Kediri

Published in Kediri

Unit Pidsus Polres Kediri Lidik Kejanggalan Perizinan PT Merak Jaya Beton

May 19, 2017 Publish by 
Tim Pidsus saat mendatangi lokasi.
Tim Pidsus saat mendatangi lokasi. KT/Arya Budi

Kediri (KT) - Paska jebolnya tabung pabrik milik PT Merak Jaya Beton (MJB), bertempat di Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, yang menuai keresahan masyarakat setempat. Jumat (19/05/2017), Unit Pidana Khusus (Pidsus) Satuan Reskrim Polres Kediri, mulai melakukan penyelidikan akan kejanggalan perizinan, pada PT tersebut.

Hal itu terlihat, dari serangkaian upaya yang dilakukan petugas, dengan meminta keterangan sejumlah warga yang menjadi korban masalah tersebut. Bahkan, dokumen perizinan milik pabrik beton PT MJB, juga mulai dikumpulkan.

Pantauan di lapangan, Tim tindak pidana khusus Polres Kediri mendatangi warga RT 01 dan RT 02, RW 02. Adapun, titik poinya meminta keterangan sejumlah rumah warga terdampak debu semen, akibat salah satu tangki pabrik bocor

“Kita memintai keterangan para warga terlebih dahulu. Setelah itu, kemungkinan Senin (22/5/2017), nanti,  baru kita panggil Perusahaannya,” ujar Kepala Unit Pidsus Polres Kediri, Iptu Igo Fazar Akbar, saat dilokasi.

Menurutnya, berdasarkan data yang didapat dari anggota yang sebelumnya sudah mendatangi pihak pabrik. Diketahui, PT Merak Jaya Beton Ngebrak, dugaan sementara sudah mengantongi izin, baik Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin gangguan atau HO dan juga izin Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) nya.

Kendati demikan, pihaknya tetap akan mencari bukti fisik isi dokumen izin milik pabrik beton PT MJB tersebut. " Dari hasil lidik sementara, perusahaan mengaku punya izin SIUP, IMB dan HO dan Amdal. Tetapi kami belum mendapatkan bukti fisiknya. Untuk itu, kami akan lakukan pemanggilan kepada pihak perusahaan,” imbuhnya.

Igo juga memaparkan, dari temuan dilapangan, pihaknya menduga adanya kejanggalan dalam proses pengurusan izin. Hal ini mengacu, dari keterangan warga yang mengaku, sejak awal pendirian, warga tidak setuju dengan kehadiran pabrik beton tersebut.

“Dilapangan kita temukan kejanggalan. Akan tetapi, kita belum bisa memastikan lebih dalam, karena masih proses penyelidikan. Memang, informasi yang kami dapat, warga tidak pernah menandatangi izin HO,” tutupnya.

Terpisah , Suwaji, salah satu warga yang dimintai keterangan petugas mengatakan, ia tidak pernah diajak berdiskusi ataupun menyetujui berdirinya pabrik beton yang berjarak 100 meter dari rumahnya.

“Kita hanya dikumpulkan di kantor desa dan pabrik sudah berdiri. Kami diberi sosialisasi adanya pabrik itu. Waktu itu, kami diminta untuk mendatangani daftar hadir,” ucapnya.

Sementara itu, pihak perusahaan juga belum berhasil dikonfirmasi, karena tidak berada di lokasi pabrik. Pabrik sendiri, tidak beroperasi paska disegel warga, beberapa hari lalu.

Dari kondisi itu, nasib para karyawannya juga masih terkatung katung. Dan, belum ada kepastian kapan mereka bisa bekerja kembali.(bud)

banner