Madura

Perantau Ra'as di Bali Pulang Kampung Dengan  Gratis

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Peningkatan arus mudik dari Bali menuju pulau Ra'as Kabupaten Sumenep sudah mulai dirasakan meski puasa ramadhan belum genap satu munggu. 

Du prediksi puncaknya akan terjadi pada sekitar tanggal 10 Juni 2018. Ratusan perantau  dan transmigran asal pulau Ra'as yang ada di Bali . Mereka akan menumpang kapal Express Bahari secara gratis.

Ahmadi, pengusaha asal Pulau Raas yang sukses ada di Bali kini menyewa kapal Expres Bahari untuk masyarakat Pulau Ra'as yang diberikan secara Geratis bagi masyarakatnya guna untuk mengurangi padatnya arus mudik kekampung hlamannya.

"Iya benar mas, itu guna mengurangi padatnya arus mudik dari Jangkar - Ra'as, sehingga saya sewa Kapal Expres Bahari untuk masyarakat Ra'as yang sedang bekerja sebagai tenaga migran di Bali. Sehingga merasa nyaman dan aman nanti tidak seperti sebelum-sebelumnya  susah dan antre" kata Ahmadi pengusaha sukses yang ada di Bali. Senin 21/5/2018.

bahkan kata Ahmadi seperti tahun sebelumnya sampai tidak bisa pulang lantaran begitu antre dan kehabisan tiket.

"Saya tidak mau kejadian seperti itu terung kembali, saya sangat prihatin sebab saya juga asal pulau Ra'as Sumenep" tutunya (fidz).

 

Anggota DPRD Sumenep : Polisi Butuh Alat Transportasi Canggih.

Sumenep (KoranTransparansi.com) – Anggota DPRD Sumenep Darul Hasyim Fath mengatakan bahwa kondisi geografis Kabupaten paling ujung timur Madura ini, yang terdiri dari 126 pulau secara geografis diakuinya menjadi kendala bagi aparat Kepolisian dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Banyak faktor menjadi penyebab. Pertama diperlukan alat transportasi yang memadai, pulau pulau yang terpencil dan tidak bisa ditempuh dalam waktu satu dua jam dan  dinamika masyarakat yang sangat beragam .

Pernyataan  anggota Komisi I DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath menjawab koran ini pasca meledaknya barang bukti (BB) bom ikan (Bondet) di Mapolsek Gili Genting (kepulauan Gili Genting), yang membuat masyarakat panik pada  pukul 15.10 WIB, Senin 21/5/2018.

“Betapapun insiden tersebut menjadi catatan untuk kita semua bahwa sarana dan prasarana Polsek di Kabupaten Sumenep perlu mendapat perhatian serius dari Mabes Polri” kata politisi PDI Perjuangan Sumenep. 

Politisi asal pulau Masalembu itu berharap, peristiwa meledaknya barang bukti yang disimpan di Mapolsek Gili Genting, Sumenep semoga tidak terjadi lagi di polsek-polsek lainnya atau tempat lain.

Akibat meledaknya barang bukti (BB) berupa bom ikan (sejenis bondet) di ruang penyimpanan BB Mapolsek Gili Genting, Kabupaten Sumenep yang diawali dengan adanya asap, gudang (tempat) penyimpanan arsip dan barang bukti (BB) hancur.

Dari insiden kejadian itu, mengakibatkan atap ruang tahanan rusak dan tembok ruang Reskrim jebol. Bahkan atap asbes dibeberapa ruangan Mapolsek Gili Genting juga mengalami kerusakan yang luar biasa. (fidz)

Bondet Meledak di Mapolsek Bikin Masyarakat Ketakutan

Sumenep (KoranTransparansi.com)  - Baru beberapa hari ini Jawa Timur di kejutkan dengan bom di  di Surabaya, giliran masyarakat Sumenep  dibuat panik . Kini di Mako Polsek Giligenting hangus terbakar. 

Diduga akibat Bondet yang disimpan di gudang Mapoksekmeledak secara tiba - tiba. Dari kejadian tersebut masyarakat Giligenting merasa ketakutan dan bahkan serba khawatir dengan ludesnya Mako Polsek setempat itu.

Hasil informasi yang dihimpun media korantransparansi.com dari meledaknya BB Bondet yang disimpan di ruang gudang Mapolsek Giligenting itu, ternyata gudang arsip/ BB hancur. Atap ruang tahanan rusak, ruang Reskrim tembok jebol dan atap asbes dibeberapa ruangan mengalami kerusakan. Senin (21/5/2018) sekitar pukul 15.00.

Kabag Humas Polres Sumenep AKP Abd Muki membenarkan kejadian itu yang hampir meratakan Mako Polsek Giligenting hapir rata dengan tanah, sehingga arsip dan BB di TKP ludes. "Benar itu terjadi di Mako Polsek Giligenting ada ledakan yg mengakibatkan kerusakan di ruang gudang tempat penyimpanan arsip dan barang bukti hancur" kata Mukit. 

