Madura

Kantor Diknas Pendidikan Kabupaten Sumenep

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep menganggap Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep gagal dalam melaksanakan program Madrasah diniyah. Padahal anggaran untuk program tersebut telah disediakan melalui APBD. Besaranya mencapai Rp 1 miliar.

Program  Madrasah Diniyah dianggap menjadi unggulan  Bupati Sumenep KH. A. Busyro Karim, M. Si dn didukung DPRD

"Realitasnya Dinas Pendidikan Sumenep tidak maksimal melaksanakan program ini, ini kan sejak tahun 2016 dan pilot projecnya wilayah kota, namun sampek saat ini tidak ada tanda-tanda program tersebut berjalan dengan baik" kata sekretaris DPKS Sumenep, Mohammad Suhaidi, M. Th.I saat diminta keterangan korantransparansi.com, rabu, 18/04/2018.

"Kami mempertanyakan itu ke Diknas, mengapa program Wajib Belajar Pendidikan Madrasah Diniyah itu gagal dilaksanakan, jangankan sekabupaten sumenep, diwilayah kota saja tidak ada bukti dan tidak dirasakan sama sekali. Bukankah itu Perbub nomer 15 tahun 2016?" papar sekretaris DPKS sumenep itu.

Masih kata Suhaidi, empat bulan yang lalu DPKS sudah menyusunkan draf petunjuk teknis Madin, karena DPKS menilai juknis progam wajib Diniya itu tidak jelas selama ini.

"Kami DPKS sudah maksimal berusaha dan berikhtiar, berdiskusi menyusunkan draf itu kemudian untuk diserahkan kepada Dinas Pendidikan, tetapi sampai saat ini tidak dijalankan dengan baik sehingga program ini amburadul" tegasnya.

Parahnya lagi program unggulan Bupati sumenep yang diberikan kepada Dinas pendidikan itu tidak adanya kurikulum yang jelas, tim pengembangan madin yang dimandatkan dalam perbub itu tidak dilaksanakan oleh Dinas pendidikan.

"Ini namanya pengingkaran terhadap Perbup yang disengaja sehingga program ini tidak jalan, serta tujuan dari program tersebut tidak tercapai," .

Tambahnya, semakin menegaskan kalau dinas pendidikan sumenep ini terseok-seok sebab sampai saat ini belum tercetaknya buku panduan Madin dilingkungan dinas pendidikan.

"Kalau begini kami DPKS memintak kepada Bupsti KH. A. Busyro Karim untuk mengefaluasi penanggung jawab program ini di dinas pendidikan" tuturnya.

Sementara saat konfirmasi terpisaha Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kabuparten Sumenep Drs. Fajarisman, MH, kepada media ini menerangkan, selasa,17/04/2018 diruangannya sekira jam 9.00 pagi.

Pelaksana Program Wajib Belajar Pendidikan Diniyah yang dilaksanakan di tingkat SD di Kecamatan Kota Sumenep sudah terlaksana dengan baik.

"Alhamdulillah untuk yang ula/SD sudah berjalan dengan lancar, artinya sudah melakukan program wajib belajar diniyah" tuturnya.

Fajarisman menambahkan, program Wajib Belajar Pendidikan Diniyah tersebut dikembangkan di sekolah SD di sejumlah Kecamatan kota Sumenep, diantaranya SD Bangselok, pabian, pajagalan, pangarangan, kebunan.

Disinggung untuk pengembangan wajib diniyah di pedesaan, Fajarisman mengatakan kalau dipedesaan itu sudah ada sebagaimana yang sudah berjalan.

"Kita hanya menyempurnaka penguasaan pengetahuan keagamaan anak-anak kita, artinya fokus ke-Madrasah" jelasnya.

Kata Fajarisman, sesuai petunjuk Bupati pelaksanaan program itu dimulai ada hari Senin, selasa dan rabu, dan pihaknya berharap agar tidak ada les atau tugas dari guru sekolah asalnya, sehingga tidak mengganggu wajib diniyah.

