Kediri

Foto : Kasat Reskrim Polresta AKP Ridwan Sahara saat dilokasi

Foto : Kasat Reskrim Polresta AKP Ridwan Sahara saat dilokasi

 

 

 

 

KEDIRI (KoranTransparansi) - Genderang perang terhadap peredaran miras terus dilakukan Polresta Kediri, Selasa (8/5/2018) petang, pembuat miras oplosan tradisional di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, digrebek 

 

Operasi yang dipimpin langsung Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, berhasil mengamankan dua orang pria paruh baya yang terbukti membuat miras sekaligus pemilik rumah.

Mereka, PD (60) dan PNM (62), keduanya warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Dan, dari penyelidikan polisi, pelaku membuat miras dengan cairan alkohol kemudian dicampur dengan air putih biasa dan ditambahkan dengan cairan rasa dan pemanis berupa gula.

Menurut Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, dalam proses produksi yang dilakukan pelaku terbilang sederhana. 1 Liter cairan alkohol dicampur 3 Liter air putih biasa ditambah cairan rasa dan pemanis gula.Hingga, menghasilkan miras oplosan sebanyak 4 Liter.

" Untuk 1 Liter miras oplosan siap minum, pelaku menjual dengan harga Rp. 25 ribu. Dalam sehari, pelaku meraup keuntungan berkisar Rp 200 ribu " urai Kapolresta Kediri, saat dilokasi.

Menurutnya, pelaku sudah memiliki pelanggan tetap yang cukup banyak, apalagi jika memasuki waktu akhir pekan, lantaran pelaku menjual miras sejak 5 tahun yang lalu.

"Jadi pelaku ini sudah lama memproduksi miras, dan memiliki pelanggan cukup banyak, dengan harga miring," imbuhnya

Kapolresta Kediri juga menguraikan, saat ini pihaknya berhasil mengamankan ratusan botol air mineral plastik bekas yang akan digunakan untuk diisi miras oplosan dan dijual kepada konsumennya.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Kediri, AKP Ridwan Sahara menjelaskan, pelaku masih  diperiksa oleh penyidik secara intensif.

" Pelaku masih kita periksa secara intensif,mengingat pelaku telah lama beroperasi," ujarnya.

Sementara, ancaman yang diterapkan terhadap para pelaku, sesuai UU Ketahanan Pangan dan Perlindungan Konsumen, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.( bud)

Foto : Defrizal, Kepala Bulog Sub Divre Kediri

KEDIRI (KoranTransparansi) - Demi mewujudkan stabilnya harga beras dilapangan, jelang bulan Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah, Senin (7/5/2018), Bulog Sub Divre Kediri mulai menggagas Satgas Pangan dengan melibatkan Instansi terkait.

Defrizal, Kepala Bulog Sub Divre Kediri, menjelaskan, Satgas Pangan memang selalu dibentuk saat memasuki bulan Ramadhan maupun Hari Raya Idul Fitri.

" Tujuan dibentuk Satgas Pangan, guna mengantisipasi aksi para tengkulak yang nakal. Dan, tim yang terlibat dalam Satgas meliputi, Polri dan Pemerintah daerah setempat " ucap Defrizal, Senin (7/5/2018)

Menurutnya, aksi nakal tengkulak memang harus diantisipasi semaksimal mungkin, guna memonitoring melambungnya harga dipasaran, utamanya beras. Maka itu, peran Satgas nanti akan langsung diterjunkan ke pemukiman warga.

" Bukan hanya beras yang menjadi monitoring, melainkan 3 komoditas lainya, seperti minyak goreng, gula pasir dan tepung juga menjadi pantauan. Lantaran, komoditas inilah yang paling banyak dibutuhkan masyarakat saat Ramadhan maupun Idul Fitri " ujarnya.

Terakhir, Defrizal berharap peran Satgas Pangan bisa berjalan maksimal. Hingga, peran Bulog yang fungsi utamanya stabilisasi harga akan berjalan sesuai porsinya dengan didukung perangkat yang ada. (bud)

Foto : Ilutrasi saat proses belajar belajar

KEDIRI (KoranTransparansi) - Pihak sekolah SMAN 4 Kota Kediri langsung menindaklanjuti adanya kabar jika siswinya yang tidak sanggup membayar uang semester terancam tak bisa ikut ujian.

