Madura

Published in Madura

Bedah Buku Isyarat Gelombang ll Di Ponpes Annuqaayah

Sep 17, 2018 Publish by 
Foto : Kegiatan lauching dan bedah buku antologi Isyarat Gelombang II
Foto : Kegiatan lauching dan bedah buku antologi Isyarat Gelombang II (kt/sal)
Sumenep (KoranTransparansi.com) - Peluncuran buku Antologi Isyarat Gelombang II merupakan karya dari beberapa Alumni santri Annuqayah dan santri aktif. Bertempat di Aula Asysyarqawi pondok pesantren Annuqayah Guluk-guluk sumenep Madura (16/09)
 
Hadir pada acara tersebut,  para penulis buku Isyarat Gelombang II dan beberapa sanggar yang ada di Annuqayah, ratusan peserta launching buku merasa sangat antusias menyaksikan acara yang dikemas oleh Sanggar Andalas pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa Raya 
 
Acara teatrikal dan Hadrah Albanjari  dari sanggar Andalas menjadi pembuka acara launching buku, berikut pemberian secara simbolys oleh ketua panitia kepada para nara sumber yang memang sudah mempunyai nama di kancah nasional sebagai sastrawan budayawan dan penyair.
 
Tepuktangan para hadirin memenuhi ruangan di Aula bany Asysyarqawi setelah Syam S Tamoe tampil membacakan puisinya di depan para hadirin, berikut pembacaan puisi oleh anak Sanggar Andalas, dan santriwati dengan meembacakan karya Maymun syamsuddin ketiga pembaca puisi itu mendapat penghargaan buku Isyarat Gelombang II yang diregues langsung oleh ketua panitia.
 
Ketua Panitia pelaksana, Zairi Amin mengatakan kalau dirinya merasa sangat bangga dengan suksesnya peluncuran Antologi Isyarat gelombang II meskipun prosesnya terbilang cukup lama, kepada Kiai Moh. Faizi dan Syaf Anton WR ucapan terima kasih terus disunggingkan karena sebagai pembina proses kreatif dari awal sampai terbitnya antologi Isyarat Gelombang II 
 
Kiai Moh. Faaizi mengatakan, Kehidupan keseharian santri itu sudah puitis, maka tak heran jika santri Annuqayah itu menjadi penulis puisi yang puitis, didalam buku Antologi Isyarat Gelombang II ini, sangat menarik karena momentnya bersamaan dengan acara reuni Annuqayah  dengan tema kembali ke Annuqayah 
Isyarat Gelombang II belum sepenuhnya bercermin puisi karena mungkin penulisnya mengalami jeda setelah menjadi alumni, namun  rasa semangat yang dimilikinya mencontohkan kalau mereka masih ingin berproses
 
Raedu Basha, mengatakan kalau buku isyarat gelombang II itu diibaratkan sebagai ritual bagi santri, apalagi santri yang sudah banyak menghafalkan nadhaman barzanji yang memang sudah menjadi kebiasaan para santri sehari-harinya
 
Dalam berproses menulis puisi tidaklah mudah tapi  perlu melakukan terobosan-terobosan baru, semisal karyanya ditolak oleh Media, lalu berhenti berkarya, nah ini sebuah kegagalan penulis dalam berproses, makanya penulis itu harus berani menghadapi tantangan kalaupun karyanya ditolak harus terus berupaya untuk berproses kreatif. Punkasnya. (Sal)
banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...