Lamongan

Published in Lamongan

Miris : Pimpinan SPBU Usir Wartawan

Mar 02, 2018 Publish by 
Lantaran stiker Tera tidak bisa di baca, lalu limpinan SPBU tersebut mengamuk
Lantaran stiker Tera tidak bisa di baca, lalu limpinan SPBU tersebut mengamuk (kt/ard)
LAMONGAN (Korantransparansi.com) - Hak konsumen untuk berhak mengetahui apakah takaran Bahan bakar minyak (BBM) sudah sesuai dengan takaran yang pas tidak di kurangi maupun di curangi oleh Statiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) ialah salah satunya dengan melihat stiker uji tera atau cap tanda tera di masing-masing SPBU yang sudah di lakukan peneraan atau tera ulang oleh UPTD meterologi bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat.

Namun hal itu nampaknya tidak di hiraukan oleh SPBU yang ber alamatkan di jl. Sunan Drajat no. 174 Jawa Timur kabupaten Lamongan, stiker uji tera ulang atau cap tanda tera ulang yang menempel di situ tahun berapa di tera ulang  tidak jelas, di karenakan stiker di situ rusak, buram tidak kelihatan.

Ketika awak media bermaksud menanyakan ke pimpinan SPBU itu terkait dengan stiker yang sudah rusak atau buram, awak media mendapatkan perlakukan yang tidak menyenangkan dari pimpinan tersebut.

Awalnya, Kamis (01/03) di persilahkan oleh petugas SPBU untuk menanyakan langsung ke pimpinannya, kemudian pimpinan itu keluar dan menemui di luar ruangannya, namun ketika mencoba menanyakan tentang stiker yang sudah rusak atau buram dengan merekam pernyataan dari beliau, pimpinan tersebut menyuruh untuk mematikan rekaman, " tidak usah seperti itu, " katanya sambil bergegas masuk ke ruangannya dengan menutup pintu sekeras-kerasnya. 

" Pak, saya cuma menanyakan stiker itu koq tidak kelihatan tahunnya, pimpinan itu keluar dari ruangannya sambil membentak, " keluar kamu, saya tidak mau gitu-gitu," bentak pimpinan tersebut untuk mengusir keluar.

Terpisah, kepala bidang (Kabid) Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) kabupaten Lamongan Pasito sangat menyayangkan dengan kejadian tersebut, pihaknya mengatakan kalau pengawasan itu ada di internal masing-masing SPBU.

" Kita hanya sebatas membina, kejadian tersebut ada di internal SPBU, soal pimpinan yang ngamuk-ngamuk itu adalah salah satu sifat dari orangnya sendiri, " ungkapnya.

Mengenai dengan uji tera atau tera ulang, terang Pasito untuk SPBU jl. Sunan Drajat no.174 itu di tahun 2017 kemarin sudah di lakukan tera ulang, tepatnya di bulan September dan tahun ini sudah minta untuk di tera lagi.

" Kalau untuk stiker tera ulang atau cap tanda uji tera maupun banner, karena belum ada anggaranya jadi kita menggunakan stiker yang lama, untuk tahun ini insya allah kita sudah siapkan stiker plus bannernya," ucap Pasito di ruangannya Kamis (01/03).

Dia mengungkapkan di tahun 2017 peralihan dari Provinsi sudah di serahkan ke kabupaten Lamongan, sebelumnya kita masih kerja sama dengan BMSL Yogja, pihaknya mengatakan belum ada biaya untuk SPBU karena belum di sahkan sama UPT meterologi Bandung.

" Kalau biaya uji tera atau tera ulang, kita sesuai dengan Perda di Lamongan, per nozzlenya Rp.200 ribu satu tahun sekali, dan itu sudah kita lakukan ke masing-masing SPBU,"  pungkasnya. (ard)         
banner

> BERITA TERKINI lainnya ...