Kepala Sekolah SMAN 4 Kota Kediri, Bambang mengatakan, pihak sekolah memastikan seluruh siswa yang belum menyelesaikan tanggungan sekolah, tetap dapat melaksanakan ujian semester genap yang digelar Senin (7/5/2018).

"Kita pastikan tetap ikut ujian semester. Intinya kita tetap membantu kesulitan setiap siswa, jika memang tidak bisa membayar kita tetap perbolehkan untuk ikut ujian," tegas Bambang.

Lanjut Bambang, sebelumnya LN siswi Kelas X jurusan IPA ini memang mendapat peringatan dari guru kelas. Namun, bukan berarti peringatan tersebut membuat dirinya tidak akan bisa mengikuti ujian semester mendatang.

"Mulai semester satu kita tetap perbolehkan ikut ujian meski saat itu juga belum ada pembayaran. Seandainya ada peringatan dari guru, hal itu sebenarnya merupakan hal yang biasa karena hanya sebatas mengingatkan. Sebab kita tidak mungkin memantau satu persatu permasalahan setiap siswa kalau siswa tidak menyampaikan ke sekolah," beber pria yang juga pernah mengajar di SMAN 1 Kota Kediri.

Sementara terkait pemegang KIP, Bambang mengaku setiap anak yang dapat KIP tetap mendapat bantuan sesuai jalur yang ada. Namun, saat ditanya apakah pemegang KIP bisa membebaskan seluruh biaya di sekolah? Bambang menegaskan bantuan itu selama ini hanya sebatas subsidi sekolah.

"Pemegang KIP ini biasanya penyalurannya melalui bendahara Bantuan kesejahteraan siswa miskin (BKSM). Sedangkan pemegang KIP ini hanya sebatas subsidi dan tidak bisa mengcover seluruh biaya sekolah. (Mohon maaf) sebenarnya jika diuangkan hanya sekitar Rp 70.000 - Rp 75.000," tandasnya.

Semetara itu disisi lain, paska pemberitaan di media massa, kini sumbangan terus mengalir ke LN melalui orang tuanya. Tidak hanya dari kalangan DPRD dan masyarakat umum, bantuan juga datang dari para jurnalis di Kediri.

Yakub mengaku, sangat berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantunya. Ia mengaku, akan menyerahkan sumbangan dari para dermawan untuk melunasi tunggakan biaya sekolah putrinya sebesar Rp 3.611.000 dan jika sisa akan dibuat merenovasi atab rumahnya yang nyaris roboh.

"Terima kasih semuanya yang sudah peduli terhadap kami. Terima kasih atas sumbangannya," kata Yakub, warga Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Diberitakan sebelumnya, LN, siswi kelas X SMAN di Kota Kediri terancam tidak bisa mengikuti ujian semester, lantaran mengalami kesulitan biaya sekolah. Dia memiliki tunggakan iuran dua semester sebesar Rp 3.611.000. Tarikan tersebut terinci untuk beli seragam, buku, dan SPP selama dua semester.(bud)

Pemasangan rambu yang mulai dilakukan Dishub Kota Kediri

KEDIRI (KoranTransparansi) - Sejak diresmikanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri , mengakibatkan kepadatan arus lalu lintas di Jalan Mayjen Soengkono.Karena, jalur ini merupakan jalur lintas kota yang menghubungkan arah Kertosono, Jombang dan Surabaya

Untuk mengantisipasi kemacetan arus lalu lintas, pihak Dinas Perhubungan Kota Kediri telah melakukan pemasangan rambu lalu lintas ‘Dilarang Parkir dan Berjualan’ disepanjang Jalan Mayjend Soengkono.

Kabid Manajemen Lalu Lintas Dishub Kota Kediri, Bagus Hermawan menegaskan, jalur tersebut adalah jalur ke laur kota. 

"Kendaraan muatan barang dengan tonase berat dari arah selatan bila akan menuju ke Surabaya, lewatnya juga jalan Mayjend Soengkono," kata Bagus saat ditemui beberapa waktu lalu.

Menurutnya, jalan tersebut saat ini memang sering terjadi kepadatan arus lalu lintas, seiring membludaknya pengunjung taman. Hal ini mengakibatkan  arus jalan padat.