Disinggung petunjuk teknis program tersebut sudah ada dan dinas pendidikan sudah memberikan pada tenaga pengajarnya.

"Petunjuk teknis itu kan bentuknya arahan, perbupnya ada, disdik sudah memberikan dalam bentuk edaran, namun petunjuk teknis yang sempurna masih dalam proses" katanya.

Ditanya buku panduan wajib belajar diniyah, buku panduan masih proses, tetapi buku yang ada disekolah diniyah itu masih nyambung.

"Karena ini program pemerintah maka kita masih mengusahakan, dan tahun 2018 ini insyaallah akan terujud" paparnya.

Dan untuk tenaga pengajar program Wajib Diniyah tingkat SD itu ustad dan ustda yang diberi gaji  sekitar 134 ribu perbulannya (fidz).

Bangunan liar yang didirikan oleh oknum desa dalam waku deat sgera di tertibkan

 

Sumenep (Korantransparansi.com) - Sejumlah bangunas liar yang berdiri diatas lahan milik Dinas PU Pengairan sumenep di Jl. KH.  Zainal Arifin, Desa Pandian, Kecamatan Kota Sumenep, segera ditertibkan menyusul keluhan warga sekitar.

Banguna bangunan liar tersebut diduga sengaja didirikan oleh oknum masyarakat setempat untuk keperluan tertentu. Namun mereka melawan hukum. Selain tidak memiliki ijin, areal tersebut bukan kawasan bisnis.

Kepala Desa Pandian Moh Budianto enggan dimintai keterangan terkait bangunan liar yang dibangun di atas tanah milik Dinas PU Pengairan itu.

"Silahkan konfirmasi langsung ke Dinas PU Pengairan, karena disana yang punyak tanah itu" katanya pada media ini, Selasa (17/4/2018).*

Sementara Kepala Dinas PU. Pengairan sumenep, Eri Susanto saat hendak dikonfirmasi melalu WA dengan alasan masih diluar kota sampai bulan agustus (fidz).

Diknas Sumenep Perkuat Program Madrasah Diniyah

Sumenep (Korantransparansi.com) - Program wajib sekolah Diniyah bagi siswa-siswi SD yang dianggarkan Pemkab Sumenep Madura tahun 2016 lalu sebesar Rp 1 Milyar, program itu untuk pengembangan pendidikan yang selama ini dianggap kurang dalam kurikulum pendidikan agamanya, maka Diknas diberikan program wajib belajar diniyah pada sore harinya dari Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 15 Tahun 2016 tentang Wajib Belajar Pendidikan Madrasah Diniyah.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kabuparten Sumenep Drs. Fajarisman, MH, kepada media ini menerangkan, selasa,17/04/2018 diruangannya sekira jam 9.00 pagi.

Pelaksana Program Wajib Belajar Pendidikan Diniyah yang dilaksanakan di tingkat SD di Kecamatan Kota Sumenep sudah terlaksana dengan baik.

"Alhamdulillah untuk yang ula/SD sudah berjalan dengan lancar, artinya sudah melakukan program wajib belajar diniyah" tuturnya kepada korantransparansi.com.

Fajarisman menambahkan, program Wajib Belajar Pendidikan Diniyah tersebut dikembangkan di sekolah SD di sejumlah Kecamatan kota Sumenep, diantaranya SD Bangselok, pabian, pajagalan, pangarangan, kebunan.

Disinggung untuk pengembangan wajib diniyah di pedesaan, Fajarisman mengatakan kalau dipedesaan itu sudah ada sebagaimana yang sudah berjalan.

"Kita hanya menyempurnaka penguasaan pengetahuan keagamaan anak-anak kita, artinya fokus ke-Madrasah" jelasnya.

Kata Fajarisman, sesuai petunjuk Bupati pelaksanaan program itu dimulai ada hari Senin, selasa dan rabu, dan pihaknya berharap agar tidak ada les atau tugas dari guru sekolah asalnya, sehingga tidak mengganggu wajib diniyah.

Disinggung petunjuk teknis program tersebut sudah ada dan dinas pendidikan sudah memberikan pada tenaga pengajarnya.