Mantan Polsek Lenteng itu menambahkan,  bahwa regulasi dari insiden tersebut diduga sebelumnya terjadi konsleting pada reciver Alkom yang letaknya juga berada didalam gudang sehingga menyebabkan efek panas. "Sehingga menyulut BB bondet yang ada diruangan. Akhirna bondet tersebut meledak" lanjutnya.

Sementara saksi - saksi dari kejadian itu atas nama Lutfi (45) perempuan, asal Dusun Bundan Lao' Desa Galis Kecamatan Giligenting Kabupaten Sumenep. Dan petugas piket jaga Aiptu Abuhairi dan Brigader Yuanis Putra.

"Awalnya saksi Lutfi melihat ada asap keluar dari atap gudang Mapolsek Giligenting, kemudian Lutfi masuk ke dalam rumah dan tidak berapa lama terjadi ledakan yang membahayakan jiwa manusia dan setelah dilakukan pengecekan oleh petugas Polis ternyata karena terjadi konsletting listrik reciver Alkom" tuturnya (fidz).

 

Jadikan Ramadhan Sebagai Bulan Produktifitas

Sumenep (KoranTranparansi.com) - Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi meminta agar ASN (Aparatur Sipil Negara ) menjadikan bulan suci ramadhan sebagai  bulan produktivifas , bukan malah sebaliknya. 

Pernyataan Wabub Sumenep tersebut disampaikan pada pengajian dilingkungan ASN Pemkab Sumenep di Gedung KORPRI Sumenep Jumat.  "Ini bisa di jadikan bulan produktifitas yang bertujuan menjadikan Kabupaten Sumenep Maju dan Bermartabat,".

Kata Fauzi ada tiga golongan orang berpuasa. pertama adalah puasa Ular, artinya seperti ular Ganti Kulit. dia Hanya ingin berganti kulit saat hari raya idul fitri saja dan yang kedua adalah puasa beruang, bagaimna iya hanya mau mengubah pola makan saja. Iya hanya makan sahur tidur berbuka puasa yang ada di benaknya adalah makan, ungkap Fauzi panggilan akrabnya.

“Namun yang Ketiga ini adalah Puasa Ulat. Bagaimana ulat dia bermetamorfosis, dia dari ulat berjuang melewati banyak proses untuk menjadi Kupu-Kupu. Jikalau kita menjadi Ulat kita akan bersungguh – sungguh di bulan puasa ini di karenakan kita mau hijrah ke lebih baik” tegasnya.

Masih kata Fauzi bahwa  ASN Sumenep ini seperti golongannya ulat. Bisa lebih produktifitas dalam bulan puasa ini, yang biasa tidak sholat tahajjud di bulan puasa ini bisa sholat tahajjud, lanjutnya saat memberikan sambutan.

“Saya berharap ada kelebihan dari bulan-bulan yang lain” tutupnya (fidz).

Musik Tontong Pertanda Masyarakat Sumenep harus bangun tidur untuk makan sahur

Sumenep (KoranTransaransi.com) - Musik tong-tong merupakan seni musik tradisional asal Madura Provinsi Jawa Timur yang oleh masyarakat setempat juga sering disebut sebagai Ul-Daul. Seni musik etnis ini terkenal di Kabupaten Sumenep. 

Pada momen bulan suci Ramadham ini sudah menjadi kegiatam rutin setiap tahun dibulan puasa ada beberapa sekelompok yang mengadakan agenda khusus atau festival musik tong-tong di berbagai daerah. Yang dimainkan pada malam hari tepatnya sekitar jam 1.30 Wib dengan tujuan untuk membantu umat muslim yang sedang menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, agar tidak telat melakukan santap sahur.

Sekelompok musik tradisional tersebut digelar oleh pemuda asal Desa Saronggi, Kematan Saronggi Kabupaten Sumenep setiap bulan puasa tiba.

"Tujuan kami untuk memeriahkan dibulan puasa dan membantu masyarakat setempat untuk bangun supaya tidak telat melaksanakan sahurnya" kata Alwi salah satu anggota kelompok musik tong-tong tradisional itu. Pada hari Jum'at, 18/05/2018 sekira jam 01.30 wib. Malam.

Pantauan media ini ada sekitar empat kelompok tong-tong tradisional yang masing-masing berkumpul dengan mengambil posisi tempat berbeda dipertigaan jalan saronggi lenteng, Desa Saronggi kkecamatan saronggi.

"Kami datang dari satu desa, tetapi juga ada dari desa lain yang juga datang ikut partisipan untuk meramaikan dibulan puasa pada malam hari ini" katanya.