" Selain pemasangan rambu, kami juga mengantisipasi kemacetan dengan memberikan tempat parkir bagi pengunjung taman bisa di sebelah timur taman dan masuk ke gedung GNI" pungkasnya. (adu/bud

Foto : Pagelaran tari " Gendro" yang dipersembahkan Sanggar Tari Budaya Nusantara, saat tampil di FKT.

 

KEDIRI (KoranTransparansi) - Patut mendapat apresiasi yang luar biasa, Pemerintah Kota Kediri melalui Disbudparpora ikut andil dalam Festival Karya Tari (FKT) Jawa Timur, yang berlangsung 27-29 April 2018, bertempat di gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85, Surabaya. 

Dimana, acara tahunan ini diikuti 28 penata tari dari seluruh Jawa Timur. Untuk Kota Kediri, diwakili oleh sanggar tari Budaya Nusantara, yang mengangkat tema tari "GENDRO". 

Menurut Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora Kota Kediri, tari Gendro ini menceritakan sebuah fenomena seorang wanita yang suka memainkan pecut besar atau yg disebut pecut samandiman.

" Ini sebuah keanehan dan menjadi hal menarik. Karena, biasanya pemain pecut Center UB seorang lelaki. Hingga muncul ucapan Jawa "Nanging tanpo do eling lamun wanito tan lumrah amawang krido" ( Karena terlalu suka memainkan pecut sampai wanita itu lupa akan jati diri bahwa dia adalah seorang wanita)" urai Nur Muhyar, Rabu (2/4/2018).

Menurutnya, dalam event bergengsi tersebut, Sanggar Budaya Nusantara, perwakilan dari Kota kediri, tampil pada acara penutup, yakni 29 April 2018.

" Tampilnya tari " Gendro" diacara penutup Fertival Karya Tari, juga sebagai kontingen penampilan penutup. Dari sini, kekaguman dan sorak sorai penonton menambah semaraknya suasana" pungkasnya. (adu/bud)

Foto : Pihak Kemenaker RI saat berkunjung di budidaya ikan, Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri.

KEDIRI (KoranTransparansi) - Suasana gembira dirasakan Paguyuban Buruh Migran Indonesia, Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Selasa (1/4/2018). Dimana, paguyuban yang anggotanya mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI), mendapat kunjungan dari pihak Kemenaker RI.

Adapun kunjungan yang dilakukan Soes Hindarno, Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri, Kemenaker RI, lantaran mengapresiasi akan kesuksesan mantan pekerja Migran di Desa Kanigoro.

" Dihari Mayday ini, kami sangat mengapresiasi para mantan Pekerja Mingran Indonesia, yang saat ini dapat membuka usaha sendiri dan tidak kembali menjadi TKI " ungkap Soes Hindarno

Menurutnya, mayoritas mantan PMI di Desa Kanigoro, membuka usaha budidaya ikan Lele dan Gurame. Dan, hal ini patut mendapatkan apresiasi yang luar biasa.

" Harapanya, kesuksesan para mantan PMI ini bisa menjadi motivasi Pekerja Migran lainya yang masih bekerja diluar negeri" imbuhnya.

Soes Hindarno juga menjabarkan, kedepanya nanti pihak kemanaker akan bekerjasama dengan Disnaker setempat untuk memberikan pelatihan atau pendampingan terhadap para PMI.

" Nanti, juga akan diberikan bantuan modal kerja melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BNI yang saat ini sudah bekerja sama dengan Disnaker" pungkasnya.

Ditempat yang sama, Solikhin, salah satu mantan PMI mengungkapkan, pihaknya sangat bersyukur pihak Kemenaker berkenan mendatangi usaha yang dikelolanya saat ini. Dan, perhatian Pemerintah saat ini juga relatif bagus.

" Para mantan PMI yang ada di Desa Kanigoro yang tergabung dalam Paguyuban Buruh Migran Indonesia, jumlahnya berkisar 200 orang. Dan, mayoritas yang digeluti budidaya ikan" ungkap Solikhin, mantan TKI yang bekerja di Malasya,ini.

Terakhir, dia juga menjabarkan, harapan kedepanya, Pemerintah lebih meningkatkan lagi perhatiaanya terhadap para mantan PMI. (bud)

 

banner

Berita Terkini

> BERITA TERKINI lainnya ...