alwiyah sebagai rektor. Surat pengunduran diri itu diserahkan dua kali.

Namun saat itu juga, surat langsung dikembalikan. Dengan demikian, yayasan menolak surat pengunduran diri tersebut.

"Kami masih sayang dengan Bu Rektor. Kami ingin, Bu Alwiyah tetap memimpin Unija. Karena itu, kami mengembalikan surat pengunduran diri itu. Dan saat itu sudah tidak ada masalah. Kami sudah guyon-guyon. Tapi entah kenapa, tiba-tiba tanggal 8 malam, ada surat pengunduran diri lagi," paparnya, Selasa (10/04/2018).

Ia mengaku belum memberikan jawaban resmi terhadap surat pengunduran diri tersebut. Tetapi ia menepis adanya ketidak harmonisan Ketua Yayasan dengan Rektor seperti yang tertulis dalam surat pengunduran diri Alwiyah.

"Ini ibarat bertepuk sebelah tangan. Saya merasa hubungan dengan Bu Alwiyah sangat harmonis. Tetapi ternyata Bu Alwiyah merasa tidak harmonis dengan yayasan," ujarnya.

Sebagai Ketua Yayasan, Kurniadi bersikukuh tidak ada masalah dengan rektor. Buktinya, apapun yang diminta rektor untuk kepentingan akademik selalu dipenuhi oleh yayasan.

"Kalau Rektor dan Ketua Yayasan tidak harmonis, mustahil Unija bisa dapat berbagai penghargaan. Saya tegaskan sekali lagi, saya sebagai Ketua Yayasan, merasa memiliki hubungan yang harmonis dengan Rektor," tegasnya kepada media saat diminta keterangan (fidz).

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...