"Petunjuk teknis itu kan bentuknya arahan, perbupnya ada, disdik sudah memberikan dalam bentuk edaran, namun petunjuk teknis yang sempurna masih saya godok" katanya.

Ditanya buku panduan wajib belajar diniyah, buku panduan masih proses, tetapi buku yang ada disekolah diniyah itu masih nyambung.

"Karena ini program pemerintah maka kita masih mengusahakan, dan tahun 2018 ini insyaallah akan terujud" paparnya.

Dan untuk tenaga pengajar program Wajib Diniyah tingkat SD itu ustad dan ustda yang diberi gaji  sekitar 134 ribu perbulannya (fidz).

The Khilafah Yang Meresahkan Masyarakat Sumenep

 

Sumenep (KoranTransparansi.com)– Dikabupaten Sumenep, Madura, digegerkan dan meresahkan beredarnya foto dengan hastag #Return The Khilafah. Foto tersebut tersebar luas dijejaring media sosial, seperti Facebook, dan pesan WhatsApp.

Selain foto berhastag #ReturnTheKhilafah, juga bertuliskan #Khilafah Ajaran Islam dalam banner berukuran panjang yang dibentangkan empat orang berpakaian serba putih itu.

Belum diketahui secara pasti kapan foto tersebut diambil. Pantauan media ini, foto yang beredar di Facebook tersebut sudah beberapa kali dibagikan dan juga di sukai oleh para netizen

Foto tersebut diunggah oleh pemilik akun Facebook Hidayatullah Al Furqon pada tanggal 15 April 2018 sekira pukul 02.01 AM. Dengan cuitan statusnya berisi

“Salam Ukhuwah Settong Dhere dhe’ Satheje Taretan… Yuk bantu Viralkan yg lagi trending topic…” Setelah statusnya kemudian ada hastag #KhilafahAjaranIslam #ReturnTheKhilafah #SyariahIslamHukumAllah #YukAmalkanPerjuangan #2019GantiRezimGantiSistem

Menyikapi hal tersebut, Dandim Sumenep, A. Sudiatna mengaku masih belum menerima informasi tersebut. Namun pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian, utamanya Polres Sumenep untuk menindaklanjuti apabila hal itu benar terjadi.

“Secara pribadi saya baru tahu. Kami masih mau melakukan koordinasi dengan Pak Kapolres,” katanya, Senin 16/4/2018.

Ia mengatakn apabila itu benar adanya maka akan segera ditindaklanjuti dan akan dilakukan penyelidikan.

Selain itu, pihaknya juga berpesan agar selalu menjaga kondusifitas warga. Apalagi, warga Madura itu tidak seperti yang banyak dibicarakan oleh orang-orang.

 “Warga Madura ini baik-baik, santun-santun. Kabupaten Sumenep ini solonya Madura. Jadi tolong jangan membuat panas,” tukasnya.

Bupati Sumenep A. Busyro Karim ikut berkomentar terkait postingan #ReturnTheKhilafah yang tengah viral di media sosial baru-baru ini.

Hastag kontroversi tersebut menjadi viral lantaran ditampilkan pada benner besar dan dibentangkan oleh empat orang tepat didepan pintu Masjid Jamik Sumenep lalu di posting di facebook.

“Secara formal dan aturan yang ada (Organisasi HTI dan konsep Khilafah) kan sudah dilarang, harus seperti itu kan tidak boleh terjadi,” ujar Busyro, Senin (16/4/2018).

Menurutnya, siapapun dan pihak manapun termasuk Takmir Masjid harus bisa menyesuaikan dengan aturan yang sudah diketahui bersama (fid).

 

Tiga Hari PMII Sumenep Peringati Harlah Mulai Jalan Sehat Sampai Debat Ilmiah

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Wiraraja (UNIJA) Sumenep menggelar peringatan HARLAH PMII Ke- 17  yang dilaksanakan di Taman Adipura atau Taman Bunga (TB) Kabupaten Sumenep, Madura, sejak minggu, 15 - 27/04/2018.