Suara musik tradisional tong-tong selalu terdengar harmonis karena dimainkan oleh beberapa orang sekaligus. Bentuknya berupa instrumen, namun seringkali ditambah dengan dendangan lagu-lagu tradisional Madura seperti Pajjar Lagghu, Olle Olang dan lainnya.

Musiknya yang cukup menarik, memiliki irama harmonis ketika dimainkan secara bersama. Sehingga banyak tetangga setempat keluar untuk menyaksikan langsung kegiatan tersebut, baik mulai anak kecil hingga orang dewasa (fidz).

- Drs. Fajarisman, MH. Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep

Sumenep (KoranTransparansi.com) - Drs. Fajarisman, MH. Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sumenep mengatakan  pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan Diniyah yang dilaksanakan di tingkat SD di Kecamatan Kota Sumenep ini sudah berjalan  dengan baik.

"Alhamdulillah untuk yang ula/SD sudah berjalan dengan lancar, artinya sudah melakukan program wajib belajar diniyah" tuturnya beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, ungkapan tersebut mendapat tanggapan yang sangat kontroversial dari beberapa tokoh, sebab tidak sesuai kenyataan pelaksana dilapangan

Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Sumenep Habib Jakfar menilai Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep dinilai tidak bernafsu lagi menjalankan Program Madin yang menjadi program unggulan Bupati KH. A. Busyro Karim, M. Si. Yang diberikan ke Dinas Pendidikan, menelan anggaran 1 miliar.

"Sebenarnya program ini sangat bagus buat insan-insan pendidikan Diniyah dan perlu di bec up total, artinya ini suatu trobosan luar  biasa bapak Bupati Sumenep KH. A. Busyro Karim, untuk menangkap dalam tanda kutip anak-anak yang memang orang tuanya tidak begitu kler dengan pendidikan agama" kata Habib saat ditemui dikediamannya beberapa hari yang lalu oleh media ini.

Habib mengatakan, selaku pelaksana dilapangan, betul betul mengharap dukungan masyarakat, teruama mulai dari legislatifnya samapai eksekutifnya dan tokoh masyarakat yang lain untuk betul-betul mendukung program trobosan yang menjadi amal jariah bapak Bupati Sumenep ini.

Habib menilai bahwa ini adalah program masih jauh dari kata sempurna, dari sisi pelaksanaan sudah tidak sehat bahkan masing masing dari kita mengambil peran dalam tanda petik mengamankan program ini, sehingga kalau pendanaannya sekian, yang sampai kebawah sekian, kata ketua FKDT sumenep itu.

Disinggung maksimal tidaknya pilot projec  program wajib belajar Madrasah Diniyah di perkotaan, beliau mengungkapkan kalau indikatornya sederhana, contoh ada murid ada pembelajaran, ada rapot dan ada hal hal yang  menjadi tuntutan dasar dari program belajar mengajar, saya katakan iya.

Tetapi kata Habib, bagaimana bisa memaksimalkan sedangkan buku panduan dan juknis itu tidak ada. Dan parahnya sampai saat ini bantuan pemerintah hanya rapot, papan dua kali, setelah itu tidak ada dan bahkan selama ini kami tidak pernah diajak rembuk dalam pengadaan barang.

"Itu urusan mereka kami tidak terlalu menuntut karena bagaimanapun mereka juga punyak tanggung jawab dihadapan Allah" tutupnya.

Mohammad Suhaidi, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS) akan mengundang Dinas Pendidikan (Disdik) setempat yang dinilai tidak bernafsu untuk  melaksanakan program Wajib belajar Pendidikan Madin, yang telah membuang-buang anggaran sebesar Rp 1 Miliar sejak program tersebut diberikan Bupati Sumenep.

“Kami akan mengundang  Dinas Pendidikan Sumenep yang sudah tidak bernafsu mengelola program wajib diniyah. Padahal ini penting dan dananya juga tidak kecil" kata Muhammad Suhaidi, yang saat ini masih aktif sebagai Dosen di STKIP PGRI Sumenep, Jum'at, 18/05/2018.

Karena kata Suhaidi, secara tidak langsung Disdik sudah lalai dan bahkan sudah menodai dalam melaksanakan program unggulan Bupati Sumenep ini.

“itu sudah menodai Peraturan bupati, program waji Madin itu sudah jelas berdasarkan Perbup dan ini merupakan program unggulan Bupati yang diberikan kepada Dinas Pendidikan Sumenep. Kalau toh Disdik sudah loyo dan tidak jelas seperti ini, dilempar saja kepihak yang lain, ada NU misalnya, ada Muhammadiyah, kalau begini kan lucu" tegasnya.

Suhaidi berharap Bupati Sumenep segera mengevaluasi program Madin yang diberikan kepada Disdik sumenep tersebut (fidz).

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...