Kegiatan tersebut dibuka dengan kegiatan Jalan - Jalan Sehat yang pesertanya mahasiswa Unija dan masyarakat umum, dan menyuguhkan bermacam kegiatan menjelang puncak  HARLAH PMII ke - 17  mahasiswa kampus cemara di Sumenep.

Adapun rangkaian kegiatan itu diantaranya, lomba debat ilmiah, esai, foto kontes, bintang kopri, baksos, menjelang malam puncak yang akan ditematkan di taman tektona sumenep.

Ketua komisariat (kekom) PMII UNIJA Sumenep, Helmiyatul umam menuturkan, digelarnya Harlah pmii unija untuk memperingati hari lahirnya PMII Unija yang tepatnya pada tanggal 17/04.

"Kegiatan ini merupakan agenda tahunan  yang dikemas berbeda dari sebelum-sebelumnya" kata Kekom PMII Unija sumenep periode 2017 -2018 saat korantransparansi.com memintak keterangannya.

Helmiyatul Umam menambahkan, karena usia komisariat PMII Unija itu sudah mencapai 17 tahun, pihaknya selalu memberikan yang terbaik untuk pendiri pertama PMII unija dan seluruh senior Unija di sumenep.

"Dengan digelarnya kegiatan ini untuk mengasah kreatifitas dan meningkatkan  pengetahuan" tutur perempuan berparas cantik kelahiran tahun 1996  asal kecamatan batang - batang, Kabupaten Sumenep.

Kegiatan itu didukung oleh PT. Tema, Yudewi, Taman Tectona, Bank BPRS dan PT. Sumekar (fidz).

 

Pemkab Sumenep mulai mengembangkan pariwisata alam rangka menarik wisatawan nusantara dan asing dengan menggelar kontes Kucing

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sumenep gelar kontes kucing Internasional merupakan rangka Visit Sumenep 2018 di gedung Adi Poday Jalan Trunojoyo Kabupaten Sumenep, Madura, Sabtu, 14/04/2018.

Bupati Sumenep Dr KH. A Buya Busyro Karim, M.Si, membuka langsung kegiatan Konstes Kucing Internasional tersebut dan juga hadir Wabup Achmad Fauzi, ketua DPRD Kabupaten Sumenep dan OPD Kabupaten Sumenep.

Bupati Sumenep mengungkapkan, tujuan digelarnya kontes kucing Internasional di Kabupaten Sumenep ini akan mengangkat kucing lokal yang telah dimiliki oleh Sumenep.

"Sumenep mempunyai kucing yang mempunyai khas tersendiri yang mempunyai nama kucing busok, dan dengan bulu yang mempunyai keunikan tersendiri" terangnya.

Kata Bupati, kontes kucing busok merupakan kebanggaan yang dimiliki oleh kebupaten Sumenep, jawa timur. dengan kontes ini akan menghidupkan kembali kucing busok yang hampir ditinggalkan oleh masyarakat Sumenep.

"Potensi daerah harus kita tingkatkan. maka dengan Visit Sumenep 2018 kita tingkatkan kembali kucing busok yang merupakan Kucing yang bisa di kenal oleh Internasional" terangnya saat memberikan sambutan.

Kontes kucing ini di ikuti oleh berbagai daerah, bahkan peserta dari kota Malang membawa kucing busok yang berasal dari daerah Ra’as Kabupaten Sumenep, ini menunjukkan bahwa kucing busok sudah di kenal di kalangan Nasional.

Bupati Sumenep berharap agar kucing Busok bisa di lestarikan dan menjadi kebanggaan Kabupaten Sumenep, bahkan di minati oleh kalangan Internasional.

"Dalam kontes kucing Internasional ini, pesertanya lebih dari 100 peserta dan didominasi oleh kucing busok lokal Sumenep" katanya.

"Kontes kucing Internasional dalam rangka Visit Sumenep 2018 ini mendatangkan juri dari luar negeri Lesley Morgan dari Tasmania Awaludin Ja’far dari Malaysia" diakhir sambutannya (fidz).

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...